Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 47


__ADS_3

Dion menjemput Amora dirumahnya sebelum makan malam, tentu saja ia juga menghubungi ibunya yang sangat senang mendengar Amora akan tinggal 2 malam dirumahnya. Dion menunggu Amora keluar dari rumahnya. Beberapa menit kemudian Amora keluar dan menghampiri Dion di mobilnya.


"Mengapa kau menungguku diluar?" tanya Amora.


"Jika aku masuk kedalam, aku takut menarikmu ke kamar nona cantik." jawab Dion.


Amora tertawa dan masuk ke mobil Dion. "Pikiranmu selalu kotor tuan." ujar Amora.


"Entah mengapa setiap aku bertemu denganmu pikiranku selalu seperti itu Amor." ejek Dion.


"Jadi maksudmu, aku adalah pembawa aura negatif buatmu." kata Amora.


Dion tertawa begitupun pak Jojo, mereka membawanya menuju rumah keluarga Pranadja. Sepanjang perjalanan banyak sekali yang mereka bicarakan, bahkan Dion terus menggoda kekasihnya membuat pak Jojo sering ikut tertawa. Akhirnya mereka sampai di rumah itu, dan Diana menyambut Amora dengan pelukan.


"Mami sangat senang kau mau menginap disini Amor." ujar Diana.


"Maaf aku akan merepotkan mami." jawab Amora.


Diana menggeleng. "Mana mungkin sayang, kau adalah putriku." jawab Diana.


"Dan melupakan putra mami, itu perbuatan yang tidak adil." ujar Dion membuat mereka tertawa. "Dimana papi?" tanya Dion.


"Sebentar lagi keluar kamar." jawab Diana.


Dan benar saja William keluar kamar dan menyambut Amora. "Letakkan barang barang non Amor di kamar tamu, lalu kita makan malam." perintah William pada pelayan.


"Mengapa di kamar tamu pi, Amor tidur di kamarku saja." ujar Dion.


"Kau anak nakal, kalian belum resmi menikah." jawab William.


"Papi salah sangka, maksudku biarkan Amor tidur di kamarku, aku akan tidur di kamar sebelahnya." kata Dion.


"Itu akan membuatmu dengan mudah mengganggu Amor tengah malam Dion, mami tak mau itu." ejek Diana.


Amora sangat malu mendengar godaan mereka. "Biarkan Amor tidur di kamar tamu saja, itu lebih baik." ujar Amora.


Dion kesal dengan Amora, wanita itu tak mau mendengarnya. Diana dan William menatap wajah putranya yang kesal.


"Baiklah papi percaya padamu Dion, bawa barang barang Amor ke kamar Dion mbok." perintah William.


Dion tersenyum, ayahnya lebih mengerti perasaannya sekarang. Amora terbelalak tapi Diana segera menarik tangannya menuju ruang makan.


"Ini masakan mami semua untukmu Amor, walaupun masakanku tak seenak masakanmu." ujar Diana.

__ADS_1


Amora menggeleng. "Masakan mami juga lezat, aku sangat merepotkan." jawab Amora.


"Kau benar Amor, masakan mami juga sangat lezat, papi juga sangat menyukainya." goda William membuat wajah Diana memerah.


"Jangan tunjukkan kemesraan kalian di depan kami, nanti aku akan iri." ujar Dion seraya tertawa, mereka semua tertawa lalu memulai makan malamnya dengan tenang.


Setelah mereka selesai, Diana mengajak Amora ke ruang santai untuk membicarakan persiapan pernikahannya yang sudah hampir selesai.


*****


"Apa aku akan dilupakan kalian?" tanya Dion.


Diana mengangguk. "Aku pinjam calon istrimu sebentar." jawabnya.


"Kau temani papi main catur Dion." ajak William.


Dion mengangguk dan mengikuti ayahnya ke meja catur.


"Maaf mi, aku terlalu sibuk sampai lupa membantu mami." ujar Amora.


Diana menggeleng. "Mami akan mengaturnya semegah mungkin Amor, kau tenang saja. Mami mengajakmu bicara bukan karena mami marah padamu. Undangan sudah menyebar, mami hanya ingin menunjukkan ini." ujar Diana sambil memberikan foto foto pelaminan pada Amora.


"Yang mana kau suka Amor?" tanya Diana.


Diana mengangguk. "Sudah mami duga, seleramu sama dengan seleraku. Mami juga menyukai ini." kata Diana.


"Aku percaya pada pilihan mami, jadi mami saja yang mengatur semuanya. Amor hanya punya mami. Tentu saja papa tak mungkin mengerti soal seperti ini." ujar Amora sambil tertawa.


Diana ikut tertawa. "Jika kau percaya pada mami, maka mami akan membuat hari pernikahan kalian yang tidak akan bisa terlupakan seumur hidup. Kau tahu Amor, mami sangat bahagia kau ada di keluarga kami." ujarnya.


"Amor juga sangat bahagia sekarang, mami seperti mama di surga. Mama pasti bahagia disana melihat Amor sekarang." jawab Amora.


Diana terus menggenggam tangan Amora. "Dua hari sebelum menikah, kita harus mengambil gaun pengantin sayang. Mami takut gaunnya kurang pas atau kurang memuaskan." kata Diana.


Amora mengangguk, William dan Dion menghampiri mereka.


"Malam semakin larut, sudah waktunya kalian beristirahat. Aku juga sudah 3 kali mengalahkan papi." ujar Dion sangat bangga.


"Benarkah, papi kalah 3 kali?" tanya Diana.


William terkekeh. "Aku bukan kalah, tapi mengalah pada putraku." jawabnya membuat yang lain ikut tertawa. "Baiklah nyonya nyonya, sudah waktunya tidur. Dion antar Amora, tapi jangan macam macam." ancamnya.


Dion tertawa. "Percaya pada Dion pi. Amor adalah putra Marco, aku tak mungkin merusak nama Marco maupun Pranadja." ujar Dion.

__ADS_1


Diana memeluk Amora dan mengucapkan selamat malam, begitu juga William seraya mengajak istrinya masuk ke kamar. Dion menatap Amora saat kedua orang tuanya sudah masuk ke kamar mereka.


"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Dion dan Amora menggeleng. "Apa ingin nonton film?" tanyanya lagi.


"Aku tak terlalu suka nonton film, tapi jika kau ingin aku temani kenapa tidak." jawab Amora.


Dion tersenyum lalu mengambil DVD dan mulai menyetelnya. Film romantis yang Dion setel. Keduanya sama sama menikmati film itu.


"Dion apa kau tidak merasa gugup menghadapi pernikahan kita?" tanya Amora.


Dion tersenyum lalu menarik Amora lebih dekat. "Apa kau takut sayang?" tanya Dion.


Amora mengangguk. "Semakin dekat aku semakin gugup menghadapinya." jawabnya.


"Aku pun sama sayang, tapi saat aku menatapmu, perasaan itu hilang berganti kebahagiaan. Jangan gugup Amor, aku bersamamu. Orang tuaku dan papa juga akan mendampingimu." ujar Dion.


Amora merebahkan kepalanya di pundak Dion. "Aku percaya kalian ada bersamaku, tapi tetap saja aku gugup." katanya.


Dion mengecup keningnya. "Aku tahu apa yang kau rasakan sayang, tapi tetaplah tenang. Sudah banyak sekali masalah yang datang di dalam rencana kita, sudah saatnya kita bahagia." ujar Dion.


Amora mengangguk, ia lebih tenang sekarang. "Kau benar sayang, mungkin aku terlalu gugup karena banyaknya masalah yang kita hadapi. Aku takut ada masalah baru saat kita menikah." ujarnya.


Dion menatap Amora lalu menciumnya. "Tak akan aku biarkan pernikahan kita menghadapi masalah sayang, ada banyak yang akan melindungi kita. Jadi kau tenanglah, jangan terlalu dipikirkan. Aku takut nanti kau sakit karena stress." jawab Dion.


Amora memeluk Dion dengan erat. "Aku percaya padamu." ujarnya.


"Jangan lakukan ini, aku takut tidak bisa menahannya malam ini." bisik Dion.


Amora segera melepaskan pelukannya membuat gelak tawa Dion pecah, tentu saja Amora langsung menutup mulut Dion dengan tangannya.


"Kau bisa membangunkan mami dan papi." ujar Amora.


Dion melepaskan tangan Amora lalu menarik tengkuk lehernya dan mencium Amora dengan hasrat yang tak terkendali. Dion membuat Amora tak bisa bernafas saat tangan pria itu meraba dadanya. Disanalah Dion menghentikan tangannya sambil menciumnya. Tapi Dion tak ingin melanjutkan lebih lama, ia takut melucuti baju Amora di ruang santai itu. Dion melepaskan kekasihnya lalu mengecup keningnya.


"Tidurlah sekarang, itu kamarku." ujar Dion sambil menunjuk kamarnya yang ada di lantai atas. "Aku takut berbuat macam macam jika kau terus bersamaku." sambungnya.


Amora tersenyum atas pengendalian diri kekasihnya, ia mengecup pipi Dion seraya berdiri. "Selamat malam sayang." ujar Amora.


"Selamat malam juga sayang." jawab Dion.


Amora beranjak menuju lantai atas, malam ini ia akan tidur di kamar Dion untuk pertama kalinya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2