Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN SEBELAS


__ADS_3

Aku sudah siap untuk pergi kekantor pagi ini. Aku lihat Mas Leo dan Rio sedang bercanda di meja makan. Menunggu sarapan dariku.


"Mama kesiangan?" tanya Rio ketika melihatku menuju dapur.


"Gak kok" jawabku


"Sarapannya mana?" tanya Rio lagi, Mas Leo juga menunggu jawaban dariku.


"Hari ini kita sarapan roti aja ya sayang, gak apa-apa kan?" jawabku dan meletakkan tas kerjaku di atas meja makan.


"Oke deh Ma" jawab Rio memberikanku jempolnya.


Aku mengambil Roti dan selai dari dalam lemari dan mengambil susu cair dari dalam kulkas. Ku tuangkan susu kedalam tiga gelas, dan kuolesi roti dengan selai coklat. Aku mengerjakannya tanpa suara, entah kenapa rasanya pagi ini mulutku sangat berat untuk ikut bersenda gurau dengan Rio dan Mas Leo.


"Ini dimakan sarapannya" seketika mereka berhenti ketika sedang asyik ngobrol dan bercanda.


Mas Leo menatap wajahku, mungkin dia menyadari perubahan sikapku pagi ini. Aku diam dan berpura-pura tidak tahu jika Mas Leo sedang memperhatikanku.


"Rio hari ini seperti biasa Mama yang nganterin kamu" ucapku memberi penekanan dalam.ucapanku. Aku berdiri membereskan sisa-sisa sarapan. Ku angkat piring dan gelas menuju wastafel.


"Biar aku aja Mas" ujarku ketika Mas Leo ingin membantuku menyimpan susu kedalam kulkas.


"Biar Mas aja yang nagnterin Rio" ucap Mas Leo ketika aku sedang mencuci tangan di wastafel.


Aku berbalik badan.


"Gak apa-apa biar aku aja" jawabku menatap matanya dan kuberikan senyum seadanya.


"Rio sudah gak ada yang ketinggalan lagi" tanyaku pada Rio yang sedang memakai sepatu sekolahnya.


"Enggak Ma.." jawabnya.


"Ayo berangkat nanti terlambat" ujarku.


Rio berpamitan pada papanya. Aku tinggalkan Mas Leo yang masih berdiri didapur.


"Jangan lupa dikunci pintunya Mas" ujarku dan menutup pintu.


Di dalam mobil aku dan Rio lebih banyak diam. Rio yang asyik memperhatikan jalanan, sedangkan aku mengemudi dengan fikiran penuh dengan pertanyaan tentang Mas Rio.


"Maa..."


"Hmmm" jawabku yang masih asyik mengemudi.


"Rio boleh gak nanti pulang naik kendaraan umum aja" ungkap Rio


"Sendiri?" tanyaku.


"Gak kok rame-rame, sama Daffa dan anak-anak kompleks kita yang satu sekolah sama Rio" jelas Rio.


"Boleh...tapi jangan keluyuran kemana-kemana" perintahku tegas.


"Yess... Makasih ya Ma" ujar Rio senang.


"Ini.." kuberikan uang pada Rio. Ketika kami sudah sampai di depan sekolahnya.


"Untuk apa?" tanya Rio bingung.


"Katanya mau pulang naik angkutan umum, ini Mama kasih uang buat ongkos" jelasku pada Rio.


"Ya deh" Rio mengambil uang dan keluar dari mobil setelah pamit dan bersalaman padaku. Kutinggalkan sekolah Rio ketika kulihat Rio sudah memasuki pintu gerbang sekolah.


Kulajukan mobil menuju kekantor. Tapi tengah perjalanan aku berbelok kekiri, sedangkan kantorku harusnya terus lurus. Aku turun di buffet kecil yang menjual sarapan pagi langgananku ketika sekolah dulu. Rasanya pagi ini aku sangat ingin menghirup aroma kopi dan sepiring nasi uduk.

__ADS_1


Aku duduk dikursi paling pojok. Karena hanya itulah kursi kosong yang tersisa, buffet Betty ini memang selalu rame di pagi hari. Satu persatu pesananku sampai. Kuhirup aroma kopi sebelum kuseruput kopi panas itu.


"Ayu..." seseorang menyapa dan duduk dihadapanku. Aku suah sangat kenal dengan suara itu.


Kuhanya tersenyum karena mulutku terisi nasi uduk.


"Jauh banget sarapannya" ujarnya yang juga memesan nasi uduk dan satu gelas kopi.


"Lagi pengen aja kesini, emang gak boleh?" jawabku.


"Gak boleh dong" jawabnya sambil tersenyum jahil.


"Kamu juga masih sering sarapan disini?" tanyaku pada laki-laki yang memakai kaos berkera dan celana selutut itu.


"Hampir setiap hari" jawabnya dengan mulut penuh.


"Kamu gak kerja?" tanyaku lagi.


"Kerja tapi nanti, setiap pagi aku kesini pake sepeda sekalian olahrga" jawabnya.


"Ooh gitu" jawabku dan melanjutkan makan.


"Ayu, biar nanti aku aja yang bayar" ujarnya.


"Wah asyik nih, pagi-pagi aku udah di traktir" ujarku meledek.


Rangga berdiri menuju kasir. Akupun mengikutinya.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Rangga ketika kami keluar Buffet Betty.


"Iya, aku baik-baik aja kok" jawabku.


"Syukurlah, karena mata dan wajah kamu mengungkapkan jika kamu sedang tidak baik-baik aja" ramal Rangga.


"Apaan sih, sok tahu" ujarku sambil memukul pundaknya. Rangga hanya tersentum dengan perlakuanku.


"Ayu..." panggil Rangga ketika aku akan berjalan menuju mobil.


Aku berbalik badan ketika dia memanggil.


Rangga berjalan kearahku.


"Hubungi aku kalo kamu lagi ada masalah, aku akan selalu ada untuk kamu" ujarnya serius.


"Iya, makasih yah perhatiannya" jawabku sambil tersenyum.


Kutinggalkan Buffey Betty dan Rangga yang masih berdiri di trotoar memperhatikan mobilku. Dapat aku lihat dari kaca spion mobil.


Rangga, perhatianmu dari dulu tidak pernah berubah. Seharusnya Sangat beruntung orang yang menjadi pasanganmu. Tapi kebaikanmu dibalas pengkhianatan oleh mantan istrimu.


"Kau terlihat semakin cantik dengan tersenyum, tersenyumlah selalu dan selalu" Rangga mengirimkan ku pesan ketika aku sedang sibuk bergelut dengan kerjaanku.


"Heeiii... Aku adalah seorang istri dan seorang ibu" balasku sambil tersenyum-senyum.


"Iya istri orang dan ibu orang" balasnya semakin membuatku tersenyum lebar.


Tak kubalas lagi pesan darinya. Aku kembali sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk bersama Ani sekretarisku.


Aku pulang menjelang malam. Aku sangat lelah, semua pekerjaanku hari ini deadline. Sehingga aku dan Ani hari ini bekerja lebih ekstra.


Mas Leo dan Rio sedang asyik nonton pertandingan bola di TV. Mas Leo menatapku, aku cuek dan masuk kekamar.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, aku keluar kamar menuju dapur untum mengisi perut yang sedari tadi meronta minta diisi.

__ADS_1


"Sendiri?" aku menyapa Rio yang sedang menonton TV sendiri.


"Papa lagi jawab telpon Ma, tu di luar?" jawab Rio sambil menunjuk Mas Leo yang sedang menelpon di halaman belakang rumah.


"Kamu sudah makan?" tanyaku lagi.


"Sudah Ma, tadi papa beliin Bebek goreng, itu yang Mama ada diatas meja makan" jawabnya dengan mata masih fokus ke TV.


Kubuka tudung saji di meja makan. Benar, ada bebek goreng kesukaan ku dan Rio. Kuambil piring dan kuisi nasi dan diawali doa aku melanjutkan makan malamku.


Mas Rio masuk kedalam rumah setelah selesau menerima telepon.


"Sudah lama aku gak beliin kamu sama Rio bebek goreng ini" ujar Mas Leo dan duduk dihadapanku.


"Makasih Mas" jawabku.


Mas Rio berdiri mengisi gelasku dengan air putih. Dan kembali duduk dihadapanku.


Mas Leo terus memperhatikanku yang sedang makan dengan lahap.


"Kenapa Mas? Ada yang salah?" tanyaku.


"Tidak apa-apa" jawab Mas Leo singkat.


Dapatku lihat sorot mata Mas Leo. Mata jernih dan indah itu, menyiratkan sesuatu yang sulit kuartikan. Sedih, senang bersatu disana.


Aku berdiri membereskan sisa makan malamku, dan mencuci piring. Kulihat Mas Leo masih setia duduk dikursi meja makan. Aku kembali duduk dihadapannya dengan menggenggam satu gelas air putih.


"Mas?" panggilku.


Mas Leo menatapku.


"Kenapa? Apa ada yang ingin Mas ceritakan?" tanyaku.


"Ceritakan? Enggak ada?" jawab Mas Leo seperti menutupi sesuatu.


"Yaudah kalo gitu, boleh aku bertanya sama Mas?" tanyaku. Mungkin ini saat yang tepat fikirku.


"Boleh" jawab Mas Leo singkat.


"Hari minggu kemarin, aku ketemu sama Yuni di salah satu Mall"


Mas Leo diam. Dan kebingungan.


"Kenapa aku tidak tahu jika Yuni sudah resign?" tanyaku.


"Aku belum sempat cerita, karena kesibukan ini, dan aku tidak mau menambah beban fikiran kamu" jawab Mas Leo sedikit gugup.


"Yuni juga cerita jika ada 3 menthor yang juga mengundurkan diri" ungkapku lagi.


"Kenapa Mas? Ada masalah apa?" tanyaku.


"Enggak ada sayang" Mas Leo masih ingin mengelak.


"Kenapa Hak mereka tidak Mas penuhi?" tanyaku penasaran.


"Maaf sayang, sebenarnya sedikit ada masalah, Mas memesan beberapa alat musik tambahan, semua uang pembayarannya sudah Mas berikan, tapi ternyata barangnya tidak ada, Mas tertipu" jelas Mas Leo menunduk.


"Yang benar Mas, kenapa Mas tidak cerita? Aku pasti bisa bantu, dan kita laporkan saja pada pihak berwajib" ungkapku


"Jangan... Mas kenal baik sama orangnya, sekarang Mas masih menunggu itikad baiknya saja" jelas Mas Leo yang belum memuaskan hatiku. Aku yakin masih ada lagi yang Mas Leo tutupi.


"Dan...Mas malu jika menceritakan sama kamu, sudah cukup rasanya Mas selama ini merepotkan kamu dan keluarga kamu. Dari awal Papa memberi modal yang besar untuk usaha Mas ini, Mas tidak ingin menambah beban fikiran kamu dan Papa" jelas Mas Leo.

__ADS_1


"Iya Mas... Semoga masalah kamu cepat selesai ya" ujarku singkat.


Aku masih belum percaya dengan penjelasan Mas Leo tadi, sepertinya masih ada kenyataan yang sebenarnya Mas Leo tutupi. Mas Leo sudah tidur nyenyak disampingku. Sedangkan aku masih terjaga dengan semua yang sedang terjadi . Aku sangat yakin, masih ada yang Mas Leo tutup-tutupi dariku.


__ADS_2