
Sudah dua minggu aku bekerja di hotel milik Rangga, ternyata aku lebih cepat beradaptasi disini. Rangga lebih sering mengunjungiku disini, di banding berada di kantor pusat, sedangkan Mas Leo semakin jarang menghubungiku.
Setiap hari aku bekerja dengan baik, walaupun fikiranku akan terbagi-bagi karena memikirkan kejelasan hubunganku dengan Mas Leo. Satu sisi aku sangat ingin melepasnya, tapi satu sisi aku masih merindukannya.
Amplop coklat yang recepsionist apartemen berikan padaku, aku letakkan di atas meja. Aku mengambil segelas air putih sebelum membuka amplop itu, karena aku baru saja pulang dari kantor.
KANTOR PENGADILAN AGAMA.
Jantungku berdegub kencang ketika membaca isi amplop dari pengadilan agama. Dimana Mas Leo sudah mengajukan permohonan perceraian pernikahan kami. Tanpa terasa air mataku menetes ketika membaca surat panggilan persidangan pertama itu.
Kenapa Mas Leo melakukan ini tanpa membicarakannya terlebih dahulu padaku, bukankah hubungan kami sudah membaik, setidaknya tidak masalah untuk Mas Leo membicarakannya padaku dulu. Aku seperti tidak rela Mas Leo memperlakukanku seperti ini, padahal inilah yang sangat aku inginkan dulu.
Aku mencari ponselku di dalam tas. Dengan cepat aku menghubungi Mas Leo.
"***Hallo"
"Hallo Mas, ada yang..."
"Kamu sudah terima surat dari Pengadilan Agama***" Mas Leo memotong ucapanku.
"Iya Mas, aku sudah terima, kenapa Mas tidak membicarakannya terlebih dahulu?" ucapku sambil menangis terisak.
"Maafkan aku Ayu" jawab Mas Leo.
"Mas dimana? Aku ingin ketemu, sekarang" pintaku.
"Aku dikontrakanku " jawabnya.
"Kontrakan? Dimana? Aku akan kesana" aku memaksa.
"Alamatnya akan aku kirim melalui pesan" jawabnya Mas Leo lagi.
"Baiklah, aku kesana sekarang" ucapku dan menutup telepon.
Setelah pesan dari Mas Leo masuk ke ponselku, dengan cepat aku pergi menuju alamat kontrakan Mas Leo.
Sekitar 20 menit perjalananku dari apartemen menuju kontrakan Mas Leo dengan menggunakan ojek online. Karena sekarang jam macet di ibukota.
__ADS_1
"Mas" panggilku, ketika sampai di depan rumah kecil, kontrakan Mas Leo. Mas Leo yg sedang menyiram tanaman di halamannya menoleh padaku.
"Ayu?" Mas Leo meletakkan selang air, dan mendekat padaku.
"Kamu berlari kesini" ujar Mas Leo memperhatikanku yang ngos-ngosan dan berkeringat.
Aku masih diam mengatur nafasku.
"Sini, duduk" Mas Leo mempersilahkanku duduk di teras rumahnya.
"Tadi aku berhenti di pos ronda, karena aku fikir tidak akan jauh alamatmu dari pos ronda, tapi ternyata lumayan jauh, abang ojeknya udah keburu pergi tadi" jelasku.
Mas Leo tertawa mendengar penjelasanku.
"Kamu mau ngadem aja di dalem?" tawar Mas Leo.
"Boleh Mas, panas sekali"
Mas Leo mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya, dengan cepat aku masuk keruang tamu yang berAC.
Mas Leo berlalu sepertinya menuju dapur, aku dengan santai walaupun hati berdebar menunggu diruang tamu.
"Terima kasih Mas" aku meraih gelas itu, dan menegak habis isinya.
"Aku isi lagi ya" ucap Mas Leo meraih gelas yang kosong itu.
"Mas?" aku menahan tangan Mas Leo.
"Tidak usah Mas" ucapku. Mas Leo melepaskan tangannya dari gelas.
"Mas ada yang mau aku omongin" ungkapku.
Mas Leo hanya memperhatikanku.
"Aku ingin menanyakan masalah perceraian itu" ujarku.
"Kenapa?" tanya Mas Leo.
__ADS_1
"Mas, kenapa Mas tidak membicarakannya terlebih dahulu padaku?" tanyaku.
"Apa yang perlu kita bicarakan Ayu, bukankah ini kesepakatan yang telah kau berikan padaku, kita hanya perlu waktu untuk menyelesaikannya tanpa melibatkan Rio dan orang tuamu, lagi pula aku sudah memikirkannya Ayu, dan aku tidak ingin kamu semakin tersiksa karena kesalahan dan kebodohanku" jelasnya.
Aku menatap Mas Leo dengan beruraian air mata.
"Aku ingin kamu bahagia Ayu, mungkin dengan begitu aku bisa membuktikan cintaku padamu" Mas Leo menunduk.
"Tapi Mas?"
"Untuk masalah Rio dan orangtuamu, aku sudah menjelaskannya pada mereka, walaupun awalnya mereka berat dan tidak terima, akhirnya mereka bisa menerima semua keputusanku, begitupun dengan Rio, setidaknya Rio tidak akan kehilangan sosok orangtua, kita harus tetap kompak demi Rio" jelas Mas Leo.
"Kamu ke Semarang Mas?" tanyaku.
"Iya, sebelum aku mengajukan permohoan itu ke Pengadilan Agama, aku menemui mereka ke Semarang, maaf jika aku tidak mengajakmu, karena aku tidak mau kamu terus-terusan menutupi kesalahanku" jelas Mas Leo lagi.
Aku masih tetap menangis semakin tersedu-sedu mendengar penjelasan Mas Leo. Ada sebagian hatiku yang sangat sakit kurasakan.
"Untuk masalah pekerjaan aku juga sudah mengundurkan diri dari kantor kursus" ujarnya.
"Kenapa begitu Mas?" tanyaku.
"Tidak apa-apa Ayu, aku juga mengajar di sekolah internasional, sudah menjadi guru tetap, gajiku cukup untuk membayar rumah dan kebutuhanku sehari-hari, dan juga masih bisa mengirim jajan untuk Rio walaupun tidak banyak" jelasnya.
"Itukah sebabnya kamu tidak lagi tinggal di Mess kantor?" tanyaku.
Mas Leo hanya mengangguk.
"Kamu boleh menyewa pengacara untuk urusan perceraian kita, aku lebih memilih untuk tidak datang dan tanpa pengacara, agar lebih cepat keputusan perceraian kita terima" jelas Mas Leo.
"Sekali lagi maafkan aku Ayu, aku sudah memporakporandakan istana megah yang sudah kita bangun, maafkan aku Ayu, bahagialah Ayu, berbahagialah selalu Ayu" Mas Leo meneteskan airmata nya di hadapanku.
Aku mendekat kearah Mas Leo, meraih tangannya, dan menggenggam erat tangannya.
"Mas juga harus bahagia demi aku dan Rio" ujarku.
Mas Leo mengangguk.
__ADS_1
Aku meraih tubuh Mas Leo, memeluknya. Tubuhnya semakin bergetar karena tangisnya, tangisku semakin menjadi melihatnya menangis, tidak dapat kulukiskan perasaan ini, hatiku sakit seperti di iris sembilu.