
Hari minggu, keadaan rumah hening, Mas Leo duduk menyendiri di teras belakang, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar Rio, rindu itulah alasanku dikamar Rio.
Setelah permintaan berpisah waktu itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara kami berdua. Mas Leo nampak menghindari pembicaraan tentang itu, kami hanya bicara jika itu sangat mendesak.
Aku memeluk foto Rio erat, air mataku ikut menetes. Apakah Rio akan menerima keputusanku ini, aku takut ini akan melukainya.
"Ayu" Mas Leo duduk disampingku di tepi kasur Rio.
Aku hanya menoleh tanpa menjawab.
"Aku sudah memikirkannya" ujar Mas Leo.
"Tapi sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Mas Leo.
"Apa?" tanyaku dan meletakkan Foto Rio di tempat semula.
"Apakah keputusanmu sudah bulat?" tanya Mas Leo terbata.
"Iya, mungkin inilah yang terbaik untuk kita" jawabku.
"Mungkin? Kita?" ujarnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kata Mungkin, apakah kau tidak yakin?" tanyanya.
"Dan Kita? Apakah kau tau yang terbaik untukku?" sambungnya.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang.
"Belasan tahun kita bersama Mas, dan bercerai bukanlah hal yang aku inginkan terjadi, tapi setelah semua yang terjadi, aku mencoba bertahan, aku mencoba dan terus mencoba agar keutuhan rumah tangga kita kembali seperti dulu, tapi semakin aku mencoba semakin sakit pula yang aki rasakan, aku rasa perpisahan adalah yang terbaik untuk kita Mas, kau tidam tersiksa dengan sikapku yang dingin padamu, dan aku tidak tersiksa dengan keadaan yang sudah terjadi ini, menyembuhkan hati ini sungguh sulit Mas, tidak semudah itu, sungguh, semakin hari aku semakin tersiksa di belenggu rasa sakit ini" jelasku panjang lebar.
"Tapi yang terbaik bagiku jika kita tetap bersama seperti dulu Yu" ucapnya menunduk.
"Tidak Mas, akan sulit bagiku, aku pun ingin bahagia Mas" ujarku.
"Aku akan membahagiakanmu Ayu"
"Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus begini jika kita selalu bersama, bayang-bayang pengkhianatan itu akan selalu ada" jelasku lagi.
"Jika kita tetap bersama, bagaimana hubunganmu dan Ibumu, tidak mudah bagiku jika harus memaafkan Ibu" ujarku lagi.
"Kau bisa kembali bersama Ibu, Ibumu tetaplah Ibumu yang melahirkanmu" ucapku dengan tangisan.
"Begitupun aku, aku juga berharap merasakan lagi bahagia Mas" sambungku lagi.
"Rio?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak.
"Kita akan menjelaskannya Mas, aku yakin Rio pasti akan menerimanya Mas, Rio tetap anak kita, apapun yang terjadi, bersama kita akan menjelaskannya Mas" aku semakin tersedu mengingat Rio.
Mas Leo memelukku. Dan menghapus air mataku.
"Iya, aku sangat ingin kau bahagia Ayu"
__ADS_1
"Aku akan terima dengan lapang dada jika memang bukan denganku tempatmu bahagia, aku akan terima, mungkin ini balasan yang harus kuterima karena ini semua salahku, aku benar-benar menyesal, aku sangat egois mempertahankan rumah tangga sedangkan kau sendiri terluka karenanya, maafkan aku Ayu, aku sungguh sangat takut kehilanganmu Ayu, dan kehilangan Rio, aku sungguh egois, aku terima semuanya, aku siap berpisah dengamu Ayu, agar kau bahagia" Mas Leo dan aku tersedu menangis, saling berpelukan dan saling memberi kekuatan.
Aku melepaskan pelukan Mas Leo. Ku genggam erat tangan kekar yang dulu selalu melindungiku itu.
"Iya Mas, jodoh kita ternyata hanya samai disini" ucapku.
"Mungkin ini sulit untuk kita di awalnya, tapi semoga kita menemukan kebahagiaan kita masing-masing diluar sana, dan kita tetap bersama sebagai orang tua Rio, bekerja sama dalam membesarkan dan mendidik Rio" aku mencium tangan kekar itu.
"Apakah kau masih mencintaku Ayu?" Mas Leo menahan tanganku yang ingin melepas genggaman.
"Tidak Mas" jawabku singkat.
"Hari ini dari matamu aku dapat melihat itu Ayu" ucapnya.
"Tatapan itu yang hilang beberaba bulan terakhir, aku yakin kau tidak mencintaiku lagi, tapi hari ini aku melihat tatapan itu Ayu, tatapan cintamu padaku" ujarnya panjang.
"Aku menyayangimu Mas, tapi tidak dengan cinta, ini bukanlah cinta Mas, tapi yang kau lihat ini karena aku dengan besar hati telah memaafkanmu, selama ini aku belum bisa menerima semuanya aku belum bisa memaafkanmu, tapi sekarang aku sudah menerima dan memaafkamu dengan ikhlas dan sepenuh hatiku" ucapku dan menghapus airmataku.
"Iya mungkin kau benar" Mas Leo juga menghapus air matanya. Dan bangkit dari duduknya meninggalkanku sendiri.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku, inilah yang terbaik untuk kita" ucapku pelan.
Sudah dua hari Mas Leo tidak pulang, kabar yang ku dapat dari Imran, Mas Leo sekarang tinggal di kantor. Hatiku sedikit sedih sebenarnya, tapi kami harus terbiasa seperti ini.
Kami belum melanjutkan gugatan perceraian ke pengadilan, aku dan Mas Leo sepakat akan membicarakan dengan Rio dan kedua orang tuaku dulu.
Aku lebih banyak berdiam diri dirumah, aku keluar jika perlu membeli sesuatu saja, selebihnya aku akan banyam dirumah, menenangkan fikiran.
__ADS_1