
Seminggu sudah waktu yang ditentukan buat Stenly, tapi Dion masih juga tak mendapat kabar baik dari pria itu. Ia sangat penasaran dengan hasilnya, jika memang Stenly tak bisa membantu maka ia pun tak akan membantu Steven lagi untuk berkeliaran bebas.
Hari semakin siang, Dion memanggil pak Haryo untuk masuk ke kantornya.
"Ada apa pak?" tanya pak Haryo.
"Pak Haryo, apa Stenly belum menghubungi kita?" tanya Dion.
Pak Haryo menggeleng. "Tidak ada kabar apapun pak." jawabnya.
Hany mengetuk pintunya. "Masuk." ujar Dion.
"Pak Dion, tuan Stenly ingin menemui anda." ujar Hany.
Dion dan pak Haryo saling pandang pandangan. Mereka tak menyangka jika Stenly akan menemui Dion langsung.
"Suruh ia masuk Han." perintah Dion.
Tak lama Stenly masuk dengan langkah kaku menemui Dion. Hany meninggalkan ruangan sedangkan pak Haryo masih mendampingi Dion. Dion menyambut Stenly dengan menjabat tangannya.
"Aku sangat terkejut, ternyata kau menemuiku langsung tuan Stenly. Silahkan duduk." ujar Dion.
"Maaf karena aku tak membuat janji terlebih dahulu. Tapi memang bertemu langsung adalah cara yang tepat." jawab Stenly.
Dion mengangguk. "Tentu saja, aku sangat senang anda mau datang." kata Dion.
"Aku datang kemari ingin memberi 2 kabar berbeda, kabar baik dan buruk." ujar Stenly.
Dion tertawa. "Aku menunggu satu minggu hanya untuk mendengar kabar baik tuan Stenly, aku tak mau mendengar kabar buruk." jawabnya.
"Mohon maaf tuan Dion, aku sudah berusaha sebisaku untuk merayu Steven. Bahkan papi ikut membantu, tapi kami tidak bisa mengambil keputusan sampai akhir." kata Stenly.
"Apa maksud anda?" tanya Dion.
"Kabar baiknya, Steven mau melepaskan lahan itu tanpa meminta ganti rugi apapun, ini sertifikatnya." ujar Stenly sambil menyerahkan dokumen pada Dion. "Kabar buruknya, Steven mengajukan syarat jika kau menerima lahan itu." sambungnya.
"Syarat apa itu?" tanya Dion.
"Anda harus menukarnya dengan tunangan anda, Amora." jawab Stenly.
Tentu saja Dion langsung naik darah, ia berdiri dan membanting dokumen itu.
"Kau pikir Amor adalah barang yang bisa ditukarkan dengan lahan." bentaknya. "Tunanganku tak ternilai harganya, jangan main main denganku." teriaknya.
__ADS_1
"Tenanglah pak." ujar pak Haryo.
Dion tertawa. "Apa orang semacam Steven bisa membuatku tenang pak Haryo?" bentaknya.
"Tuan Stenly, sepertinya ancamanku kau anggap omong kosong. Tapi anda salah jika aku takut pada Steven. Pak Haryo siapkan dokumen tentang Steven, kita akan berangkat ke Medan sekarang." perintah Dion.
Stenly justru tertawa dengan keras membuat keduanya kebingungan. "Ya Tuhan tuan Dion, anda benar benar mencintai tunangan anda sebesar itu. Maaf aku sedikit main main denganmu." ujarnya seraya menyerahkan surat perjanjian pernyataan Steven pada Dion.
Dion menerimanya dan terbelalak saat membacanya. "Apa maksud semua ini?" tanya Dion.
"Maafkan aku karena mencoba kesabaran anda tuan Dion. Kakakku melepaskan Amora dan lahan tanpa syarat apapun. Ia akan tinggal di Inggris bersama istrinya, 2 hari setelah aku bertemu anda. Kakakku melakukan kesalahan dengan menghamili putri bangsawan Inggris, tentu saja ia tak mungkin menghindari pernikahan itu, karena hukuman yang akan ia terima adalah hukuman mati. Jadi akhirnya Steven menikahi wanita itu dan tinggal di Inggris selamanya." ujar Stenly.
Dion dan pak Haryo terbelalak, mereka sama sama terkejut mendengarnya. "Sungguh luar biasa, kakakmu menanam benih dimana mana." ejek Dion. "Lalu mengapa anda baru menghubungiku sekarang?" tanyanya.
"Aku memiliki pekerjaan sampai pengalihan perusahaan dari nama Steven ke namaku, tentu saja aku sangat sibuk tuan Dion. Aku hari ini menyempatkan diri kemari karena akan terbang ke Jakarta. Aku harap setelah ini kita tidak memiliki masalah apapun lagi, dan selamat atas pernikahan anda nanti. Semoga kalian berbahagia." jawab Stenly seraya ia berdiri dan mengulurkan tangannya.
Dion menyambut tangannya. "Apa anda sangat terburu buru?" tanya Dion lagi.
Stenly mengangguk. "Aku sudah menepati janjiku untuk melepaskan kalian dari Steven. Sekarang aku akan memulai hidupku juga dengan mengemban nama baik keluargaku. Terima kasih atas kesabaran anda tuan Dion." ujar Stenly.
"Aku juga berterima kasih atas bantuan anda. Pak Haryo dokumen Steven." pinta Dion.
Pak Haryo memberikan dokumen pada Dion.
Stenly menerima dokumen itu seraya mengangguk. "Aku pamit tuan Dion, selamat siang." ujarnya.
Dion mengangguk sambil mengantar Stenly keluar kantornya. Setelah pria itu menghilang, Dion segera melihat berkas pembebasan lahan dan juga surat pernyataan Steven. Ia menghela nafasnya dengan lega.
"Selamat pak Dion." ujar pak Haryo.
"Terima kasih pak Haryo, aku sangat lega. Kirim semua ini ke pengacara kita, kita akan meneruskan pembangunan rekreasi itu setelah pernikahanku selesai." perintah Dion.
Pak Haryo mengangguk dan mengambil dokumen dokumen itu. Lalu pamit untuk menemui pengacara seperti yang Dion perintahkan.
*****
"Benarkah? Kau yakin?" tanya Amora saat dihubungi Dion.
"Benar sayang, kita bisa tenang sekarang." jawab Dion.
"Tapi Steven hebat bisa menikahi putri bangsawan Inggris." ujar Amora.
"Apa kau menyesal karena tak jadi menikahi Steven?" tanya Dion.
__ADS_1
"Kau gila Dion, walaupun ia tampan dan kaya, aku tidak mencintainya. Pria yang akan bersamaku hanya kau." jawab Amora.
"Dan aku tak akan mengizinkan pria manapun untuk mendekatimu dan mencurimu dariku Amor." kata Dion.
Amora tertawa. "Pria mana yang tak takut padamu tuan Dion. Kau selalu mengancam membunuh mereka." ujarnya.
Dion ikut tertawa. "Sampaikan pada papa sayang, aku akan menemuinya setelah aku selesai bekerja." ujarnya.
"Papa sedang ke Surabaya, kemungkinan akan kembali lusa." kata Amora.
"Mengapa aku tak tahu?" tanya Dion.
"Papa baru berangkat sayang, ada yang mau diurus disana." jawab Amora.
"Kalau begitu kau tinggallah di rumahku selama papa tak ada. Pasti mami sangat senang kau ada bersamanya, kalian bisa membicarakan soal persiapan pernikahan kita." pinta Dion.
"Itulah yang sebenarnya aku pikirkan sayang, ternyata kau memiliki pemikiran yang sama denganku. Tapi aku takut merepotkan keluargamu." jawab Amora.
"Omong kosong Amor, kau sudah seperti putri mereka sendiri. Kalau begitu tinggalkan mobilmu, aku akan menjemputmu setelah pulang kerja." ujar Dion.
"Tidak, aku akan kembali ke rumah mengambil baju ganti. Kau jemput aku di rumah saja." pinta Amora.
"Baiklah, aku akan menjemputmu sebelum makan malam. Jadi kita bisa makan malam bersama mami dan papi, pasti nyonya Diana akan senang." ujar Dion.
"Oke baiklah, aku tunggu kedatanganmu. Tapi jangan punya pikiran macam macam selama aku berada di rumahmu, pernikahan kita hanya tinggal satu minggu." kata Amora.
Dion tertawa. "Kau sangat percaya diri sayang, aku sama sekali tak memikirkan apapun kecuali ingin dekat dengan calon istriku." godanya.
"Hentikan sayang, kau selalu saja mengatakan hal yang membuatku malu. Sudahi dulu, aku ada meeting sore ini." ujar Amora.
"Iya sayang, sampai ketemu nanti malam. Dah..." ujar Dion seraya mematikan ponselnya.
Dion tersenyum bahagia. Ini adalah jalan yang sangat mudah menuju langkahnya meminang Amora. Ia berharap pernikahan mereka tak ada lagi rintangan kedepannya. Dion melanjutkan pekerjaannya untuk menjemput kekasihnya sebelum makan malam. Tapi ia juga tak lupa menghubungi ibunya untuk menyiapkan makan malam mereka.
*****
Happy Reading All...
Dukung, like n komen terus ya...
Buat para Reader yang sudah komen di novel novel karyaku, mohon maaf aku tak bisa membalas satu per satu komen kalian. Bukan karena Author sombong, tapi komen kalian terlalu banyak untuk aku balas satu per satu.
Jadi mewakili disini, Author hanya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan serta masukan masukan kalian. Author tak bisa menjadi apapun tanpa kalian. Miss you akan terus berada di hati kalian. 😘😘😘
__ADS_1