
Dion Pranadja berjalan menghampiri mereka dan mendekati Amora. Ia menarik tangan Amora dan menggenggamnya. Amora yang masih terkejut hanya bisa menatap wajah Dion. Ia seperti sedang bermimpi sekarang.
"Tuan Steven yang terhormat, Amora adalah calon istriku. Kau tidak bisa mengambilnya dariku. Dan satu lagi, apakah kau ingin menaruh nama Amora pada daftar wanita simpananmu?" tanya Dion.
Wajah Steven berubah menjadi pucat saat mendengar ucapan Dion.
"Di balik keagunganmu di daerahmu, kau memiliki sisi buruk yang mungkin akan membuat heboh seluruh kota Medan. Apa kau ingin aku menyebutkan nama wanitamu satu per satu disini." ancam Dion. "Kembalilah ke kota asalmu, jangan pernah muncul di hadapan kekasihku. Jika kau masih melakukannya, maka rahasiamu hanya dalam hitungan menit akan merusak segalanya." sambungnya.
"Kau... Semua itu tidak benar. Aku bukan pria seperti itu." jawab Steven.
"Pak Haryo, kau bisa sebarkan video bukti cctv beberapa kelab malam dan hotel tempatnya membawa wanita wanitanya." perintah Dion karena ia datang memang bersama pak Haryo.
"Tunggu, kau memang gila. Kali ini kau menang tapi tunggu pembalasanku nanti." ujar Steven seraya meninggalkan hotel dengan cepat.
Hengky tersenyum melihat tingkah Steven. Ia masih sangat muda dan arogan. Beruntung sekali Dion Pranadja datang tepat waktu.
"Maafkan kelancanganku pak Hengky. Aku datang langsung dari Singapura kemari. Tentu saja karena sangat merindukan putri anda." ujar Dion tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Aku pinjam putrimu, permisi." pintanya tanpa menunggu jawaban Hengky, ia terus membawa Amora yang masih terpaku.
Amora tak mengatakan apapun, ia masih terkejut dengan kedatangan Dion Pranadja. Pria itu membawanya kedalam mobil.
"Apa kabar sayang, apa kau merindukanku?" tanya Dion sambil menatap Amora.
Amora memegang pipi Dion, setelah sadar ia memukul dada Dion sambil menangis. Ia terus melakukannya sampai puas, Dion membiarkan Amora melampiaskan kemarahannya. Setelah Dion puas melihatnya menangis, ia menarik Amora kedalam pelukannya.
"Maafkan aku Amor, maaf atas semuanya. Maaf atas sikapku, maaf atas kemarahanku, maaf telah membuatmu khawatir dan maaf karena telah meninggalkanmu." ujar Dion.
Amora masih terisak, ia tak bisa menahan sesak di dadanya. "Kau jahat, kau jahat..." hanya itu yang dikatakan Amora.
Dion terus memeluknya dan menenangkan Amora, ia membiarkan Amora mengeluarkan tangisnya. Tangisan yang sangat sakit terdengar oleh Dion. Ia tahu seberapa besar rasa sakit yang ia lakukan pada Amora. Amora mulai tenang, tangisannya mulai reda.
Dion menatap wajah itu, ia menghapus air mata yang tersisa pada pipinya. Dion menciumi matanya yang bengkak.
"Aku merindukanmu sampai ingin mati rasanya Amor." ujar Dion. "Maaf telah melukaimu, aku tak pantas buat wanita sepertimu." sambungnya.
__ADS_1
Amora menggeleng. "Akulah yang membuatmu terluka, akulah penyebab kau celaka." ujarnya kembali air mata itu mengalir. "Aku sangat merindukanmu." sambungnya di sela tangisnya.
Dion kembali memeluknya dengan erat. "Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan padamu Amor. Hukumlah aku sampai rasa sakit yang ada dihatimu hilang sayang." ujarnya.
"Aku akan menghukummu sekarang. Aku tidak mengizinkanmu untuk lari dariku, aku tidak mengizinkanmu untuk berpaling dariku. Dan aku menghukummu agar selalu berada disampingku." jawab Amora.
Dion menciumi wajah Amora, wanita yang ia sangat rindukan selama lebih dari sebulan.
"Aku menerima hukumanmu chef Amor. Chef cantik pilihanku." jawab Dion.
Keduanya terus saling berpelukan, dan akhirnya Dion menarik Amora dan mencium bibirnya. Ciuman yang begitu dalam, ciuman yang tak pernah Dion lakukan sebelumnya. Lidahnya terus mencari cari lidah Amora. Saat wanita itu mengerti apa yang dicari Dion, ia memberikan lidahnya. Dion membelit lidah Amora dan menghisapnya sampai keduanya saling melenguh dan hampir kehabisan nafas. Dion menghentikan ciuman panas itu, jika ia tak berhenti ia bisa melucuti baju Amora sekarang.
Dion mencium kening Amora. "Aku tak akan menunggu lagi Amor, minggu depan aku akan melamarmu secara resmi. Dan kita akan menikah secepatnya. Aku tak ingin kehilanganmu lagi." ujar Dion.
Amora terkejut. "Kau yakin ingin menikahiku?" tanyanya.
Dion mengangguk. "Aku akan melawan semua yang menghalangi hubungan kita. Amora Cerry, maukah kau menikah denganku?" tanyanya seraya mengeluarkan kotak berisi cincin berlian yang sudah ia siapkan. "Aku tahu tempat ini kurang layak, aku melamarmu di dalam mobilku. Tapi aku akan menjadi pria yang layak buat hidupmu. Amora Cerry, will you marry me?" tanyanya lagi.
Amora mengangguk. "Yes i do..." jawabnya.
"Terima kasih sayang, aku pikir aku tak memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita. Aku pikir kau memiliki pria yang lebih baik dariku." ujar Dion.
"Sssstttt... Tak ada yang bisa menggantikanmu dihatiku tuan Dion Pranadja. Aku selalu menunggumu." jawab Amora. Lalu ia meneliti tubuh Dion. "Apa kau benar benar sembuh, bagaimana lehermu, tanganmu dan kakimu?" tanya Amora.
Dion tertawa melihat kekhawatiran Amora. "Aku sangat sangat baik sayang, seperti yang kau lihat tak ada cacat sedikitpun di tubuhku." jawab Dion.
"Syukurlah, aku takut saat itu. Tapi aku tak bisa berbuat apapun." ujar Amora.
"Kau melakukan segalanya untukku Amor, dan aku sangat berterimakasih pada ayahmu. Selain jet pribadi, ia juga mengirimkan dokter terbaik untukku disana." jawab Dion.
"Maksudmu papa membantumu disana?" tanya Amora.
Dion mengangguk. "Bahkan pak Hengky terus memperhatikan kesehatanku. Ia ingin aku kembali dengan sehat dan membuatmu tersenyum. Ia kehilangan putrinya yang memiliki semangat yang tinggi. Dan semua itu karena salahku." ujarnya menyesal.
__ADS_1
"Papa merahasiakan semua ini dariku, aku pikir ia tak memperhatikanku selama ini. Ternyata aku salah." ujar Amora.
"Ayahmu sangat menyayangimu Amor. Ia selalu menghubungiku dan mengatakan kembalilah pada putriku." ujar Dion.
Amora cemberut. "Jadi kau kembali karena perintah papa, kau merasa memiliki hutang budi yang harus kau bayar."
Dion justru tertawa. "Ya Tuhan sayang, kau bicara apa sih. Aku mencintaimu sampai kapanpun aku mencintaimu Amor. Seandainya ayahmu tak melakukannya pun, aku akan tetap kembali padamu. Jangan berpikir aneh aneh Amor. Ini tak ada hubungannya dengan ayahmu. Aku melakukan ini atas perintah hatiku bukan ayahmu." jawabnya.
Amora memeluk Dion lagi. "Sampai kapan kau menyuruh pak Jojo dan pak Haryo menunggu kita?" tanyanya.
Dion tertawa. "Aku belum puas denganmu." jawabnya.
"Jemputlah aku nanti malam, bawa aku ke tempat dimana tak ada satupun yang bisa mengganggu kita. Sekarang aku juga masih bekerja, selain menjadi CEO, aku juga menjadi chef andalan hotelku." ujar Amora.
"Lalu bagaimana nasib hotelku?" tanya Dion sedih.
"Aku sudah membuat Dori persis sepertiku. Aku juga sudah memberitahunya bahan rahasia milikku. Jadi aku pikir restoran hotelmu baik baik saja sekarang. Tak perlu chef ahli, karena Dori sudah menjadi chef kalian saat ini." jawab Amora.
"Tetap saja tak seperti chef Amorku yang membuat seisi hotel jatuh cinta padanya." ujar Dion merajuk.
Amora tertawa lalu mencium pipi Dion. "Aku akan menjadi chef yang hanya dicintai olehmu Dion. Sampai jumpa nanti malam." ujarnya seraya membuka pintu mobilnya.
Dion menariknya kembali lalu memeluknya dengan erat. "Aku masih merindukanmu chef Amor."
"Hentikan, pintu mobil terbuka." ujar Amora sambil melepaskan pelukan Dion. Ia tersenyum melihat wajah Dion yang sangat berat melepaskannya. "Nanti malam kita bertemu lagi. Dah..." ujarnya. Kali ini Amora berhasil lepas dari Dion dan meninggalkan kekasihnya untuk masuk ke hotelnya.
Dion hanya bisa menatap Amora yang masuk ke hotelnya itu, ia juga harus kembali ke rumah sekarang. Ia belum beristirahat setelah melakukan perjalanan. Dion memanggil pak Jojo dan pak Haryo untuk kembali.
*****
Happy Reading All...😘
Dukung, like n komen terus ya...
__ADS_1
Baca novel fantasi romance terbaruku ya, yang berjudul "Manequin Kekasihku".