
(18+)
Hari ini Senin,jam 10.00 pagi, Rio Mama Papa dan yang lainnya akan bertolak ke Singapore untuk berlibur. Aku dan Mas Leo ikut mengantarkan hingga Bandara.
Setelah berpamitan, dan pesawat yang mereka tumpangi terbang menuju Jakarta, aku dan Mas Leo, pergi meninggalkan Bandara.
Aku mengendarai mobilku.
Dan Mas Leo, menggunakan mobil travel sewaannya.
"Kamu mau langsung ke Hotel Mas?" tanyaku ketika di parkiran.
"Iya, kamu?"
"Aku pulang kerumah,hari ini aku cuti dari kantor" jawabku.
"Bagaimana kalo kita ngobrol-ngobrol dan ngopi-ngopi?" ajaknya.
"Boleh, dimana?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, kamu saja yang menentukan tempatnya" ujarnya.
"Di kamar hotelmu saja Mas, nanti aku beli kopi di kedai D" ujarku.
Mas Leo, masih berfikir dan menimbang-nimbang.
"Bagaimana? Kalau kamu tidak mau, dirumahku saja" ujarku lagi.
"Bagaimana kalau kita cari tempat yang lain Yu?" ujar Mas Leo.
"Aku sedang tidak ingin nongkrong-nongkrong diluar" jawabku.
"Naiklah ke mobilku, nanti aku ajak kamu ketempat yang bagus" ujar Mas Leo.
"Kemana?" tanyaku.
"Ikut saja" ajaknya.
"Pakai mobilku saja Mas, hubungi agen travelmu, agar mengambil mobil ini kesini" ujarku.
"Baiklah"
Mas Leo segera menghubungi agen travel mobil yang dipinjamnya.
Setelah 15menit menunggu, orang yang ditunggu tiba.
"Ini" aku memberikan kunci mobil padanya.
Mas Leo mengambilnya.
"Kemana Mas?" tanyaku.
"Berkeliling kota" jawabnya.
Mas Leo berhenti di depan Mini Market. Dan membeli 2 gelas kopi, di booth yang ada di depan mini market itu.
"Ini, minumlah" tawarnya.
"Terima kasih" jawabku.
Kami berjalan berkeliling kota hari ini. Kami berbagi cerita tanpa batasan dan tertawa bersama.
"Ini jalan menuju Danau Mas" ujarku.
"Iya" jawabnya.
"Ngapain kesini, tempat ini sepi dihari kerja" ujarku.
"Aku sudah lama tidak kesini,kita tidak perlu lama-lama, aku hanya ingin melihat-lihat sebentar" jelasnya.
"Ayo turun" ajaknya ketika kami sampai di Danau.
Aku pun mengikutinya.
"Sepi Mas" ujarku.
"Iya, ditambah mendung semakin sepi aja, biasanya ada beberapa orang yang memancing disana" ujar Mas Leo, sambil menunjuk tempat orang biasa memancing.
Kami duduk di kursi pinggir danau.
Diam.
Larut dalam fikiran masing-masing.
Mas Leo memegang tanganku.
"Aku sangat merindukanmu Ayu" ujarnya.
Aku hanya diam, menatap dalam matanya.
"Sungguh aku tersiksa menahan Rindu ini"
"Ayu, aku sungguh mencintaimu,masih mencintaimu"
__ADS_1
Kulihat kesungguhan dimatanya.
Mas Leo, laki-laki yang masih sangat aku cintai.
Air mataku menetes.
Akupun merasakan yang sama.
Sangat merindukannya.
Matanya.
Hidungnya.
Tangannya.
Bibirnya.
Pelukannya.
Mas Leo, memelukku erat.
Melepasakan pelukan, dan menghapus air mataku dengan jari-jari tangannya yang panjang.
Aku merindukannya.
Mataku memejam.
Nafasku berburu.
Bibir itu yang aku rindukan.
Aku mendapatkannya.
Aku tidak ingin melepaskannya.
Aku menginginkannya lebih lama.
Semakin lama.
Nafasku beburu.
Begitupun.
Nafasnya.
Aku membuka mata.
Aku melepaskan ciuman panas itu.
Rintik-rintik air hujan membasahi tanganku kiriku, yang masih memegang lehernya.
Aku gila.
Aku semakin gila.
Rintik-rintik hujan semakin banyak.
Hujan semakin deras.
Mas Leo menarik tanganku menuju mobil.
Bajuku dan baju Mas Leo setengah basah terkena air hujan.
Kami masih terdiam.
Aku sudah gila.
Aku menatap lagi wajahnya, matanya lurus menatap kedepan.
Dia hanya diam.
Apa yang sedang dia fikirkan.
Mas Leo menarik tubuhku dalam pelukannya, kami mengulang lagi kesalahan tadi.
Kali ini aku tidak ingin melepaskannya.
Aku gila.
Biarkan.
Aku tidak perduli.
Aku merindukan kehangatannya.
Sungguh...
Mas Leo menyandarkan kursi mobilnya.
Aku semakin gila.
Mas Leo juga menggila.
__ADS_1
"Jangan Mas, jangan disini" ujarku ketika bajunya hampirku lepas.
"Ayo kita kehotelmu Mas"
Aku kembali duduk di jok kursiku.
Merapikan baju dan penampilanku.
Mas Leo, dengan cepat menerobos hujan yang begitu deras, menuju hotel.
Kami butuh kehangatan.
Aku dan dia.
Bukanlah seharusnya.
Tapi rindu dan cinta menguasi diri.
Kami tidak dapat mengontrolnya.
Di parkiran Basement. Aku menarik lehernya. Kembali kukecup semua milikku dulu.
Tanpa ku tinggali sedikitpun.
Tapi tersisa.
Mas Leo melepaskan ciumanku.
Menarikku menuju lift, menuju kamarnya.
Melepaskan semua kerinduan.
Aku menikmati semua perlakuannya.
Aku berteriak.
Aku tersenyum lega.
Dia memperlakukanku bak putri.
Seperti dulu.
Aku menikmatinya.
Mas Leo tersenyum bahagia.
Hingga dahaga itu terlepas.
Kami tertidur dalam pelukan, dibawah selimut yang sama.
Sungguh.
Aku tak mau melepaskannya lagi.
22.30 malam.
Aku terbangun. Mas Leo masih memelukku.
Aku duduk. Mas Leo kaget, juga ikut duduk bersamaku.
Masih di bawah selimut yang sama.
Entah berapa kali kami melakukannya. Aku tidak ingat.
Aku bangkit menuju kamar mandi. Tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Mas Leo ikut bangkit. Mengambil 2 helai handuk. Satu dia gunakan sendiri. Dan satunya diberikan padaku.
Aku menyesal tapi aku sangat bahagia.
Merasa beban dipundakku telah lepas seluruhnya.
Aku keluar kamar mandi. Mas Leo menatap jauh keluar jendela. Aku memeluknya dari belakang. Mas Leo memegang tanganku erat.
"Maafkan Mas Ayu" ujarnya.
"Tidak Mas, Ayu yang salah"
"Ayu yang memulainya lebih dulu" ujarku lagi.
Mas Leo membalik badan dan memelukku erat.
"Kembalilah padaku Ayu" pintanya.
Aku menangis.
"Ayu"
Aku semakin memeluk erat Mas Leo.
Tidak mendapat jawaban dariku. Mas Leo mengangkat tubuhku. Membawaku ke sofa. Duduk dalam pangkuannya.
"Bermalamlah padaku Ayu"
Aku mengangguk.
__ADS_1
Dan
Mandi yang kulakukan sia-sia.