Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN DUA PULUH


__ADS_3

"Ayu" Papa memanggilku ketika aku membantu Bude membereskan meja makan, sehabis makan malam ini. Kutinggalkan Bude menuju Papa dan yang lainnya yang sedang santai diruang keluarga.


"Ada apa Pa?" jawabku dan ikut duduk di samping Mama.


"Ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu dan Leo" ujar Papa yang membuat aku deg-degan.


"Ini mengenai perusahaan Papa" ujar Papa.


"Kenapa Pa?" tanyaku penasaran.


"Papa sudah tua, kini waktunya kamu dan Leo mendedikasikan diri kalian untuk perusahaan Papa, Papa sudah saatnya pensiun, dan Ayu sudah saatnya kamu resign dari pekerjaanmu, hanya kalian ahli waris Papa" Ujar Papa menatapku dan Mas Leo bergantian.


Aku dan Mas Leo hanya diam larut dalam fikiran.


"Kalian Papa beri waktu satu bulan untuk memikirkannya" ujar Papa.


"Untuk Leo, nanti Papa bantu buka cabang kantormu disini, Papa yakin akan berhasil, bukankah sekarang usahamu di Jakarta sedang tidak baik, karena persaingan yang semakin ketat" Jelas Papa lagi.


"Papa, Leo hanya merepotkan Papa" ujar Mas Leo menunduk, aku tahu masih banyak penyesalan yang dia rasakan.


"Papa tidak merasa direpotkan, Papa percaya sama kamu" ujar Papa. Aku menatap Papa, betapa besarnya sayang dan kepercayaan Papa pada Mas Leo. Kugigit bibirku menahan air mataku jatuh.


"Ayu, bagaimana?" Papa mengejutkanku.


"Ayu akan fikirkan dulu Pa" jawabku.


"Iya, Papa berharap banyak padamu Ayu" ucap Papa.


Obrolan berlanjut pada topik yang ringan. Papa dan Mas Leo sangat asyik membahas masalah topik berita di televisi. Mama dan Bude sedang merangkai bunga untuk vas bunga, Rio dan Agus sedang main game bersama. Betapa bahagianya, aku tidak mau kebahagiaan ini hancur karena masalah itu.


"Kamu jangan nakal selama disini sama Eyang, jangan ngerepotin Bude sama Pakde" ucapku pada Rio ketika aku akan meninggalkan Semarang.


"Iya ma" jawab Rio dengan mata berkaca-kaca. Kupeluk erat tubuh Rio, kutahan air mataku agar Rio tidak semakin sedih.


"Ingat pesan Mama ya, dan jangan lupa ibadah dan belajar yang rajin" ujar Mas Leo. Rio langsung memeluk erat tubuh Papanya.


Setelah berpamitan pada Mama Papa dan Bude, dengan di antar Pade Johan kami langsung menuju Bandara, sebelum terlambat.

__ADS_1


Mas Leo menggenggam tanganku erat ketika kami berjalan menuju pesawat. Walaupun aku sungguh tidak ingin tapi aku akan berusaha membuka hatiku lagi seperti dulu. Mas Leo tersenyum menatapku, akan hanya membalas dengan raut muka yang datar.


Tanpa Rio dirumah membuat suasana semakin sepi. Di siang hari aku dan Mas Leo sangat sibuk bekerja, tapi jika malam hari dirumah, baru terasa sepi dan hening tanpa Rio.


Hubunganku dan Mas Leo masih seperti kemarin-kemarin, aku masih belum bisa membuka hatiku untuk memaafkannya dengan sepenuh hati. Yang kurasakan pada Mas Leo adalah hambar. Walaupun Mas Leo berusaha untuk menjadi penyejuk tapi aku selalu menepisnya. Bayang-bayang pengkhianatan itu selalu menari-nari di kepalaku.


Kadang keributan kecil tidak dapat di elakkan dari kami, entah karena capek dalam pekerjaan, ataukah lelah dengan keadaan.


"Ayu, sampai kapan kamu akan seperti ini" ucap Mas Leo ketika aku sedang menonton televisi.


"Aku tidak tahu" jawabku asal.


"Ayu, aku ini suamimu, berdosa jika kamu terus seperti ini" ujarnya.


"Tidak usah membahas dosa, apa kamu tidak berdosa melakukan itu semua di belakangku dan Rio" ujarku tanpa menoleh padanya.


"Rio Rio Rio, selalu saja kamu bawa-bawa Rio, bahkan Rio pun tidak tahu apa-apa" jawab Mas Leo mengacak rambutnya.


"Apa kamu mau Rio tau kebusukanmu?" tanyaku.


Mas Leo hanya diam.


"Iya terima kasih atas kebaikanmu Ayu, tapi semua itu sudah berlalu, sudah lama, kenapa kamu masih sedingin ini padaku" ucap Mas Leo dengan wajah memerah.


Aku diam.


"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Mas Leo padaku.


"Entahlah" jawabku singkat.


"Untuk apa kamu bertahan jika kamu tidak mencintaiku lagi Ayu, untuk apa? Untuk Rio?" ucapnya kesal.


"Iya semua ini untuk Rio, aku tidak ingin Rio sedih, dan tumbuh tanpa seorang Ayah, aku ingin Rio selalu bahagia" ujarku tak kalah kesal.


"Tapi kita tidak bahagia Ayu, aku dan kamu sama-sama dalam situasi yang buruk" Mas Leo terduduk dan menunduk.


"Aku sangat mencintaimu Ayu, sangat mencintaimu" uajrnya.

__ADS_1


"Sudahlah Mas, aku capek" aku sudah berdiri dan ingin berlalu meninggalkannya.


Mas Leo menarik tanganku dan mengunci tubuhku di dinding. Tajam tatapan matanya padaku, tatapan penuh luka dan penyesalan.


"Lepas Mas, lepas..." pintaku berontak.


"Apa yang harus kulakukan agar kamu memafkan aku, agar kamu bisa mencintaiku lagi Ayu" tanyanya.


"Tidak ada, dan kamu tidak perlu melakukan apa-apa, lakukanlah apa yang menurut mu baik" jawabku.


"Apa!? Apa yang harus aku lakukan? Apa!?" teriaknya di depan wajahku.


Aku hanya diam. Ku tatap matanya tajam. Tatapan penuh amarah.


"Aku memang melakukan salah padamu Ayu, tapi Aku lakukan itu karena Ibu, karena Ibu yang membodohiku!!" teriaknya lagi.


"Tidak adakah hati nurani mu untuk ku Ayu, aku ini suamimu, suamimu!!" semakin kuat Mas Leo menahan tanganku.


Aku berusaha melepaskan diri, tapi semakin kuat Mas Leo menahanku.


"Lepaskan aku Mas, lepas..." pintaku melemah.


"Akan kubuat kamu mencintaiku lagi!!" ujar Mas Leo.


Mas Leo berusaha untuk menciumku, aku terus menghindar. Aku terus berontak hingga menangis, Mas Leo tidak putus asa, dengan kasar dia menciumku dan menarikku kekamar.


Tenaga ku yang mulai melemah kalah dengan tenaga Mas Leo yang kuat. Mas Leo terus memaksaku untuk melayani di atas kasur, tangis dan permohonanku sama sekali tidak didengarnya.


"Kumohon jangan, kumohon Mas" pintaku dengan menepis tangan Mas Leo yang sudah menjamah setiap lekuk tubuhku.


Aku pasrah ketika Mas Leo akan membuka pakaian bagian bawahku. Aku pejamkan mata dalam tangisanku, habis sudah tenagaku.


Tapi, tidak kurasakan lagi Mas Leo diatas tubuhku. Kubuka mata perlahan, Mas Leo berdiri menatap tubuhku yang sudah kusut. Mas Leo diam, tidak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.


"Ma..maafkan aku Ayu" ujarnya. Mas Leo menarik selimut menutup tubuhku.


Aku meringkuk dibalik selimut. Hatiku semakin hancur, airmata sudah kering, pedih dan perih yang kurasakan.

__ADS_1


Kudengar Mas Leo menutup pintu meninggalkanku dikamar sendirian.


__ADS_2