
Sudah tiga bulan ini, semenjak kepulangannya dari Yogya, Mas Leo sangat sibuk. Berangkat pagi, pulang menjelang Magrib dan setelah makan malam akan pergi lagi hingga larut.
Mas Leo beralasan, jika dia sangat sibuk belakangan ini, di tambah lagi dia harus mengajar Les musik secara privat dirumah salah satu siswanya. Sebagai istri, akupun percaya saja yang Mas Leo jelaskan. Dan aku mendukung apapun yang dia kerjakan, selagi itu baik untuknya, dan untuk keluarga.
"Sayang maaf, malam ini aku harus ke Bogor, ada urusan mendadak" ku baca pesan dari Mas Leo.
"Iya Mas, hati-hati" balasku.
"Ma..." Rio menyapaku yang sedang duduk melamun di ruang tengah.
"Iya.." jawabku
"Papa belum pulang?" tanyanya dan duduk disebelahku.
"Belum sayang" jawabku.
"Papa sekarang jarang dirumah ya Ma... Gak asyik" ujar Rio.
"Papa sibuk nak, Papa juga kerja untuk kita kan" nasehatku pada Rio.
"Oh ya Ma.. Tadi siang Rio ke Mall ABC terus Rio kayak lihat Nenek disana" Ujar Rio.
"Ah masa.. Salah lihat kali" timpalku.
"Tapi mirip banget Ma, cara berpakaian, dan sanggul rambutnya itu persis Nenek Ma" Ujar Rio lagi.
"Rio, emang Nenek punya saudara di Jakarta, tujuan Nenek di Jakarta kan cuma rumah ini" jelasku pada Rio.
"Iya sih Ma, tadi Rio mau ikutin tapi Rio kehilangan jejak, dan juga tadi dia itu sama cewek mungkin anaknya ya Ma, anak nenek kan yang cewek cuma tante Karina" jelas Rio lagi.
"Nah, bener... Mungkin mirip aja" jawabku.
Hari ini minggu, Rio berpamitan pergi teman-temannya bermain Futsal di lapangan sekolah. Aku berencana akan membeli kebutuhn dapur di salah satu pusat perbelanjaan, Mas Leo sudah meminta izin pergi mengunjungi salah satu rekan kerjanya yang sedang sakit.
Setelah membayar semua belanjaan di kasir aku menuju parkir untuk memasukkan belanjaanku di dalam bagasi mobil. Setelah itu aku ingin membeli buku di tempat yang sama. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengerjakan hobby membaca ku ini, dikarenakan kesibukan di kantor dan dirumah.
"Bu Ayu...?" sapa seseorang tidak lama setelah aku meninggalkan Gr****ia.
"Haii Yuni, apa kabar?" jawabku pada Yuni Bendahara di tempat Kursus suamiku.
"Beginilah Bu, Ibu habis beli buku juga?" tanya Yuni Ramah.
"Oh.. Iya, sudah lama kita tidak ketemu ya?" tanyaku juga.
"Iya Bu" jawabnya singkat.
"Kamu mau kemana lagi Yun,? gimana kalo kamu nemenin aku minum kopi disana" ajakku sambil menunjuk salah satu cafe tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Oh.. Boleh Bu, kebetulan saya juga banyak waktu senggang" Yuni menerima ajakanku.
"Kamu pasti sangat sibuk ya Yun?" aku membuka obrolan ketika kami duduk di pojokan cafe.
__ADS_1
"Beginilah Bu, saya juga masih beradaptasi" jawabnya dan mengucapkan terima kasih kepada Pramusaji yang meletakkan kopi pesanan kami di atas meja.
"Adaptasi? Kenapa?" aku tidak mengerti dengan jawaban yang Yuni sampaikan.
"Ya.. Beradaptasi di tempat yang baru Bu?" jawab Yuni.
"Tempat yang baru?" aku kaget dan semakin bingung.
"Apa Ibu tidak tahu?" Yuni balik bertanya karena melihat kebingunganku.
Aku menggeleng.
"Saya, sudah resign Bu dari kantor Pak Leo" jawab Yuni dengan kepala menunduk.
"Kenapa?" aku semakin terkejut dengan pernyataan Yuni
Yuni menatap wajahku.
"Apa Ibu benar-benar tidak tahu?" Yuni pun kebingungan.
Aku diam.
"Saya, Resign karena sudah 2 bulan tidak menerima hak saya Bu" jawab Yuni dengan wajah sedih.
"Hak kamu? Gaji?" tanyaku.
"Iya Bu" jawabnya lagi.
"Yuni, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku ingin tahu.
"Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi Bu, beberapa bulan terakhir pekerjaan saya diambil alih oleh Pak Leo, tapi setiap saya bertanya Pak Leo hanya menjawab tidak apa-apa, yang membuat saya semakin bingung, gaji yang saya dapat tidak semestinya Bu, bahkan kurang dari setengah yang saya terima, dan di dua bulan berikutnya saya tidak menerima gaji itu lagi" jelas Yuni.
Aku menghela nafas panjang mendengar pernyataan dari Yuni.
"Apa kamu sudah menanyakannya?" tanyaku.
"Sudah Bu, Pak Leo cuma bilang, keadaan kantor sedang sulit, padahal sebelum Pak Leo mengambil alih pekerjaan saya, semuanya masih baik-baik saja" ujarnya, dan perlahan meminum kopi capucinno pesannya.
"Karena tidak kunjung mendapat kejelasan, Saya mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik Bu, setelah saya mendapat tawaran kerja, saya mengajukan resign dari kantor" ujarnya lagi.
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
"Dan terakhir yang saya tahu, 3 menthor sudah mengundurkan diri dari kantor, karena hanya menerima setengah gaji" ujarnya lagi.
"Maafkan saya Bu, bukan maksud saya?" Yuni meminta maaf.
"Saya yang meminta maaf Yuni, seharusnya saya ikut andil mengawasi kantor, tapi saya sudah terlalu sibuk" jawabku.
"Saya juga tidak banyak bertanya tentang keadaan karyawan dikantor, karena aku fikir kalin baik-baik saja. Dan saya juga berfikir kalian pasti lebih sibuk seperti yang Pak Leo ceritakan" jelasku.
"Karena kesibukan itu, saya jadi jarang berbincang-bincang dengan Leo, dia selalu pergi dimalam hari mengajar salah satu siswa secara private" aku mengeluarkan kegundahanku selama ini.
__ADS_1
"Maaf Bu, tapi selama yang saya tahu, tidak pernah ada siswa yang meminta kursus secara Private apalagi di malam hari" ujar Yuni.
"Apa?" ujarku sedikit terkejut.
"Bagaimana dengan seminar-seminar selama ini diluar kota? Kesibukannya mengajar 1 kelompok siswa yang dia sendiri menjadi menthor disemua kelas?" aku semakin ingin tahu.
"Maaf Bu, ketika saya masih bekerja terakhir Pak Leo mengisi seminar ketika Ibu berangkat ke Singapore menemani orang tua Ibu yang sedang sakit dan untuk kelompok belajar itu, tiga bulan yang lalu sudah di bubarkan karena hanya tersisa dua siswa lagi, sedangkan siswa yang lainnya berhenti karena tidak begitu menyukai musik" Yuni menjelaskan.
"Maafkan aku Bu, bukan maksud saya, tapi saya benar-benar tidak tahu jika Ibu tidak mengetahui tentang keadaan kantor, saya fikir Ibu tahu ketika saya mengajukan Resign" ujar Yuni.
"Saya bersyukur bertemu dengan kamu disini Yuni, saya justru berterima kasih sama kamu, saya benar-benar tidak tahu tentang keadaan kantor" ucapku dan menegak habis kopi di dalam cangkir.
"Yuni, nomor Hp kamu masih yang ini?" tanyaku dan menyodorkan Hpku keadanya untuk memastikan nomor Hpnya.
"Iya bu" jawab Yuni.
"Mungkin nanti saya menghubungi kamu, jika ada yang ingin saya tanyakan sama kamu, kamu tidak keberatan kan?" tanyaku.
"Saya akan membantu Ibu semampu saya, karena walaubagaimanapun, Ibu sangat baik pada saya" ucapnya.
"Jadi, dimana kamu bekerja sekarang?" tanyaku mengganti topik obrolan.
"Saya menjadi Supervisor SPG dan SPB untuk salah satu produk rokok ternama Bu" jawab Yuni semangat.
"Syukurlah kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik Yun" ujarku merasa bersalah pada Yuni.
"Iya Bu, saya sudah sangat nyaman bekerja di kantor Ibu dan Pak Leo, tapi takdir berkata lain Bu, sedangkan saya harus bekerja menghidupi keluarga, Suami saya bukanlah seorang pekerja dengan posisi yang baik di perusahaan, sehingga membuat saya dan suami harus bekerja keras untuk anak-anak dan orang tua kami" jelas Yuni panjang.
"Saya mengerti keadaan kalian, maafkan semua kesalah saya dan Mas Leo ya, nanti saya hubungin kamu lagi, dan akan saya bayar yang menjadi Hakmu dan 3 menthor itu. Berkat kalian usaha yang Mas Leo jalani menjadi sangat maju" ujarku lagi.
"Terima kasih banyak ya Bu" ujar Yuni.
Aku tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Yuni.
Setelah mengantarkan Yuni pulang, aku lanjutkan perjalanan menuju rumah. Hatiku semakin tidak merasa baik setelah mendengar semua penjelasan Yuni. Aku semakin merasa ada yang Mas Leo sembunyikan selama beberapa bulan belakangan ini. Fikiran ku penuh dengar fikiran buruk dan pertanyaan-pertanyaan yang akupun tidak tahu jawabannya. Akan aku tanyakan pada Mas Leo semuanya ini. Akan aku minta Mas Leo untuk berterus terang dengan semua yang terjadi di kantor.
Aku sendiri dirumah, Rio setelah pulang sebentar, pamit lagi ingin pergi bersama Daffa dan Mas Agung dan Mbak Riska melihat pertandingan basket yang dimana anak sulung Mbak Riska menjadi salah satu pemainnya. Sedangkan Mas Leo sedari pagu tadi belum pulang, padahal sekarang sudah menjelang sore.
Sudah kuhubungi tapi Ponsel Mas Leo sangat susah untuk dihubungi. Sudah berkali-kali kuhubungi tapi tetap tidak mendapat jawaban.
Sudah jam sembilan malam. Aku pasang selimut agar menutupi tubuh Rio yang sudah terlelap tidur dikamarnya. Aku rapikan kamarnya yang terlihay berantakan. Setelah itu kumatikan lampu dan pergi menuju kamarku setelah menutup kamar Rio pelan.
Mataku masih enggan untuk terpejam, Mas Leo belum juga pulang. Kubaca lagi pesan yang masuk di Hpku. Pesan dari Mas Leo, yang memintaku untuk tidak usah menunggunya. Karena ada pekerjaan di kantor yanh harus segera diselesaikan malam ini juga.
Entah kenapa, aku tidak percaya dengan pesan ini? Aku merasa Mas Leo sedang membohongiku. Aku tidak yakin jika Mas Leo sedang dikantor saat ini.
Untuk meyakinkanku, kucoba untuk menghubungi nomor telepon kantor Mas Leo. Tapi sudah tiga kali kucoba belum juga ada jawabnnya. Ini semua semakin membuatku yakin, jika Mas Leo tidak sedang dikantor untuk lembur.
Aku berpura-pura tidur ketika mendengar Mas Leo pulang dan memasuki kamar.
Aku mendengar langkah kaki Mas Leo semakin mendekat kearahaku. Bisa kurasakan Mas Leo berjongkok menatap wajahku yang tertidur ini. Mas Leo membelai pipiku lembut dan mencium keningku.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang..." ucap Mas Leo, merapikan rambutku yang menutupi wajahku. Setelah itu kudengar langkahnya menjauh menuju kamar mandi.