Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 43


__ADS_3

Setelah mengantarkan Amora kembali ke rumahnya, Dion juga langsung kembali ke rumahnya. William dan Diana sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Malam mi, malam pi." sapa Dion seraya duduk bersama mereka. "Mengapa kalian belum tidur?" tanyanya.


"Malam juga Dion." balas kedua orang tuanya. "Bagaimana mami bisa tidur jika putraku belum kembali ke rumah." ujar Diana.


"Dan tentu saja papi tak bisa tidur jika mami terus terusan rewel karena putranya belum kembali." ejek William.


Dion tertawa. "Aku sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah, bagaimana kalian masih memperlakukanku seperti anak berusia belasan tahun." ujar Dion.


"Justru karena kau ingin menikah, mami semakin mengkhawatirkanmu Dion. Bukankah hari ini kau bertemu adik dari Steven?" tanya Diana.


Dion mengangguk. "Ya benar, dan aku belum mendapatkan hasil dari pertemuanku tadi. Seminggu lagi baru ada jawaban atas permintaanku." jawab Dion.


"Apa masalahnya akan menjadi rumit?" tanya William.


"Aku harap tidak pi, tapi lihat nanti." jawab Dion.


"Dion, mami ingin kau fokus dengan persiapan pernikahan bukan masalah pekerjaan. Tak bisakah kau berhenti melakukan hal yang akan mengancammu." ujar Diana.


"Mami, ini juga masih berhubungan dengan Amor. Aku harus menyelesaikannya agar pernikahan ini berjalan dengan baik tanpa diganggu oleh Steven lagi. Pria itu akan terus mengganggu Amor jika tidak segera dikendalikan." ujar Dion.


"Dion benar mi, ini bukan hanya masalah bisnis antara perusahaan kita dengan Sheraton, tapi ini masalah Amor juga. Kau ingat kan terakhir kali Amor diculik karena Steven menginginkannya." ujar William.


Diana menghela nafasnya, ia sangat kesal dengan masalah ini. "Baiklah, segera selesaikan semuanya Dion. Besok Amor ada waktu tidak? Mami ingin membawanya ke desainer baju pengantin. Kalian harus cepat memesan bajunya." kata Diana.


"Aku baru saja mengantarkannya pulang ke rumah, seharian ini ia berada di kantor Dion. Nanti aku akan menghubunginya." ujar Dion.


"Amor di kantormu seharian? Apa ia juga ikut menghadapi adik Steven?" tanya Diana, ia mulai khawatir dengan masalah mereka.


Dion menggenggam tangan ibunya. "Mami tenang saja, aku menyembunyikan Amor dengan baik. Ia hanya ingin berada disisiku karena khawatir. Dan tentu saja Stenly dan Amor sama sekali tak bertemu." jawabnya.


Diana lega mendengarnya. "Syukurlah jika itu yang terjadi. Mami hanya tidak ingin Amor dalam bahaya. Mami sangat menyayangi Amor sudah seperti putri mami sendiri."


"Dan mami lebih memilih Amor daripada Dion sekarang." goda Dion.


Diana menggeleng. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kalian berdua sayang, kau dan Amor berada berdampingan di hati mami." jawabnya.


"Wah...wah.. Artinya papi hilang dari hati mami." ujar William.

__ADS_1


Diana tertawa. "Posisimu tetap menjadi suami terbaik di hatiku. Mereka mendampingimu disana." ujarnya.


Dion dan William tertawa mendengar keseriusan Diana.


"Kalian berdua adalah orang tua terbaik yang Dion punya. Sekarang sudah saatnya kalian istirahat. Aku juga sudah sangat lelah." ujar Dion.


Kedua orang tuanya mengangguk. "Baiklah mami dan papi akan istirahat sekarang. Kau jangan lupa hubungi Amor." pinta Diana.


"Siap bu Presdir, selamat malam." jawab Dion.


Mereka berpisah memasuki kamar masing masing untuk beristirahat.


*****


Dion menghubungi Amora setelah ia selesai membersihkan dirinya. Malam semakin larut tapi Dion yakin Amora belum tertidur mengingat tidur siangnya yang sudah sangat lama.


Belum tidur? tanya Dion lewat sms.


Belum. jawab Amora.


Dion langsung menelponnya. "Malam sayang." ujar Dion.


"Yang seharusnya bertanya itu aku Amor." jawab Dion.


"Kau kan tahu aku terlalu lama tidur siang. Dan tadi papa mengajakku berbicara tentang Stenly, padahal papa sudah tahu darimu." ujar Amora.


"Ia juga ingin berbicara dengan putrinya, apa itu salah?" tanya Dion.


"Tentu saja tidak." jawab Amora. "Tapi selama ini papa jarang bicara denganku. Sejak aku bersamamu, ia lebih sering mengajakku berbicara." sambungnya.


"Mungkin ia takut kehilangan putrinya yang sebentar lagi akan bersamaku." ujar Dion.


"Aku tak akan meninggalkannya Dion." jawab Amora.


Dion tertawa. "Tentu saja kita tak akan meninggalkannya sayang. Tapi tetap saja berbeda Amor, walaupun kita berada disampingnya tapi statusmu adalah seorang istri. Sudahlah jangan diperpanjang lagi, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari mami. Adakah waktu senggang besok, mami ingin mengajak kita pesan baju pengantin?" tanya Dion.


"Jam makan siang, aku akan menyempatkan diri." jawab Amora.


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu saat makan siang. Kita akan makan siang bersama lalu ke tempat desainer yang disarankan mami." kata Dion.

__ADS_1


"Tentu sayang." ujar Amora. "Ada satu hal ingin aku sampaikan juga padamu, saat malam pertemuan keluarga, papa mengatakan sudah membelikan hadiah pernikahan kita." sambungnya.


"Hadiah pernikahan? Apa itu?" tanya Dion.


"Sebuah rumah untuk kita berdua, apa kau mau menerimanya?" tanya Amora.


"Sebuah rumah? Bukankah kau ingin tinggal bersamanya setelah kita menikah." ujar Dion.


"Aku menginginkan seperti itu, tapi papa menolak. Ia ingin kita tinggal sendiri membangun rumah tangga kita. Ia hanya ingin cucu secepatnya untuk menemaninya. Dion bagaimana menurutmu?" tanya Amora lagi.


Dion menghela nafasnya. "Aku memiliki hotel dan apartemen, lalu sekarang sebuah rumah hadiah pernikahan. Bagaimana aku mengatasinya sayang, apa yang kau inginkan?" tanya Dion balik.


"Aku tak ingin membuat papa kecewa Dion. Jadi sepertinya kita harus tinggal disana, perumahan itu di Citra Garden. Satu jam dari rumah papa." jawab Amora.


"Baiklah, apapun yang kau inginkan sayang. Amor, aku merindukanmu." ujar Dion tiba tiba.


Amora terkekeh mendengarnya. "Kita baru satu jam lima belas menit tidak bertemu sayang, bagaimana kau bisa merindukanku?" tanyanya.


"Jangan mengejekku sayang, aku selalu merindukanmu setiap hembusan nafasku. Apa aku berlebihan?" tanya Dion.


"Kau sangat berlebihan." jawab Amora sambil tertawa.


"Kau tak merindukanku?" tanya Dion lagi.


"Kita baru saja bertemu Dion." jawab Amora.


"Kau mengecewakanku Amor. Aku pikir kau merasakan perasaan yang sama denganku." ujar Dion kesal.


"Bukan itu maksudku sayang, sudahlah kau tidur sekarang. Besok kita akan bertemu lagi. Jika kau benar benar merindukanku, bawa aku kedalam mimpimu malam ini. Selamat malam tuan Dion kesayanganku." ujar Amora.


"Kau membuatku gila dengan kata kata terakhirmu itu Amor. Kau juga tidurlah, selamat malam sayang." jawab Dion seraya mematikan ponselnya.


Dion merebahkan tubuhnya di ranjangnya sambil berpikir pada ucapan calon istrinya tentang keinginan ayah mertuanya. Tentu saja itu sangat diinginkan Dion juga memiliki anak anak secepatnya, tapi akankah Amora berhenti bekerja jika mereka memiliki anak. Ia hanya ingin Amora tak sibuk dengan pekerjaannya, ia ingin Amora bisa menjadi istri yang akan berada disampingnya setiap saat.


Tapi Amora tak mungkin bisa melepaskan Sheraton grup, bagaimanapun ia adalah pewaris satu satunya. Dion mulai memejamkan matanya, ia tak ingin terlalu memikirkannya sekarang. Biarkan semuanya mengalir seperti air dan akhirnya ia bisa tertidur dengan lelap setelah semua pikiran pikirannya menjadi lebih tenang.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus, like n komen...


__ADS_2