
Dion dan Amora menikmati makan paginya bersama. "Apa Dori yang memasak semua ini?" tanya Amora.
Dion mengangguk. "Aku akan menyelesaikan pekerjaan hari ini sayang sebelum kita berangkat ke Jepang besok." ujar Dion.
"Aku akan kembali ke rumah, aku sudah cuti dari perusahaan tapi aku harus mengambil barang barangku." ujar Amora.
Dion menggeleng. "Tetap disini sampai pekerjaan aku selesai, aku akan mengantarmu mengambil barang barangmu." jawab Dion.
"Aku bisa meminta pak Jojo mengantarku sayang." kata Amora.
"Tidak, tak usah berdebat lagi. Habiskan sarapanmu. Jika kau bosan, kau bisa ke ruang kantorku. Tapi tidak aku izinkan kau kembali sendiri ke rumah. Aku bisa dibunuh papa jika membiarkanmu kembali sendiri." ujar Dion. "Aku bekerja sekarang, panggil aku jika kau butuh sesuatu." sambungnya sambil mengecup kening Amora dan keluar dari kamar itu.
Amora hanya bisa menatap suaminya keluar, ia tak boleh kemana mana kecuali ruang kantornya. Amora hanya bisa menghela nafasnya sambil menyelesaikan sarapannya.
*****
Sudah setengah hari Amora berada di kamar, Dion sama sekali tak mengunjunginya padahal kantornya terhubung dengan kamar itu. Akhirnya Amora keluar menuju kantor itu dan mendapati ruangan kosong.
Dimana Dion? Pantas saja ia tak ke kamar, ternyata ia tak ada disini. pikir Amora.
Amora duduk di sofa dan mengambil majalah disana. Ia mulai membacanya sampai ia merasa bosan. Sudah 2 jam suaminya tak juga kembali. Sudah saatnya makan siang, dan benar saja pelayan membawakan makan siangnya.
"Bu Amor mengapa ada disini?" tanya pelayan itu. Mereka memang harus melewati kantor untuk menuju kamar itu.
"Aku bosan didalam, kalian letakkan saja makanannya disini. Dimana pak Dion?" tanya Amora.
"Pak Dion hanya menghubungi kami untuk mengantar makan siang anda, kami tak tahu dimana pak Dion berada." jawabnya.
Amora hanya mengangguk, tapi ia mulai kesal dengan perlakuan suaminya. Ia seperti dipenjara sekarang, ia tak boleh kemanapun tapi Dion malah meninggalkannya. Ia sama sekali tak ingin makan siang. Amora meninggalkan ruang kantor itu menuju kamarnya lagi. Ia menatap ponselnya lebih dari setengah jam, tapi suaminya sama sekali tak menghubunginya.
Saat Amora mulai kesal dan kemarahannya mulai memuncak, pintu kamar terbuka. Dan sosok yang ia cari menatapnya dengan tajam.
"Mengapa kau tak makan siang?" tanya Dion mulai mendekati istrinya.
Amora membuang mukanya menghindari suaminya karena kesal. Dion menghela nafasnya dan memeluk istrinya. "Maaf sayang, aku rapat keluar." ujar Dion.
"Tak bisakah kau menghubungiku walau semenit saja. Aku keluar mencarimu, kau bahkan tak mengatakan apapun padaku." ujar Amora.
"Maaf, maaf... Aku memang salah. Klien tiba tiba ingin bertemu, aku meninggalkan ponselku di ruang kerja." kata Dion.
Amora melepaskan pelukan suaminya, ia menatapnya lebih tajam. "Aku tak mau memaafkanmu, ruang kantor dan kamar hanya terhubung satu pintu. Kau pikir aku ini tahanan." ujar Amora marah.
__ADS_1
Dion mengambil kotak perhiasan dari sakunya dan bersimpuh di depan Amora. "Amora Marco, maukah kau memaafkan suamimu yang lalai ini?" tanya Dion.
Amora terbelalak saat melihat Dion seperti sedang melamarnya. "Bangunlah, aku tak butuh itu." ujar Amora seraya menuju balkon.
Dion kembali menghela nafasnya dan mengejar istrinya ke balkon. "Sayang, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan perbuatanku?" tanya Dion.
"Lompatlah kebawah." ujar Amora.
Dion terbelalak. "Baiklah, jika kau akan senang setelah melihat aku mati." jawabnya. Dion benar benar bersiap untuk melompat dari balkon.
Amora memeluknya dari belakang. "Kau bodoh, jika kau mati lalu bagaimana denganku?" tanyanya.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia sayang, aku benar benar salah meninggalkanmu." jawab Dion.
"Apa jika kau mati, aku akan bahagia. Kau benar benar bodoh." ujar Amora kesal.
Dion berbalik dan memeluknya dengan erat. "Aku mencintaimu istriku. Jangan marah seperti tadi, aku takut." ujarnya.
Amora membalas pelukannya. "Aku juga mencintaimu sayang. Jangan lakukan lagi, jika kau tak ingin aku marah." jawab Amora.
Dion mengangguk. "Aku janji, maaf soal tadi. Sekarang ayo kita makan siang. Aku akan menyuruh pelayang menggantinya dengan yang baru." ujar Dion.
"Kau belum makan siang?" tanya Amora.
"Jadi aku tak salah menunggumu." ujar Amora.
"Kau tetap salah, seharusnya kau tidak telat makan siang. Jika kau sakit, aku bisa gila." ujar Dion.
"Aku belum lapar, aku juga terlalu kesal." jawab Amora.
Dion mengecup puncak kepala Amora seraya mengajaknya masuk. Dion menghubungi pelayan untuk membawa makanan yang ada di meja kantor dan menggantinya dengan yang baru untuknya dan Amora.
Beberapa menit kemudian, pelayan itupun datang dan membawakan mereka makanan.
*****
"Aku lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku, jadi kita bisa mengambil barangmu untuk berangkat besok." ujar Dion saat mereka menyantap makan siangnya.
"Benarkah? Aku akan menghubungi papa agar kembali ke rumah. Kita berangkat dari sini jadi aku harus bertemu papa untuk berpamitan." ujar Amora.
Dion mengangguk. "Setelah itu kita menemui papi dan mami." ujarnya.
__ADS_1
Amora mengangguk. "Apa kau akan menyetir?" tanyanya.
Dion menggeleng. "Pak Jojo selalu setia sayang, habiskan makananmu." perintah Dion.
"Kau jangan buat aku gemuk Dion, sejak aku bersamamu, aku selalu makan melebihi porsiku." jawab Amora.
"Aku kan sudah bilang, aku menyukaimu gemuk agar lebih seksi dan montok." goda Dion.
Amora hanya tersenyum dan terus menyelesaikan makan siangnya. Setelah selesai keduanya keluar dari kamar, tatapan karyawan membuat Amora malu. Tapi gosip tentang malam pengantin mereka sudah menyebar.
"Jangan perdulikan sayang, mereka hanya iri padamu." ujar Dion.
"Mereka menatapku bukan karena iri tapi lebih pada tatapan iba." jawab Amora.
Dion tertawa membuat semuanya menatapnya. Ini pertama kalinya para karyawan Novotel melihatnya tertawa lepas. "Pelayan melihat kamar dan ranjang kita masih rapi, mungkin mereka menatapmu iba karena kau tak disentuh suamimu. Padahal kita sama sama ketiduran semalam. Dan malam ini jangan harap kau bisa lepas dariku." bisik Dion membuat Amora terbelalak.
Amora mencubit pinggang suaminya. "Jangan terus menggodaku sayang, kau membuatku malu." jawabnya.
"Apa kau tak menginginkanku?" tanya Dion.
"Pertanyaanmu tidak masuk akal." jawab Amora.
Pak Jojo menyapanya dan membukakan pintu buat Dion dan Amora.
"Pak kita ke rumah Amor." ujar Dion.
"Baik Den." jawab pak Jojo.
Amora menghubungi ayahnya agar segera kembali ke rumah, ia ingin menemuinya sebelum ia berangkat berbulan madu. Wajah Amora tiba tiba murung membuat Dion bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Dion.
"Papa masih ada pekerjaan di Sheraton, jadi ia akan kembali sore hari." jawab Amora.
"Pak Jojo kita ke rumah dulu, nanti sore baru ke rumah Amor." ujar Dion membuat Amora terkejut.
"Baik den Dion." jawab pak Jojo lagi seraya memutar balik mobilnya karena arah mereka berbeda.
"Jangan murung lagi, kita menemui papi dan mami dulu. Setelah papa kembali baru kita ke rumahmu." ujar Dion.
Amora tersenyum dan merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Ia sangat senang suaminya sangat pengertian, ia tak kepikiran untuk memberikan ide seperti itu. Dion menggenggam tangannya sampai mereka sampai ke rumah keluarga Pranadja.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘