
Dion Pranadja sangat sibuk dengan pekerjaannya, setelah ia menghubungi calon mertuanya untuk memberikan kabar tentang Steven dan keberadaan Amora. Ia terus sibuk sampai lupa jika hari semakin larut dan Amora juga belum terbangun. Dion menatap pintu rahasianya, kekasihnya belum juga keluar yang artinya ia sangat lelap dalam tidurnya. Tapi ia mengkhawatirkan kekasihnya kelaparan, jadi ia menyuruh Dori menyiapkan makan malam mereka.
Dion bangun dari duduknya dan masuk kembali ke ruangan itu, ia menatap Amora masih tak bergeming di ranjangnya. Dion mendekatinya dan menatap wajah cantik itu.
Seperti apa pekerjaanmu akhir akhir ini sayang, sampai sampai tidurmu sangat lelap. Aku yakin karena akhir akhir ini kau sangat sibuk tanpa perduli tidurmu. Jika kau sakit, aku harus bagaimana? gumam Dion.
Dion mengecup keningnya lagi, tapi gerakkannya membangunkan Amora. Dion tersenyum saat melihat kekasihnya berusaha membuka matanya yang masih berat.
"Selamat malam sayang." sapa Dion.
Amora seketika terbangun. "Malam? Apa aku tertidur selama itu?" tanyanya terkejut.
Dion tertawa. "Tidak lama, hanya sekitar 4 jam." ejek Dion.
"Kau tidak bohong kan, tak mungkin aku tidur siang selama itu." ujar Amora.
Dion tertawa lagi sambil menunjukkan jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 7 malam.
"Ya ampun, maafkan aku Dion." kata Amora menyesal.
Dion menarik tubuh Amora dan memeluknya. "Maaf untuk apa sayang, aku senang kau bisa beristirahat disini. Aku tahu kau sangat lelah karena pekerjaanmu akhir akhir ini." kata Dion.
"Awalnya aku pikir menjadi CEO sekaligus seorang chef akan menyenangkan, tapi ternyata itu sangat melelahkan. Bahkan aku terkadang tak bisa tidur saat malam." jawab Amora.
"Kau terlalu percaya diri Amor, kau lupa bahwa tubuhmu tak mampu menerimanya. Berhentilah menjadi chef sayang, fokuslah mengurus Sheraton grup. Aku akan membantumu setelah kita menikah." ujar Dion.
Amora menggeleng. "Aku suka menjadi chef, kau sudah tahu itu." jawabnya.
"Sampai kapan kau akan memperlakukan tubuhmu seperti itu Amor? Apa kau ingin sibuk terus tanpa memperdulikan suamimu nanti. Jika kita memiliki anak anak bagaimana?" tanya Dion.
Amora terdiam, Dion benar ia tak mungkin selamanya seperti ini. Jika ia menikah, maka ia juga harus mengurus rumah tangganya.
Dion mengecup puncak kepalanya. "Mandilah sayang, aku sudah menyiapkan baju gantimu. Lalu kita makan malam, jangan pikirkan ucapanku tadi." ujarnya. "Aku tunggu di luar." sambung Dion seraya meninggalkan Amora.
Amora mengangguk dan turun dari ranjangnya. Ia segera mandi dan berganti pakaian. Baju yang disiapkan Dion adalah gaun cantik berwarna putih.
Kapan ia menyiapkan baju ini, baju ini seperti gaun pengantin, apa aku cocok memakainya? pikir Amora.
Amora mencobanya dan ukurannya benar benar pas di tubuhnya. Ia memoles wajahnya sedikit lalu keluar dari kamar itu.
*****
__ADS_1
Dion terbelalak saat melihat Amora keluar dari kamarnya, wanita itu sangat cantik memakai gaun yang ia beli di sela kesibukannya bekerja. Dan ukuranya sangat pas karena ia sering memeluk Amora.
"Apa ini cocok?" tanya Amora.
Dion menggeleng. "Entah mengapa itu sangat jelek Amor." goda Dion.
"Baiklah, aku akan memakai baju yang tadi saja." jawab Amora dengan polos.
"Jika kau melepaskannya, jangan harap kau bisa memakai baju lagi. Aku akan membuatmu telanjang sayang." goda Dion.
Amora terbelalak. "Kau gila Dion, aku serius." ujarnya.
"Dan aku lebih serius darimu sayang." kata Dion seraya menarik Amora ke pelukannya. "Kau seperti bidadari surga, sangat cantik. Aku beruntung bisa memilikimu Amor." sambungnya.
Amora membalas pelukan Dion. "Kau juga sangat tampan tuan. Aku juga sangat beruntung memilikimu." jawab Amora.
"Jangan teruskan sayang, aku bisa berubah pikiran untuk memakanmu malam ini." ujar Dion.
Amora tertawa mendengar godaan itu. "Tuan Dion Pranadja, bisakah kau berhenti menggodaku. Aku mulai lapar."
Dion mengangguk dan menggandeng tangan Amora menuju restoran.
*****
"Bisakah kau biarkan aku menyapa mereka sebentar." bisik Amora.
Dion menggeleng. "Hanya aku yang bisa menatapmu sayang, aku tak ingin mencongkel mata mereka saat berhadapan denganmu." jawab Dion.
Amora terbelalak lalu tersenyum. "Kau berlebihan sayang, aku hanya merindukan mereka." bisiknya lagi.
"Tidak, itu keputusanku. Kita makan sekarang." jawab Dion sambil menarik Amora ke ruang VVIP.
Amora tak bisa berdebat lagi, kekasihnya sangat protektif. Jadi ia hanya bisa menyapa Dori saat pria itu melayani mereka. Dori terlihat sangat kaku, ia tahu Dori ingin sekali berbicara dengannya. Tapi CEO disampingnya membuat Dori takut.
Keduanya menikmati makan malam mewah mereka. Amora menyukai makanan yang dibuat chef Dori. Makanan itu sangat mirip buatannya, karena Dori memang banyak belajar darinya.
"Bisakah kau mengubah sikapmu sebagai CEO yang tidak kejam?" tanya Amora.
"Apa aku kejam sayang?" tanya Dion.
Amora mengangguk. "Apa kau tidak melihat karyawanmu bergetar saat melihatmu." jawabnya.
__ADS_1
Dion tersedak seraya tertawa. "Ya Tuhan, sejak kapan aku membuat mereka ketakutan." kata Dion.
"Sejak dulu, mereka semua mengeluh padaku. Jika kau kejam dan menakutkan. Kau selalu memecat karyawanmu yang tak memenuhi standar kerjamu." kata Amora.
"Itu benar, tapi bukan karena aku kejam sayang. Aku hanya ingin reputasi Novotel tidak tercemar. Hotel yang papi bangun ini terkenal dengan kebersihannya. Aku tak ingin membuat kesalahan saat aku mengurusnya. Itu aku lakukan untuk mengajarkan mereka disiplin dalam bekerja." jawab Dion.
"Tapi yang kau lakukan membuat mereka takut sayang." ujar Amora.
"Apa kau ingin aku tak dihormati karyawan di perusahaanku sendiri?" tanya Dion.
Amora menggeleng. "Bukan itu maksudku Dion. Sulit sekali mengatakannya padamu." jawabnya sambil cemberut.
Dion tertawa. "Aku mengerti sayang." jawabnya sambil menggenggam tangan Amora. "Aku akan mengubah sikapku, jika itu bisa membuatmu senang sayang. Sekarang tersenyumlah." sambungnya.
Amora tersenyum. "Aku hanya tidak ingin mereka terus bergosip tentangmu dibelakang karena kau kejam. Aku hanya ingin mereka melihat sisi lembutmu." ujar Amora.
"Apa kau mengkhawatirkan aku sekarang?" tanya Dion.
"Tentu saja, kau akan menjadi suamiku." jawab Amora.
Dion mengecup tangannya. "Aku senang kau mengatakannya sayang." ujarnya.
"Bagaimana soal Steven? Kau tidak mengatakan apapun sejak tadi." tanya Amora.
"Seminggu lagi kita akan tahu jawabannya sayang, tapi aku yakin Stenly bisa melakukannya. Jika tidak, aku yang akan bermain kasar. Aku tak ingin pernikahan kita terganggu dengan masalah ini." jawab Dion.
"Bermain kasar? Kau tidak berniat membunuh Steven kan? Aku tak mau kau menjadi pembunuh." ujar Amora.
Tentu saja perkataan itu membuat tawa Dion lepas. Dion menghentikan tawanya saat melihat wajah Amora yang kesal.
"Ya Tuhan sayang, mana mungkin aku menjadi pembunuh. Bukan itu maksudku, aku memiliki banyak bukti kejahatan Steven. Aku hanya akan menyerahkannya ke hukum. Aku tak mungkin mengotori tanganku untuk menghancurkannya. Amor, ini tentang bisnis bukan tentang siapa yang kalah dan menang. Percayalah padaku sayang." ujar Dion.
Amora mengangguk. "Aku percaya padamu." jawabnya.
"Lanjutkan makan malammu, sejak tadi kau membuatku tersedak." perintah Dion.
Amora kembali mengangguk, keduanya menyelesaikan makan malam mereka sebelum Dion mengantarkan Amora pulang ke rumahnya.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1