Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Bunyi dentang jam antik milik Papa membangunkan tidurku. Sinar matahari sudah masuk kekamar ku melalui jendela memaksaku membuka mata karena silaunya.


Dengan malas ku bangun dari tidurku, dan mencuci muka di kamar mandi. Kulihat jam yang bertengger di dinding kamar ini, ternyata sudah jam sebelas siang, dengan tergesa-gesa aku keluar kamar, sepi.


Kuseduh secangkir kopi capucino kesukaanku, dari dapur kulihat Bude sedang memanen sayuran hidroponik milik Mama di halaman belakang rumah. Kususul Bude yang sedang asyik memanen sayur, kududuk di gazebo tidak jauh dari tempat Bude berdiri.


"Bude" panggilku


"Eh Non udah bangun?" jawab Bude ketika menoleh ke arahku.


"Iya, kesiangan" ujarku malu.


Bude hanya tersenyum.


"Yang lain kemana Bude? Sepi banget" ujarku.


"Bapak Ibu pergi check up kerumah sakit Non"


"Rio?" tanyaku lagi


"Den Rio sama Agus pergi sama Den Leo, katanya mau beli perlengkapan sekolah" jawab Bude.


Aku mengangguk sambil menikmati kopi yang membasahi kerongkonganku.


"Non baik-baik saja kan?" ujar Bude duduk dihadapanku.


"Baik kok" jawabku.


"Bude jangan cerita ke siapa-siapa ya Bude, apalagi sama Mama dan Papa" pintaku, kupegang tangan Bude yang mulai berkeriput.


Bude tersenyum dan mengelus tanganku lembut.


"Bude mengerti Non, tapi lebih baik Non jelaskan sama orangtua Non pelan-pelan, lebih menyakitkan jika Bapau Ibu tahu dari orang lain Non" jelasnya.


"Ayu takut Bude"


"Percayalah, orang tua Non pun mengerti" ucap Bude.


"Bude hati Ayu sangat sakit jika mengingat itu semua, sakit sekali Bude" aku menunduk.


"Iya Non, yang sabar ya Non" Bude mengelus lembut tanganku.


"Ayu tidak mau semua nya sedih Bude" ucapku.


"Non, Non pun harus memikirkan diri Non juga, Non harus bahagia" ujar Bude.


"Bagaimana Ayu bisa bahagia Bude, jika mereka tahu, semua akan kacau Bude" aku masih sesenggukan.


"Jalanilah yang menurut Non baik, jika ini cara yang baik menurut Non jalanilah Non, hanya satu kuncinya Non, Ikhlas. Non harus ikhlas dengan semua yang terjadi ini, dan Non harus ikhlas untuk memaafkan Den Leo. Bagaimanapun Den Leo adalah suami Non, wajib bagi Non menghormatinya, disanalah letak surga kita sebagai istri, terlebih jika sekarang Den Leo sudah berubah" panjang lebar Bude menasehatiku. Aku semakin menangis mendengar nasehat Bude.


"Bude?" kuhapus airmataku. Bude tersenyum melihatku.


"Maafkan lah Den Leo dengan hati yang ikhlas, tidak ada manusia yang berbuat salah, saat itu mungkin Den Leo tidak dapat berfikir jernih karena berhubungan dengan nyawa ibunya, jika memang Non ingin tetap bertahan dengan Den Leo demi kebahagiaan semuanya" Bude masih menatap wajahku lembut.


"Iya, iya Ayu mengerti Bude, terima kasih Bude" aku mendekati Bude dan memeluknya erat. Bude mengelus lembut punggungku, untuk menenangkan.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Mas Leo yang melihatku berpakaian rapi di kamar.


"Mau ketemu sama teman lama" jawabku sambil mematut diri di depan cermin.


"Siapa?" tanyanya lagi.


"Temen sekolah, cewek" jawabku cuek.


"Pulang jangan kesorean" ucap Mas Leo mengikutiku keluar kamar.


Aku mengangguk mengerti.


Setelah berpamitan pada Mas Leo, dan meminta izin memakai motor Pade Johan, akupun pergi meninggalkan rumah menuju ketempat janjianku dengan Karina.


Setelah hampir memakan waktu 15 menit, akhirnya aku sampai di cafe yang di janjikan Karina. Setelah bertanya ke pelayan cafe, ternyata Karina sudah menunggu di rooftop cafe ini.


Kulihat Karina sedang menatap lurus kedepan, dia sedang melamun.


"Sudah lama?" tanyaku membuyarkan lamunan Karina.


"Mbak... Enggak kok baru juga" jawabnya salah tingkah.


"Mbak mau pesen makan apa?" tawar Karina.


"Samain aja sama kamu" jawabku sambil membuka jaket.


Kami hanya diam larut pada fikiran masing-masing hingga makanan yang kami pesan sampai.


"Ayo Mbak dimakan" ajak Karina padaku.


"Kamu tinggal dimana?" tanyaku basa-basi.


"Karina tinggal gak jauh dari kantor kok Mbak, ngeKos" jawabnya.


Kami kembali hening, hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Kulihat wajah Karina, yang seperti banyak menyimpan beban. Karina yang kukenal sangatlah ceria dan supel, tapi lihatlah kini dia menjadi gadis yang pendiam.


"Karina" ucapku ketika kami sudah menyelesaikan makan siang itu.


Karina menatap wajahku. Mata itu tidak bercahaya seperti dulu.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku sambil mengelus lembut tangannya.


"Mbak" ucap Karina, mata itu memerah dan bersiap mengeluarkan luapan kesedihannya.


Kembali ku elus pelan tangannya, untuk menenangkannya.


"Maafin Karina ya Mbak" ujarnya. Runtuh sudah pertahanan itu, air mata jatuh tetes demi tetes ke pipi merah jambunya.


"Mbak enggak apa-apa kok Na, kenapa mesti minta maaf" ujarku dan menyodorkan tisu yang ku ambil dari tas selempangku.


"Karina merasa sangat bersalah pada Mbak, sungguh Karina tidak menyukai situasi ini" jelasnya dengan tangisan.


"Apa Mbak dan Mas Leo baik-baik saja?" Karina memastikan hubunganku dan Leo.


"Baik, tapi tidak bisa seperti dulu lagi" jawabku dan kuteguk es jeruk pesananku.

__ADS_1


Karina menatap wajahku.


"Mbak..." ucapnya menggenggam tanganku erat.


"Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang dapat kita lakukan lagi, iya kan?" ucapku.


"Hubungan mereka sudah berakhir, dan Mbak merasa hubungan kami pun tidak baik-baik saja, hanya menunggu bom waktu itu akan meledak" jelasku lagi.


"Apakah itu alasan Rio ingin melanjutkan sekolahnya disini?" tanya Karina.


"Tidak, Rio sama sekali tidak tahu, Mbak berusaha keras menyembunyikannya, Mbak juga meminta Mas Leo untuk bersikap biasa saja jika di depan Rio" jelasku lagi.


"Kenapa Mbak?" tanya Karina.


"Karena semua ini Mbak lakukan demi Rio, Mbak tidak mau Rio sedih, Mbak tidak mau Rio benci Papanga, Mbak tidak mau Rio tumbuh tanpa seorang Ayah" jawabku berusaha tegar.


"Mbak rela berkorban untuk semua itu?" tanya Karina.


"Iya, Mbak harus korbankan perasaan demi Rio"


"Maafkan Karina, harusnya Karina lebih tegas agar semua itu tidak terjadi" sesalnya.


"Semua sudah terjadi" ucapku singkat.


"Kamu sendiri bagaimana Na?" tanyaku pada Karina.


"Ntahlah Mbak, Karin rasanya sudah sangat marah pada Ibu dan Mas Leo, walaupun Karin tahu Mas Leo diperalat oleh Ibu, tapi Karin tidak punya kekuatan untuk melawan Ibu Mbak, makanya sejak kejadian itu Karin pergi meninggalkan rumah itu, rumah yang bagi Karin tempat berpulang penuh kehangatan, berubah menjadi seperti neraka" jelasnya.


"Karin sangat malu dengan kelakuan Ibu" ujarnya lagi.


"Apakah ibu dan Mas Leo pernah menghubungimu?" tanyaku.


"Sering Mbak, sangat sering tapi Karin benci sama mereka, benci dengan kelakuan mereka" ucap Karin emosional.


"Temuilah Mas mu dia sangat mencemaskanmu" ujarku.


"Tidak Mbak, Karin tidak mau" jawabnya.


"Sampai kapan? Darah itu lebih kental daripada air, sampai kapanpun kamu Mas Leo dan Ibu tetaplah satu" nasehatku.


"Karin belum siap" jawabnya.


"Karina, semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu kamu sesali lagi, Mas Leo dan Ibu pasti sangat khawatir padamu. Mereka lah tempat kamu kembali" aku berusaha membujuknya.


"Bagaimana dengan Mbak? Aku merasa bersalah sama Mbak" ujarnya dalam tangis.


"Mbak akan tetap seperti ini" ujarku dengan senyum.


"Sampai kapan?" tanya Karina lagi.


"Entahlah" jawabku singkat.


"Apakah Mbak akan menceraikan Mas Leo suatu saat nanti?" tanya Karin.


"Perceraian adalah hal yang setiap hari Mbak fikirkan, begitu berat menjalani rumah tangga setelah pengkhianatan itu, betapa sangat patah hati Mbak kepada Mas Leo dan Ibu, membuat Mbak benar-benar tidak sanggup menjalaninya. Tapi, Mbak akan tetap berusaha hingga batas waktu yang tidak Mbak tahu kapan, jika dalam beberapa waktu mungkin Mbak bisa melupakan semua masalah yang terjadi, atau sebaliknya Mbak akan semakin menderita dengan keadaan ini. Jika benar-benar tidak bisa di pertahankan lagi, semoga Rio bisa dengan dewasa mengerti. Kamu doakan saja yang terbaik untuk rumah tangga Mbak" jelasku.

__ADS_1


"Karin akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mbak, Rio dan Mas Leo" jawabnya.


__ADS_2