
"Keputusan kamu sudah bulat?" tanya Rangga padaku sore itu.
"Iya" jawabku.
Aku dan Rangga tidak sengaja bertemu ketika aku sedang membeli keperluan rumah di Mall miliknya.
Dan Rangga mengajakku untuk minum teh di salah satu tempat yang menurutnya instagramable.
"Aku yakin kamu wanita yang kuat" ujarnya menguatkan ku.
Aku hanya tersenyum.
"Aku juga dengar kabar jika kamu resign dari kantor?" tanyanya.
"Iya" jawabku singkat.
"Terus apa langkah kamu kedepannya?" tanya Rangga lagi.
"Entahlah, untuk saat ini aku hanya butuh sedikit ruang untuk sedikit bernafas lega, dan membiasakan diri" ungkapku.
"Semoga keputusanmu menjadi yang terbaik untukmu" ucapnya.
"Aku berharap begitu" jawabku.
"Dan Rio?, apa dia sudah tahu?"
"Belum, aku sendiri belum siap untuk menyampaikannya, butuh kekuatan untuk mengatakannya pada Rio dan orangtuaku" jelasku.
"Iya, menyampaikannya pasti bukan perkara yang mudah" ucapnya.
"Aku juga memikirkannya" ujarku.
"Ayu, semangatlah, dunia ini belum berakhir, kamu harus bangkit dari keterpurukanmu" nasihat Rangga padaku.
"Iya" satu tegukan teh membasahi kerongkonganku.
"Rangga, saat kamu memutuskan untuk divorce apakah kamu kesulitan dalam membiasakan diri?" tanyaku.
"Sangat sulit" jawabnya.
"Tapi saat itu aku yakin, keputusan yang sudah kami ambil adalah keputusan yang terbaik untuk kami, walaupun sulit aku terus mencoba untuk bangkit, sesulit apapun itu" jelasnya.
Aku diam menyimak penjelasannya.
"Leo sekarang apakah masih tinggal dirumah itu?" tanyanya.
"Tidak, dia tinggal di kantor sekarang" jawabku.
"Itu akan lebih mudah untukmu membiasakan diri" jelasnya.
"Iya, tapi rencananya aku akan menjual rumah itu" ucapku.
"Kenapa? Sayang sekali Ayu" ujarnya.
"Terlalu besar untuk ku tempati sendiri" jawabku.
"Bisa untuk masa depan Rio nanti" jelasnya.
"Entahlah" ucapku.
"Kamu akan tinggal dimana?" tanya Rangga.
"Mungkin sebelum aku pulang ke Semarang, aku akan menempati apartemen orang tuaku dulu sementara waktu" jelasku.
"Ayu, bagaimana jika rumahmu di sewakan saja" Rangga memberikan pendapatnya.
"Iya, bisa saja" ujarku.
"Aku akan membantumu Ayu" ucap Rangga.
"QTerima kasih banyak Rangga" ucapku.
Aku yang sedang menyantap makan malam dikejutkan dengan kehadiran Mas Leo dirumah.
"Ayu"
"Iya" terasa sangat canggung suasana kami malam ini.
"Kamu sudah makan malam, ayo makan bersama" tawarku dan bergegas ingin mengisi piring kosong ini dengan nasi untuknya.
"Tidak usah Ayu, aku hanya ingin mengambil beberapa pakaian ku saja yang masih tertinggal" jelasnya.
"Iya" jawabku singkat.
"Aku izin memasuki kamarmu ya" ucapnya.
Aku mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Aku melanjutkan makan malamku.
Mas Leo keluar kamar dengan mendorong satu koper besar. Aku yang baru selesai mencuci piring menatapnya dengan sedikit merasa iba.
"Kamar itu sudah kosong" ucapnya.
"Iya, aku sudah membereskannya, aku akan pindah dari rumah ini" ujarku.
"Pindah, kenapa?" tanyanya.
"Rumah ini terlalu besar untuk kutempati sendiri" ku sodorkan satu kaleng minuman soda padanya.
Mas Leo menerimanya, dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Dan bagaimana dengan rumah ini" ujarnya.
"Mungkin akan aku sewakan" jelasku dan duduk di kursi meja makan. Mas Leo ikut duduk di hadapanku.
"Mas" ucapku. Mas Leo yang sedari tadi menunduk langsung menatap wajahku.
"Kamu baik-baik saja kan" aku tidak tahu kenapa mengkhawatirkannya.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja" ujarnya.
"Makanlah dengan teratur Mas dan makanlah makanan yang sehat" aku memberi sedikit perhatian.
"Ayu, aku senang kamu masih perhatian padaku" ujarnya dengan sedikit tersenyum.
"Kamu masih ayah dari anakku, dan aku tidak ingin Rio sedih jika kamu sakit" alasanku.
"Tapi sayang status kita kini berbeda, seandainya" ujar Mas Leo.
Aku hanya diam canggung.
"Mas kamu tunggu sebentar, aku akan memasakkan makanan untukmu" aku bangkit dari hadapannya dan menuju dapur.
"Ayu tidak usah repot-repot" Mas Leo menyusulku.
"Tidak apa-apa, tidak sehat selalu memakan makanan instan terus-terusan" ucapku sambil mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
Mas Leo hanya diam dan membantuku memasak. Kami bekerja dalam hening, larut dalam fikiran masing-masing.
Setelah selesai masak, aku memasukkan beberapa makanan yang ku masak kedalam kotak makanan. Dan juga membungkus beberapa makanan mentah, yang mudah untuk di masak. Semuanya ku masukkan kedalam Bag bekal yang lumayan besar.
Mas Leo keluar dari dalam toilet.
"Terima kasih Ayu, maaf merepotkan kamu" ujarnya.
"Enggak kok, biasa aja" ucapku.
"Sudah sangat lama tidak memakan masakanmu Ayu, sudah rindu dengan masakanmu, aku pasti akan makan dengan lahap" ujarnya dengan senyum sumringah.
"Pasti, kamu kan sangat suka masakanku" ujarku.
Mendengar ucapanku sendiri aku terdiam, begitupun Mas Leo.
"Terima kasih banyak ya" Mas Leo bersiap untuk pergi.
"Ya" ada sedikit rasa tidak ingin Mas Leo meninggalkanku sendiri dirumah ini.
"Hati-hati dijalan Mas" ucapku.
"Pasti" Mas Leo mengusap kepalaku lembut ketika kami sudah berada di depan rumah.
"Oh ya Ayu, kalau kamu butuh bantuanku untuk pindahan hubungi aku ya" ujarnya.
"Iya Mas" ucapku.
"Apa kamu sudah menemukan tempat tinggal yang baru?" ujar Mas Leo lagi.
"Aku akan tinggal di apartemen Papa kok Mas" jawabku.
"Baguslah, yaudah aku pulang dulu" ujar Mas Leo.
Aku melambaikan tangan pada Mas Leo.
"Akhirnya selesai juga" ujarku yang baru saja pindahan ke Apartemen.
"Ini, minumlah" Mas Leo sudah menyeduh kopi instan untukku.
"Makasih ya Mas sudah membantuku, tadi aku benar-benar kesulitan membawa barang-barang ini" ujarku.
"Semua ini tidak gratis" ujarnya.
"Jadi aku harus membayar nya.?" tanyaku.
"Iya" jawabnya singkat.
__ADS_1
"Tapi jangan yang aneh-aneh ya" ujarku.
"Kamu hanya perlu memasakkan aku makanan kesukaanku saja, tidak aneh kan" pintanya.
"Tapi aku belum belanja Mas" ujarku.
"Enggak mesti hari ini kok, kalau kamu tidak sibuk saja oke" ungkapnya.
"Baiklah" aku meneguk kopi buatan Mas Leo.
"Mas, bagaimana dengan Rio" ujarku.
"Apakah kamu sudah siap Ayu?" tanya Mas Leo.
Aku diam. Meragukan diriku sendiri.
"Aku akan meluangkan waktu agar kita bisa berangkat ke Semarang" ujar Mas Leo.
Aku menatap wajah Mas Leo.
"Apakah kamu yakin Mas?" tanyaku.
"Kenapa? Bukankah Rio harus tahu, jangan sampai Rio dan orang tuamu tahu dari orang lain" ujar Mas Leo.
"Mas" aku masih menatap Mas Leo.
"Kamu tidak usah takut, ini semua bukan salahmu, ini semua salahku Ayu" ujar Mas Leo.
"Mas" ucapku lagi.
Mas Leo tersenyum padaku. Seolah memberikanku kekuatan, sedangkan aku tahu apa yang Mas Leo rasakan.
"Kamu capek? Sini aku pijitin kakinya" Mas Leo meraih kakiku.
"Gak usah Mas" aku melepaskan tangannya dari kakiku. Mas Leo tetap memaksa. Akhirnya aku biarkan saja.
Melihat Mas Leo yang sedang memijitku. Memory beberapa tahun silam saat aku mengandung Rio terlintas di kepalaku. Dimana hampir setiap malam Mas Leo memijit kakiku yang sangat gampang pegal.
"Kenapa senyum-senyum?" Mas Leo mengagetkanku.
"Gak apa-apa" jawabku salah tingkah. Dan langsung menghabiskan kopiku dalam satu tegukan.
"Pasti yang kamu fikirin sama seperti yang aku fikirkan" ucap Mas Leo.
"Memang kamu mikirin apa?" tanyaku ingin tahu.
"Ada deh" jawabnya tertawa.
"Iih apaan sih" aku memukul pundak Mas Leo.
"Tadi aku ingat ketika kamu hamil Rio" ujarnya.
"Kamu selalu minta dipijitin kaki, setiap malam" ujarnya lagi sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum.
"Aku rindu, aku sangat rindu" Mas Leo menunduk.
"Mas" ucapku menyentuh punggungnya lembut.
"Aku masih belum terbiasa Ayu, bayang-bayangmu dan Rio selalu menari indah di kepalaku" Mas Leo menatap mataku.
"Kita pasti bisa Mas" aku menguatkan.
Mas Leo hanya diam.
Mas Leo mengambil cangkir di hadapanku, dan membawanya menuju dapur dan mencucinya.
"Ayu aku pamit pulang yah"
"Kamu istirahat" ujarnya.
"Terima kasih banyak ya Mas" ucapku.
"Jangan lupa hutangmu" ujar Mas Leo ketika didepan pintu.
"Iya nanti aku kabarin lagi deh" ucapku.
Aku menutup pintu setelah Mas Leo pamit.
Baru saja akan melangkah, bel pintu kembali berbunyi.
"Lho Mas" Mas Leo sudah berdiri lagi di hadapanku.
Dengan cepat Mas Leo memeluk tubuhku erat.
Aku tidak menolak pelukan itu. Tidak bisa dipungkiri rasa itu masih ada.
__ADS_1