
Pemilik hotel Sheraton, Hengky Marco sudah sampai di Novotel. Ia segera menuju ruang meeting disambut pak Angga dan pak Haryo.
"Selamat datang di Novotel pak." sapa pak Haryo.
"Terima kasih banyak." jawab Hengky.
"Pak Dion sudah menunggu anda di ruang meeting." sambung pak Haryo.
Hengky mengangguk dan mengikuti mereka menuju ruang meeting. Disana sudah ada Dion, Hany dan beberapa staf penting hotel lainnya.
"Selamat datang di hotel kami pak Hengky." sambut Dion.
"Terima kasih pak Dion, aku pikir CEO hotel ini sudah tua. Aku tak menyangka anda masih sangat muda dan tampan." jawab Hengky.
"Terima kasih atas pujiannya pak. Silahkan duduk." ujar Dion.
Mereka mulai membicarakan kerjasama perusahaan. Dengan sangat senang akhirnya keduanya mencapai kesepakatan, mereka akan bekerjasama. Yang lebih diuntungkan adalah Dion, dengan kerjasama ini maka ia tak takut lagi akan kehilangan perusahaan Gracia. Ia ingin sekali segera lepas dari pertunangan yang tidak diinginkannya sama sekali.
"Ada satu hal yang harus anda ketahui pak Dion, aku memiliki ahli waris. Ia adalah putriku satu satunya, ia baru saja kembali dari Paris. Tapi ia belum mau mengambil alih hotel Sheraton. Untuk kedepannya nanti, anda akan berhubungan langsung dengan putriku, mengingat kita melakukan kerjasama jangka panjang." ujar Hengky.
Dion mengangguk. "Pasti akan aku lakukan itu pak, kita akan bertemu sebulan kedepan. Dan aku harap putri anda sudah siap menemuiku." jawab Dion.
"Tentu saja aku akan membuatnya bertemu dengan anda." jawab Hengky.
"Baiklah, sudah waktunya makan siang. Aku akan mengajak anda mencicipi masakan chef terbaik restoran kami." ujar Dion.
Hengky melihat jam tangannya. "Tapi aku masih banyak urusan pak Dion, mungkin lain kali." jawabnya.
"Ayolah pak, kami sudah mempersiapkan semuanya." pinta Dion.
Hengky menghela nafasnya. "Baiklah, tapi aku tak bisa berlama lama." jawab Hengky lagi.
Dion mengangguk lalu mengajaknya menuju restoran.
*****
Amora dan yang lainnya sudah menyiapkan segalanya di meja ruang VVIP. Lalu ia kembali ke dapur. Menurut pak Joni, tamunya akan segera tiba. Semuanya bersiap siap menyambut kedatangan tamu tersebut. Amora juga akhirnya berada di barisan. Amora terus menatap pintu masuk restoran, perasaannya entah mengapa tidak baik soal kedatangan tamu ini. Walaupun ia sangat penasaran siapa tamu tersebut.
Amora menenangkan hatinya dan seketika itu ia melihat ayahnya sedang berjalan bersama Dion menuju restoran. Matanya terbelalak tak memercayai apa yang ia lihat.
Tidak mungkin, itu papa kan. Ya Tuhan, itu benar benar papa, jadi tamu yang dimaksud adalah Hengky Marco. pikirnya.
__ADS_1
Amora semakin ketakutan, tamu tersebut semakin dekat. Ia tak ingin ayahnya melihatnya.
"Dori, aku tiba tiba sakit perut." ujarnya. "Jika pak Dion bertanya tolong sampaikan seperti itu." sambungnya seraya meninggalkan barisan menuju toilet.
Amora bernafas lega saat ia berada dalam toilet dan bisa menghindari ayahnya.
Apa yang harus aku lakukan, jika pak Dion menyuruhku ke ruangan. Aku harus mencari alasan. gumamnya.
Amora sangat lama berada di toilet, membuat semua karyawan khawatir hingga akhirnya Dori menyusulnya.
"Chef Amor, anda baik baik saja kan? Apa perlu obat?" tanya Dori.
"Aku baik baik saja Dori, apa tamunya sudah masuk ke ruang VVIP?" tanya Amora.
"Sudah chef." jawab Dori.
Amora membuka pintu toilet lalu keluar dari sana.
"Chef anda baik baik saja kan? Wajah anda pucat." tanya Dori lagi.
"Entahlah tiba tiba perutku sangat sakit." jawab Amora berbohong.
"Pak Dion menyuruh anda masuk ke ruangan VVIP, tamunya ingin berkenalan dengan chef utama hotel kita." ujar Dori.
Dori menyipitkan matanya, ada yang salah dengan chef Amora. Wajahnya semakin pucat saat ia disuruh bertemu tamu VVIP.
"Anda sebaiknya izin chef lalu ke dokter. Anda benar benar terlihat sakit." ujar Dori.
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada pak Joni. Semuanya sudah aku siapkan di dapur. Kau tinggal memasak racikannya saja." jawab Amora.
"Baik chef, semoga kau cepat sembuh." jawab Dori.
Amora pamit pada pak Joni, untunglah pak Joni mengizinkannya.
Jika papa sampai tahu aku bekerja disini, maka papa akan murka. gumamnya.
Amora meninggalkan hotel tergesa gesa, ia tak ingin ayahnya melihatnya berkeliaran.
*****
Hengky sangat menyukai makanan restoran Novotel bahkan ia ingin sekali bertemu chef utamanya.
__ADS_1
"Jadi chef disini sangat terkenal ya." tanya Hengky.
"Begitulah, sejak kehadiran chef utama kami yang baru, restoran sangat ramai." jawab Dion.
"Mencicipi setiap makanan yang tersaji, sungguh sangat lezat pak Dion. Aku penasaran ingin bertemu dengan chef nya." ujar Hengky.
"Tentu saja, dengan senang hati akan kami perkenalkan." jawab Dion.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar. "Mungkin ini chef kita, masuk." ujar Dion.
Dori melangkahkan kakinya kedalam ruang VVIP.
"Mohon maaf pak Dion, chef kita tak bisa datang, tadi ia kurang sehat sehingga izin pulang." ujar Dori.
Dion terbelalak lalu menatap pak Hengky. "Mohon maaf pak, sepertinya kita tak bisa bertemu chef utama kita. Ini Dori asisten chef utama." ujar Dion.
"Selamat siang pak, selamat menikmati hidangan kami. Mungkin lain kali aku akan membawa chef bertemu dengan anda." ujar Dori.
"Terima kasih atas sambutannya, dan tidak apa apa makanan ini semuanya sangat lezat, walaupun aku sangat penasaran dengan chef nya, tapi bisa lain kali kita akan bertemu." jawab Hengky.
"Kalau begitu, silahkan anda menikmati makan siangnya. Aku permisi pak Dion, pak Hengky." ujar Dori lagi.
Keduanya mengangguk dan membiarkan Dori keluar dari ruangan.
"Mohon maaf pak, sayang sekali anda tidak bisa bertemu dengan chef kami." ujar Dion.
"Tidak apa apa pak Dion, mari kita nikmati makan siang kita." jawab Hengky.
Dion mengangguk dan menikmati makan siang bersama. Tapi pikiran dan hatinya penuh tanda tanya.
Apa yang terjadi pada chef Amor, apa sakitnya sangat parah? Apa ia baik baik saja? Baiklah aku akan menghubunginya nanti. pikir Dion sendiri.
Keduanya sudah menyelesaikan makan siang mereka. Dion mengantarkan Hengky sampai menuju lobi hotel.
"Terima kasih atas semuanya pak, aku berharap tidak ada kendala dengan kerjasama kita." ujar Dion seraya menjabat tangan Hengky.
"Terima kasih kembali pak Dion, aku berharap seperti itu. Karena kerjasama kita ini berjangka panjang. Dan terima kasih juga soal makan siang yang lezat tadi. Aku mungkin akan datang ke restoran lagi untuk mencicipi hidangan yang baru lainnya." jawab Hengky.
Keduanya berpisah di lobi hotel, Dion segera menuju ke kantornya. Hanya satu yang ada dalam pikirannya adalah menghubungi chef Amor.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘