
Setibanya dikantor, aku segera menuju ruanganku. Kududuk dikursi yang selama ini menjadi kebangganku, ku keluarkan sebuah kertas berbalut amplop berwarna putih. Sudah berminggu-minggu aku memikirkannya, keputusanku pun sudah bulat, aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah kugeluti belasan tahun ini.
Semua ini bukan tanpa alasan, salah satu alasannya adalah aku akan meneruskan usaha yang sudah lama Papa geluti. Dan juga untuk sementara aku akan beristirahat sejenak dari rutinitasku ini, sebelum akhirnya aku akan di sibukkan mengurus perusahaan milik Papa.
Sudah jam sepuluh pagi, aku akan segera menemui Ibu Fatma hari ini, semua ini tidak bisa kutunda-tunda lagi.
Dengan perasaan yang sulit untuk kujelaskan, aku berjalan gontai menuju ruangan Ibu Fatma pimpinan perusahaan.
"Ayu, apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bu Fatma padaku yang sedari tadi hanya diam.
Jujur aku tidak tahu ingin memulai darimana.
Dengan berat hati, kuletakkan amplop putih berisi surat pengunduran diriku diatas meja, tepat di hadapan Bu Fatma.
Bu Fatma menatapku terkejut.
"Ayu..." ucap Bu Fatma.
"Maafkan saya Bu, mungkin untuk saat ini, inilah yang terbaik untukku" ucapku menunduk.
"Apa kau sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Bu Fatma.
Aku mengangguk.
"Ayu, saya tidak bisa menyetujuinya" ucap Bu Fatma.
"Maafkan saya Bu"
"Saya akan memberikanmu cuti sepuluh hari untuk menenangkan fikiranmu Ayu" ujar Bu Fatma.
__ADS_1
"Keputusan saya sudah bulat Bu, maaf" jawabku sopan.
"Ini sangat berat untukku Ayu, aku mengerti semua masalah yang sudah kamu hadapi ini tidaklah mudah, tapi Ayu, tidak bisakah kau tetap bertahan disini, ini permintaanku Yu, sahabatmu" jelasnya.
Aku tatap wajah cantik Bu Fatma yang juga sahabatku itu.
"Ini bukan karena aku dan masalahku Mbak, tapi ini juga tentang orang tuaku" ujarku akrab.
"Sudah saatnya aku meneruskan usaha orang tuaku Mbak, mereka tidak lagi muda, hanya akulah harapan satu-satunya mereka" ujarku lagi.
"Perusahaanku pun tidak berarti apa-apa tanpa kamu Yu" ujar Bu Fatma.
"Kamu membantuku ketika aku tidak mengerti apa-apa tentang bisnis, kamu yang mendorongku agar tetap semangat meneruskan perusahaan milik orang tuaku ini, hingga sekarang menjadi perusahaan yang sangat sangat baik Yu" ujar Bu Fatma.
"Sekarang saatnya aku mengabdi untuk usaha orangtuaku Mbak" aku tersenyum.
"Ya, kamu benar" jawab Bu Fatma.
Aku juga berdiri.
Bu Fatma memelukku erat.
"Sekarang kamu bukan atasanku lagi" ucapku bercanda mencairkan suasana yang haru.
"Iya iya iya" jawab Bu Fatma dan melepaskan pelukannya.
"Ayu, terima kasih untuk semuanya" ucap Bu Fatma.
"Iya, aku pun juga berterima kasih pada Mbak, semua ini kita lewati bersama bukan aku sendiri yang berjuang untum perusahaan ini tapi kita bersama" ku genggam erat tangan Bu Fatma.
__ADS_1
Kami kembali berpelukan, meluapkan semuanya bersama.
Fatmawati itulah nama lengkapnya. Pertemuan pertama kami ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta bersma kedu orangtuaku ketika masuk SMA.
Mbak Fatma adalah tetangga satu komplek tempat tinggalku. Wanita ramah dan sedikit tomboy. Dia lebih tua tiga tahun dariku, saat itu dia baru saja menyelesaikan SMA nya.
Setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah, dia dan kakeknya akan bersepeda berkeliling kompleks, aku akan melemparkan senyuman jika berpapasan dengannya. Dan sang kakek akan memberiku semangat untuk rajin belajar.
Sejak saat itu, di pagi minggu aku akan ikut bersepeda dengan mereka berkeliling kompleks.
Kemudian kami terpisah karena aku akan melanjutkan kuliah di Yogya saat itu. Ditahun kedua kuliahku, komunikasiku dan Fatma memudar karena kesibukan kami masing-masing.
Dan selang beberapa tahun kemudian, aku dan orang tuaku yang saat itu sudah kembali ke Semarang, mendapat undangan pernikahan Fatma dengan seseorang lelaki yang menjadi tambatan hatinya.
Setelah itu, hubungan kami kembali terputus, karena Fatma harus ikut menemani suaminya yang melanjutkan pendidikan TNI diluar negeri.
Setelah perseteruanku dengan Ibu Mas Leo di awal pernikahan, aku dan Mas Leo hijrah ke Jakarta, menempati rumah orangtuaku di Jakarta yang hingga saat ini aku huni. Rumah yang menjadi saksi perkenalan pertamaku dengan Fatma.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun aku bertemu kembali dengan Fatma, yang juga sudah kembali ke Indonesia. Dan tidak lama setelah itu, Ayah Fatma menawariku pekerjaan di perusahaannya, yang saat itu belum sehebat sekarang. Tanpa berfikir panjang, aku menerima tawaran itu.
Dua tahun bekerja, Ayah Fatma meninggal, dan mewariskan perusahaan itu kepada Fatma putri satu-satunya.
Fatma yang saat itu buta akan bisnis dan belum mampu mejalankan perusahaan, sangat stress, hingga akhirnya suaminya memintaku untuk membantu Fatma, agar menjadi bisa dan bangkit dalam menjalankan perusahaan.
Dalam waktu yang tidam singkat, usaha kami membuahkan hasil, perusahaan ini menjadi ternama dan sukses. Dan sebagai ucapan terima kasih, Fatma mengangkatku menjadi Manager Marketing di perusahaannya.
Suka dan duka kami lewati bersama, termasuk ketika Fatma dalam situasi terpuruk ketika ditinggalkan suaminya untuk selamanya. Semangat nya hilang, senyum dan kekuatannya pun hilang, sering mabuk-mabukkan. Sehingga aku sendiri menghandle semua pekerjaan Fatma saat itu.
Untungnya kesedihan itu tidak berlangsung lama, ketika aku dengan emosional memarahi dan memberi nasehat tidak dengan cara baik-baik. Fatma sadar, dan bangkit, demi Alm. suami dan anak-anaknya saat itu.
__ADS_1
Dan begitupun aku, dengan masalah yang kuhadapi, Fatma adalah tempatku mencurahkan semuanya. Walaupun dengan sedikit paksaan dari Fatma, karena aku adalah tipe wanita yang tertutup untuk masalah pribadi. Fatma selalu menguatkan aku, dan selalu ada untukku.
Walaupun aku tidak lagi bekerja denganya, bukan berarti selesai pula persahabatan kami. Kami akan selalu bersama dalam suka dan duka.