
Bel berbunyi tepat jam tiga malam menjelang pagi. Aku tidak tahu siapa jam segini bertamu kerumah orang, aku yang baru saja terlelap segera bangun untuk membuka pintu.
Aku sempat ragu membuka pintu, aku takut orang berniat jahat padaku, apalagi aku sedang sendiri dirumah, dan aku tidak tahu kemana Mas Leo jam segini belum pulang.
"Ayu...Ayu... ini aku Rangga, bukain pintunya" ujar seseorang diluar sana yang ternyata Rangga.
Dengan cepat aku membuka pintu. Dan terlihat Rangga yang sedang kesulitan memapah Mas Leo.
"Kenapa? Ayo masuk" aku membuka pintu lebih lebar, dan menutupnya kembali ketika Rangga yang memapah Mas Leo masuk.
"Suami kamu mabuk, aku bertemu di luar diskotik ABC tadi" jelasnya sambil membaringkan Mas Leo di atas sofa.
Sontak saja aku terkejut, ini untuk pertama kalinya aku melihat Mas Leo mabuk.
Aku masih terdiam dan berdiri menatap tidak percaya pada Mas Leo.
"Kamu sendiri darimana larut begini masih keluar" ujarku pada Rangga.
"Aku lembur dikantor, tidak sengaja melihat Leo yang sangat mabuk berat diluar diskotik " jelasnya.
Aku menuju dapur dan memberikan secangkir kopi pada Rangga.
"Terima kasih ya" ucapku dan duduk dihadapan Rangga, di minibar dapur.
"Sama-sama" ujarnya.
Rangga menatapku dalam.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kamu terlihat lebih kurus Ayu" ujarnya masih tetap menatap wajahku.
Aku diam dan meneguk kopi yang ada di tanganku.
"Kamu tidak perlu berkorban jauh Ayu, kamu juga butuh ruang untuk bahagia, jangan memaksakan" ungkapnya.
"Aku hanya..."
"Tidak perlu anakmu menjadi alasan" potongnya.
"Dia akan mengerti Ayu, ini akan lebih menyakitkan baginya ketika melihatmu dan Leo sama-sama tersiksa menjalani rumah tangga ini" ujarnya lagi.
__ADS_1
"Tapi..?"
"Asalkan kau dan Leo bisa bekerja sama dalam merawat Rio, dia tidak akan kehilangan sosok orang tua"
Aku menunduk menahan kepedihan.
"Atau memang kamu tidak bisa jauh dari Leo?" ucap Rangga membuatku mengangkat kepala menatap matanya.
"Untuk mendengar suaranya aku tidak mau" ucapku tidak setuju dengan ucapan Rangga.
"Mungkin saja, itu semua tanpa kau sadari, kau masih mencintainya" ujar Rangga.
"Aku pernah berada di posisi sepertimu Ayu, bukan lah waktu yang singkat untuk melupakan cinta dan pengkhianatan dalam rumah tangga" jelas Rangga.
"Aku tidak tahu" ucapku dan meminum habis secangkir kopi.
"Berfikirlah lebih jernih, berfikirlah untuk masa depanmu, semua keputusan ada di tanganmu, kau harus mengambil sikap" ucap Rangga.
"Aku bukan untuk memprovokasi kamu Ayu, tapi semua yang aku katakan tidak lebih hanya untuk kebahagiaanmu dan masa depanmu" ujarnya lagi dan juga meminum habis kopi buatanku.
Aku mengangguk.
"Terima kasih untuk semua perhatianmu Rangga" ujarku tersenyum.
Aku terdiam. Rangga juga ikut terdiam.
"Kalau begitu aku pamit pulang ya, sudah hampir subuh" pamitnya.
"Iya" jawabku.
Aku mengantarkan Rangga menuju pintu.
Dan tiba-tiba Rangga memelukku.
"Datang padaku jika kamu butuh" ucapnya.
"Aku akan selalu ada untukmu, seperti dulu dan sampai kapanpun" ucapnya dan melepas pelukan.
Tubuhku membeku.
"Ayu" panggilnya.
__ADS_1
"Iya?" jawabku.
Rangga mendekatkan wajahnya pada wajahku.
Reflek aku memejamkan mata.
Terhanyut dalam suasana.
Tapi semua telah terjadi.
Dengan cepat aku melepaskan pagutan itu.
Aku dan Rangga salah tingkah.
"Maafkan aku Ayu" ucapnya.
"Iya, pulanglah aku tidak mau tetanggaku berfikir yang tidak-tidak" ujarku.
Rangga berlalu menuju mobil. Aku menutup pintu.
Di ruang tamu Mas Leo masih terlelap dalam tidur dalam keadaan mabuk. Kutinggalkan dia sendiri.
Membereskan bekas kopiku dan Rangga.
Hari menjelang pagi.
Aku duduk di teras belakang. Aku salah bersikap seperti itu pada Rangga. Aku masih berstatus istri Mas Leo. Tapi mungkin wajahku akan bersemu merah jika mengingat kejadian antara aku dan Rangga.
Aku sedang sarapan dengan roti dan selai coklat kesukaanku tidak lupa secabgkir teh dan segelas air putih di hadapanku. Seperti pagi-pagi sebelumnya, akan lebih nyaman jika aku sarapan sendiri, berdua dengan Mas Leo akan membuat mood ku jelek di pagi hari.
Mas Leo terlihat baru bangun dari tidurnya setelah mabuk tadi malam. Dengan linglung Mas Leo berjalan meninggalkan ruang tamu.
Dengan cepat aku membereskan sarapanku dan mencuci gelas serta cangkir bekas sarapanku tadi.
Mas Leo berdiri mematung, menatapku.
"Selalu saja terburu-buru jika melihatku" ujarnya dalam keadaan kusut.
Aku hanya diam. Aku ingin menjaga mood ku agar tetap baik.
"Aku berangkat kerja" pamitku padanya.
__ADS_1
"Siapa yang mengantarku pulang tadi malam?" tanya Mas Leo padaku.
Aku menoleh padanya dan berlalu meninggalkannya.