
Hari-hariku sekarang disibukkan dengan mengurus Rio dan membantu Papa di perusahaan. Begitu padat waktuku hingga tidak ada waktuku untuk mengingat tentang Mas Leo, yang namanya masih sangat tertanam dalam hati. Dengan kesibukkan ku kini, setidaknya hari-hariku tidak di penuhi hanya dengan memikirkan Mas Leo.
Hubunganku dan Mas Leo baik-baik saja dan semakin kompak sebagai orang tua untuk Rio. Aku bahagia karenanya, bahagia karena Mas Leo tidak melupakan posisinya sebagai Ayah Rio.
Dan hubunganku dengan Rangga masih tetap sebagai teman, aku belum mau menjalin hubungan yang serius, apalagi membangun biduk rumah tangga lagi, untuk sementara ini.
Sore ini, aku bersiap pulang kerumah dari kantor. Lumayan padat pekerjaanku hari ini, lelah itu pasti, tapi aku menikmatinya.
Baru saja aku masuk kedalam mobil, ponselku berdering..
0812********.......
Nomor tidak dikenal.
"Ya hallo..." aku menjawab telpon itu.
"Ayu..." suara itu, aku mengenal suara itu. Ibu. Ibu Mas Leo, mantan mertuaku.
"Ayu..." panggilnya lagi.
"Ya.." jawabku singkat.
"Ayu, ini Ibu, Ayu ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu" ujar Ibu di ujung sana.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ayu, Ibu mau minta maaf sama kamu" ungkap Ibu.
Aku hanya diam.
"Ayu, kamu dengar Ibu kan?" ujarnya.
"Iya.." jawabku.
"Ibu, minta maaf sama kamu Ayu, Ibu benar-benar menyesal, akibat perbuatan Ibu, kamu dan Leo harus berpisah, dan Leo sama sekali tidak mau bicara pada Ibu, semoga setelah kamu memaafkan Ibu, Leo akan berubah pada Ibu" jelasnya panjang.
"Meminta maaflah pada Leo, kita tidak ada hubungan apapun,antara kamu dan aku, jika kamu meminta maaf padaku untuk menarik perhatian Leo, kamu salah besar" jawabku panjang.
"Ayu, Ibu sungguh-sungguh"
"Dan satu lagi, minta maaf lah pada Rio, darah dagingmu, dia yang lebih terluka akibat perbuatanmu" ujarku.
"Iya, iya Ibu akan meminta maaf pada Rio, cucu Ibu"
__ADS_1
"Baguslah" jawabku singkat.
"Ayu..."
"Sudah dulu, saya tidak ada waktu untuk membicarakan masalah ini, semuanya sudah selesai, kamu pun bebas menikahkan Leo dengan perempuan manapun yang kamu suka" aku mematikan telepon.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
Aku merasa sangat terganggu hanya dengan mendengar suara wanita itu. Wanita yang telah mengahancurkan semuanya milikku,milik Mas Leo, dan Rio.
Aku sungguh-sungguh masih sangat membencinya.
"Ayu, hanya padamu Leo ingin membuka diri, Ibu mohon bicaralah padanya agar mau memaafkan Ibu"
Pesan dari wanita itu masuk ke gawaiku.
Aku abaikan pesan itu.
Wanita benar-benar tidak tahu malu. Kenapa aku harus membantunya, kenapa pula dia yang meminta bantuanku.
"Wanita tidak tahu diri, tidak tahu malu" umpatku kesal.
"Selesaikanlah masalahmu dan Ibumu segera" selaku saat Mas Leo menghubungiku untuk menanyakan keadaan Rio.
"Maksudku selesaikan masalahmu dan Ibumu, aku tidak suka Ibumu terus-terusan menghubungiku untuk memintaku membujukkmu agar memaafkan nya, aku tidak suka!!" jelasku tegas.
"Aku belum siap" jawabnya.
"Itu bukan urusanku, dan aku tidak mau dilibatkan lagi dalam urusan kalian, karena itu bukan lagi urusanku!!" ujarku kesal.
"Maafkan aku" ujarnya juga.
"Iya... Aku juga minta maaf, tapi aku benar-benar tidak suka, jika Ibumu terus-terusan menghubungiku, menganggu dan merepotkan!!" aku semakin kesal mengingatnya.
"Iya, aku mengerti, maaf"
"Baiklah"
"Sampaikan salamku pada Rio, besok pagi aku hubungi lagi, kamu juga beristirahatlah" ujarnya.
"Oke, baiklah"
Telepon terputus.
__ADS_1
Sungguh, bukan niat hati melepaskan kekesalanku pada Mas Leo, tapi mengingat Ibunya, sungguh membuatku muak, emosi ku sungguh tidak dapat terbendung lagi, jika mendengar namanya. Sebegitu bencikah aku padanya? Iya.
Sungguh tidak terasa, hampir satu tahun lamanya kini aku menetap di Semarang. Kini adalah masa libur sekolah Rio, Mama dan Papa mengajak Rio dan Agus untuk berlibur ke Singapore pekan depan, sekalian memeriksakan kesehatan Papa dan Mama disana. Turut serta Pakde Johan dan Bude Sri. Tinggalah aku sendiri yang tidak bisa ikut, karena urusan pekerjaan yang benar-benar padat.
Senin sore ini, aku mengantarkan Rio menemui Papanya yang baru tiba di Semarang. Kami berjanji bertemu di salah satu mall di kota Semarang, sekitar 30menit dari kediaman kami.
Bertemu dengan Papanya adalah hal yang di tunggu-tunggu oleh Rio. Berbulan-bulan lamanya Rio dan Mas Leo harus menahan Rindu untuk bertemu, mereka hanya bisa melepaskan rindu melalui telepon dan vudeo call.
"Jadi Rio bakal liburan sama eyang?" tanya Mas Rio, ketika kami sedang menyantap ice cream bersama.
"Iya Pa" jawab Rio.
"Wah asyik sekali, pasti seru" semangat Mas Leo.
Mereka tertawa bersama.
Aku ikut bahagia melihat kebahgiaan mereka.
"Kamu nginap dimana Mas?"tanyaku.
"Di hotel C Yu" jawabnya.
Aku hanya mengangguk.
"Papa, masih lama kan disini?" ujar Rio.
"Iya, Papa disini sampai nanti Rio berangkat ke Singapore" jawab Mas Leo.
"Yess"
"Setelah itu Papa akan pulang ke Jakarta lagi?" tanya Rio lagi.
"Sepertinya Papa akan mengunjungi nenek di Yogya" jawab Mas Leo pelan.
Aku pura-pura tidak mendengar.
"Bagaimana kalo besok pagi kita berenang" ajak Mas Leo.
"Iya Rio mau Pa" jawab Rio semangat.
"Tapi..." ujarku.
"Gak apa-apa, besok biar aku yang jemput Rio kerumah ya, kamu pastu sibuk bekerja kan?" ujar Mas Leo.
__ADS_1
"Baiklah" jawabku singkat.