
Diana Pranadja sampai di Novotel. Semuanya terkejut saat melihat istri Presdir datang. Semuanya menyapa dan kebingungan.
"Kalian santai saja, aku datang hanya ingin menemui chef baru kita." ujar Diana.
Pak Angga segera mengantarnya ke restoran. Semua karyawan restoran terkejut melihat kedatangannya. Pak Joni segera membawanya ke ruang VVIP.
"Ya Tuhan bu, mengapa tak memberitahu kami terlebih dahulu." tanya Joni.
"Kalian tak perlu menyambutku dengan resmi, aku datang ingin bertemu dengan chef Amor. Apa ia ada?" tanya Diana.
Joni terbelalak. "Chef Amor ada bu, apa ini karena masalah kemarin. Tapi aku mohon jangan pecat chef Amor. Ia membuat dapur kami lebih berwarna bu." ujarnya.
Diana tertawa. "Kau banyak tanya, cepat panggilkan wanita itu." pintanya dengan lembut. "Dan pak Angga, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu kembali." perintahnya.
Pak Angga dan pak Joni sama sama pamit. Joni langsung menghampiri chef Amor.
"Chef gawat, hentikan pekerjaanmu. Ibu Presdir ingin bertemu denganmu. Ia ada di ruang VVIP." ujar pak Joni.
"Ya Tuhan, ada apalagi ini. Bisa membuatku gila." jawab Amora. Ia membersihkan dirinya dan merapikan penampilannya. Semua karyawan menatapnya penuh iba. Dengan ragu Amora menghampiri ruang VVIP. Ia mengetuk pintu itu.
"Masuklah." jawab Diana.
Amora melangkahkan kakinya kedalam, saat itulah ia melihat wanita elegan dan sangat cantik sedang duduk santai.
"Selamat pagi bu, anda ingin bertemu denganku?" sapa Amora.
Diana menatapnya dari atas sampai bawah lalu tersenyum. "Ya Tuhan, apa kau chef Amor?" tanyanya.
"Benar bu, aku adalah chef Amor. Namaku Amora Cerry." jawab Amora.
Diana bangun dari duduknya lalu memeluk chef Amor. Membuat Amora membelalakkan matanya. "Kau sangat cantik. Selamat datang di Novotel sayang, duduklah." pinta Diana.
Amora mengikuti permintaannya. "Terima kasih atas sambutannya bu." jawab Amora. "Apa ibu perlu sesuatu?" tanyanya.
Diana memegang tangannya. "Aku akan memanggil namamu agar terdengar lebih akrab Amora. Bagaimana bekerja disini, apakah Dion menyusahkanmu?" tanya Diana.
Amora menggeleng. "Pak Dion sangat baik, ia tidak menyusahkan. Hanya saja ia memintaku menyiapkan makanannya 3 kali sehari, dan aku yang harus mengantarkannya." jawab Amora jujur.
Diana terkekeh. "Apa kau keberatan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Amora segera menggeleng kembali. "Tidak bu, itu sudah tugasku." jawabnya.
"Aku sangat senang Amora, jaga putraku dengan baik, ia keras tapi sangat lembut pada wanita. Tapi jangan sampai salah menyajikan makanan untuknya Amora, Dion alergi jamur." ujar Diana.
Seketika itu juga Amora terkesiap. Pagi tadi ia membuat bubur jamur buat Dion. "Ya Tuhan, gawat." ujar Amora.
"Ada apa Amora?" tanya Diana. Tapi Amora tak menjawabnya, ia segera lari ke kantor CEO nya.
Ya Tuhan aku bodoh sekali, harusnya aku mencari tahu tentang pak Dion. gumamnya dan terus berlari.
"Hany, pak Dion ada?" tanyanya saat sampai di kantor CEO. Nafasnya tak beraturan karena berlari.
"Ada apa chef? Kau sangat ketakutan." jawab Hany.
"Ya Tuhan, ada tidak CEO di dalam." bentak Amora.
"Sejak tadi pagi pak Dion belum keluar dari kantornya." jawab Hany.
Amora segera masuk ke kantornya dan mendapati Dion sudah tergeletak di lantai. "Hany cepat panggil ambulan." teriak Amora.
Hany menghampirinya dan melihat Dion sedang berada di pangkuan Amora. Hany segera menghubungi ambulan.
Ia menekan dada Dion, pria itu tak bernafas. Amora terus menekan jantungnya dan ia memberi nafas buatan. Amora tak perduli, ini adalah ciuman pertamanya. Amora terus melakukannya berulang ulang sampai Dion bisa bernafas lagi.
Diana tahu apa yang terjadi dan ia segera ke kantor putranya, dan saat itulah ia melihat Amora menangis dan berusaha memberi nafas buatan untuk putranya. "Ya Tuhan, Dion. Putraku bangunlah." teriak Diana.
"Maafkan aku bu, ini salahku. Maafkan aku." ujar Amora sambil menangis.
"Tenanglah Amora, kau tidak tahu kan jika Dion alergi jamur?" tanya Diana.
Amora menggeleng. "Maafkan atas kesalahanku bu, seharusnya aku mencari tahu. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan." ujarnya masih terisak.
"Dion sudah berhasil bernafas Amora, kau tenanglah." ujar Diana.
Perawat sudah datang dan segera memasang alat pernafasan pada Dion. Pria itu diangkat lalu segera dibawa ke rumah sakit. Diana dan Amora mengikuti mobil ambulan.
Amora terus menunduk, rasa takutnya kembali. Ia mengingat saat kehilangan ibunya 3 tahun yang lalu. Air matanya kembali keluar. Justru Diana lah yang lebih tenang.
"Amora sayang, Dion sudah baik baik saja sekarang. Kau tenanglah." ujar Diana. Amora hanya mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dion ditangani dokter dan keadaannya sudah baik baik saja.
"Beruntung ia mendapat nafas buatan, itu pertolongan pertama yang sangat bagus untuknya. Jamur yang ia konsumsi begitu banyak hingga menyumbat kerja jantungnya. Tapi orang yang melakukan pompa jantung sangat ahli. Siapa yang melakukannya?" tanya dokter.
"Aku dok, aku pernah belajar kedokteran selama satu tahun di Paris, lalu pindah haluan menjadi chef." jawab Amora.
Dokter itu mengangguk. "Bagus nona, jangan khawatir. Dion sudah stabil, ia akan dirawat selama seminggu paling lambat disini." ujar dokter lagi. "Nyonya juga jangan khawatir." sambungnya.
"Terima kasih dokter Arief. Kau selalu membantu keluarga kami." jawab Diana.
"Tentu saja dengan senang hati nyonya." jawab dokter dan meninggalkan mereka. Dokter Arief adalah dokter keluarga Pranadja. Dokter itu berkali kali menyelamatkan Dion karena alergi.
Plaaaakkkk...
Suara tamparan keras terdengar, saat Diana melihatnya ternyata Gracia menampar Amora. Gracia datang bersama William
"Dasar wanita jalang, berani sekali kau mencelakai tunanganku." bentak Gracia.
"Grace, apa yang kau lakukan?" bentak Diana.
"Ini ulahnya kan tante, lebih baik kalian pecat wanita sial ini." ujar Gracia.
Amora memegang pipinya dan pamit keluar dari ruangan. "Maaf bu, pak Presdir aku pamit. Semoga pak Dion segera sembuh." ujarnya.
"Tunggu Amora." teriak Diana tapi Amora tak memperdulikannya. Wanita itu tetap meninggalkan ruangan. "Kau jangan kasar Grace, Amora lah yang menyelamatkan Dion." ujarnya.
"Jadi wanita itu chef Amor. Sangat cantik." ujar William.
"Kenapa kalian tidak marah sih?" tanya Grace merajuk.
"Bagaimana Dion mi?" tanya William mengabaikan pertanyaan Grace.
"Ia sudah baik baik saja pi, ini semua berkat Amora. Walaupun ia yang menyebabkan Dion alergi tapi wanita itu tidak tahu apa apa pi. Dan untunglah ia sangat cepat menangani Dion." jawab Diana.
William menghela nafasnya. "Syukurlah, aku sangat panik saat Haryo menghubungiku tadi." ujarnya.
Diana mengangguk, sedangkan Gracia pura pura sedih di samping Dion. Wanita itu terus mencari perhatian dari kedua orang tua Dion. Karena dengan cara inilah, ia bisa mendapatkan Dion dan hartanya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘