
Dion dan Amora sudah berada di ruangan Hengky. Hengky langsung memberi surat somasi masyarakat sekitar pembangunan resort mereka.
"Ini lihatlah, sepertinya Steven membayar mereka semua." ujar Hengky.
Dion melihat surat dan dokumen itu. "Pria itu tak pernah menyerah, aku akan menanganinya." jawabnya.
"Apa kau benar benar punya bukti untuk menghancurkannya?" tanya Hengky.
Dion mengangguk. "Aku bahkan memiliki bukti wanita yang dihamilinya, wanita itu dibayar agar diam dan menggugurkan kandungannya. Wanita itu sempat takut mengatakannya padaku, tapi aku sudah menjamin keselamatannya, jadi ia akhirnya mengungkap segalanya. Ada beberapa foto, video dan rekaman pembicaraan mereka. Itu sudah cukup membuat Steven diam." jawabnya.
"Bisakah kau membuatnya tak menggangguku lagi?" tanya Amora.
"Tak ada satu orang pun yang bisa mengganggumu sayang, mereka harus menghadapi Dion Pranadja jika berani membuatmu ketakutan." jawab Dion.
Hengky berdeham membuat Amora malu. "Aku percaya padamu Dion, makanya aku berani menyerahkan putriku padamu." ujarnya.
"Anda tak perlu khawatir, aku akan menjaga putri anda di sisa hidupku." ujar Dion sambil tersenyum.
Wajah Amora sangat merah bukan karena marah tapi ia sangat malu. Dion menggenggam tangannya di depan Hengky membuat Amora canggung.
"Mungkin ini tidak sopan om, aku berbicara sebagai calon menantu anda. Dua hari lagi aku dan orang tuaku akan mengunjungi anda. Apakah om ada waktu?" tanya Dion.
Hengky mengangguk. "Kau sangat terbuka Dion, itu yang aku tunggu darimu. Aku tunggu kau dan orang tuamu berkunjung ke rumah. Sebaiknya kalian datang saat jam makan malam. Aku dan putriku akan menjamu kalian." jawabnya.
"Terima kasih om. Dan untuk soal Steven anda dan Amor tak perlu turun tangan. Aku akan mengatasinya sendiri. Baiklah, aku ada meeting setelah makan siang. Jadi aku pamit sekarang." ujar Dion.
Hengky menepuk pundak Dion. "Tentu saja aku tak akan mengambil waktumu lebih banyak, aku percayakan urusan Steven padamu. Amor antar calon suamimu keluar." godanya.
"Papa..." jawab Amora membuat semuanya tertawa.
Amora mengantarkan kekasihnya keluar kantor ayahnya. Pegangan tangannya sangat erat tanpa perduli pandangan karyawan Sheraton.
"Apa kau masih merindukanku?" bisik Dion.
Amora menatap wajah Dion dan mengangguk. Dion menariknya di tempat yang lebih sepi lalu menciumnya. Amora mendorong tubuh Dion.
"Sayang, ini tempat umum." ujar Amora.
"Aku selalu menginginkanmu Amor, aku tak sanggup menunggu lebih lama. Biarkan aku menciummu." jawab Dion lalu menarik tengkuk leher Amora dan mulai menciumnya lagi.
Amora merasakan hawa panas mulai menjalari tubuhnya, Dion tak menghentikan ciumannya sampai keduanya kehabisan nafas. Dion berhenti dan menempelkan keningnya pada kening Amora.
__ADS_1
"Sudah waktunya aku kembali, jika aku meneruskannya maka aku akan membuat klien ku menunggu." ujar Dion.
"Kau pergilah, dan hati hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai." jawab Amora.
Dion mengangguk. "Jangan mengantarku lagi, kau kembalilah bekerja. Jika kau terus bersamaku, aku tak bisa pergi sayang." ujarnya.
Amora tertawa. "Baiklah tuan Dion yang terhormat, pergilah sekarang."
"Tawamu membuatku makin menggila Amor, aku bisa mati karena merindukanmu." jawab Dion.
Amora tertawa lagi. "Kau sangat berlebihan, sudah sana. Aku takut ada karyawan yang melihat kita." usir Amora.
Dion pura pura sedih. "Baiklah nona Amor yang cantik, aku pergi sekarang. Sampai nanti sayang." ujarnya.
Amora melambaikan tangannya dan menatap kepergian kekasihnya. Lalu ia menghela nafas beratnya.
Sangat sulit jauh darimu sayang, apakah ini yang dinamakan cinta pertama. gumam Amora.
Ia melangkah menuju restoran kembali, sudah beberapa jam ia meninggalkan pekerjaan keduanya.
*****
"Baik pak." jawab pak Haryo.
Dion mematikan ponselnya dan melanjutkan perjalanannya.
Aku tak akan membiarkan kau terus mengganggu perusahaanku dan Amora tuan Steven, aku tak ingin main kotor tapi kau lah yang memulainya. gumam Dion.
Ia tak akan membiarkan siapapun mengganggu calon istrinya. Walaupun pengusaha muda itu banyak pendukung, tapi kartu mati ada di tangan Dion Pranadja, sangat mudah menghancurkan reputasinya hanya dalam sekejap. Tapi Dion teringat adik Steven yang telah membantunya, jadi ia akan menghubungi Stenly terlebih dahulu. Jika pria itu mampu mengendalikan kakaknya, maka Dion tidak akan membuat reputasi Steven hancur.
Dion sampai di perusahaan sekaligus hotelnya. Tak ada sambutan kedatangan untuknya, namun karyawan tetap tegang saat ia berjalan melewati mereka.
"Betulkan letak bunga di meja lobi itu." perintahnya pada resepsionis.
"Ba...baik pak." jawab resepsionis ketakutan.
Tapi Dion hanya mengatakan itu dan meninggalkannya. Dion sudah sampai di kantornya.
"Pak Dion, ini berkas yang anda perlukan untuk meeting sekarang. Dan itu dokuman dari pak Haryo tadi." ujar Hany.
Dion mengangguk. "Masih ada sisa waktu untuk kita memulai meeting, kau cari kontak Stenly lalu berikan padaku." perintahnya.
__ADS_1
"Baik pak." jawab Hany.
Dion membaca berkas meeting. Lalu melihat dokumen yang dikirimkan pak Haryo. Tak lama kemudian, Hany masuk lagi dan menyerahkan nomor telpon Stenly.
"Kerja bagus, terima kasih." ujar Dion.
Hany hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Dion.
Dion menekan tombol telponnya dan menghubungi Stenly.
"Halo, ini siapa?" tanya Stenly.
"Halo, apa kabar tuan Stenly. Aku Dion Pranadja, senang bisa menghubungi anda." ujar Dion.
"Dion Pranadja? Oh aku ingat, anda yang pernah diganggu kakakku karena menculik kekasih cantikmu." ujarnya. "Ada apa tuan Dion anda menghubungiku?" tanyanya.
"Terima kasih untuk bantuanmu saat itu, tapi aku butuh bantuanmu kembali. Sepertinya kakakmu tak mau berhenti mengganggu kekasihku. Ia bahkan berniat menikahi paksa Amora." ujar Dion.
"Apa kau yakin? Steven tak pernah mau menikah walaupun ayahku yang memaksanya. Apa sebegitu sukanya ia pada nona Amora?" tanyanya terkejut.
"Aku tak perduli tentang perasaannya tuan Stenly, aku hanya tak ingin ia merebut calon istriku. Dan kali ini ia bahkan mengganggu kerjasama perusahaanku dengan keluarga Amora. Aku bukan tidak bisa mengatasinya, karena sebenarnya aku memiliki bukti permainan kakakmu dengan wanita wanita bahkan sempat menghamili salah satu wanita itu. Aku hanya mengingat jasamu menolongku saat itu, jadi aku hanya meminta bantuanmu tuan Stenly." ujar Dion.
Stenly sangat terkejut karena Dion sudah mengetahui keburukan kakaknya. "Anda sangat bijak, dan tepat sekali menghubungiku. Aku akan mengunjungi anda ke Lampung, mungkin aku akan kesana setelah urusanku selesai sekitar seminggu lagi. Apa anda mau menungguku?" tanyanya.
"Aku akan menunggu anda, tapi 3 hari lagi. Tidak seminggu, karena aku sangat sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan Amora. Aku tak ingin berlama lama berurusan dengan keluargamu dan Steven. Aku bisa saja menyelesaikannya hari ini." jawab Dion.
"Aku mohon jangan lakukan itu tuan Dion, baiklah aku akan bertemu dengan anda 3 hari kedepan. Aku akan menemui anda di hotel anda." jawab Stenly.
"Sepertinya kau pun mencari tahu tentangku." ujar Dion sambil tertawa. "Baiklah, aku tunggu kedatanganmu." sambungnya seraya mematikan ponselnya.
Selesai sudah, kali ini kau tak bisa melakukan apapun Steven. gumam Dion.
Ketukan pintu mengejutkannya. "Pak Dion, sudah waktunya meeting." ujar Hany.
"Baiklah, aku segera kesana." jawab Dion.
Dion bangkit dari duduknya dan segera menuju ruang meeting.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1