Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN DELAPAN


__ADS_3

Hari ini dimana hari pertama Rio libur sekolah. Mas Leo yang seorang guru seni musik juga libur mengajar, dan tempat kursus nya tutup selama liburan. Aku belum mengambil keputusan untuk berliburan kemana kami.


Mas Leo dan Rio sedang di ruang tengah, sibuk dengan ponsel nya masing-masing. Baru saja akan menemui mereka di ruang tengah, HP ku berbunyi dari dalam kamar. Kulihat mamaku yang menelpon.


"Hallo iya Ma"


"Ayu, kamu lagi sibuk?" tanya mama diujung telpon.


"Enggak kok Ma, Ayu sedang cuti, kenapa Ma?"


"Ayu kamu bisa pulang ke Semarang,? Papa sakit" suara Mama terdengar menahan tangis.


"Papa kenapa Ma?" tanyaku panik.


"Belum tau nak, sekarang Papa lagi di periksa Dokter, tadi Papa jatuh dirumah" jawab Mama sambil menangis.


"Sekarang Mama sama siapa disana? Mama tenang aja, Ayu usahakan pulang ke Semarang hari ini, Mama jangan panik ya?" aku menguatkan Mama.


"Iya sayang.. kamu juga jangan panik, disini Mama di temani Bude Sri" jelas Mama.


"Yaudah nanti Ayu kabari Mama lagi" aku memutuskan panggilan dari Mama. Hatiku tidak bisa berbohong, aku benar-benar panik dan khawatir.


"Mas.."


"Hmmm kenapa sayang?" jawab Mas Leo. masih asyik dengan ponselnya.


"Mas aku mau pulang ke Semarang, Papa sakit" air mataku jatuh tanpa kompromi.


Rio dan Mas Leo menatapku berbarengan dan mendekat kearahku.


"Yaudah aku pesan tiket sekarang, kamu siapin pakaian yang akan kita bawa, Rio juga packing ya nak " Mas Leo memberi perintah tegas. Tanpa aba-aba aku dan Rio langsung menyiapkan pakaian yang akan kami bawa.


Setelah semua sudah siap. Kami bersiap untuk berangkat. Sebelumnya Mas Leo sudah menitipkan rumah kepada pak RT dan Satpam komplek, tidak lupa kami juga menitipkan rumah kepada tetangga, terutama Mas Agung suami Mbak Riska. Setelah semua urusan sudah selesai, kami hanya menunggu taksi online.


"Jeng, hati-hati ya di jalan, jangan panik semoga Bapak lekas membaik" ucap Mbak Riska, ketika menemani kami menunggu taksi.


"Jangan khawatir, nanti kami akan jaga rumah Bapak Leo" ucap pak RT.


Kami siap menuju bandara setelah berpamitan dengan tetangga-tetangga kompleks.


Sesampainya di Bandara Semarang, kami di jemput supir Papa, Pakde Johan. Pakde Johan sudah sangat lama bekerja dengan Papa, sedari ku kecil Lakde Johan dan Bude Sri istrinya sudah bekerja dirumah kami. Lebih kurang 30 tahun pengabdiannya kepada keluarga kami, Pakde lebih tua dua tahun dari Papa. Bagi kami Pakde Johan dan Bude Sri bukan hanya orang yang bekerja di keluarga kami. Tapi mereka sudah seperti keluarga sendiri.


"Pakde kita langsung kerumah sakit aja" ucap suamiku membuka obrolan.


"Baik den" jawab Pakde Johan patuh.


Aku hanya diam tidak sanggup berkata-kata memikirkan Papa yang sedang sakit.


Setiba di Rumah Sakit kami langsung menuju ruangan tempat papa di rawat. Ketika masuk kedalam ruangan Mama langsung memelukku. Mama tidak lagi menangis, Nama terlihat sedikit tenang. Aku mendekat dan duduk disamping kiri Papa, kupegang tangan Papa yang berhiaskan selang infus. Papa tertidur, mungkin efek dari obat. Mas Leo duduk di sebelah kanan Papa.


"Dokter bilang apa Ma?" Mas Leo bertanya pada Mama.


"Papa kena serangan jantung, untuk cepat kerumah sakit, jadi masih terselamatkan. Tadi udah di lakukan penanganan, alhamdulillah Papa kalian sudah berangsur stabil " jelas Mama sambil memeluk Rio di sofa tamu.


Aku masih terus memandangi Papa, tidak pernah aku melihat Papa seperti ini. Seumur hidupku baru kali ini Papa dirawat di Rumah Sakit, itulah yang membuatku panik dan khawatir. Papa dan Mama sedari dulu selalu menerapkan pola hidup sehat dan olahraga teratur. Setiap bulan mereka selalu chekup kerumah sakit. Tapi mungkin faktor usia membuat kondisi tubuh Papa lemah dan tidak stabil.


"Mama dan Bude Sri istirahat saja dirumah, biar nanti Leo sama Ayu yang jagain Lapa" ucap Mas Leo.


"Gak apa-apa Mama disini aja" Mama tidak mau meninggalkan Papa.


"Nanti Mama kesini lagi, Mama istirahat dulu ya dirumah, Rio juga ikut sama Eyang ya " pinta Mas Leo pada Mama dan Rio.


Mama pun menuruti perintah Mas Leo. Mereka pun pulang kerumah di antar Pakde Johan.


Papa sudah bangun,tapi dilarang untuk banyak bergerak. Papa harus banyak istirahat. Papa sedikit heran melihat ku dan Mas Leo yang menjaganya.


"Kemana Mama?" tanya Papa tertatih.


"Mama pulang sama Bude Sri dan Rio, nanti kesini lagi kok" jawabku


"Leo mana?" tanya Papa lagi.


"Mas Leo keluar beli obat Papa di apotek" jawabku sambil mengelus tangan keriput Papa.


"Kalian sudah lama?" Papa tidak berhenti bertanya.

__ADS_1


"Siang tadi kami tiba disini" jawabku.


Papa tersenyum mendengar jawabanku, akupun ikut tersenyum.


Sudah tiga hari Papa dirawat, Papa semakin membaik. Setiap waktu Papa minta pulang kerumah, katanya bosan dirumah sakit, terlalu banyak aturan. Kami tertawa mendengar omelan Papa.


"Kata Dokter Papa hari ini sudah boleh pulang" ungkap Mas Leo yang baru saja dari ruang Dokter.


"Yaudah ayo kita pulang" Papa sangat bersemangat.


"Papa disini dulu, Leo urus semua administrasinya, nanti ada Dokter dan suster yang akan memeriksa Papa sebelum pulang. Sayang, kamu beresin ya barang-barang yang mau dibawa pulang?" perintah Mas Leo. Dan Mas Leo berlalu mengurus semua administrasinya.


"Leo terima kasih" ucap Papa saat kami di dalam mobil, pulang menuju rumah.


"Terima kasih untuk apa Pa? ini tidak seberapa dibanding kepercayaan yang Papa berikan untuk Leo" jawab Mas Leo.


Aku hanya tersenyum melihat Papa dan Mas Leo yang begitu sangat akrab.


"Papa memang tidak salah memilih menantu" ucap Papa yang membuat kami semua tertawa.


Hari kedua kepulangan Papa dari rumah sakit. Papa terlihat lebih baik lagi,apalagi melihat Rio, Papa semakin bersemangat.


"Sayang.." panggil Mas Leo ketika aku sedang menyiram tanaman Mama. Wajah Mas Leo terlihat panik.


"Kenapa Mas?" jawabku sambil mematikan kran air.


"Mas harus ke Yogya sekarang, Mama sakit" ucap Mas Leo khawatir.


"Aku ikut ya Mas?" timpalku.


"Kamu disini aja dulu jagain Papa, aku pulang sendirian aja, nanti kamu menyusul aja ya?" pintanya. Akupun mengangguk tanda setuju, aku juga masih harus membawa Papa periksa ke Dokter besok, tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja.


Mas Leo sudah berpamitan dengan Mama Lapa dan Rio. Aku yang mengantar Mas Leo ke stasiun.


"Hati-hati di jalan ya Mas?"


"Iya sayang, doakan Mama cepat membaik, biar lebih cepat aku jemput kalian" jawab Mas Leo.


Aku mengangguk, setelah mencium keningku Mas Leo pun pergi ke Yogya menggunakan kereta api.


"Ma Pa, Ayu mau menyusul Mas Leo ke Yogya, Ayu gak enak sama Ibunya Mas Leo" ungkapku pagi itu.


"Ya gak apa-apa, Papa sama Mama gak mungkin ngelarang kamu, Ibu Leo juga berarti Ibu kamu" jawab Papa tegas.


"Tapi Rio gak mau ikut Ma, Rio mau disini aja" pinta Rio.


"Yaudah.. Tapi Rio jangan nakal, kasian Eyang masih sakit, jangan buat Eyang khawatir" aku menasehati Rio.


"Oke Ma..siap" jawab Rio semangat.


Di antar Pakde Johan, aku menuju stasiun. Aku juga sudah ngabarin Mas Leo, bahwa siang ini aku berangkat ke Yogya. Hanya menenteng tas kecil berisi beberapa lembar pakaian, aku pun berangkat menuju Yogya.


Kulihat Mas Leo melambaikan tangannya ketika aku turun dari kereta api. Aku berjalan menuju Mas Leo yang sedang berdiri sambil memegang sebotol air mineral.


"Capek ya..." tanya Mas Leo dan menyodorkan air mineral itu padaku.


"Gak juga Mas..." jawabku dan meneguk air mineral.


Aku dan mlMas Leo berjalan menuju parkiran.


"Kita naik motor" ucapnya dan memasangkan helm di kepalaku.


"Seperti mengenang masa pacaran dulu" ucapnya lagi.


Akupun tersenyum, dan duduk di belakang Mas Leo, diatas motornya ketika masih kuliah dulu.


"Dalam keadaan gini kamu masih sempet-sempetnya Mas mau nostalgia" ungkapku.


"Gak apa-apa, lagian Ibu udah baikan kok" jawabnya santai.


"Sayang gimana kalo kita makan gudeg dulu kesukaan kamu?" tawarnya.


"Gak usah Mas, kita langsung kerumah sakit aja ya lihat Ibu, nanti kapan-kapan aja kita kesana" pintaku.


"Siap sayangku" jawab Mas Leo.

__ADS_1


Disinilah aku sekarang, diruangan tempat Ibu di rawat. Ketika melihatku Ibu langsung membalik badan, membelakangiku. Aku sudah tau akan seperti ini, tapi tidak apa, yang penting sekarang aku sudah lihat keadaan Ibu.


"Sayang kamu tunggu disini ya sama Karina? aku beliin makanan untuk kamu" ucap Mas Leo, yang tanpa persetujuanku langsung meninggalkanku dan Karina di dalam ruangan Ibu.


"Apa kata dokter?" tanyaku pada Karina.


"Ibu hanya kecapekan dan banyak fikiran, jadi asam lambungnya naik" jawab Karina.


"Sebenarnya Ibu udah boleh pulang Mbak, tapi Mas Leo minta sama Dokter biar Ibu bisa dirawat lagi, habisnya Ibu itu ngeyel Mbak " Karina berbisik padaku.


Aku hanya tertawa mendengar cerita Karina.


Setelah aku dan Karina selesai makan yang dibelikan Mas Leo. Mas Leo mengajakku untuk pulang dan istirahat dirumah. Mungkin Mas Leo merasa tidak enak padaku, karena sedari tadi Ibu sama sekali tidak menanggapiku.


Hari ini Ibu di izinkan pulang kerumah. Aku sedari pagi sudah membersihkan rumah terutama kamar Ibu. Dan aku juga udah masak untuk makan siang ini, tidak lupa soup buntut kesukaan Ibu sudah selesai ku masak 30 menit yang lalu.


Aku bersantai menonton TV sambil menunggu kepulangan Ibu dari rumah sakit. Semoga mood Ibu lebih baik kepadaku hari ini.


Aku menyambut kedatangan Ibu di halaman depan rumah. Aku membuka pintu mobil untuk membantu Ibu turun dari mobil, tapi Ibu menolak dan menepis tanganku. Tidak apa bagiku, aku beralih membantu Mas Leo membawa pakaian Ibu selama di rumah sakit.


"Ibu mau makan siang,? Ayu udah masakin soup buntut kesukaan Ibu " tawarku ketika Ibu duduk diatas ranjang kamarnya.


Ibu tidak menjawab, Ibu hanya diam, bahkan melihatku pun tidak.


"Wah aku mau dong Mbak, masakan Mbak Ayu pasti enak" Karina mencoba mencairkan suasana. Aku hanya tersenyum kaku, perasaanku benar-benar tidak enak.


"Mbak aku mandi dulu, nanti kita makan siang bareng ya?" ucap Karina ketika kami keluar dari kamar Ibu.


"Yaudah mas mau mandi juga ya" Mas Leo tersenyum padaku.


Makan siang sudah terhidang di atas meja. Aku duduk di kursi meja makan sembari menunggu Karina dan Mas Leo selesai mandi. Aku duduk dengan tangan menopang dagu, fikiran ku melayang melihat perlakuan Ibu padaku. Dan aku lebih memikirkan tentang wanita yang datang menjenguk Ibu kemarin siang. Wanita yang mengantar Ibu pulang ketika di Jakarta tiga bulan yang lalu. Wanita yang kutahu dari Karina bernama Laras itu, terlihat sangat akrab dengan Ibu, Ibu bisa tertawa dan membicarakan banyak hal dengan wanita itu, yang tidak pernah Ibu lakukan padaku. Perlakuan Ibu kepada wanita itu berbanding terbalik dengan perlakuan Ibu kepadaku. Dari awal perkenalanku pada Ibu sampai detik ini, ibu tidak pernah menganggapku ada, bahkan apapun yang aku lakukan selalu salah di mata ibu. Terngiang kembali yang Ibu sampaikan padaku saat keributanku dengan Ibu beberapa bulan yang lalu bahwa Ibu tidak akan pernah menyukaiku. Entah kesalahan apa yang pernahku perbuat yang membuat Ibu sebenci itu kepadaku.


" Sayang kok melamun?" Mas Leo membuatku kaget.


"Gak ada Mas, cuma keingetan sama Rio di Semarang" bohongku.


"Yaudah nanti habis makan siang, kita video call sama Rio" ujar Mas Leo, dan meyerahkan piring kosong padaku. Aku tersenyum dan mengisi piring Mas Leo dengan nasi.


Setelah makan siang, aku membersihkan meja makan dan Karina mencuci piring. Kami diam dan larut dalam pekerjaan masing-masing, sedangkan Mas Leo merayu Ibu untuk makan siang dengan masakanku.


Mas Leo menggelengkan kepala dengan membawa nasi yang masih utuh keluar dari kamar Ibu.


"Ibu minta di beliin bubur di pasar" ungkap Mas Leo.


"Iih... Ibu ada-ada aja, dirumah sakit malah gak mau dikasih bubur" ucap Karina kesal.


"Yaudah Mas beliin aja bubur untuk Ibu, kasian nanti Ibu lapar" mintaku pada Mas Leo.


Baru saja Mass Leo mau pergi ke pasar membeli bubur Ibu, ada seorang laki-laki mengantarkan Rantang berisi makanan.


"Ini benar rumah Pak Leo?" tanya laki-laki pembawa rantang itu kepada ku dan Mas Leo yang berdiri di teras.


"Iya benar saya sendiri" jawab Mas Leo.


"Ini ada makanan untuk Ibunya Mas Leo" jawab laki-laki itu sambil menyerahkan rantang kepada Mas Leo.


"Ini dari siapa?" tanyaku.


"Ini dari Ibu Larasati " jawab laki-laki itu, tidak lama laki-laki itu pamit setelah memberikan kiriman dari Larasati.


Mas Leo dan Karina saling menatap ketika Mas Leo menjelaskan perihal rantang kepada Karina. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu.


"Isinya bubur Na, pas banget Ibukan mau makan bubur" ujarku berpura-pura santai. Padahal hatiku mempunyai beribu pertanyaan, kenapa wanita itu sangat akrab pada ibu? kenapa wanita itu tahu jika Ibu menginginkan bubur? Apa yang Ibu dan wanita itu rencanakan? Dan apa pula yang Mas Leo dan Karina sembunyikan dariku?.


Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah, di bagian bawah rantang berisi soup buntut. Aku kembali menguasai diri dan berusaha tenang. Ku salin bubur dan soup buntut itu kedalam mangkok,vdan meminta Karina mengantarkannya pada ibu dikamar.


"Soup buntut buatan Laras emang enak Na, buburnya juga enak" puji ibu dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit.


"Padahal Mbak Ayu udah buatin Ibu soup buntut lho bu" ucap Karina yang sedang menemani Ibu makan dikamar nya.


"Masakan Ayu mah gak ada apa-apanya Na, ini mah sama persis kayak buatan ibu" puji Ibu lagi.


"Masa sih bu, padahal soup buntut buatan Mbak Ayu itu udah sangat enak lho menurut Ayu, mendiang Bapak aja suka banget" Karina memuji masakanku.


"Udah udah terserah kamu, bagi Ibu buatan Laras ini pas di lidah Ibu, lihat Ibu tinggal Sms aja, pesanan ibu udah di antar sama Laras" ungkapan Ibu membuat hatiku sakit, aku mengigit bibir manahan tangis.

__ADS_1


Aku pergi dari pintu kamar Ibu, dan pergi berkeliling kampung sendirian. Dari jauh kulihat Mas Leo sedang berbincang dengan warga sekitar. Aku berjalan arah berlawanan dari tempat Mas Leo sedang berkumpul. Aku sedang ingin sendiri.


__ADS_2