
Aku berlari setelah turun dari taksi, aku mengejar waktu takut ketinggalan pesawat.
Dari jauh aku melihat Mas Leo berdiri dengan gelisah, dia pasti menungguku.
"Maaf Mas" ucapku sambil mengatur nafas yang ngos-ngosan.
"Untung lah, belum telat" ucapnya.
Hari ini aku dan Mas Leo berangkat ke Semarang, kami sudah sepakat untuk menjelaskan semuanya pada Rio dan orang tuaku. Lebih cepat lebih baik. Walaupun ini sudah terlalu lama kami tunda.
"Ayo" Mas Leo menarik tanganku.
Aku terbangun ketika pesawat sudah mendarat sempurna di Semarang. Aku tidur dengan nyenyak.
Mas Leo membantuku membawa koper kecil milikku. Aku hanya mengekorinya dari belakang.
"Bergadang lagi?" tanya Mas Leo ketika kami sudah berada di dalam taksi.
Aku mengangguk.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu ketika sudah sampai nanti" ucapnya lembut.
"Aku sudah tidak ngantuk lagi" ujarku.
"Aku khawatir" ujarku lagi.
"Kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak bersalah, aku yang akan mempertanggung jawabkan semuanya" ungkap Mas Leo.
"Tapi ini masalah kita bersama Mas" ujarku.
"Aku tahu, kamu tidak perlu khawatir" Mas Leo menguatkan aku.
Kupaling wajah kejendela taksi. Menikmati perjalanan yang terasa sangat cepat. Hari ini adalah hari yang tidak ingin aku lewati.
Mas Leo menggenggam jari tanganku. Aku menoleh padanya. Mas Leo memberikan aku senyuman kekuatan padaku.
Aku dan Mas Leo sudah sampai dikediaman orangtuaku, jantungku berdetak tidak menentu. Bahkan aku takut untuk melangkah menuju pintu rumah.
Mas Leo menekan bel di pinggir pintu. Jantungku semakin kuat berdetak.
"Ayu Leo, kok gak ngabarin Mama kalo mau pulang" Mama memeluk kami bergantian.
"Mau kasih kejutan buat Rio ya, Rio masih sekolah, nanti jam 3 baru pulang" Ujar Mama lagi.
"Papa mana Ma?" tanya Mas Leo.
"Lagi bercocok tanam di halaman belakang" jawab Mama.
Aku dan Mas Leo berjalan menuju halaman belakang untuk menemui Papa.
"Haiii..." sapa Papa ramah.
Aku dan Mas Leo bergantian menyalami dan memeluk Papa.
"Kenapa tidak beritahu jika mau pulang, Pakde mu bisa jemput ke bandar" ujar Papa.
Aku dan Mas Leo hanya tersenyum.
"Yaudah kalian istirahat dulu di kamar, biar Mama dan Bude siapin makan buat kalian, kalian pasti lapar kan" ujar Mama.
"Iya" aku dan Mas Leo menjawab berbarengan.
Aku dan Mas Leo menuju kamar.
"Kamu istirahatlah, biar aku menunggu diluar" Ujar Mas Leo.
Aku menahan tangan Mas Leo.
"Jangan Mas, kamu juga istirahatlah, aku bisa bantu Mama di dapur" ujarku juga.
"Kamu bergadang tadi malam, tidurlah walau sebentar" pintanya.
"Kamu juga pasti tidak tidur semalam, kamu juga butuh istirahat" pintaku pula.
Aku dan Mas Leo duduk bersisian di tepi kasur. Kecanggungan terjadi diantara kami.
__ADS_1
"Istirahatlah" pinta Mas Leo.
"Kamu?" tanyaku.
"Aku juga akan istirahat disini" jawabnya.
Aku mengambil posisi untuk tidur sebentar diatas kasur. Tidak lama aku sudah terlelap tidur.
Aku tiba-tiba bangun ketika mendengar ketukan pintu. Mama memanggil.
"Ayu Ayu, ayo makan dulu" panggil Mama.
"Iya Ma, jawabku sedikit serak" aku beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk mandi sebentar. Menyegarkan badan dan fikiran.
Tapi aku terkejut, Mas Leo ternyata tidak ada dikamar. Dimana Mas Leo istirahat, Mas Leo pasti juga sangat lelah karena tidak tidur semalam.
Aku melangkah keluar kamar, kulihat Mas Leo sudah duduk manis di kursi meja makan bersama Mama dan Papa.
"Leo udah kelaparan nungguin kamu" ujar Mama.
Aku duduk disamping Mas Leo.
"Kamu tidur sangat nyenyak Ayu" ujar Papa.
"Iya Pa" jawabku sambil menyendokkan nasi kedalam piring.
"Jangan suka bergadang Ayu, gak baik nanti wajah kamu cepat tua" Ujar Mama bercanda.
Papa dan Mas Leo tertawa mendengar lelucon Mama.
Setelah makan, aku menghampiri Mama Papa dan Mas Leo yang sedang asyik mengobrol di ruang TV.
Aku duduk disamping Mas Leo. Kembali Mas Leo tersenyum penuh arti padaku.
"Ma Pa?" ujarku.
"Iya kenapa sayang" jawab Mama.
"Ada yang mau Ayu dan Mas Leo sampaikan pada Mama dan Papa" ucapku ragu-ragu.
"Apa?" tanya Papa.
"Ini tentang antara Ayu dan Mas Leo" ucapku semakin bimbang.
"Sampaikanlah" ujar Papa.
"Sebelumnya Ayu dan Mas Leo mau minta maaf sama Mama dan Papa, sebenarnya" aku semakin tidak sanggup menjelaskannya.
Hening.
"Maaf Ma Pa, sebenarnya Leo dan Ayu sudah berpisah" Mas Leo melanjutkan.
Terlihat shock di wajah Mama dan Papa. Papa berdehem bertanda tidak nyaman, Mama memegang dadanya bertanda tidak percaya.
"Maksud kalian apa?" tanya Papa.
"Leo dan Ayu sudah pisah ranjang" jelas Mas Leo. Aku semakin menunduk tidak berani mengangkat kepala.
"Kenapa? Ada apa sebenarnya?" ujar Mama dengan mata memerah menahan tangis.
"Ayu dan Mas Leo sudah tidak cocok lagi" ucapku sebelum Mas Leo lebih dulu menjawab. Mas Leo menatapku tidak percaya.
"Papa tidak mengerti?" ujar Papa berusaha untuk tenang.
"Ayu sudah tidak mencintai Mas Leo lagi" aku menangis.
Mas Leo kembali menatap wajahku.
Mama menangis.
Papa gelisah.
"Kenapa bisa Ayu? Ada masalah apa sebenarnya" ujar Mama.
Aku diam tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin Papa dan Mama membenci Mas Leo.
__ADS_1
Aku berlutut dihadapan Mama dan Papa.
"Maafkan Ayu Ma Pa, maafkan Ayu" aku menangis.
"Jelaskan pada kami kenapa kamu tidak mencintai Leo, kesalahan apa yang telah Leo lakukan padamu" ujar Papa masih berusaha untuk tenang.
"Ayu.. Ayu mencintai laki-laki lain" jawabku sembarang dalam memilih alasan.
Plak!!
Papa menamparku.
Papa meninggalkan kami dan masuk kekamarnya.
"Maafin Ayu Ma" pintaku.
Mama meraih tubuhku.
"Ini kesalah besar Ayu" Mama juga meninggalkanku.
Aku kembali terduduk dalam tangis. Mas Leo meraihku dalam pelukannya.
"Kenapa kamu berbohong Ayu, kenapa?" ujar Mas Leo pelan.
"Aku tidak ingin Mama dan Papa membencimu Mas" jawabku.
"Tapi mereka akan membencimu Ayu, kenapa kamu lakukan ini untukku, aku siap apapun yang akan akan Papa lakukan padaku" Mas Leo semakin erat memelukku.
"Apakah itu cinta Ayu, sebegitu cintanya kamu padaku" ujar Mas Leo melepas pelukan. Dan menghapus airmataku dan wajahku.
Aku memeluk Mas Leo erat.
Aku dan Mas Leo duduk di gazebo halaman belakang ditemani dua cangkir teh manis buatan Bude Sri.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Mama dan Papa" ujar Mas Leo.
"Jangan Mas" jawabku.
"Ayu, aku tidak ingin melihatmu lebih menderita lagi, aku sudah membuatmu menderita Ayu, kenapa kamu menambah penderitaanmu Ayu" jelas Mas Leo.
"Aku tidak apa-apa Mas, percayalah" ucapku.
"Ayu, kenapa kamu melindungiku, aku yang sudah bersalah pada kalian semua" ujarnya.
Kutatap wajah Mas Leo.
"Mama dan Papa akan lebih mudah memaafkan kesalahanku Mas, karena aku anaknya" jawabku.
Mas Leo berdiri dari hadapanku. Tatapannya lurus kearah belakangku. Aku menoleh. Papa berjalan menuju kami. Dan duduk disamping Mas Leo.
"Selesaikan masalah kalian berdua, Papa tidak mau Rio sampai tahu, secepatnya kalian pulanglah ke Jakarta, dan fikirkan matang-matang, jangan libatkan Rio dalam masalah kalian" Papa menatap mataku tajam.
"Tapi Pa"
"Tapi apa?" Papa memotong ucapanku.
"Ayu sudah resign dari kantor Ayu" ucapku.
"Selesaikanlah masalah kalian berdua, untuk perusahaan Papa akan kita bicarakan lagi nanti saat kalian sudah menyelesaikan masalah rumah tangga kalian" jawab Papa.
"Dan rumah itu sudah Ayu sewakan, sekarang Ayu tinggal di apartemen milik Papa" ujarku lagi.
"Itu menjadi urusanmu" jawab Papa singkat.
"Papa tidak mau perusahaan yang sudah Papa bangun dari Nol di pimpin oleh wanita yang masih memikirkan hawa nafsunya, padahal dia sendiri sudah memiliki suami dan anak, walaupun dia darah dagingku" ungkap Papa tegas.
Aku tidak lagi berani berkata-kata.
"Dan kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Papa pada Leo.
"Leo, tinggal dikantor untuk sementara ini" ujarnya.
Papa hanya mengangguk.
"Hanya itu pesan Papa untuk kalian, selesaikanlah masalah kalian tanpa harus melibatkan Rio sedikitpun, Rio menjadi tanggung jawab Papa" Papa berdiri.
__ADS_1
"Pa, ini semua bukan salah Ayu" Mas Leo menahan langkah Papa.
"Kamu tidak perlu melindunginya Leo" Papa meninggalkanku dan Mas Leo.