Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan seluruh karyawan kantor, dan dengan sedikit pesta perpisahan malam ini, aku pulang kerumah dengan membawa tiga box berisi semua barang-barangku yang selama ini ada di kantor.


"Apa ini?" tanya Mas Leo yang baru saja keluar dari kamar, melihat tiga tumpukan box diruang televisi.


"Barang-barangku di kantor" jawabku sambil meminum segelas air putih.


"Kenapa...."


"Aku resign" potongku.


Mas Leo menatap wajahku, entah tatapan apa yang dia berikan padaku.


"Kamu akan kembali ke Semarang?" tanya Mas Leo duduk disampingku yang sedang membuka semua box.


"Ya, tapi bukan sekarang, nanti" jawabku menoleh padanya.


"Maksudmu?"


"Aku ingin sedikit bersantai menikmati hidup tanpa rutinitas yang menyita waktuku" aku menutup kembali Box yang tadi sempat kubuka.


"Mungkin saatnya aku bahagia" aku berdiri membawa box itu kedalam ruangan kerja di dalam kamarku bergantian.


"Rangga" ucap Mas Leo.


Aku yang baru keluar kamar, dan ingin membuat secangkir kopi diam mendengar nama itu.


"Rangga yang tadi malam mengantarku pulang" ucap Mas Leo dengan tatapan melihat ke televisi.


"Iya" jawabku.


"Dan ketika aku tertidur karena mabuk, apa yang kalian lakukan?" ucap Mas Leo.

__ADS_1


Aku hanya diam.


"Tadi siang aku mengingat semuanya, aku mungkin sangat sangat mabuk tadi malam, tapi aku bisa melihatnya, tadinya aku fikir aku hanya mimpi, tapi siang tadi aku sudah mengingatnya dan ternyata itu bukan mimpi, aku melihat apa yang kalian lakukan disana!!" ungkap Mas Leo emosi, sambil menunjuk kepintu depan.


Aku diam membeku. Dan aku sadar aku salah.


"Kenapa? Kenapa kau melakukannya Ayu!!" Mas Leo melempar remot TV ke arahku, walaupun tidak kena, tapi aku cukup terkejut.


"Kau ingin membalas semua perlakuanku padamu ha?!!" Mas Leo emosi.


"Aku hanya terbawa suasana, maafkan aku" ujarku dan membawa secangkir dan melewatinya menuju teras belakang.


Mas Leo mengejarku dan merebut cangkir di tanganku dan melemparnya sembarang. Aku terkejut dengan menutup kedua telingaku.


"Kenapa ketika aku meminta Hak ku kau tidak ingin memberikannya, aku ini suamimu, tapi dengan laki-laki yang bukan suamimu kau dengan sukarela memberikan ciuman itu, kenapa? Kenapa?!!" Mas Leo marah tepat di depan wajahku.


"Apakah aku seburuk itu dimata mu? Sejijik itukah penilaianmu terhadapku? Harus berapa kali aku bersujud dan meminta maaf padamu!!"


"Jika kamu membutuhkan kehangatan, kenapa tidak meminta padaku? Kenapa harus laki-laki itu?!!" Mas Leo memegang kedua bahuku keras, terasa sakit.


Plak..


Aku menampar Mas Leo. Serendah itukah Mas Leo menilaiku.


Mas Leo memegang pipinya yang sudah merah.


Ku tatap matanya tajam.


"Aku mengakuinya aku salah, aku terbawa suasana, aku minta maaf padamu, tapi aku tidak serendah itu, tidak, aku tidak serendah itu!!" ungkapku bersamaan dengan air mata yang menetes dipipiku.


"Aku tidak serendah itu, untuk membalas semua perbuatanmu, aku bukan kamu, kita tidak sama!!" aku menghapus airmata ku.

__ADS_1


"Justru perbuatanmu dan ibumu adalah perbuatan yang sangat menjijikkan bagiku, tapi aku tidak pernah merendahkan harga diri kalian seperti ini, semuanya dan semuanya kututupi dengan lukaku ini, kututupi perbuatan buruk kalian, kenapa kau bisa mengatakan jika aku membalas semua perbuatanmu?!! Kenapa?!! Kamu tidak ingin terlihat bersalah sendirian disini, iya kan?!!" jelasku emosi.


"Kita sudah hancur sejak lama, hanya saja aku mencoba berdiri disini, berusaha untuk memperbaikinya demi Rio, aku tidak ingin dia juga merasakan kehancuran ini, aku bangun kembali puing-puing kehancuran ini dengan lem luka di hatiku, tapi semuanya tetap hancur, kau sudah menancapkan paku yang sangat dalam dihatiku, walaupun paku itu sudah dicabut, tapi luka dan perihnya mesih tetap ada dan terasa" kupungut pecahan cangkir yang Mas Leo lempar tadi.


Mas Leo masih berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Atau kau ingin aku melakukan perbuatan rendahan itu, agar kita menjadi satu sama?" ucapku.


Mas Leo menoleh padaku.


"Aku tidak suka kau dekat dengannya" ujar Mas Leo.


"Kenapa? Dia hanya temanku?" tanyaku.


"Tapi dia menyukaimu Ayu?"


"Aku tahu, bahkan dulu kami saling menyukai dan mencintai" ujarku. Dan aku tinggalkan Mas Leo.


"Ayu...!!" Mas Leo mengejarku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Apakah kamu pernah berfikir jika aku suka jika dikhianati olehmu dan ibumu. Tapi kenapa tetap kau lakukan, dengan mengesampingkan perasaanku dan Rio, oh ya aku tahu, semuanya demi nyawa Ibumu yang pandai berbohong itu" jelasku.


"Cukup Ayu!!"


Aku masuk kekamar dan menutup pintu dengan keras.


Mas Leo terdengar emosi, dia berteriak dan terdengar memecahkan barang yang sepertinya pernak-pernikku di atas buffet ruangan TV.


Aku menangis kencang dibawah shower kamar mandi. Luka itu kembali terbuka dan kini semakin sakit kurasakan.

__ADS_1


__ADS_2