Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 44


__ADS_3

Keesokan harinya Dion maupun Amora melakukan aktifitas seperti biasanya. Amora mengurangi kesibukannya menjadi seorang chef. Ia menyerahkan restoran pada chef biasanya disana. Benar kata Dion, ia harus memikirkan tubuhnya. Sheraton grup yang paling utama buatnya, ia tak ingin membagi pekerjaannya terus menerus walaupun menjadi chef adalah keinginan terbesarnya.


Hengky Marco sudah mendengar keputusan putrinya untuk lebih fokus menjadi CEO. Itulah yang ia harapkan selama ini dari Amora. Setelah ia dan Dion menikah, tentu saja Amora harus mengurangi kegiatannya dalam bekerja agar mereka cepat diberi keturunan. Dan cucunya lah yang akan menggantikannya di Sheraton grup.


Hari semakin siang, Amora segera menyelesaikan pekerjaannya karena akan makan siang dengan Diana dan Dion, juga untuk memesan baju pengantinnya. Suara ketukan mengejutkannya.


"Masuk." ujar Amora.


"Apakah belum selesai sayang?" tanya Dion.


Amora mendongak dan terkejut ternyata yang masuk ke kantornya adalah Dion bukan sekertarisnya. "Apa aku memiliki janji dengan anda tuan?" goda Amora.


Dion mendekatinya dan menariknya hingga berdiri. Ia memegang kedua pipi kekasihnya lalu mencium bibirnya sekilas.


"Berani sekali kau menggodaku sayang, apa kau tak tahu seperti apa rasa rinduku padamu." ujar Dion.


Amora tertawa. "Aku baru saja selesai sayang, aku baru mau keluar tapi ternyata kau sudah lebih dulu kemari." jawab Amora.


"Aku tak bisa menunggumu di lobi, mereka selalu menatapku seperti sedang mengatakan tak bosankah pria ini menghampiri CEO ku. Seperti itulah tatapan mereka padaku." ujar Dion.


Amora tertawa membuatnya semakin cantik. "Kau salah sayang, mereka menatapmu karena bertanya bagaimana CEO kami bisa mendapatkan pria tampan seperti ini? Itulah sebenarnya yang mereka pikirkan." jawab Amora.


Dion memeluknya dengan erat. "Kau selalu saja bisa menghiburku sayang, ayo kita berangkat sekarang. Mami sudah ada di restoran yang aku pesan." ajak Dion.


"Kau memiliki restoran begitu juga denganku, tapi kita malah makan siang di restoran lain." gumam Amora sambil membereskan barangnya.


"Restoran yang aku pesan lebih dekat dengan tempat desainer pilihan mami." jawab Dion. "Perlukah kita izin dengan papa?" tanya Dion.


Amora menggeleng. "Tidak perlu, aku sudah izin dengannya tadi pagi. Dan kemungkinan papa sedang keluar sekarang." jawabnya.


Dion mengangguk dan menggandeng Amora keluar dari kantornya, melewati sekertaris Amora dan beberapa karyawan yang menatap keduanya. Dion membuka pintu mobil dan menyuruh Amora masuk.


"Dimana pak Jojo?" tanya Amora.


"Aku ingin berduaan denganmu, jadi aku suruh pak Jojo menunggu di perusahaan." jawab Dion seraya menghidupkan mobilnya.


"Mami dengan siapa kesana?" tanya Amora lagi.


"Tentu saja dengan supir seperti biasa sayang. Oh ya setelah kita memesan baju pengantin, bisakah kau ikut denganku menemui Dimor?" tanya Dion.


"Kuda barumu yang menggantikan Samon." ujar Amora dan Dion mengangguk. "Baiklah, aku akan ikut. Kebetulan siang ini aku tak ada meeting." sambungnya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." ujar Dion.


Keduanya sampai di sebuah restoran mewah, disana sudah ada Diana menunggunya. Tentu saja Amora langsung memeluk calon mertuanya.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Diana.


"Tentu saja sangat baik mi, bagaimana dengan mami?" tanya Amora.


"Mami juga sehat, tapi kau semakin kurus Amor." jawab Diana.


"Aku tak ingin terlihat gemuk saat menjadi pengantin mi." jawab Amora sambil tertawa.


"Tapi tak boleh lebih kurus dari ini sayang." ujar Dion.


Amora mengangguk, mereka memesan makanan dan mulai menikmati makan siang mereka. Diana tak henti hentinya mengajaknya berbicara, ia memang sangat menyukai Amora jadi saat keduanya bertemu Diana sangat antusias bertanya.


"Mami, hentikan nanti kau tersedak." ujar Dion.


"Kau kan tahu jika mami selalu merindukan Amor." jawab Diana.


"Tapi kita bisa mengobrol setelah makan mi, kau lihat Amor hampir tak menyentuh makanannya." kata Dion.


"Kau berlebihan tuan Dion, aku menikmati makan siangku." ujar Amora.


Amora menggeleng. "Tidak mi, Amor senang. Dion yang berlebihan." jawabnya.


"Yah aku kalah melawan dua wanita yang aku sayangi, lanjutkanlah apa yang kalian senangi." ujar Dion membuat Amora dan Diana tertawa.


Mereka menyelesaikan makanannya lalu menuju butik ternama di dekat restoran. Diana dan Amora memilih gaun pengantin yang cantik. Selera keduanya sama, Amora mencoba gaun pengantin itu dan keluar dari ruangan. Diana maupun Dion terbelalak saat melihat Amora yang mengenakan gaun pengantin.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Amora.


"Ya Tuhan, sangat cantik." jawab Diana.


Sedangkan Dion tak bisa berkata apa apa, ia terus menatap pengantinnya yang sangat cantik.


"Dion, hei..." panggil Diana berkali kali.


Dion tersadar. "Bagaimana aku harus mengatakannya mi? Ia pengantin tercantik yang pernah aku lihat." ujar Dion membuat Amora malu.


"Dan anda benar tuan Dion. Pengantin anda sangat cantik, tubuhnya sangat indah." ujar desainer itu.

__ADS_1


"Tak bisakah aku mempercepat pernikahannya besok?" tanya Dion membuat semuanya tertawa.


"Kau jangan mulai lagi tuan. Persiapannya untuk minggu depan saja sangat terburu buru. Kau malah ingin besok." ujar Amora.


"Aku sudah tak tahan ingin menarikmu ke altar." jawab Dion.


"Sudah sudah, giliranmu mencoba toksedonya." perintah Diana pada Dion.


"Aku takut tak bisa menyamai kecantikan pengantinku mi." ujar Dion.


"Kalau begitu aku akan mencari pengantin pria yang bisa menyamaiku." goda Amora.


"Aku akan membunuh pria itu Amor." jawab Dion kesal.


Semuanya kembali tertawa, Dion segera mencoba pakaiannya dan tentu saja ia sangat tampan seperti biasanya.


"Apa aku pantas mendampingi Amor?" tanya Dion.


Mereka semua mengangguk. "Kedua pengantin yang sempurna. Aku sangat iri dengan pasangan ini nyonya Pranadja." ujar desainer.


Diana tertawa, ia sangat bangga melihat keduanya. "Pilihan putraku tak mungkin salah, keduanya benar benar sempurna. Aku ambil gaun pengantin ini tapi tambahkan beberapa berlian disana, sesuaikan ukurannya dengan Amor." pinta Diana.


Desainer itu mengangguk dan membawa Amora kembali mengganti bajunya. Setelah mereka selesai fitting baju pengantin, mereka kembali ke rumah.


"Aku akan membawa Amor ke rumah untuk bertemu Dimor mi, aku baru sempat mengenalkan kudaku yang ini padahal saat itu aku ingin sekali Amor bertemu Samon. Sayang sekali, tak sempat mengenalkannya." ujar Dion.


"Itu karena kebodohanmu sayang." jawab Diana.


"Jangan bahas lagi mi, aku sudah mendapatkan wanita itu dan segera menikahinya." goda Dion.


Diana dan Amora tertawa, memang setelah beberapa masalah yang mereka hadapi, inilah akhir yang membuat keduanya bisa bahagia.


"Sampai ketemu di rumah." kata Dion.


"Kau hati hati sayang, kau membawa putriku." pesan Diana.


"Siap bu bos, anda juga hati hati. Pak Diman tolong jaga mami." ujar Dion.


"Siap den." jawab supir itu.


Mereka semua berpisah untuk kembali bertemu di rumah keluarga Pranadja. Sepanjang perjalanan Dion tak melepaskan genggaman tangannya bahkan ia berkali kali menatap Amora. Saat di lampu merah pun Dion selalu mengecup pipi Amora, membuat keduanya semakin bahagia.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2