Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN LIMA


__ADS_3

Pov Leo


Namaku Leo Adinata anak pertama dari dua bersaudara. Bapak ku hanya Pegawai Negeri di kantor pemerintahan di Yogyakarta, Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Aku juga mempunyai adik perempuan bernama Karina.


Kehidupan kami sebenarnya lebih dari cukup, hanya saja Ibu ingin sekali tampil glamour di masyarakat. Selalu ingin membeli baju, sepatu dan tas setiap bapak gajian, sehingga membuat kehidupan kami menjadi pas-pasan.


Aku yang menyukai dunia seni akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan tinggiku di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, kampung halamanku.


Sekarang aku adalah ayah dari satu anak laki-laki yang bernama Rio Adinata, dan aku mempunyai seorang istri yang sempurna menurutku yaitu Rahayu.


Beberapa bulan setelah menikah, aku dan Ayu, istriku memutuskan untuk merantau ke ibukota. Bukan karena kami tidak mendapat pekerjaan di Yogya, tapi menghindari keributan karena ulah Ibu yang tidak menyukai Ayu, istriku.


Ketidaksukaan Ibu kepada Ayu terlihat sejak awal aku mengenalkan Ayu sebagai pacarku kepada keluarga.


Aku fikir karena aku dan Ayu saat itu masih berstatus mahasiswa yang membuat ibu tidak merestui hubungan kami. Akupun tidak terlalu mengambil pusing masalah itu, toh aku fikir itu hanya masalah waktu.


Aku mencintai Ayu pada pandangan pertama. Saat itu Aku yang sedang mengantarkan salah satu temanku bertemu pacarnya di gerbang UGM yogyakarta. Ayu saat itu melanjutkan kuliahnya disana, jurusan Management.


Perkenalan itu terjadi dengan bantuan teman-temanku. Aku sangat mengagumi Ayu, wanita dengan paras yang ayu seperti namanya, wanita yang ramah, mandiri dan cerdas. Akhirnya kedekatan kami pun berlanjut kejenjang pacaran.


Ayu anak yang mandiri. Terbukti ketika kuliah dia tidak malu untuk menjual tiket konser, menjajakan makanan pada hari minggu di pusat wisata Yogyakarta bahkan mengajar les privat anak-anak Sekolah Dasar.


Ketika Ayu menyelesaikan Study nya lebih dulu dariku, Ayu pun bekerja di sebuah pabrik di kota ini, tapi tidak bertahan lama, Ayu juga pernah menjadi Sales salah satu kartu provider ternama di negeri ini, bahkan yang terakhir Ayu menjadi Kasir di salah satu kantor pemasaran mobil dengan merk ternama.


Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku pun terpacu untuk mencari kerja. Aku ingin melamar Ayu segera. Akhirnya aku menjadi pengajar di salah satu SMA swasta di yogya.


"Ibu enggak mau kamu nikahin wanita itu, kamu harus nikah sama wanita yang ibu pilih titik.!!" ungkap Ibu ketika aku membicarakan niat baikku untuk menikahi Ayu.


"Tapi Bu, Leo mencintai Ayu" ucapku memohon.


Ibu hanya diam tidak bergeming dengan permohonanku. Perlu beberapa kali aku memohon kepada ibu, sampai akhirnya bapak buka suara.


"Leo, kamu anak laki-laki bapak, bapak percaya sama kamu, apapun itu pilihan kamu, itu pasti yang terbaik untuk kamu" ucap bapak sambil menepuk pundakku pelan.


Perkataan bapak seperti angin segar untukku, aku menyampaikan berita baik ini kepada Ayu, walaupun ibu terlihat lebih mendiamkan aku.


Ayu adalah anak semata wayang dari pengusaha ternama di semarang. Ayu menghabiskan masa SMA nya di Jakarta, karena Papa dan mamanya membuka cabang bisnisnya di Jakarta. Ayu dan keluarganya sangatlah sederhana dan dermawan walaupun dia dari kalangan terpandang negeri ini.


Pernikahan kami di laksanakan dengan meriah di kota Semarang tanah kelahiran Ayu. Banyak yang memuji Ibu karena mendapatkan menantu cantik dan dari keluarga terpandang. Tapi itu semua tidak menyurutkan kebencian Ibu kepada Ayu.


Setelah menikah aku memboyong Ayu ke Yogya, kerumah orang tuaku. Karena aku dan Ayu masih bekerja di Yogya.


"Cukup Bu, cukup memperlakukan Ayu seperti orang lain dirumah ini, aku sudah tidak tahan lagi!!" teriak ku pada Ibu saat itu.

__ADS_1


"Leo, kamu anak Ibu, kenapa kamu membela wanita ini!!" Ibu menunjuk wajah Ayu dengan satu jarinya.


"Ayu istri Leo, jika Ibu tidak menyukai Ayu, berarti Ibu juga tidak menyukai Leo, Leo akan pergi dari rumah ini!" ungkapku kesal dan kecewa pada Ibu.


"Ayu, apa yang kau lakukan pada Leo, kau berani menghasut Leo sehingga Leo berani melawan kepada Ibunya sendiri, kurang ajar kamu Ayu!! " Ibu berteriak mencaci Ayu. Kutarik tangan Ayu masuk kedalam kamar, kuminta Ayu untuk membereskan semua pakaian dan berkas-berkas penting lainnya.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Ayu dengan wajah ketakutan saat itu.


"Kemana saja, kita harus pergi dari rumah ini" ucapku sambil membantu Ayu memasukkan semua barang kami kedalam koper. Dari kamar aku mendengar Bapak memarahi Ibu, sepertinya Bapak baru pulang dari kantor.


Aku dan Ayu pun berpamitan pada Bapak dan Karina adikku. Ibu mengurung diri di kamar, tidak ingin ditemui.


"Kamu kepala rumah tangga, Ayu adalah istrimu, lindungi dia dan berikan yang terbaik untuknya, Bapak percaya sama kamu" ucap Bapak sambil memelukku.


Aku dan Ayu akhirnya berangkat menuju ibukota. Kami menempati rumah orang tua Ayu saat di Jakarta dulu. Orang tua Ayu sudah kembali ke-Semarang, karena bisnis yang dia jalankan di Jakarta mengalami kerugian. Hingga kini papa mertua tetap menjalankan bisnisnya di Semarang.


Dengan kecerdasan dan ketangkasan Ayu. Ayu lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Sedangkan aku, masih tetap menjadi guru kesenian yang bergaji kecil. Ayu tidak pernah meninggalkan ku walaupun karirnya menanjak sukses.


Hingga akhirnya salah satu sahabat Papa mertua menawarkan aku bekerja di sekolah Internasional miliknya, dengan kegigihanku dalam bekerja, Papa mempercayakanku untuk mengolah Kursus Seni Musik.


Tanpa ragu-ragu aku bekerja keras untuk ini semua, agar Papa dan Ayu tidak kecewa padaku.


Semenjak Bapak meninggal, hubunganku dan Ibu jadi lebih baik. Itu semua karena permintaan Bapak. Aku dan Ayu membantu ibu menyekolahkan Karina hingga selesai. Ayu juga sering mengirimi Ibu uang untuk ibu di Yogya. Sifat Ibu masih sinis kepada Ayu, jika kami mudik lebaran Ibu masih terlihat cuek pada Ayu. Untung Karina adikku sangat akrab dengan Ayu, sehingga Ayu tidak merasa dikucilkan di keluargaku.


"Maksud kedatangan ibu ke Jakarta ingin menyampaikan sesuatu padamu Leo" ucap ibu saat itu, ketika aku mengantarkan Rio pulang, ibu meminta waktuku untuk membicarakan hal yang sangat serius.


"Kamu masih ingat Larasati kan?" tanya Ibu balik.


"Iya aku ingat" jawabku.


"Ibu ingin kamu menikahinya" jawab Ibu membuatku terkejut, kutatap wajah Ibu dengan serius.


"Maksud Ibu, Ibu ingin ada yang ngurusin kamu dan Rio dirumah, Ayu itu sangat sibuk, tidak ada waktu untuk kamu dan Rio" Ibu memberi alasan.


"Dan Laras pun mau menjadi istri kedua kamu" sambung Ibu lagi. Aku hanya diam memendam amarah pada Ibu.


"Ibu juga tahu, Laras itu perempuan pertama yang kamu suka, Laras sudah cerita semua sama Ibu, Laras juga seorang Janda tanpa anak kok Rio" Ibu terus menjelaskan padaku.


"Apa kurang Ayu Bu? apa salah Ayu di mata Ibu?" tanyaku pada Ibu.


"Leo, kamu sekarang sudah sukses, kamu butuh istri yang ada dirumah untuk melayani kamu, sedangkan Ayu, wanita bekerja yang sibuk, lambat laun dia akan menelantarkan kamu dan Rio" jawab ibu berusaha membujukku.


"Sukses? Ibu fikir aku seperti saat ini karena siapa?" ucapku marah.

__ADS_1


"Semua ini karena orang tua Ayu dan Ayu Bu... bahkan Ibupun dulu tidak pernah mendukung apapun keputusanku, Ibu selalu melarangku untuk melanjutkan kuliahku!!" ungkapku emosi.


"Ibu tidak berhak mengatur hidupku, ini sudah kelewatan Bu, Ibu tahu? dulu Laras menolakku karena Bapak hanya Pegawai Negeri biasa, tidak sedrajat dengannya dari keluarga kaya, kini dia pun sanggup menjadi istri kedua, karena aku sudah punya semuanya, Ibu salah, ini semua milik Ayu, rumah ini milik Ayu. Satu lagi, semua ini terjadi karena dukungan dari Ayu dan keluarganya serta kepercayaan Bapak padaku" aku berdiri dan memijit dahiku.


"Kamu anak Ibu, sudah saatnya kamu membalas semuanya Leo" ungkap Ibu lagi.


"Sudah Vu cukup..Ibu tidak perlu menjelaskannya aku sudah tahu, apapun akan aku lakukan, tapi tidak dengan mengkhianati anak dan istriku" ungkapku.


Aku pergi meninggalkan Ibu sendiri di halaman belakang. Aku masuk kekamar dan menenangkan fikiranku.


Sejak saat itu aku merasa suasana rumah ini seperti di neraka, tidak ada keceriaan seperti dulu lagi. Semuanya kacau karena keegoisan Ibu.


"Leo, kamu harus anterin Ibu ketemu teman Ibu sekarang, Ibu takut pergi sendirian dengan taksi" ucap Ibu.


Aku yang saat itu akan memasak nasi goreng untuk Rio menjadi bingung.


"Tapi Bu " jawabku ingin menolak.


"Gak ada tapi-tapian, sebentar aja kok" Ibu menarik tanganku menuju pintu.


"Papa mau kemana?" panggil Rio dari pintu kamarnya.


"Papa mau nganterin nenek sebentar, Papa akan segera pulang dan masak nasi goreng untuk kamu" jawabku pada Rio, Rio hanya mengangguk lesu menanggapi ucapanku.


Disinilah kami sekarang. Di sebuah kedai kopi. Ibu memaksaku untuk masuk menemui temannya.


"Masih lama teman Ibu sampai? " tanyaku gelisah.


"Sabar Leo, Ibu enggak mau nunggu sendirian disini, lagian kenapa sih kamu gelisah begitu?" ungkap Ibu.


"Rio sendiri dirumah Bu, kasian dia juga belum makan, Ayu pulang terlambat hari ini" jawabku.


"Rio itu udah besar, gak usah di manjain, lagian kalau di lapar bisa masak sendiri, atau pesan online aja, itu istri kamu gak guna jadi Ibu dan istri, yang di fikirannya cuma kerja kerja kerja" jelas Ibu yang membuat ku kesal.


"Nah itu dia datang" ucap Ibu sambil melambaikan tangan kepada orang yang di maksud.


Apa aku tidak salah, Ibu janjian ketemu Laras disini, apa maksud Ibu dengan mempertemukan aku dengan Laras. Aku semakin gelisah, Ibu terlihat sangat asyik berbincang dengan Laras.


" Laras, kapan-kapan kamu harus main kerumah Leo " tawar Ibu pada Laras yang membuat ku melihat Ibu tidak percaya.


"Iya Bu" jawab Laras.


Kami pun berpisah di depan kedai kopi, aku dan ibu langsung pulang menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Sedangkan Ibu selalu memuji Laras dengan bangganya, ku kendarai mobil dengan kecepatan tinggi, berharap Ibu berhenti membicarakan Laras.

__ADS_1


Kulirik jam di dinding,sudah menunjukkan jam sembilan malam. Ayu sudah tidur dengan pulas, aku keluar kamar untuk melihat Rio, aku merasa sangat bersalah meninggalkannya sendiri dirumah tadi. Ternyata Rio juga sudah tidur.


Aku duduk di dapur sambil menyeduh kopi. Fikiranku melayang memikirkan kelakuan Ibu, aku merasa takut ibu akan menghancurkan keluargaku sendiri. Apa yang harus aku lakukan?


__ADS_2