
Sinar matahari yang hangat menyambut bangun tidurku. Sinar matahari yang meninggi bertanda hari sudah siang. Aku bergegas keluar kamar, dan pemandangan yang kulihat adalah rumah yang bak kapal pecah malam tadi kini telah bersih dan rapi. Pasti Mas Leo yang sudah merapikannya.
Perutku berbunyi minta di isi, tapi kulkas sudah kosong, tidak ada lagi bahan makanan yang bisa di masak.
Ku ambil HP ku dan kubuka aplikasi ojek online berwarna hijau untuk memesan makanan.
Sambil menunggu ojol sampai, aku menyempatkan diri untuk mandi, agar terlihat lebih segar.
Tidak lama sesudah mandi, pesananku tiba. Karena perut yang tidak bisa di ajak kompromi, aku makan dengan lahap.
Baru saja selesai makan, HP ku berdering.
Rangga memanggil...
"Ya hallo" aku menjawab panggilannya.
"Ayu, kamu tidak apa-apa?" ujarnya tanla basa-basi.
"Ya aku baik-baik saja" jawabku.
"Syukurlah" ucapnya diujung sana.
"Memangnya ada apa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa aku hanya memastikan keadaanmu saja" ujarnya.
"Tumben sekali" ucapku curiga.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, aku hanya kefikiran" ujar Rangga.
"Ya, aku baik-baik saja"
"Apa Leo?" Rangga tidak melanjutkan ucapannya.
"Leo? Ada apa?" tanyaku semakin curiga.
"Kalian bertengkar?" tanya Rangga.
"Ya, dari mana kamu tahu?" tanyaku balik.
"Tadi Leo datang ke kantorku" jawabnya.
"Apa? Kenapa?" tanyaku.
"Dia hanya memintaku untuk tidak mendekatimu lagi" ungkap Rangga.
"Terus apa lagi?" tanyaku.
"Dia juga menjelaskan, bahwa dia melihat semuanya" jelas Rangga lagi.
"***Lalu?"
"Tidak ada lagi hanya itu***" ujarnya.
__ADS_1
"Dia pasti bersikap kasar padamu" ujarku.
"Sedikit, begitulah sesama laki-laki menyelesaikan masalah" ucapnya.
"Rangga, maafkan aku jika kau terseret dalam masalah rumah tanggaku" sesalku.
"Tidak, ini bukan salahmu" ucapnya.
Aku diam.
"Ayu, aku akan ada jika kau butuhkan" ujarnya diujung sana.
"Terima kasih Rangga, biar aku selesaikan masalah ini sendiri, ini masalah rumah tanggaku, aku tidak ingin kau terlibat terlalu jauh" jelasku.
"Ya, aku mengerti" ucapnya.
"Kalau begitu aku mau lanjutkan pekerjaan ku lagi ya" pamitnya.
"Ya" jawabku. Telepon pun terputus.
Dan Mas Leo sudah ada di belakangku saat aku menoleh.
"Siapa? Rangga?" ujarnya kesal.
"Kau tidak perlu melibatkan orang lain dalam masalah kita" ujarku sambi membereskan bekas makananku.
"Kenapa?" ucapnya.
"Dia tidak tahu apa-apa" ujarku.
"Dia tidak mengangguku" ucapku acuh.
"Atau kamu yang mengganggunya?" ujar Mas Leo.
Aku tatap matanya tajam.
"Tidak" jawabku singkat.
"Lalu kenapa kalian melakukannya di depanku!!" Mas Leo emosi.
"Aku sudh meminta maaf atas kejadian itu, aku hanya terbawa suasana" ujarku yang sedang mencuci piring.
"Argggh!!!" Mas Leo mengacak rambutnya kasar.
Mas Leo mendekat padaku. Memeluk tubuhku dari belakang.
"Aku takut kehilanganmu Ayu" ujarnya lembut.
"Kau sudah lama kehilanganku Mas, kau hanya memiliki ragaku" ujarku lagi.
"Aku menyesal Ayu, sangat menyesal, setiap hari kulewati semuanya dengan penyesalan" ungkapnya.
"Semua sudah terjadi" ujarku.
__ADS_1
"Tapi kita masih bisa memperbaikinya lebih baik lagi Ayu, aku yakin" ucapnya.
"Entahlah, hatiku menolak untuk itu" ujarku dan ingin lepas dari pelukannya.
Mas Leo semakin memelukku erat. Aku hanya diam, datar.
"Aku cemburu Ayu, aku cemburu ketika melihatmu dengan Rangga, aku tidak mau ada laki-laki lain mengisi hatimu" ucap Mas Leo bergetar.
"Tidak semudah itu" jawabku.
"Atau kau fikir aku tidak cemburu Mas, setiap hari aku selalu terbayang saat kau bersamanya, menikah, dan bersama-sama berdua, aku sangat cemburu, tapi tidak untuk sekarang, rasa itu telah hilang" jelasku dan membalik badan menghadap padanya.
"Kamu marah melihatku bersama Rangga, yang jelas-jelas tidak ada hubungan yang serius antara aku dan dia, kejadian hari itu hanya kesalahan yang kamipun sesali" ucapku lagi.
"Kamu marah karena aku menolak jika kau meminta hak mu, sedangkan fikiranku terbayang saat kau dan wanita itu tidur bersama, itulah mengapa aku tidak ingin kau sentuh, sangat sangat menjijikkan jika kubayangkan" Mas Leo hanya diam.
"Hatiku hancur berkeping-keping" lanjutku singkat.
"Aku sudah menjelaskannya padamu Ayu, aku tidak pernah menyentuh wanita itu, tidam pernah" Mas Leo menatap mataku untuk meyakinkan ku.
Aku diam.
Mas Leo meraih tubuhku dalam pelukannya.
Aku diam.
Mas Leo mencium wajahku bertubi-tubi. Memagut bibirku, memeluk erat tubuhku.
Tapi aku hanya diam. Ku biarkan semuanya, tenggelam dalam kepedihan.
Kututup setengah badanku yang polos dengan selimut, Mas Leo memelukku dari samping. Aku menatap lurus ke langit-langit kamar. Kuberikan tubuhku yang menjadi Hak nya.
"Mas..." ucapku.
"Ya" jawabnya, dan duduk menghadapku.
"Mari kita selesaikan semuanya" ujarku pelan.
"Maksudmu?"
"Aku ingin berpisah" ucapku dan menangis.
"Berpisah? Bercerai maksud kamu Yu?" Mas Leo masih bingung.
Aku mengangguk.
Mas Leo mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa? Aku fikir kita akan memulainya, memperbaiki semuanya, kamu sudah..." Mas Leo menunjuk keadaan kami yang baru saja berhubungan suami istri.
"Aku tidak bisa Mas" ujarku lagi, air mata semakin deras membahasi pipi.
"Ayu..." Mas Leo meraih tanganku. Mencium tanganku.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Ayu, sangat" ucapnya juga menangis.
Kami menangis bersama. Dia menangis karena tidak bisa jauh dariku dan aku menangis karena sudah sangat lelah menjalaninya.