
Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan untukku dan Mas Leo. Meskipun berat kami berusaha menerimanya dengan lapang dada, setidaknya kami bisa bekerja sama sebagai orang tua Rio.
Setelah 3 kali persidangan, dan 1 kali mediasi, keputusan perceraian kami sudah resmi di kabulkan oleh PENGADILAN AGAMA. Semuanya berjalan tanpa hambatan, termasuk masalah harta gono-gini, semua kami serahkan untuk Rio, itu berdasarkan kesepakatan bersama.
Hubunganku dengan orang tuaku pun membaik, mereka tidak terlalu ikut campur masalah yang kami hadapi, bagi mereka yang penting aku dan Mas Leo tidak melupakan tanggung jawab terhadap Rio. Bahkan setelah aku dan Mas Leo resmi berpisah, Mama dan Papa sama sekali tidak menyinggung masalah itu, demi menjaga perasaanku.
Dan Papa juga memintaku untuk kembali ke Semarang. Sesuai dengan permintaan Papa sebelum masalahku dan Mas Leo ada untuk agar aku melanjutkan dan memimpin perusahaan milik Papa. Dengan itu, aku juga sudah memutuskan resign dari kantor milik Rangga.
"Jadi kapan kamu akan berangkat ke Semarang Yu?" ujar Rangga siang ini yang berkunjung ke Apartemenku.
"Lusa, lebih cepat lebih baik" jawabku.
"Kamu berangkat sendiri?" tanya Rangga lagi.
"Ya, mau dengan siapa lagi" jawabku.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu Yu" ujar Rangga.
"Hahaha..... Kamu bisa aja" ucapku dengan sedikit malu. Mungkin pipiku terlihat memerah.
"Aku serius Yu, aku pasti akan kesepian tanpa kamu"
"Ah udah deh... Kalo kamu beneran rindu, kamu bisa telepon aku, atau pesen tiket dan langsung datang menemuiku ke Semarang" jelasku sambil tertawa.
"Aku akan datang dan langsung melamarmu pada orangtuamu" ungkapnya.
"Wahh... Kamu semakin berani ya" aku melempari Rangga dengan sebiji snack kacang goreng.
"Kenapa harus takut, kini kamu bukan milik siapa-siapa lagi kan" ucapnya.
"Ya ya ya... Aku percaya" ledekku.
Rangga tersenyum melihatku.
"Mungkin aku salah bahagia diatas perceraianmu" ujar Rangga.
Aku hanya diam. Aku tersenyum dengan sedikit terpaksa.
"Semoga kamu bisa cepat membuka hatimu untukku" ungkapnya.
"Posisiku sekarang tidaklah mudah Rangga" ujarku.
"Ya aku mengerti, aku tidak akan memaksakanmu, bagiku, kamu mengetahui perasaanku saja itu sudah jauh lebih baik, jika kau membalasnya itu merupakan sesuatu yang amat sangat membuatku lebih bahagia lagi" jelasnya.
"Terima kasih banyak ya Rangga atas semua perasaanmu untukku, untuk semua kebaikan-kebaikanmu dan pertolonganmu padaku" ungkapku.
"Oke, sebagai gantinya aku akan mengantarmu ke bandara besok lusa, aku tidak menerima penolakan yah" pintanya memaksa.
Aku tertawa dan mengangguk tanda setuju.
Malam ini seusai packing semua barang-barang yang akan aku bawa ke Semarang, aku membaca pesan dari Mas Leo.
Aku dengar dari Rio, kamu akan berangkat ke Semarang besok pagi?.
Ya Mas. Balasku.
***Ayu, jika kamu ada waktu aku ingin ketemu malam ini, kamu mau?.
Mau kemana Mas***?. Balasku lagi.
__ADS_1
***Bagaimana kalo kita makan malam, kebetulan aku belum makan malam ini, kalo kamu mau 30 menit lagi aku tunggu di lobby ya.
Baiklah Mas***. Balasku.
Setelah membalas pesan dari Mas Leo. Aku bergegas untuk sedikit bersiap-siap, dengan menggunakan celana jeans dipadukan dengan baju kaos dan jaket denim. Tidak lupa kupoles sedikit wajahku dengan bedak tipis-tipis, dan lipgloss agar terlihat sedikit segar.
Aku bergegas menuju Lobby setelah mendapat telepon dari Mas Leo. Aku tidak mau Mas Leo terlalu lama menunggu di Lobby.
"Mas" sapaku.
"Ayo..." ajaknya.
Aku mengekorinya keluar dari gedung Apartemen.
"Ayu, hmmm bagaimana kalo kita sambil berjalan-jalan malam" ajaknya.
"Maksudku berjalan kaki" Mas Leo terlihat kikuk menjelaskannya.
"Ya baiklah" jawabku sembari tersenyum.
"Kamu tidak keberatankan kalo kita makan di gerobak-gerobak pinggir jalan" ajaknya dengan suara pelan.
"Iya Mas" aku kembali memberikan senyumku padanya. Mas Leo ikut tersenyum mendengar jawabanku.
Kamipun jalan bersisian dalam diam. Aku bingung harus memulai pembicaraan darimana, mungkin begitupun dengan Mas Leo.
"Ayu, kita makan disana aja yuk" ajak Mas Leo, menunjuk penjual nasi dan ayam goreng.
Aku mengangguk tanda setuju.
Aku dan Mas Leo masuk kedalam tenda penjaja makanan kaki lima di malam hari, di dalam tenda tidak terlalu ramai. Aku dan Mas Leo memilih duduk di kursi bagian ujung, setelah memesan makanan.
Setelah makanan terhidang diatas meja, kami hanyut dalam makanan kami masing-masing.
"Ayu, jadi besok kamu beneran akan kembali ke Semarang?" tanya Mas Leo setelah kami menyelesaikan makan.
"Iya Mas" jawabku.
"Maaf ya Mas, aku tidak cerita sama kamu" ujarku.
"Ya, aku mengerti kok" ucapnya.
"Rio pasti akan senang kamu akan kembali ke Semarang" ujarnya.
Aku hanya tersenyum.
"Berikan juga peluk terhangat dariku untuk Rio" pintanya.
"Iya Mas, sudah pasti, Rio pasti sangat merindukanmu" ujarku.
"Setidaknya, kamu bisa membuat Rio bahagia, aku juga ikut bahagia" ungkapnya.
"Jika ada waktu datanglah ke Semarang ya Mas" pintaku.
"Sudah pasti itu, tanpa kamu mintapun" jawabnya.
"Bagaimana kalo besok aku anterin ke Bandara?" tawarnya.
"Hmm gak usah repot-repot Mas" tolaku lembut.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok, gak repot kok Yu" pintanya lagi.
"Masalahnya aku udah janji sama Rangga Mas" jawabku pelan.
"Rangga?" tanya Mas Leo.
"Iya Mas, maaf ya Mas, Rangga lebih dulu menawariku" jelasku.
"Yaudah kalo gitu" jawabnya.
"Aku bayar dulu ya kesana" Mas Leo berdiri menuju kasir.
Kami kembali berjalan menuju Apartemenku. Kami kembali berjalan dalam diam.
"Hmmm Mas, kamu jangan lupa jaga kesehatan ya" ujarku ketika kami semakin dekat dengan apartemen.
"Kamu juga" jawabnya.
"Dan sampaikan juga salamku pada Mama dan Papamu" ujarnya.
"Iya pasti aku sampein kok" ucapku.
"Jaga Rio baik-baik ya Yu" pintanya.
"Iya Mas, kamu tenang aja" ujarku.
"Aku boleh anterin kamu sampe depan kamar kamu kan?" tanya Mas Leo.
"Iya Mas, boleh" aku menyetujuinya.
Kami berjalan bersisian masuk ke gedung apartemen dan menaiki lift menuju kamarku.
"Makasih banyak ya Mas, makasih udah manjain perut karetku" ujarku.
"Sama-sama, makasih juga udah nemenin aku makan malam" ucapnya juga.
Hening.
Mas Leo menarik tubuhku memeluk tubuhku erat.
"Ayu, datanglah padaku jika kau butuh" ucapnya.
Aku hanya mengangguk.
Mas Leo melepaskan pelukannya padaku.
"Kamu harus baik-baik saja, sekali lagi maafkan aku Ayu" Mas Leo menggenggam tanganku erat.
"Ya Mas, kamu juga ya" jawabku.
Mas Leo mengangguk, melepaskan genggamannya ditanganku.
"Aku pulang ya" pamitnya.
"Hati-hati di jalan ya Mas" ucapku.
"Iya" Mas Leo tersenyum dan berlalu menuruni lift dan meninggalkanku.
Sakit.
__ADS_1
Tapi aku harus kuat dan terbiasa.