
Sudah seminggu, Mas Leo tidak pernah menghubungiku, begitupun aku, tidak pernah memberi kabar padanya lagi.
Aku tidak ingin menyakiti Rio lebih dalam lagi. Cukup perpisahanku dan Mas Leo melukai hatinya, tidak akan kutorehkan lagi luka dihatinya akibat perbuatan menjijikan antara aku dan papanya, Mas Leo.
Minggu pagi seperti ini, biasanya Mas Leo sudah datang menemui Rio. Tapi, entah kenapa hari ini belum nampak batang hidungnya datang kerumah.
"Ma..." sapa Rio padaku yang sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan kantor di rooftop kamar Bude Sri.
"Iya sayang" jawabku.
"Rio mau pamit pergi sama teman-teman, hari ini mau nonton pertandingan sepak bola di Stadion" pamitnya.
"Iya boleh, Agus tidak ikut?" aku menanyakan cucu dari Bude Sri.
"Ikut juga" jawab Rio.
"Ini.." aku memberikan uang pecahan ratusan ribu padanya.
"Makasih ya Ma"
Aku mengangguk.
"Papa juga gak datang hari ini Ma, tadi malam dia hubungin Rio" jelasnya.
"Oh ya kenapa?" tanyaku, berpura-pura sibuk dengan mata menatap ke laptop.
"Katanya ada urusan mendadak"
"Oh gitu" jawabku.
"Rio pergi dulu ya Ma" pamitnya.
"Iya, hati-hati dijalan ya sayang" pintaku.
Rio mengacungkan jari jempolnya padaku.
__ADS_1
Dan aku kembali sibuk dengan pekerjaan, walaupun fikiran tidak fokus karena memikirkan Mas Leo.
🔰🔰🔰🔰🔰🔰
"Maafkan aku" ucapnya.
Aku menatap wajahnya, air mata sudah menggantung dipelupuk matanya.
"Ayu, bicaralah, katakan apapun tentangku, caci maki aku" pintanya.
Aku masih tidak bisa berkata-kata.
Senin pagi yang cerah ini, aku diharuskan berangkat ke Yogyakarta, ada pekerjaan mendadak yang harus aku kerjakan disana.
Tanpa sengaja juga aku bertemu dengan Mas Leo disalah satu Restoran ternama di Yogyakarta. Dia bersama seorang wanita. Jantungku berdegub kencang, nafasku tidak beraturan. Kami bertemu di parkiran mobil, dia dan wanita itu baru akan masuk kedalam mobil, sedangkan aku dan team kerjaku baru tiba disana. Mata kami bertemu, mulut diam membisu, bahkan tersenyum pun tidak ada di antara kami.
Mas Leo kembali menghubungiku 1 jam kemudian, dia minta waktuku untuk bertemu. Kami bertemu di Stasiun sore ini, sebelum aku berangkat ke Semarang.
"Aku tidak tahu harus bagaimana Ayu"
"Kamu tidak usah bingung" ucapku.
"Ayu, tapi aku tidak mencintainya"
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu Mas, walaupun kita saling mencintai tapi kita tidak bisa bersama, aku dan Ibumu tidak bisa bersama, tidak bisa menyatu menjadi satu keluarga, jangan kita lakukan kesalahan yang sama Mas" ungkapku panjang.
"Kesalahan? Pernikahan kita yang dulu bukanlah sebuah kesalahan" ucapnya.
"Apapun itu Mas, jika kita kembali bersama, Ibu akan kembali menghancurkannya Mas"
Mas Leo hanya diam.
"Semoga kamu bahagia ya Mas" aku berdiri, dan berlalu meninggalkan Mas Leo.
"Ayu, bagaimana dengan apa yang kita lakukan kemarin" Mas Leo mendekatiku.
__ADS_1
"Lupakanlah Mas, aku akan melupakannya, perlahan, aku pamit pulang ke Semarang ya" pamitku.
Dengan menahan airmata aku berjalan cepat menuju toilet. Kutumpahkan semua kekecewaanku di toilet. Tidak mampu lagi aku membendung kesedihan. Dengan tangis yang pelan aku meluapkan semuanya.
Aku keluar dari toilet menuju wastafel, mencuci muka,agar tidak terlihat sembab karena habis menangis. Segera aku keluar dan ingin mencari minum.
"Ayu" suara Mas Leo mengagetkanku, ternyata dia menunggu di depan pintu toilet khusus wanita ini.
Aku menoleh.
"Kenapa kamu belum pulang Mas?" tanyaku.
"Aku mengkhawatirkan kamu Yu" jawabnya.
"Tidak ada yang perlu Mas khawatirin, aku baik-baik saja kok, tenang aja" aku menepuk pelan bahunya.
"Kamu bohong"
"Bohong? Enggak kok" aku tersenyum dengan terpaksa.
"Itu, kenapa mata kamu merah, wajah kamu sembab, kamu habis nangis kan tadi di toilet?" ujarnya.
"Gak kok, ini tadi aku ngantuk banget Mas, makanya jadi merah mataku" bohongku.
"Ayu, aku akan menolak permintaan Ibu untuk menikahi wanita itu, aku akan menunggumu hingga kamu siap untuk kembali padaku, dan aku akan meyakinkan Ibu, agar bisa menerima kamu" ujarnya panjang.
"Jangan Mas, jangan lagi seperti itu, turutilah permintaan Ibumu, tak usah fikirkan aku, aku akan terbiasa nanti, dan jangan seperti ini Mas, ya?" pintaku.
"Tapi.."
"Aku masuk dulu ya, jangan khawatirin aku ya" ujarku.
Aku berlalu, tanpa menghiraukan panggilan Mas Leo.
Aku kembali ke Samarang dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Aku sadari ini dari awal, jika kami tidak akan bersama lagi, ada aku yang belum siap menerima Ibu Mas Leo sebagai Ibu mertuaku kembali, aku takut kekejaman wanita itu kembali aku rasakan. Dan aku yakin, Ibu Mas Leo juga tidak mau aku kembali dengan Mas Leo, aku sangat yakin itu, terbukti dengan adanya perjodohan antara Mas Leo dengan wanita lain.
__ADS_1
Tapi, ego sudah menyelimuti hati dan fikiranku dan Mas Leo. Kami kembali menjalani hubungan yang tidak seharusnya terjadi, kami sudah melewati batas. Rindu dan cinta yang masih kami rasakan telah membutakan semuanya. Kini, aku sendiri yang menahan luka, menahan sakit dihati, menahan semuanya.
Kali ini, aku benar-benar harus melupakannya, melupakan semuanya.