Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN DUA BELAS


__ADS_3

Aku benar-benar tidak fokus bekerja hari ini. Semua pekerjaan yang aku kerjakan semuanya berantakan. Aku sengaja meminta Ani sekretarisku untuk mengosongkan jadwal rapat hari ini, aku benar-benar tidak fokus bekerja. Fikiranku berkecamuk memikirkan Mas Leo, aku merasa ada yang mengganjal dari penjelasan Mas Leo semalam.


Hampir 16 tahun aku menjalani rumah tangga dengan Mas Leo. Aku sudah hafal betul sifat, sikap dan tingkah laku Mas Leo, aku yakin betul ada hal yang Mas Leo tutup-tutupi dariku. Hati seorang istri bisa merasakannya.


"Ani" sapaku menuju meja kerja Ani, diluar ruanganku.


"Iya bu" jawab Ani langsung berdiri.


"Saya sepertinya sedang tidak enak badan, saya izin pulang dulu" ujarku.


"Iya bu"


"Tolong kamu handle kerjaan hari ini ya" pintaku.


"Siap Bu"


Aku berjalan meninggalkan kantor menuju parkiran kantor.


"Ayu" panggil seseorang.


"Iya Bu" jawabku setelah berbalik badan, aku berjalan menuju Bu Fatma.


"Ayu kamu kenapa?" tanya Bu Fatma.


"Saya tidak apa-apa Bu" jawabku.


"Ayu, saya kenal betul sama kamu, ada apa Yu? Apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Bu Fatma.


"Ti..tidak apa-apa Bu, saya hanya tidak enak badan, maaf Bu jika Ibu mengizinkan saya hari ini mau pulang lebih awal Bu" pintaku sambil sedikit menunduk.


"Ayu.... Yaudah, kamu istirahat aja dulu dirumah" izin Bu Fatma.


"Terima kasih Bu" jawabku dan aku permisi meninggalkan tempat.


"Ayu.." panggil Bu Fatma, sontak aku langsung berbalik badan.


"Ceritalah pada saya, kamu jangan sungkan" ujar Bu Fatma.


"Terima kasih banyak Bu" jawabku.


"Saya masuk dulu" dan Bu Fatma masuk kekantor.


Aku melajukan mobil menuju rumah, mungkin dengan sedikit istirahat bisa membuat otakku sedikit fresh.


Sudah satu jam dirumah, hatiku semakin gelisah. Aku benar-benar takut jika ada kebenaran yang menyakitkan, tapi aku harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Aku berganti pakaian lebih casual dan sedang menunggu taksi yang sudah aku pesan. Aku putuskan untuk menguntit Mas Leo hari ini. Akan aku cari tahu sendiri semuanya walaupun itu hal yang menyakitkan nantinya. Apapun itu aku harus terima.


Dengan menggunakan taksi online yang sudah ku pesan, aku menunggu didepan kantor Mas Leo. Ini memang hal yang sangat bodoh, tapi aku ingin semuanya selesai.


"Pak ikutin mobil itu" pintaku pada supir ketika kulihat mobil Mas Leo meninggalkan kantor.


Aku tidak tahu Mas Leo menuju kemana, sedari tadi kami masih tetap mengikuti mobil Mas Leo.


Tidak lama Mas Leo, memasuki kompleks perumahan.


Mas Leo memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan ruman minimalis. Mas Leo terlihat menenteng satu kantong kresek yang aku tidak tahu apa isinya.


"Ibu?" Aku sangat terkejut ketika seseorang membuka pintu rumah itu saat Mas Leo memencet belnya.


"Kenapa Ibu disini? Rumah siapa ini?" aku bertanya sendiri. Setahuku Mas Leo tidak mempunyai sanak saudara dan kerabat di kota ini. Tapi mengapa ibu bisa ada disini.

__ADS_1


Kucoba untuk menghubungi Mas Leo.


"Ya halo" jawabnya diujung sana.


"Maaf Mas, Mas lagi dimana?" tanyaku.


"Mas lagi dikantor kok sayang, ada apa?"


"Enggak, aku cuma mau minta tolong, Mas nanti bisa kan jemput Rio disekolah, aku hari ini banyak kerjaan" pintaku berbohong.


"Iya sayang.. Udah dulu ya Mas masih banyak kerjaan" Mas Leo menutup teleponku.


Mas Leo kenapa kau berbohong, apa yang kamu tutupi sekarang.


"Pak kita pergi dari sini" perintahku pada supir.


Kami meninggalkan rumah itu. Kugigit bibirku untuk menahan air mataku agar tidak jatuh. Berkali-kali pak supir melirikku dari kaca spion. Aku berusaha setenang mungkin, aku tidak ingin orang lain melihat hatiku yang sedang kacau.


"Pak, saya turun disini aja" pintaku pada Pak supir.


"Iya Bu" jawab Pak supir taksi itu meminggirkan mobilnya.


"Ini Pak" kusodorkan lima lembar uang kertas merah.


"Maaf Bu, ini kebanyakan, totalnya hanya dua ratus ribu kok" Pa supir menolak.


"Gak apa-apa Pak, makasih bapak udah mau anterin saya" aku keluar dari mobil.


Kulanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menyusuri trotoar. Entah kemana aku sekarang, fikiranku sudah tidak menentu, hatiku kacau. Teganya Mas Leo membohongiku.


Tiiit tiiit tiiit.


Tak kuindahkan suara klakson itu, entah kenapa mobil itu membunyikan klaksonnya, aku tidak peduli, aku terus berjalan.


"Ayu" dia sudah disampingku.


"Rangga" sapaku singkat tanpa menoleh padanya.


"Ayu, kamu kenapa?" tanyanya. Aku hanya diam.


"Kamu darimana Ayu? Kamu mau kemana?" dia menahan tanganku. Aku berhenti berjalan. Kutatap wajahnya.


"Aku mau pulang"jawabku.


"Pulang? Yaudah aku anterin" tawarnya.


Rangga menarik tanganku menuju mobilnya.


Aku masuk kedalam mobilnya.


"Ayu" panggilnya.


Aku menoleh pada Rangga.


"Kamu kenapa?" tanya Rangga.


"Aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja" jawabku.


"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja Ayu" ujar Rangga sambil menyetir.


Tak kutanggapi ucapan Rangga. Aku larut dengan fikiranku sendiri. Rangga cukup tahu diri, dia tidak lagi bertanya-tanya padaku sampai mobilnya berhenti didepan rumahku.

__ADS_1


"Lhoo... Mama sudah pulang" ujar Rio melihatku ketika dia pulang dari sekolah.


Aku hanya tersenyum.


"Lhoo sayang, katanya kamu banyak pekerjaan hari ini" Mas Leo ikut berujar.


"Kerjaanku sudah selesai" jawabku sambil membawa secangkir kopiku menuju halaman belakang.


"Sayang... Kamu ada masalah?" tanya Mas Leo yang menyusulku ke halaman belakang.


"Aku?" kutatap mata Mas Leo tajam.


"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa" aku berusaha bersikap santai.


"Mas"


"Iya" jawabnya


Kutatap wajah Mas Leo.


"Oh... Tidak apa-apa Mas" aku batalkan untuk menanyakan yang aku lihat hari ini.


"Gimana sih sayang, yaudah aku balik kekantor ya, aku usahakan hari ini pulang lebih awal" ujarnya sambil mencium puncak kepalaku.


Tanpa jawaban dariku Mas Leo meninggalkan aku.


"Ma... Rio main kerumah Dimas ya" pamit Rio sore itu. Dimas salah satu teman Rio di kompleks kami.


"Iya... Pulangnya jangan malam ya, besok kan sekolah" ujarku.


"Siap" Rio.


"Hmmm Ma..." sapa Rio lagi


"Iya..."


"Ini untuk mama" Rio menyerahkan sebungkus coklat padaku.


"Kata teman Rio, kalo lagi ada masalah ibunya suka ngemilin coklat, biar mood nya kembali baik, Rio tidak tau masalah Mama, tapi semoga cepat selesai dan mama gak suka melamun lagi" ujar Rio.


Rio berlalu pergi. Aku buka coklat dan memakannya sedikit demi sedikit.


"Rio... Terima kasih" ucapku pelan.


Aku coba menghubungi Ibu mertua. Tapi tidak ada jawaban, ini sudah panggilan ke empat. Aku ingin memastikan apa betul yang kulihat kemarin adalah Ibu, atau hanya mirip. Aku ingat Rio pun pernah bertemu wanita yang sangat mirip dengan Ibu, apakah itu orang yang sama.?


"Hallo Karina" ucapku ketika Karina menjawab telepon dariku.


"**Iya Mbak*"


"Apa ibu ada***?" tanyaku to the point


"Ibu? E..ee... Ibu sedang pergi Mbak, kerumah Bude Tini" jawab Karina


"Hmm yaudah deh..Kamu gimana kabarnya?" tanyaku basa basi.


"***Aku sehat kok Mbak, kalian di Jakarta juga sehat-sehat kan"


"*Iya.. Yaudah makasih ya Na****," kututup telepon.


Jawaban Karina mengganjal hatiku. Bude Tini adalah kakak perempuan Ibu, yang aku tahu ibu dan Bude Tini tidak terlalu akrab. Bude Tini wanita lembut tapi tegas, dia yang selalu memarahi ibu jika ibu membuat kesalahan atau keonaran. Aku merasa tidak mungkin ibu betah menginap dirumah Bude Tini, untuk berkunjung satu sampai dua jam saja terkadang ibu tidak mau.

__ADS_1


Kulajukan mobil, dan akan ku cari tahu sendiri.


Sengaja aku izin tidak masuk kantor hari ini. Fikiran-fikiran ini benar-benar menggangguku. Aku lelah, malam tidak bisa tidur. Melihat wajah Mas Leo membuat hatiku makin berkecamuk tidak menentu.


__ADS_2