Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 22


__ADS_3

Sudah satu hari Dion berada di kota Medan, dan akhirnya ia sudah mengetahui keberadaan Amora di salah satu rumah mewah milik Steven. Dion kini sudah berada di depan rumah mewah tersebut. Penjagaan yang begitu ketat membuat Dion frustasi.


Bagaimana caraku masuk dan menyelamatkan Amora? tanyanya sendiri.


Dion memejamkan matanya sejenak di dalam mobil sewaannya. Lalu melihat mobil mewah keluar dari sana. Ini kesempatan bagi Dion untuk masuk ke rumah tersebut. Ia memutari rumah mewah itu, tapi rumah itu benar benar tanpa celah. Dion semakin frustasi, ia kembali ke depan rumah itu. Dan Tuhan sangat baik padanya, ia melihat satu mobil tepat berhenti di depan gerbang. Namun pengemudinya turun untuk membuka gerbang tersebut.


Dion segera menghampiri mobil itu dan benar saja tak ada penumpang lain di dalamnya, ia segera masuk kedalam dan bersembunyi di jok paling belakang. Ia menghela nafasnya karena berhasil masuk tanpa ketahuan. Mobil itu membawanya masuk sampai garasi. Dion menunggu sampai ada cara untuk keluar dari mobil tersebut. Sang pengemudi turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya lagi.


Dion berdoa agar pengemudi tersebut tak menguncinya di dalam. Dan Tuhan mengabulkan doanya, ia bisa keluar dari mobil tersebut karena pengemudi tak mengunci mobilnya. Dion mencari jalan untuk masuk ke rumah tersebut. Penjaganya sangat banyak.


"Jadi kakakku mengurung seorang wanita cantik di lantai tiga. Apa ia tidak takut jika papi mengetahuinya. Ia bukan seorang kriminal, ia adalah pengusaha panutan di kota ini." ujar seorang pria yang ternyata pengemudi mobil tadi. Pria itu adik dari Steven.


"Maafkan kami tuan Stenly, tapi kami harus mengikuti perintah tuan Steven." ujar salah satu pria penjaga tersebut.


"Kalian keluarlah, rumah ini seperti sarang penjahat." bentak Stenly.


Semuanya bergegas keluar. Pria itu melangkah ke lantai atas, baru beberapa langkah ia berhenti. "Keluarlah, aku tahu kau masuk tanpa izin. Kau ingin menyelamatkan wanita itu kan?" teriaknya.


Dion terkejut, siapa yang dimaksud pria itu. Dion tidak bergeming, lalu Stenly berkata lagi. "Aku tahu kau yang menyelinap masuk ke mobilku, aku tak sebodoh itu untuk tidak mengunci mobilku." teriaknya lagi.


Kali ini Dion tahu, jika ia yang dimaksud. Dion keluar dari persembunyiannya dan menghadapi pria tampan yang lebih muda darinya. "Maaf atas kelancanganku, tapi aku hanya ingin menyelamatkan kekasihku." ujar Dion.


"Ikutlah denganku." pinta Stenly sambil meneruskan jalannya.


Dion mengikutinya sampai ke lantai tiga, dan berada di depan salah satu kamar disana.


"Kakakku bukan orang jahat, tapi jika ia sudah menginginkan sesuatu ia akan menghalalkan segala cara. Aku membantumu bukan karena aku percaya padamu tapi aku tak ingin kakakku membuat masalah di kota yang membesarkan namanya." ujarnya sambil membuka pintu kamar itu. "Bawa kekasihmu pergi segera sebelum kakakku pulang, selebihnya biar aku yang mengurusnya. Aku tak akan disakiti kakakku sendiri." sambungnya.


"Terima kasih, apapun alasanmu aku sangat berterima kasih." jawab Dion seraya masuk ke kamar tersebut.


Dion mencari keberadaan Amora, dan disanalah kekasihnya sedang tertidur sambil menangis. "Sayang, kau baik baik saja. Ini aku Dion." ujarnya.

__ADS_1


Amora membuka matanya dan terkejut, ia benar benar melihat Dion di depannya. "Aku hanya mimpi saja." jawabnya.


Dion mendekati Amora dan memeluknya. "Kau tidak sedang bermimpi Amor, aku benar benar Dion." ujarnya lagi.


Tubuh Amora membeku dan menyentuh wajah Dion. "Kau benar benar Dion." ujarnya seraya menangis dan memeluk kekasihnya itu.


"Cepatlah, sudah tidak ada waktu. Kalian harus segera keluar dari sini." ujar Stenly.


Dion menatap Amora. "Kita harus segera keluar Amor."


Amora mengangguk tapi tubuhnya sangat lemah sekarang jadi Dion membopongnya turun dari ranjangnya. Mereka segera keluar dan menatap Stenly.


Stenly tersenyum saat menatap Amora. "Pantas saja kakakku mengurungnya, kekasihmu memang sangat cantik. Kalian masuklah ke mobilku. Aku akan membawa kalian keluar." ujarnya.


Dion mengangguk dan membawa Amora ke dalam mobil Stenly. "Bagaimana kau bisa masuk kemari, dan siapa pria tadi?" tanya Amora.


"Aku menyelinap masuk kemari, dan pria itu adik dari Steven. Aku pikir ia tak tahu, tapi ternyata ia tahu dan membantuku menyelamatkanmu Amor." jawab Dion.


"Pria itu lebih mementingkan reputasi kakaknya sebagai pengusaha terbaik di kota ini. Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu Amor. Aku hampir mati karena memikirkanmu." ujar Dion sambil memeluk Amora.


"Maaf aku tak berhati hati dan membuat kesalahan, tapi ini ada hubungannya dengan papa ku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Amora.


"Kita hanya bisa menunggu kepulangan ayahmu Amor. Aku sudah menghubunginya tapi ayahmu adalah orang yang sangat sibuk." jawab Dion.


Stenly masuk ke mobilnya. "Kalian bersembunyilah, aku akan membawa kalian keluar sekarang." ujarnya.


Dion dan Amora ke kursi paling belakang, keduanya menunduk. Stenly mengeluarkan mobilnya dari garasi dan pelan pelan keluar dari rumah mewah itu. Tak ada satu pun anak buah dari Steven yang curiga. Stenly berhenti tepat di samping mobil sewaan Dion.


"Ini kan mobilmu, cepat keluar dan pergi dari kota ini sebelum kakakku mengejar kalian." ujar Stenly.


Dion mengangguk. "Terima kasih, aku takkan melupakan jasamu tuan Stenly." jawabnya.

__ADS_1


Keduanya segera berpindah mobil. Dion menancap gasnya dengan keras dan membawa Amora bersamanya.


"Kita ke kantor polisi saja Amor, aku takut Steven akan menemukan kita dan melukaimu. Bukannya aku tak bisa melindungimu, tapi aku takut membunuh pria itu." ujar Dion.


"Kau tak boleh menjadi pembunuh, aku baik baik saja. Steven memperlakukan aku dengan baik. Pria itu hanya menyukaiku." jawab Amora.


"Dan aku takkan membiarkan pria manapun menyukaimu Amor. Kau milikku sekarang dan sampai selamanya. Jangan coba coba berpaling dariku." kata Dion.


"Steven sangat tampan." goda Amora.


Dion mengeratkan pegangannya pada stir mobil itu, Amora terkikik. "Kau sangat cemburu, ia memang tampan Dion tapi tak setampan dirimu." ujarnya.


"Aku tak suka kau memuja pria lain Amor. Sudahlah lupakan saja, aku mengkhawatirkanmu sekarang. Apa kita perlu ke rumah sakit, kau terlihat lebih kurus." ujar Dion.


Amora menggeleng. "Aku ingin cepat pulang, aku merindukan kota ku. Aku baik baik saja Dion. Aku sempat dirawat di rumah itu tapi aku sudah baik baik saja sekarang."


"Apa yang dilakukan pria itu sampai kau dirawat Amor, aku benar benar ingin membunuhnya." ujar Dion marah.


"Bukan salahnya Dion, tapi aku yang tak ingin makan setelah aku tahu aku diculik." jawab Amora.


"Oh ya Tuhan, bagaimana bukan salahnya. Ia yang menculikmu. Kau masih saja membelanya." bentak Dion.


"Kau menakutiku Dion." ujar Amora lalu memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membentakmu." ujar Dion sambil menarik tangan Amora.


Mereka sampai di kantor polisi untuk meminta perlindungan sampai ke bandara untuk kembali ke Lampung lagi. Amora menjelaskan semuanya pada polisi dari awal sampai akhir, tak ada satupun yang terlewat. Dion sangat senang mendengar penjelasan Amora, tapi ia juga geram saat mendengar Amora nyaris diperkosa pria itu.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


Dukung, like n komen terus ya...


__ADS_2