
POV Ibu Leo
Namaku Mirna, ibu dari Leo dan Karina. Suamiku sudah kembali kepangkuan Illahi lima tahun yang lalu.
Di Yogya aku hanya berdua dengan Karina anak bungsuku yang kini bekerja di kantor Telekomunikasi di Yogya.
Leo anakku sudah menikah dan sudah memberikanku seorang cucu laki-laki yang sangat tampan. Leo dan keluarganya kini menetap di Jakarta.
Leo mempunyai seorang istri bernama Rahayu, atau biasa di panggil Ayu.
Ayu wanita yang keibuan berhati lembut dan mandiri, aku akui itu. Walaupun aku tidak menyetujui hubungan mereka sejak awal mereka berpacaran.
Leo adalah anak laki-laki yang sangat penurut dan baik hati. Leo tidak pernah sekalipun membantahku dan bapaknya, sama halnya juga dengan Karina yang terpaut 10 tahun umurnya dengan Leo.
Aku ingat pertama kali Leo mengajak Ayu kerumah kami, mengenalkan Ayu sebagai pacarnya. Itu adalah kali pertama Leo mengenalkan kekasih kepada kami, keluarganya.
Semakin lama hubungan Leo dan Ayu semakin serius, ditambah Leo sudah mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ayu untuk dijadikan sebagai istrinya. Aku sangat menentang itu, karena aku sudah menyiapkan jodoh pilihanku untuk Leo.
Leo selalu membujukku untuk menerima Ayu sebagai calon istrinya, tapi aku tetap keukeuh dengan pendirianku. Semenjak itu Leo jadi berubah, dia jarang makan dirumah, dia sibuk dengan pekerjaannya. Leo lebih banyak diam, terutama padaku.
Itulah yang membuatku semakin tidak menyukai Ayu, wanita pilihan Leo.
Semenjak bergaul dengan Ayu, Leo tidak seperti dulu lagi, aku yakin itu semua karena hasutan Ayu.
Berkat suamiku Leo bisa mempersunting Ayu, aku terpaksa merestuinya karena bujukan dari suamiku dan Karina saat itu. Tapi dengan syarat aku tidak ingin di adakannya acara ngunduh mantu di kediaman kami, padahal itu adalah hal yang sangat aku inginkan jika Leo menikah dengan wanita pilihanku.
Banyak yang memujiku karena memiliki menantu yang cantik, rajin, mandiri serta dari keluarga yang terpandang. Iya memang aku akui itu semua, tapi dengan semua kelebihannya itu akan membuat Leo menjauh dariku, Leo pasti lebih mementingkan istrinya daripada aku, aku sangat yakin itu. Apalah kami dari keluarga yang biasa saja, suamiku hanya PNS di kantor pemerintahan, yang gajinya pas-pasan, untuk membeli baju, tas, sepatu dan kosmetikku setiap bulanpun tidak cukup.
Setelah menikah di Semarang kampung halaman Ayu, Leo memboyong istrinya ke Yogya. Karena Ayu dan Leo bekerja di Yogya.
Semenjak Ayu di Yogya, semua pekerjaan rumah hampir semua dia kerjakan, tentu saja karena perintahku. Yang membuatku semakin kesal, Karina yang sering kularang untuk membantu Ayu pun terang-terangan menolak perintahku, Karina selalu membantu pekerjaan Ayu. Terlebih suamiku selalu memintaku untuk memperlakukan Ayu dengan baik, aku kesal semua orang menyalahkanku dan membela Ayu.
Yang Ayu kerjakan tidak pernah beres dimataku, masakannya yang menurutku tidak enak, walaupun yang lain menyukai masakan Ayu. Pekerjaan bersih-bersih yang masih terlihat kotor menurutku, walaupun yang lain mengatakan pekerjaan Ayu bersih dan rapi.
Puncaknya adalah ketika aku memarahi Ayu, Leo yang saat itu baru pulang dari bekerja tidak sengaja mendengarku sedang memarahi Ayu habis-habisan. Leo marah dan tidak terima karena aku memperlakukan Ayu seperti itu. Tidak pernah aku melihat Leo semarah ini, aku yakin ini pasti karena hasutan istrinya itu sehingga Leo berani melawan padaku.
Saat itu Leo angkat kaki dari rumah ini. Aku tidak tahu Leo dan istrinya tinggal dimana, Leo bahkan tidak pernah memberi kabar padaku, ibunya. Itulah yang membuat benciku pada Ayu semakin menggunung.
Jika Leo menikah dengan wanita pilihanku, pasti ini semua tidak akan terjadi, kami pasti sudah sangat bahagia sekarang.
__ADS_1
Dua bulan setelah kepergian Leo, Karina memberi kabar jika Ayu istri Leo sedang mengandung anak pertama mereka, cucu pertama kami. Hatiku sangat bahagia saat itu, aku akan menjadi seorang nenek. Dan dari sanalah kami tahu jika Leo dan Ayu sudah menetap di Jakarta.
Hari itu aku, Karina dan suamiku, akan berangkat ke Jakarta, karena Ayu sudah melahirkan cucu kami dua minggu yang lalu.
Ketika kami sampai dikediaman mereka, aku sangat takjub dengan rumah yang mereka tempati. Rumah yang terbilang mewah, walaupun tidak terlalu besar, mereka juga sudah memiliki mobil yang bagus.
Aku tahu jika rumah itu adalah pemberian orang tua Ayu begitu juga dengan mobil itu. Tapi bagiku, itu semua juga milik Leo anakku. Itulah sebabnya aku tidak memperdulikan nasehat suamiku, untuk menjaga sikap dirumah Leo. Aku lebih banyak santai, ongkang-ongkang kaki dirumah ini.
"Malu bu sama Ayu dan orang tuanya" ujar suamiku saat itu.
Saat itu orang tua Ayu juga berada du Jakarta, bahkan sebelum Ayu melahirkan. Tapi mereka menginap di apartemen milik mereka dan tidak menginap dirumah Ayu dan Leo.
Setiap pagi orangtua Ayu datang mengantarkan makanan, bahkan terkadang masak dirumah Ayu. Aku tidak perduli, aku bahkan selalu berdoa agar mereka cepat meninggalkan Jakarta agar aku lebih leluasa dirumah ini.
"Ayu, kamu itu jangan tidur terus" ucapku pada Ayu siang itu.
"Maaf bu, Ayu benar-benar mengantuk karena tadi malam Rio tidak mau tidur, jadi kami bergadang" jawab Ayu.
"Semua orang merasakannya, tapi bukan berarti kamu malas-malasan" aku kembali memarahinya.
Ayu hanya menunduk mendengar ucapanku itu.
Hari berganti, bulan berganti dan tahun berganti. Lima tahun lalu, aku harus kehilangan suamiku untuk selamanya. Semenjak kepergian suamiku, Leo menjadi lebih baik padaku, karena permintaan Bapaknya.
Di saat itulah aku bertemu Larasati, wanita cantik, yang juga teman Leo semasa sekolah dulu. Laras seorang janda karena bercerai. Dan darinya juga aku tahu jika Laras adalah cinta pertama Leo.
Entah mengapa aku mempunyai niat menjadikan Laras istri kedua Leo. Leo sudah memiliki semuanya, aku tidak mau hanya Ayu dan keluarganya yang menikmati semuanya. Aku ingin Leo dan semua hartanya jadi milikku, itulah aku ingin Laras menjadi istri kedua Leo.
"Apa? Ibu serius?" ujar Laras ketika aku mengutarakan niatku untuk menjadikan Laras menantu pilihanku.
"Iya, ibu sudah sangat menyukaimu, kamu mau kan?" ucapku.
"Tapi bu, Leo itu sudah punya keluarga" Laras ragu.
"Itu akan menjadi urusan ibu, yang oenting kamu mau jadi istri kedua Leo, kamu akan mendapatkan semuanya, Leo sudah sukses" bujukku pada Laras.
Setelah tiga hari Laras meminta waktu untuk memikirkan pintaku, akhinya dia menyetujuinya. Aku hanya tinggal memikirkan cara untuk membujuk Leo.
Aku bertolak ke Jakarta untuk melancarkan aksiku. Sudah aku persiapkan kata-kata untuk membujuk Leo. Tapi, saat aku mengutarakan inginku pada Leo, Leo dengan keras menolak, aku juga sudah mengajaknya untuk bertemu dengan Laras walaupun di awali dengan kebohongan, tapi lagi-lagi Leo tidak ingin menjadikan Laras wanita pilihanku menjadi sitri keduanya. Bahkan berhari-hari berikutnya Leo tidak mau berbicara denganku, dan setiap bertemu dia selalu menghindar.
__ADS_1
Hingga akhirnya Leo meminta Karina adiknya menjemputku, aku tidak terima dengan perlakuan Leo padaku. Ku lampiaskan kemarahanku pada Ayu, sehingga membuat aku dan Ayu malam itu bertengkar.
Ketika di Yogya aku mencoba berbagai cara untuk membujuk Leo, aku pun sudah berpura-pura sakit agar Leo luluh padaku. Tapi tetap saja Leo menolak. Hingga akhirnya aku akan mengancam bunuh diri jika Leo tidak menuruti kehendakku.
Dengan secangkir racun nyamuk cair ditanganku, aku mengancam Leo ketika dia datang ke Yogya, karena mendapat kabar jika aku sakit. Leo masih tetap dengan pendiriannya untuk tidak akan menikahi Laras.
Dengan nekat aku mendekatkan ujung cangkir ke mulutku, baru saja aku akan meminumnya Leo berteriak dan setuju untuk menikahi Laras. Tapi, aku harus di bawa kerumah sakit, karena keracunan cairan racun nyamuk yang setetes masuk kedalam mulutku. Setelah hampir empat hari dirawat akupun bisa pulang kerumah. Aku sangat antusias untuk menyaksikan pernikahan Leo dan Laras walaupun hanya pernikahan Siri.
"Kenapa Ibu sangat jahat?" Karina menangis tersedu-sedu di hadapanku.
"Kasihan Mbak Ayu dan Rio Bu, apa Ibu tidak memikirkan mereka?" ujar Karina.
"Ini semua bukan urusan kamu Karin, ini semua sudah keputusan Ibu dan Mas mu" jawabku.
"Apa Ibu tidak lihat, betapa hancurnya Mas Leo kini Bu, batalkan saja Bu mumpung belum terlambat" pinta Karina.
"Sudahlah Karin, kamu tidak usah ikut campur, sudah sana masuk kekamar mu" usirku pada Karina dari kamarku.
Semenjak itu Karina tidak pernah berbicara lagi padaku, bahkan pada Leo. Karina lebih banyak berdiam diri dikamar jika pulang kerja.
Setelah pernikahan Leo dan Laras secara Siri yang dilaksanakan di kediaman kami. Karina berpamitan dan meninggalkan rumah ini, aku berusaha menahannya tapi Karina tidak bergeming sedikitpun. Karina meninggalkan rumah dan tidak tahu berada dimana, kutanya pada teman-temannya tidak ada yang tahu di mana Karina, ku datangi kantornya tapi Karina sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Aku benar-benar kehilangan Karina.
Saat Leo akan pulang ke Jakarta, aku dan Laras bersikukuh untuk ikit dan juga menetap di Jakarta. Awalnya Leo sangat menolak, tapi aku mengancam akan memberi tahu pernikahannya dan Laras pada Ayu. Hingga mau tidak mau Leo pun menuruti keinginanku.
Dua hari di Jakarta, kami menginap di Hotel. Aku sudah mendesak Leo untuk membelikan kami rumah dan mobil, jika tidak aku akan membeberkan rahasia ini pada Leo. Lagi-lagi Leo tidak berkutik dan menyanggupi keinginan kami. Ayu benar-benar menjadi senjataku dan Laras saat ini.
Leo sudah membelikan rumah yang bagus dan mobil baru untuk kami. Dan semua kebutuhan sehari-hari kami, belum termasuk untuk belanja- belanja pakaian, tas dan sepatu.
Hari demi hari aku lalui dengan bahagia, walaupun ada sudut hati yang sakit jika mengingat Karina yang kini tidak tahu dimana.
Semakin hari, aku juga makin mengenal Laras. Wanita modis dengan semua kemewahannya, dengan kehidupannya yang glamour. Laras akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Tidak jarang Laras pulang menjelang pagi. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan diluar sana.
Leo tidak pernah sama sekali menegur semua kelakuan Laras. Bahkan Leo hampir tidak pernah berbicara dengan Laras, apalagi menyentuhnya. Tapi tidak apa, cinta akan hadir jika sudah terbiasa.
Kini semuanya sudah hancur ketika Ayu mengetahui semuanya. Rumah dan mobil semuanya sudah Ayu ambil. Aku dan Laras pun harus meninggalkan rumah ini.
Bahkan Leo juga sudah menceraikan Laras. Laras murka padaku, dan meninggalkanku sendiri.
Leo tidak pernah menghubungiku, menjengukku di hari terakhir ku dirumah ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Dengan uang tabunganku yang selama ini dikirim Ayu, aku membeli tiket untuk pulang Ke Yogya. Aku sudah berusaha menghubungi Leo, tapi Leo tidak pernah menjawab telponku. Mungkin Leo benar-benar sudah sangat membenciku.
Di Yogya aku hidup dengan kesendirian dan kesepian, aku kehilangan Karina dan juga kehilangan Leo. Aku menyesal telah berbuat jahat pada Ayu. Aku sungguh sungguh menyesal.