Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 26


__ADS_3

Keesokan harinya, Amora mengunjungi rumah keluarga Pranadja, tentu saja Diana langsung menyambut dan memeluknya.


"Ya Tuhan Amor, kau baik baik saja kan?" tanya Diana.


"Aku baik, bagaimana kabar mami?" tanya Amora.


"Mami baik juga sayang, kau tahu betapa takutnya mami saat mendengar kau diculik Amor. Apa kau sudah memproses semuanya?" tanya Diana lagi.


Amora menggeleng. "Papa yang akan mengurus semuanya, karena penculikan Amor ada hubungannya dengan papa. Jadi Amor tidak ingin ikut campur lagi." jawabnya.


Diana mengangguk. "Apa kau tahu jika Dion sangat marah sekarang? Tapi kau tak usah khawatir, ia hanya terkejut mendengar pengakuanmu sayang." ujarnya.


"Apa mami dari awal sudah tahu tentang kerja sama antara papa dengan Dion?" tanya Amora.


"Maafkan mami, tentu mami sudah tahu saat kau mengatakan semuanya. Tapi mami pikir kalian harus menyelesaikannya sendiri, mami tak tahu jika Dion akan semarah itu." jawab Diana.


"Tak apa apa mami, aku kemari hanya ingin mencurahkan isi hatiku saja. Aku sangat takut, karena terakhir kali Dion sangat marah dan meninggalkan Amor begitu saja." ujarnya.


"Kau tenang saja nak, papi akan berbicara pada Dion. Ia memang keras kepala, tapi sebenarnya ia sangat baik." ujar William tiba tiba membuat Amora terkejut. "Kau jangan takut, aku sudah tahu hubungan kalian dan menyetujuinya karena Dion memang mencintaimu." sambungnya.


"Maaf om, mungkin Amor sudah merusak rencana pernikahan Dion dan Grace." ujar Amora.


"Panggil aku papi, seperti kau memanggil istriku dengan sebutan mami." pinta William. "Dion dan Grace bertunangan karena bisnis. Tapi aku sekarang sudah tahu tujuan Darwin bekerja sama denganku. Dan itu membuatku yakin untuk memutuskan hubungan Dion dengan Grace." ujarnya.


Amora hanya terdiam mendengar ucapan William, ia tak tahu harus berbicara apa. Diana menggenggam tangan Amora dan menenangkannya.


"Kau tahu, aku terus menangis saat kau menghilang Amor. Aku sangat mencemaskanmu, dan tentu saja Dion bahkan tidak makan dan tidur, ia terus berusaha mencari keberadaanmu." ujar Diana.


"Maafkan Amor, aku tak bisa menjaga diri sendiri dan membuat kalian semua khawatir. Mami, papi... Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Mulai hari ini sampai seterusnya aku tak bisa kembali menjadi chef di Novotel. Karena papa besok akan menyerahkan jabatan CEO Sheraton grup padaku. Itu sudah tugasku menjadi pewaris perusahaan papa. Apa kalian akan tetap menerimaku apapun yang terjadi padaku dan Dion kedepannya nanti?" tanya Amora.


Kedua orang tua itu terkejut dan menatap Amora. "Apa yang kau katakan Amor, kau dan Dion akan baik baik saja." ujar Diana.


"Istriku benar Amor, jangan pesimis dengan hubungan kalian berdua. Papi yakin, kalian akan tetap bersama." sambung William.


"Aku memang menginginkan itu, tapi aku tak yakin dengan Dion." jawab Amora.


"Sudahlah jangan dibahas hal ini Amor, kau sudah mami anggap seperti putri mami sendiri. Mami akan memberi pelajaran pada Dion jika ia berani menyakitimu." ujar Diana.


Amora lega mendengarnya. "Apa kalian sudah makan siang?" tanya Amora. Keduanya menggeleng. "Bolehkah aku pinjam dapur kalian dan memasakkan sesuatu yang lezat untuk makan siang?" tanya Amora lagi.


"Tentu saja dengan senang hati sayang, mami dan papi tak sabar menunggu masakanmu." jawab Diana.


Amora tersenyum lalu izin ke dapur keluarga Pranadja.


*****


Hari dimana Amora Cerry diperkenalkan sudah tiba, ia siap diperkenalkan pada seluruh karyawan perusahaan Sheraton Grup. Bahkan disana sudah ada beberapa kolega bisnis Sheraton grup. Amora tak akan menyangka jika ia akan bertemu dengan Dion di acara tersebut, karena kemarin saat ia mengunjungi keluarga Pranadja ia tak bertemu Dion.


Amora yang berpenampilan sangat anggun berbeda seperti penampilan ia sebelumnya. Ia memasuki ruangan pesta pertemuan tersebut bersama Hengky Marco. Diperkenalkan satu per satu oleh Hengky kepada karyawan dan kolega bisnisnya sebelum mereka mengumumkan secara resmi diatas panggung.


"Amor kemarilah, aku akan mengenalkanmu pada CEO Novotel. Tentu saja kau pasti sudah mengenalnya." ujar Hengky membuat jantung Amora berdebar sangat keras.

__ADS_1


"Pa, aku ingin ke toilet." jawab Amora.


Hengky terbelalak. "Jangan membuat alasan Amor, aku sudah janji pada pak Dion akan memperkenalkanmu padanya." ujarnya.


"Tapi pa...Amor..." jawab Amora lagi tapi tangannya langsung digamit oleh Hengky.


Keduanya berjalan menuju tempat Dion Pranadja berada. Pria itu berpakaian sangat rapi dan sungguh terlihat sangat tampan.


"Selamat siang pak Dion, apa kabar? Seperti yang pernah aku janjikan untuk mengenalkan putriku satu satunya pewaris Sheraton grup pada anda." ujar Hengky.


"Selamat siang pak Hengky, aku tentu sangat baik." jawab Dion seraya menatap kekasihnya yang sangat cantik di sebelah Hengky. "Aku tentu sudah mengenal putri cantik anda, karena..." sambung Dion tapi ia berhenti karena teringat ucapan Amora yang tak diizinkan menjadi seorang chef.


"Kau jangan ragu mengatakannya pak Dion, aku sudah tahu jika putriku menjadi chef di hotelmu. Tapi tentu saja sekarang tidak lagi." jawab Hengky membuat Dion terkejut.


"Maaf karena telah memperkerjakan putrimu, bukan karena aku sengaja tapi aku benar benar tidak tahu jika Amora adalah putri anda." jawab Dion.


"Senang bertemu denganmu pak Dion, aku permisi." ujar Amora lalu meninggalkan mereka.


Dion terus memperhatikan Amora yang menjauhi mereka.


"Apa kau tertarik pada putriku?" tanya Hengky.


"Pria mana yang tidak tertarik pada putri anda yang sangat cantik itu." jawab Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari Amora.


"Terima kasih kau telah menyelamatkan putriku dari Steven, Amor sudah menceritakan semuanya padaku." ujar Hengky.


"Tentu saja itu tugasku, bagaimanapun Amor adalah kekasihku." jawab Dion tanpa sadar.


Mendengar pertanyaan itu membuat Dion terkejut. "Apa maksud anda?" tanyanya balik.


"Bukankah kau mengatakan bahwa putriku kekasihmu." jawab Hengky.


"Maafkan aku pak Hengky, mungkin aku salah berkata. Maksudku ia adalah chef yang bekerja di hotelku." jawab Dion.


Wajahnya kini berubah menjadi pucat, ia takut semua ini akan mempengaruhi hubungannya dengan Amora.


Hengky tersenyum. "Aku harap kau bisa bekerja sama dengan putriku pak Dion, karena kedepannya nanti ia yang akan menangani kerja sama kita." ujarnya.


Dion mengangguk. "Bolehkah aku menghampiri putrimu, ada banyak yang ingin aku katakan padanya." tanyanya.


"Tentu saja, semakin kalian dekat itu semakin bagus." jawab Hengky.


Dion mengangguk dan segera menghampiri Amora yang mulai dikerumuni pria pria disana.


"Sepertinya kau sangat senang setelah jaub dariku." ujar Dion.


Amora terkejut. "Apa maksudmu? Bukankah kau masih marah padaku. Tentu saja aku harus menjauhimu." jawabnya.


Dion tertawa. "Kau sangat lucu Amor, aku masih kekasihmu tapi kau berani acuh padaku." ujarnya datar.


"Kau jangan mulai lagi Dion, sudah cukup. Jika kau tak bisa menerimaku maka lebih baik kita putus." ujar Amora.

__ADS_1


"Jangan coba coba menjauhiku Amor, kau tidak akan aku biarkan lari." ujar Dion.


"Kau salah pak Dion yang terhormat, aku tak akan lari karena kita akan sering bertemu mengenai kerja sama kita." jawab Amora.


"Persetan dengan kerja sama itu. Kau perlu mengundurkan diri dengan benar di Novotel. Dan kau tidak akan bisa lepas dariku." kata Dion.


Amora menghela nafasnya. "Nikmatilah pesta ini pak Dion. Aku permisi..." ujarnya.


Lengan Amora dipegangin Dion. "Apa menghindar adalah keahlian baru darimu?" tanya Dion.


"Lepaskan aku Dion, kau menyakitiku." pinta Amora.


"Aku tak akan melepaskanmu sampai kau ingat aku siapa." jawab Dion.


"Aku tahu siapa kau Dion Pranadja. Lepaskan." ujar Amora lagi.


Saat itulah acara dimulai, tentu saja Dion melepaskan Amora karena ia akan naik panggung bersama ayahnya. Hengky membawa Amora ke atas panggung dan memperkenalkan pada semuanya. Semuanya menyambut Amora dengan senang, bahkan pria lajang berbisik bisik untuk bisa mendekati dan mendapatkan Amora. Tentu saja Dion mulai merasakan amarah yang luar biasa, ia ingin sekali mencekik pria pria itu.


Dion menggertakkan giginya saat beberapa kolega menjabat tangan Amora sambil mencium punggung tangannya. Hengky terus memperhatikan wajah Dion yang menatap Amora dengan amarah dan rasa cemburunya.


"Amor, sepertinya sebentar lagi harimau akan memangsa buruannya." bisik Hengky.


Amora terbelalak mendengar ayahnya berbisik. "Apa maksud papa?" tanyanya.


"Tidak ada apa apa, sepertinya ada rahasia yang belum kau katakan pada papa Amor. Papa tak ingin mencari tahu, walau papa sudah tahu." jawab Hengky seraya meninggalkan Amora.


Amora semakin bingung, tapi ia akhirnya ia sadar saat bertemu pandangan dengan Dion. Pria itu menatapnya tajam, Amora menelan ludahnya. Ia sangat takut melihat sikap Dion sekarang. Setelah tatapan itu lama padanya, Dion langsung menghampiri Hengky dan sepertinya pria itu pamit pulang. Amora terus memandangnya tapi Dion sama sekali tak memandangnya sampai keluar dari ruang pesta pertemuan.


Amora segera menaruh gelas minumannya dan mengejar Dion keluar. Ia tidak menemukan Dion sampai akhirnya Amora sampai di parkiran.


"Dion tunggu..." teriak Amora.


Dion berhenti dan berbalik menatap Amora. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Aku yang seharusnya bertanya, kau meninggalkan pesta tanpa berpamitan denganku." jawab Amora.


Dion tertawa. "Apa aku masih penting dimatamu Amor? Kau sangat senang bersama pria pria yang menciumi punggung tanganmu itu. Kau sama sekali tak memikirkan perasaanku." bentak Dion.


"Kau salah sangka Dion, mereka hanya berkenalan denganku. Aku sama sekali tak tertarik pada mereka." ujar Amora.


Dion kembali tertawa. "Selamat atas jabatan barumu sebagai CEO Sheraton grup. Mungkin sekarang aku tak sepadan denganmu karena perusahaanmu diatas perusahaanku. Aku akan menjauhi anda nona Amora Cerry." ujar Dion.


Tentu saja perkataan itu membuat Amora sakit sekali, ia seperti disambar petir di siang hari. Tak terasa air matanya mengalir dengan derasnya.


"Jadi jabatanku mengubah perasaanmu Dion, baiklah...aku bukan wanita yang baik untukmu. Jika kau menginginkan ini, maka aku tak bisa berbuat apa apa lagi. Terima kasih kau telah menyelamatkanku kemarin." ujar Amora seraya meninggalkan Dion.


Dion hanya menatap punggung Amora. Ia menyesali semua kata katanya. Karena kecemburuan yang menguasai hatinya membuatnya melepaskan wanita yang ia cintai. Dion memukul tiang tempat parkir sehingga tangannya berdarah. Lalu ia segera kembali ke perusahaannya.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2