
Pov Ayu
Jam delapan malam, belum ada tanda-tanda mas Leo dan Ibu pulang. Karena lelah menunggu,dan lelah dengan pekerjaan hari, rasa kantuk ini pun datang. Setelah menemani Rio dikamarnya hingga Rio tertidur, aku pun menuju kamarku untuk istirahat.
Hp Mas Leo yang tertinggal terlihat menyala, ketika aku akan mematikan lampu kamar. Kulihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal, terlihat di layar awal hp Mas Leo.
"Terima kasih ya Leo..." hanya itu yang terbaca olehku, aku tidak berani membuka pesan itu, mungkin itu dari rekan kerja mas Leo. Kuletakkan lagi HP Mas Leo di atas meja dan kumatikan lampu, dan naik ketempat tidur untuk beristirahat.
"Pulang jam berapa tadi malam Mas?" sapaku di pagi hari, saat Mas Leo duduk manis di depanku, di meja makan.
"Jam sembilan malam sayang" jawabnya.
"Kemana sama Ibu? Rio kok gak di ajak" tanyaku lagi, sambil meletakkan nasi goreng di atas piringnya.
"Ibu cuma minta anterin, terus waktu aku mau pulang Ibu larang, katanya takut pulang sendiri naik taksi" jelas Mas Leo.
"Rio kemana?" tanya Mas Leo.
"Rio udah pergi sama Dafa, di anterin Mbak Riska " jawabku.
"Pagi sekali" gumam Mas Leo.
"Ada kegiatan disekolah" jawabku singkat
Tidak lama Ibu juga duduk bersiap untuk sarapan.
"Leo makasih ya sayang untuk malam tadi" ucap Ibu, tapi Mas Leo tampak cuek saja bahkan tidak menjawab ucapan Ibu.
Aku jadi kebingungan melihat sikap Mas Leo kepada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Mas Leo terlihat enggan berlama-lama didekat Ibu. Apa yang Mas Leo sembunyikan dariku?
Dikantor pun aku merasa tidak nyaman, hati dan fikiranku selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi antara Ibu dan Mas Leo, dan apa yang sebenarnya Mas Leo sembunyikan, Mas Leo tidak pernah merahasiakan apapun dariku. Itulah kenapa aku merasa ada yang tidak beres antara Ibu dan Mas Leo.
Hp ku berbunyi membuyarkan lamunanku.
"Iya Mas" ucapku saat menjawab panggilan Mas Leo.
" sayang, kamu sibuk hari ini? " tanya Mas Leo
" Enggak kok Mas,baku cuma lagi periksa laporan aja nih, kenapa Mas? tumben?" jawabku dan balik bertanya.
"Mas dapat undangan pesta dari Pak Satrya, merayakan 50th pernikahannya dan merayakan kesehatannya yang berangsur membaik, kamu bisa kan temenin Mas? " jelasnya.
"Bisa, kapan? jam berapa? " tanyaku lagi.
" Nanti malam jam tujuh " jawab Mas Leo.
" oke deh mas " ucapku.
"yaudah nanti kita ketemu dirumah aja ya, mas mau lanjut kerja dulu, selamat bekerja sayang, jangan lupa makan siang" jelas Mas Leo mengingatkan ku.
"Iya sayang" jawabku dan panggilan terputus.
"Ani, aku gak ada meeting kan hari ini?" tanyaku pada Ani, ketika Ani didalam ruanganku.
"Tidak ada Bu " jawabnya.
"Yaudah ini laporannya sudah aku baca semuanya ya Ani, itu saya minta sedikit di perbaiki" jelasku sambil menyerahkan laporan kepada Ani.
"Iya Bu " jawab Ani
"Ya udah kamu lanjut kerja lagi ya" perintahku padanya, dan Ani pun pamit keluar ruangan.
"Saya selalu puas dengan hasil kerja kamu Yu" Bu Fatma pimpinan kantor memujiku, saat Bu Fatma mengajakku makan siang di ruangannya.
"Terima kasih Bu, itu memang tugas saya" jawabku merendah.
"Iya.. dan kamu sangat mengayomi para stafmu, itulah mereka sangat bersemangat untuk bekerja" puji Ibu Fatma lagi.
Aku tersenyum menanggapi pujian Bu Fatma.
Kamipun melanjutkan makan siang bersama.
"Ibu mertuamu masih ada disini Yu?" tanya Bu Fatma setelah kami selesai makan siang.
"Masih Bu" jawabku santai.
"Kamu terlihat kesusahan semenjak dia ada disini?" jelas saja Bu Fatma tahu tentang ibu mertuaku, Bu Fatma bukan hanya bos bagiku, dia seperti Ibu dan sahabat untukku.
"Seperti itulah" jawabku seadanya.
"Kamu wanita yang hebat Ayu, karir yang menanjak, menantu yang sabar, Ibu dan istri yang baik, apapun yang terjadi kamu selalu profesional dan totalitas dalam segala hal, itulah yang aku suka darimu" jelas Bu Fatma.
__ADS_1
"Sifat seseorang memang susah untuk berubah Yu, kau harus tetap kuat" Ibu Fatma menguatkan hatiku, dan menggenggam tanganku memberiku semangat.
"Kamu selalu menjadi pendengar yang baik untukku Yu, kamu yang menguatkan saya ketika di tinggal suami untuk selamanya, saya pun akan selalu ada buat kamu" ucap Bu Fatma sambil mengenang masa lalu, terlihat air mata mengenang di pelupuk mata wanita berhijab hijau itu.
"Maaf jika saya terlalu ikut campur urusan pribadimu Rahayu, tapi kamu sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri" ungkap Bu Fatma.
"Tidak apa-apa kok Bu" jawabku.
"Tadi malam, saya melihat suamimu dan ibunya menemui seseorang di kedai kopi ***, kebetulan itu kedai milik anakku" aku yang sedang meminum teh, langsung memandang Bu Fatma.
"Iya Bu, dia menemui teman Ibu mertua" aku menjawab.
"Teman? wanita muda? dan diapun datang seorang diri?" ungkap Bu Fatma bingung.
"Aku hanya takut ibu mertuamu berniat tidak baik padamu Ayu" ucap Bu Fatma
Aku seruput lagi teh meski tidak haus, aku terlihat gugup dan bingung.
"Ayu..maaf, bukan maksud untuk membuatmu bingung, saya harap kamu lebih hati-hati" ungkap Bu Fatma.
"Semoga yang aku fikirkan itu tidak benar Ayu" ungkap Bu Fatma lagi.
"Ibu tidak perlu minta maaf, justru saya berterima kasih pada Ibu" jawabku.
"Kalau begitu, saya permisi keruangan saya Bu, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" ucapku pamit kepada Bu Fatma.
"Iya Ayu, kamu boleh pulang jika keadaanmu tidak baik-baik saja, sekali lagi saya meminta Maaf" ucap Bu Fatma merasa bersalah. Aku mengangguk dan berlalu meninggalkan Bu Fatma.
"*T**erima kasih ya Leo*..." pesan yang setengah ku baca dari ponsel Mas Leo tadi malam terngiang-ngiang di kepalaku.
"Apa ada hubungannya dengan kepergian Mas Leo dan Ibu tadi malam, dan yang Bu Fatma ceritakan tadi?" batinku.
"Benarkah wanita itu teman Ibu, atau?" batinku lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ibu terlihat gembiran pagi ini dan Mas Leo terlihat menghindar dari Ibu, apa semua ada hubungannya dengan cerita Bu Fatma tadi " batinku terus berbicara,kepala ku pusing memikirkannya.
Kulajukan mobil menuju rumah, kulihat jam menunjukkan pukul dua siang. Ku parkirkan mobil dan masuk kedalam rumah. Kulihat Ibu sedang menelpon seseorang dengan bahagia di halaman belakang rumahku. Aku masuk kedalam kamar dan beristirahat menenangkan fikiran.
"Kamu sudah pulang, kok gak ada salam, emang Ibu ini patung apa?" sindir Ibu sedikit berteriak dari luar kamarku.
Aku keluar dari kamar dan menjawab ucapan Ibu.
"Ibu terlihat asyik menelpon, Ayu cuma gak mau ganggu" aku berlalu menuju dapur, untuk mengambil segelas air putih.
"Ayu mau istirahat Bu, kepala Ayu pusing" ucapku sambil masuk kedalam kamar.
"Sayang...sayang" mas Leo mengguncang badanku.
"Ayo bangun" perintah Mas Leo, ternyata aku tertidur tadi.
"Iya Mas" jawabku dan duduk dipinggir kasur.
"Kamu sakit, tumben siang udah pulang kantor?" tanya Mas Leo.
"Iya Mas, tadi sedikit pusing tapi kini udah enggak kok" jawabku.
"Ayo kita siap-siap, jadi kan temenin aku ke pesta" ajak Mas Leo sambil menarik tanganku.
Akupun masuk kekamar mandi.
Selesai mandi aku keluar kamar untuk menemui Rio, baru saja aku melangkah dari kamar, aku lihat Rio sedang berbincang dengan Ibu, tidak lama Rio berdiri dan meninggalkan Ibu, Rio terlihat marah. Ternyata mas Leo juga melihat apa yang kulihat, kami berpandangan, Mas Leo langsung berlari menuju kamar Rio. Aku ingin menyusul kekamar Rio, tapi di depan pintu kamar Rio aku terdiam setelah mendengar penuturan Rio
"Rio gak suka Nenek Pa, Rio gak suka nenek selalu ngejelekkin Mama di depan Rio" ucap Rio emosi
"Maafin nenek ya Rio?" tutur Mas Leo.
"Kenapa sih pa Nenek gak pernah suka sama Mama? emang Mama pernah buat salah apa sama Nenek?" tanya Rio lagi. Mas Leo tidak bersuara.
"Rio juga dengar semua yang Nenek katakan sama Papa waktu itu, Rio gak suka Nenek lama-lama disini Pa" ucapan Rio membuat aku kembali bertanya-tanya, ada apa sebenarnya terjadi? kenapa Rio sangat marah kepada Neneknya?
Aku cepat masuk kekamarku ketika Mas Leo akan keluar dari kamar Rio, aku tidak ingin Mas Leo tau kalau aku mendengar semuanya.
Jam enam lebih tiga puluh menit, aku dan Mas Leo sudah bersiap kepesta Pak Satrya. Akupun pamit kepada Rio yang masih mengurung di kamar, dan Rio pamit ingin kerumah Daffa anak Mbak Riska tetanggaku. Rio pun berpamitan dengan Lapanya, dan pergi meninggalkan rumah menuju rumah tetangga sebelah.
"Kami pergi dulu ya Bu?" pamitku pada Ibu, Ibu hanya diam tanpa jawaban, Ibu asyik memainkan ponselnya. Kutinggalkan Ibu, dan menunggu Mas Leo di ruang tamu.
"Kami pergi Bu" kudengar Mas Leo pamit
"Iyaa hati-hati ya" jawab Ibu ramah.
Selama didalam mobil aku lebih banyak diam, fikiran dan hatiku penuh dengan berbagai pertanyaan dan kecurigaan. Mas Leo terlihat asyik menyetir sambil mengikuti alunan musik dari tape mobil.
__ADS_1
"Selamat datang Pak guru Leo dan Ibu Rahayu" sapa Pak Satrya ketika kami memasuki rumahnya.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang Bu Ayu dan Pak Leo" ucap istrinya dilanjutkan dengan cupika cupiki.
"Sama-sama Ibu" jawabku.
"Ayo pak ibu, selamat menikmati sajian kami" ucap Pak Satrya lagi.
"Terima kasih" jawabku dan Mas Leo serempak.
Aku dan mas Leo pun mengambil satu gelas jus jeruk yang sudah disajikan. Dan kami lanjutkan dengan mengobrol dengan tamu-tamu yang lainnya. Mas Leo terlihat asyik mengobrol, aku pun meninggalkan Mas Leo, mencari kursi kosong. Kakiku lelah terlalu lama berdiri.
"Sendirian aja?" sapa seseorang dan duduk disampingku.
"Rangga?" ucapku kaget.
"Kamu juga diundang kesini?" tanyaku lagi.
"Iya dong" jawabnya bangga. Aku hanya tertawa menimpali jawabannya.
"Sendirian aja?" tanyaku lagi.
"Harusnya sama siapa?" Rangga balik bertanya.
"Istri kamu? kok gak di bawa?" tanyaku.
"Hahahahhaaaaa..." Rangga tertawa mendengar pertanyaanku.
"Kenapa ketawa?" aku heran.
"Kamu ngledekin aku?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Akupun hanya diam,tidak mengerti maksud nya.
"Aku ini jones Ayu, jomblo ngenesss" jawabnya lagi sambil tertawa.
"Bohong...dosa lho" ucapku.
"Beneran kamu gak tahu?" tanya Rangga.
"Yang aku tahu kamu udah nikah kan?" aku menjawab setauku.
"Itu dulu, kini udah jonessss" ucapnya pura-pura sedih
"Cerai? sudah lama" jiwa kepo ku bangkit.
"Udah sangat lama, bertahan hanya dua tahun" jawabnya serius.
"Dan anak kamu?" tanyaku lagi.
"Aku tidak punya anak" jawabnya.
"Aku benar-benar tidak tahu Rangga, maaf ya?" pintaku padanya.
"Gak papa kok, biasa aja lagi" jawabnya santai.
"Kenapa gak nikah lagi aja sih Ngga, biar kemana-mana gak sendiri" ucapku memberi solusi.
"Takut dikhianati lagi Yu, jadi males" ucap nya.
"Emang nanti siapa yang bakal ngurusin kamu kalo udah tua?" ungkapku.
"Kamu" jawabnya singkat.
"Apaan sih" ungkapku. Rangga pun tertawa melihat ekspresiku.
"Sayang kamu disini " Mas Leo menghampiriku yang sedang ngobrol dengan Rangga.
" Mas Leo? iya aku disini daritadi, kaki aku pegel berdiri terus, eh iya Mas, ini kenalin teman SMA-ku dulu, Rangga" aku mengenalkan Rangga pada Mas Leo.
"Rangga ini kenalin suami aku" ucapku pada Rangga. Rangga dan Mas Leo pun berkenalan.
"Yu aku kesana ya?" pamit Rangga padaku, aku dan Mas Leo pun mengiyakan.
"Akrab banget sama Rangga" ucap suamiku membuka obrolan didalam mobil ketika kami pulang menuju rumah.
"Seperti itulah" jawabku.
"Ngobrolin apa aja?" tanya Mas Leo ingin tahu.
"Banyak, ngobrolin masa sekolah dulu, dan ngobrolin kerjaan" jawabku jujur.
"ooh" ucap Mas Leo singkat.
__ADS_1
Kami pun larut dalam fikiran masing-masing selama perjalanan pulang kerumah.