
"Assalamualikum." salamku ketika masuk kedalam rumah.
"Walaikum salam." jawab suami dan anakku berbarengan.
Aku berjalan melewati mereka yang asyik bermain playstation, aku masuk ke kamar untuk mengganti kostum ibu rumah tangga, dan siap bertempur di dapur, menyiapkan makan malam.
"Mama harus masak apa malam ini?" teriakku dari dapur.
"Apa aja ma." jawab anakku dan masih fokus ke gamenya.
"Yaudah deh." jawabku lagi.
Malam ini aku masak menu yang sederhana aja, ada udang crispy, brokoli dan babycorn tumis, dan rendang yang kupesan pada ibunya Ani sekretarisku.
Setelah siap semua, aku kembali ke kamar untuk mandi dan supaya lebih segar.
"Makan malam sudah siap." teriakku lagi.
Suami dan anakku berjalan menuju meja makan untuk makan malam.
"Mama pesen rendang dimana?" tanya Rio.
"Mama pesen ke Mbak Ani sekretaris Mama, enak?" jelasku.
"Enak ma." jawab anakku.
Kami menikmati makan malam, dengan di selingi gurauan Mas Leo.
Setelah makan malam suami dan anakku kembali keruang tivi. Mas Leo menonton berita di tivi, dan Rio asyik bermain game di gadget nya. Aku membersihkan bekas makan malam kami. Setelah selesai, aku bergabung bersama mereka di ruang tivi.
"Gimana mas seminarnya." aku duduk disamping Mas Leo sambil menyodorkan teh hangat kepadanya.
"Sukses sayang, dan peserta nya sangat banyak." jawabnya antusias.
"Wah hebat kamu Mas." ungkapku lagi.
"Ini semua berkat dukungan kamu dan Rio." ujar Mas Leo, sambil meletakkan cangkir teh keatas meja.
"Mah, Pah Rio ke kamar dulu ya." pamit anakku, dan kujawab dengan anggukan.
"Sayang, aku kangen." suamiku menggoda, aku hanya tersenyum melihatnya.
"Ayo kita ke kamar juga." pintanya lagi, sambil memeluk pinggangku.
"Aku masih mau nonton Mas." jawabku.
"Nanti aja nontonnya, ayoo...." Mas Leo menarik tanganku menuju kamar.
Aku terbangun dan melihat jam, ternyata udah jam 01:00 dinihari. Aku berdiri menuju kamar mandi, lelah setelah melepas rindu dan beraktivitas ranjang dengan Mas Leo, membuat kami tertidur.
__ADS_1
Setelah dari kamar mandi, aku berniat untuk melanjutkan tidur, ku pandangi mas Leo disebelahku, kucium pipinya dan membuatnya menggeliat.
Dan akupun tertidur disampingnya.
"Mas hari ini kamu mulai kerja?" tanyaku saat kami sarapan pagi.
"Iya sayang, aku udah rindu dengan murid-muridku." jawabku suamiku sambil tersenyum.
"Dan hari ini biar aku yang mengantar Rio." ucapnya lagi.
"Oke" jawabku sambil meneguk segelas air putih.
"Pagi bu" sapa Ani ketika di kantor.
"Pagi Ani, sampai kan terima kasihku sama ibumu ya, rendang nya enak, keluargaku suka." jawabku sambil mengacungkan jempol.
"Apa kegiatan hari ini?" sambungku sambil masuk keruangan dan di ikuti Ani di belakangku.
"Hari ini Ibu mendampingi Ibu Fatma rapat di ruang rapat kantor Bu" jawab Ani, Ibu Fatma adalah pimpinan perusahaan tempat ku bekerja ini.
"Dan setelah itu, Ibu ada rapat dengan pemilik Mall Wijaya dan hotel Wijaya, pak Rangga wijaya jam 2 siang Bu." jelas Ani lagi.
"Rangga Wijaya?" tanyaku, nama itu seperti familiar kedengarannya.
"Iya bu, putra dari bapak Wijaya, pendiri Mall dan hotel bintang lima Wijaya, Pak Rangga ahli waris satu-satunya." Ani ternyata lebih banyak tahu.
"Oke, nanti ingatkan saya lagi ya." pintaku pada Ani.
Sudah jam 1 siang lebih 30 menit, aku dan Ani pun menuju lokasi rapat, di Mall Wijaya.
"Semoga rapatnya sukses ya lBu, dan Bapak Rangga tertarik dengan barang yang kita tampilkan nanti." Ani membuka pembicaraan, aku hanya tersenyum dan fokus mengemudi.
Aku dan Ani sudah sampai di tempat tujuan, kami bertanya pada pak satpam dimana ruangan rapat. Pak satpam terlihat seperti menghubungi seseorang, dan tidak lama ada seorang perempuan menghampiri kami.
"Ibu Rahayu, dari Abadi jaya." tanya nya pada kami.
"Iya" jawabku sambil tersenyum dan di lanjutkan kami berjabat tangan dan kami saing berkenalan.
"Ayo bu, ikut saya" dan kami pun berjalan mengikuti wanita tadi, yang kami tahu bernama Mbak Tiara, sekretaris Rangga Wijaya.
Ketika kami memasuki ruangan rapat, tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
"Maaf bu, Pak Rangga masih di kantor, Ibu mohon tunggu sebentar." pinta mbak Tiara.
"Iya tidak apa-apa." jawabku.
Aku dan Ani duduk bersisian sambil menunggu pak Rangga datang. Mbak Tiara berdiri disudut ruangan untuk menelpon seseorang. Berselang lima menit orang yang di tunggu-tunggu datang. Aku dan Ani berdiri menyambutnya
"Aku sudah kenal kamu Rahayu." ucapnya ketika aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. Aku terdiam, memandang wajahnya dengan seksama
__ADS_1
"Silahkan duduk" tawar laki-laki itu.
"Kamu tidak usah kaget aku tau namamu, sudah hampir 20 tahun berlalu, wajar kamu lupa." sambungnya lagi ketika kami sudah duduk. Aku hanya tersenyum, karena aku masih bingung memikirkan siapa laki-laki ini.
Kami pun melanjutkan rapat selama satu jam lebih. Rangga setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kami, untuk memasarkan hasil produksi perusahaan kami di Mall miliknya.
"Ayu," aku berbalik badan ketika Rangga memanggilku ketika aku dan Ani pergi meninggalkan ruangan rapat. Rangga berjalan kearahku dan Ani
"Apa kamu masih ada kerjaan hari ini?" tanya nya lagi. Aku melirik ke arah Ani.
"Bagaimana kalau kita keluar makan siang." tawarnya padaku, aku melirik lagi pada Ani.
"Gimana An?" tanyaku pada Ani
"Ibu juga gak ada rapat lagi bu, kalo Ibu mau pergi gak apa-apa, biar nanti saya pake taksi aja ke kantor." jelas Ani. Aku pun mengangguk menanggapi penjelasan Ani.
"Bagaimana Yu, kamu mau kan?" tanya Rangga lagi.
"Boleh, aku juga belum makan siang." jawabku.
"Kalo gitu, aku permisi dulu ya bu" Ani berpamitan.
"Kita makan siang disana aja." tawar Rangga, aku hanya mengangguk tanda menyetujuinya.
Makanan yang Rangga pesan sudah terhidang di atas meja.
"Makanan favorit kamu belum berubah kan Yu?" tanya Rangga.
"Iya." jawabku singkat.
"Gimana kamu masih lupa sama aku?" tanya Rangga lagi.
"Aku sudah ingat ketika rapat berlangsung." jawabku sambil mengaduk bakso yang sudah ku campur kecap dan saos.
"Cinta pertama memang sulit di lupakan Yu." ujar Rangga sambil tersenyum.
"Itu hanya cinta monyet." ucapku singkat.
"Kita bukan monyet lho Yu, itu cinta sepasang anak muda yang dimabuk asmara." ungkapnya menggoda.
Aku pun tertawa dan menyeruput jus Mangga kesukaanku.
"Terima kasih ya Yu, udah nemenin makan siangku, semoga lain kali kamu tidak menolak ajakanku ya." ungkapnya ketika mengantarkan ku ke parkiran.
"Boleh, lain kali akan ku ajak anak dan suamiku." ujarku sambil tersenyum.
"Tidak masalah." jawabnya sambil membuka pintu mobilku.
"Aku permisi pulang ya, terima kasih banyak, semoga kerja sama kita berjalan sukses." ucapku ketika di dalam mobil.
__ADS_1
Akupun pergi meninggalkan Mall Wijaya milik Rangga. Rangga mantan kekasihku ketika SMA. Hubungan kami berakhir ketika Rangga melanjutkan kuliahnya di Jepang sedangkan aku tetap di Indonesia. Hubungan cinta ku dan Rangga berjalan sejak duduk di kelas 1 SMA. Selama tiga tahun berpacaran hampir tidak pernah ada konflik serius di antara kami. Rangga yang sabar dan pengertian, membuatku betah selama tiga tahun berpacaran dengannya. Selama tiga tahun berpacaran aku tidak tahu bahwa Rangga adalah anak pemilik Mall dan Hotel bintang lima di kota kami. Yang aku tahu Rangga anak dari pengusaha, dan pengusaha apa itu aku tidak tahu. Rangga anak yang low profile, justru di zaman sekolah Rangga selalu naik angkutan umum. Tidak pernah menggunakan mobil mewah, motor mewah, bahkan barang-barangnya pun menurutku tidak ada yang berkelas papan atas.
Sepanjang jalan pulang kerumah, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat masa laluku dengan Rangga. Masa SMA dan cinta masa SMA.