Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 32


__ADS_3

Pak Haryo memesan taksi untuk kembali ke perusahaan, ia menolak diantarkan Dion setelah menjemputnya di bandara. Pak Haryo ingin Dion kembali ke rumah dan beristirahat. Pak Jojo membawa Dion ke rumahnya.


"Non Amor baik baik saja kan den, pak Jojo sudah bilang jika ia terus pak Jojo ikuti. Non Amor akhir akhir ini hanya sibuk, dan sekali sekali ke Novotel untuk mengajari Dori memasak." ujar pak Jojo.


Dion mengangguk. "Tapi aku belum puas jika tak bertemu langsung dengannya, dan aku bahagia saat Amor masih mau menerimaku bahkan lamaran yang belum layak pun ia terima." jawabnya.


"Benarkah? Selamat den. Semoga kalian segera menikah dan selalu berbahagia." ujar pak Jojo.


"Terima kasih pak. Apa kau pernah mendengar kabar Grace dan ayahnya?" tanya Dion.


Pak Jojo mengangguk. "Non Grace kembali ke Amerika setelah bertengkar dengan pak Darwin. Sekarang hotel pak Darwin dalam keadaan nyaris hancur, ia sedang melelang hotel itu. Tapi sepertinya pak Darwin berusaha menghubungi tuan William." jawab pak Jojo.


"Lalu bagaimana papa menjawabnya?" tanya Dion.


Kali ini pak Jojo menggeleng, ia tak pernah mencampuri urusan tuannya sampai dalam.


"Baiklah biar aku yang menanyakannya, mereka sudah sampai kemarin kan?" tanya Dion lagi.


Pak Jojo mengangguk. "Tuan dan nyonya sampai kemarin sore. Tapi karena lelah, mereka tak memberitahu non Amor jika sudah kembali lebih dulu dari den Dion." jawabnya.


"Baguslah, jika Amor tahu maka tadi ia tak mungkin terkejut." jawab Dion seraya tertawa saat mengingat pertemuannya tadi.


Pak Jojo memperhatikan Dion lewat kaca mobil, ia ikut bahagia melihat Dion sangat bahagia dan kembali sangat sehat sekarang. Akhirnya mereka sampai di rumah, William dan Diana menyambut kedatangannya. Diana menangis saat putranya memeluknya.


"Oh ayolah mi, kita tak bertemu hanya satu hari. Selama perawatan kau terus disampingku." ujar Dion.


"Mami mu memang selalu seperti itu Dion. Bahkan saat baru sampai pun ia terus merengek untuk menghubungimu." jawab William.


"Papi berlebihan, aku hanya menangis bahagia putraku kembali sehat. Dan kemarin aku memintamu memberi kabar Dion jika kita sudah sampai." ujar Diana.


William tertawa. "Bagaimana perjalananmu nak?" tanyanya pada Dion setelah mereka masuk dan duduk bersama.


"Awalnya sangat lelah, lalu setelah bertemu Amor, rasa lelahku hilang seketika." jawab Dion.


"Kau langsung menemui Amor? Bagaimana kabarnya? Apakah wajahnya sama? Apa ia tak marah padamu?" tanya Diana.

__ADS_1


"Pertanyaan mana dulu yang harus aku jawab mi." jawab Dion seraya membuat William tertawa.


"Kau ini, putra kita baru sampai. Bagaimana kau bisa mengajukan pertanyaan sebanyak itu mi." ujar William.


"Ayolah Dion, ceritakan pada mami." ujar Diana penasaran.


"Amor baik baik saja, ia semakin cantik dan tentu saja ia sangat terkejut saat Dion ke hotelnya. Waktu yang pas buat Dion datang, tadi Steven sedang berusaha memaksa Amor untuk menjadi istrinya." jawab Dion.


"Ya Tuhan, lalu bagaimana?" tanya Diana lagi. William akhirnya ikut penasaran.


"Tentu saja Dion berhasil mengusirnya dengan ancaman. Papi dan mami kan sudah aku ceritakan tentang wanita wanita simpanannya. Sepertinya Steven cukup takut mendengarnya, walaupun ia masih kesal padaku. Dan Amor memaafkanku juga menerima lamaran Dion." ujar Dion.


Wajah Diana seketika berseri seri begitu juga William yang sangat yakin dengan putranya bisa meyakinkan Amora.


"Jadi minggu depan, aku ingin melamarnya secara resmi pada pak Hengky. Maukah kalian menemaniku?" tanya Dion.


"Pertanyaan yang bodoh sayang, tentu saja kami akan melamar Amor untukmu. Benar kan pi." jawab Diana.


William mengangguk. "Tentu saja Dion, kita akan ke rumah pak Hengky. Dan kalau bisa setelah lamaran kalian tak perlu bertunangan. Kalian langsung saja menikah. Kita jangan menunggu lebih lama lagi." jawabnya.


Diana sangat senang mendengar perbincangan mereka. Ia sudah tak tahan ingin bertemu calon menantunya yang ia rindukan selama sebulan terakhir.


"Nanti malam Dion akan keluar bersama Amor. Dion ingin bertemu ia kembali." ujar Dion.


"Kau yakin tidak lelah nak?" tanya Diana.


Dion menggeleng. "Tak ada rasa lelah jika menyangkut Amor mi." jawabnya.


"Baiklah, sekarang kau naik ke kamarmu. Istirahatlah, sebelum berangkat lagi nanti malam." perintah William.


"Aku ingin bertemu Samon terlebih dahulu." ujar Dion membuat wajah William dan Diana sedih. "Apa ada yang terjadi pada Samon? Mengapa wajah kalian seperti itu?" tanyanya.


"Maafkan mami baru mengatakannya sekarang sayang. Setelah kau dan Samon terjatuh, Samon tak mampu bertahan. Seminggu setelahnya, Samon kembali pada Tuhan." ujar Diana.


Dion terbelalak, wajahnya memucat, kakinya gemetar. "Ini semua salahku." ujarnya.

__ADS_1


Diana menepuk pundak putranya menenangkan. "Jangan salahkan dirimu Dion, Samon memang sering sakit sakitan. Ia hidup sejak papi masih remaja. Tentu saja Samon semakin tua." ujarnya.


"Benar kata mami Dion, Samon sudah sangat tua. Sudah saatnya kau memiliki kuda baru, dan papi sudah membelinya. Kau lihatlah, dan beri nama untuknya." ujar William.


Dion terkejut. "Papi sudah membeli kuda baru, bukankah kita masih memiliki 3 ekor yang lain." ujarnya. "Bagaimanapun Samon adalah kuda terbaik yang menemaniku sejak kecil, tak ada yang bisa menggantikannya." sambungnya.


"Kita memiliki yang lain tapi tak setampan dan segagah kuda pilihan papi yang satu ini. Papi tak menyuruhmu melupakan Samon. Papi hanya ingin memberikan tunggangan pengganti buatmu." jawab William.


"Baiklah, aku setuju. Terima kasih pi, mi." ujarnya seraya mencium pipi Diana.


Dion bangun dan segera menghampiri istal.


*****


"Selamat sore den Dion, apa kabar? Anda sehat kan?" sapa Yudi penjaga istal.


"Sore juga pak Yudi, aku sehat. Maaf atas kesalahanku yang membuat Samon mati mengenaskan." jawab Dion.


"Anda tak perlu merasa bersalah, sebenarnya aku dan tuan Willi sudah tahu keadaan Samon selama 2 bulan terakhir. Aku juga sering mengatakannya pada anda. Yang terpenting sekarang den Dion sudah sehat." jawab Yudi.


"Dimana pilihan papi?" tanya Dion.


Pak Yudi membawa Dion ke kandang terpisah dari yang lainnya. "Ini den, kuda terbaik. Pilihan tuan Willi memang luar biasa." jawabnya.


Dion memperhatikan kuda tersebut. "Luar biasa, aku sangat menyukainya. Namamu adalah Dimor. gabungan namaku dan calon istriku. Pak Yudi, aku akan mencoba Dimor setelah aku benar benar sehat." ujarnya.


"Dimor nama yang bagus den. Pasti ia sangat senang." ujar Yudi dan benar saja kuda tersebut langsung meringkik membuat Dion dan pak Yudi tertawa.


Dion pamit kembali ke rumahnya, ia akan beristirahat sebentar dan menjemput Amora. Ia akan membawa Amora ditempat yang belum pernah mereka kunjungi. Apartemen Dion yang selama ini jarang ia masuki. Apartemen yang dibelinya 5 tahun yang lalu, Dion hanya sekali sekali ke apartemennya saat ia dalam keadaan buruk. Tapi ia memang lebih suka pulang ke rumahnya sendiri.


Kali ini, atas permintaan Amora yang menginginkan ketenangan. Ia akan membawanya kesana, ia sudah menghubungi orang yang membersihkan dan menyiapkan makan malam mereka. Dion akan menghabiskan waktu dan melepaskan kerinduannya bersama Amora.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2