Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 50


__ADS_3

Hari pernikahan kedua CEO itu akhirnya tiba, setelah mereka bisa menyelesaikan pekerjaan masing masing, tak ada satu pun masalah selama mereka menunggu hari ini. Baju pengantin yang di ambil Amor dan Diana kemarin pun tidak ada kesalahan sama sekali. Kemarin setelah mengambil baju pengantinnya, ia bersama ayahnya dan Dion sempat mengunjungi makam ibunya untuk meminta restu.


Dan disinilah ia sekarang sedang menatap wajahnya di depan cermin, ia sudah dirias oleh perias ahli sedemikian rupa sehingga membuatnya semakin cantik. Amora hanya ditemani sekertaris Dion didalam ruang rias.


"Bu Amor sangat cantik, aku sangat iri sekali." ujar Hany.


Amora tersenyum. "Apa aku seperti itu? Apa gaun ini sangat cocok?" tanyanya.


"Perfect..." jawab Hany.


"Aku sangat gugup." ujar Amora tertunduk.


"Aku ada disini sayang, mengapa kau gugup." ujar Dion seraya masuk ke ruangan.


"Pak Dion tidak boleh bertemu pengantin wanita." ujar Hany.


"Hany benar, apa yang kau lakukan disini?" ujar Amora.


"Aku merindukan istriku, apa tidak boleh. Sebentar saja, lima menit." pinta Dion.


Hany menghela nafasnya lalu keluar meninggalkan keduanya.


"Kau ini selalu saja memaksa." ujar Amora saat pintu ruang rias sudah tertutup.


Dion menatap pengantinnya dari atas sampai bawah. "Apa aku akan menikahi seorang bidadari? Mengapa kau sangat cantik Amor?" tanya Dion.


"Tanyakan pada papa dan mama ku, mereka bekerjasama agar aku lahir ke dunia." jawab Amora.


Dion tertawa. "Jawabanmu membuatku penasaran sayang, bagaimana anak kita nanti. Apa kerjasama kita berhasil membuat mereka cantik dan tampan?" goda Dion.


"Hentikan waktu lima menit mu sudah habis." kata Amora.


Dion mendekati Amora seraya memeluknya. "Biarkan aku memelukmu sebentar sayang." ujar Dion.


Amora mengangguk dan membiarkan Dion memeluknya. Tapi Hany masuk kedalam sambil berkacak pinggang, wanita itu lebih berani sekarang.


"Anda melewati lima menit waktu yang dijanjikan pak Dion, sudah saatnya anda melepaskan pengantin wanita." ujar Hany.


Dion melepaskan Amora. "Kau berani memerintah Hany." ujar Dion.


"Ini bukan kantor pak, ini di luar pekerjaan." jawab Hany membuat Amora tertawa sambil mendorong Dion.


"Sampai jumpa di Altar setengah jam lagi sayang." ujar Dion.


Amora mengangguk, tapi ia semakin gugup sekarang. Hany mendekatinya dan memegang tangannya yang dingin.

__ADS_1


"Bu Amor tenanglah, semua akan baik baik saja. Pak Dion juga sangat mencintai anda." ujar Hany.


"Aku tahu itu, tapi aku takut melangkah ke Altar. Benar benar membuatku sangat gugup." jawab Amora.


Setengah jam kemudian, pembawa acara menyampaikan acara akan segera dimulai. Hany menutup wajah Amora dengan tudungnya, dan menggandengnya menuju Altar.


"Sudah saatnya." ujar Hany dan Amora mengangguk.


Di pintu masuk Altar, ayahnya sudah menunggunya. Saat Amora sudah sampai di pintu, Hany menyerahkan mempelai wanita ke tangan Hengky. Hengky Marco menggenggam tangan putrinya yang dingin.


"Tenang sayang, mengapa kau sangat dingin." bisik Hengky.


"Amor gugup pa." jawabnya.


Hengky menenangkan putrinya dengan terus menepuk tangannya. Ia membawanya masuk ke Altar, lalu menyerahkannya ke tangan Dion. Dion menggenggam tangan Amora yang sangat dingin.


"Kau akan mendapat hukuman jika pingsan sayang." bisik Dion. Amora hanya terdiam sampai akhirnya mereka mengucapkan janji pernikahan di depan Tuhan.


Setelah keduanya sah menjadi suami istri, Dion membuka tudung kepalanya lalu mencium istrinya yang membuat para tamu undangan yang hadir ikut bahagia, sedangkan Diana tak henti hentinya mengeluarkan air matanya.


Setelah itu mereka melanjutkan acara resepsi. Acara yang sangat megah diatur oleh Diana dan para WO. Dari pemotongan kue, acara pemotretan sampai melempar buket bunga sudah mereka lakukan dengan lancar.


Para tamu tak henti hentinya mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Apa kau lelah?" tanya Dion.


Dion tersenyum. "Bersabarlah sayang, tamu kita ribuan." jawabnya.


"Ya ampun, aku sudah merindukan ranjangku." ujar Amora.


"Ranjang kita." goda Dion membuat Amora malu.


Benar kata Dion, sekarang ia harus berbagi ranjang walaupun mereka pernah sekali tidur bersama. Tapi mereka belum pernah tidur dengan arti sebenarnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Dion.


Amora menggeleng. "Tidak ada, hanya saja..."


"Aku tak akan menyakitimu sayang, aku janji akan melakukannya dengan perlahan." potong Dion menggodanya.


Amora menginjak kaki Dion agar diam. "Bukan itu yang aku pikirkan, dasar pria mesum." ujar Amora.


Gelak tawa Dion akhirnya meledak. "Tapi itulah yang aku pikirkan istriku, aku sudah tak tahan ingin melakukannya denganmu." godanya lagi.


"Diamlah tuan, atau aku akan meninggalkan pelaminan." ancam Amora.

__ADS_1


"Maka aku akan membopongmu menuju kamar hotel sekarang juga." ancam Dion balik.


Amora kalah debat lagi, ia akhirnya terdiam. Acara itu benar benar melelahkan, hingga larut malam para tamu masih saja berkunjung.


Dion menghampiri Diana. "Mi, berapa banyak undangan yang mami sebar sih?" tanyanya.


"Ada apa Dion? Mengapa kau bertanya?" tanya Diana.


"Apa kau tak melihat istriku yang hampir pingsan disana." jawab Dion.


Diana tertawa. "Ini pernikahan kalian sekali seumur hidup, tentu saja mami membuatnya semegah mungkin. Dan mengundang setidaknya 10 ribu orang." jawabnya.


Dion terbelalak. "Darimana mami mendapatkan daftar nama sebanyak itu?" tanya Dion.


"Kau meremehkan mami mu Dion, mami bergaul dengan orang hampir setengah kota ini." ujar William menghampiri mereka. "Jika Amor kelelahan, kalian bisa meninggalkan acara sekarang." sambungnya.


"Tidak boleh, kalian tetap disini sampai acara selesai." ujar Diana.


"Mi lihatlah Amor." kata Dion.


Diana melihat Amora sedang berbicara dengan ayahnya. "Amor baik baik saja Dion, kau berlebihan. Kembalilah kesana." perintah Diana sambil mendorong putranya perlahan.


Dion akhirnya mengalah dan menghampiri istrinya lagi.


"Darimana kau suamiku?" tanya Amora.


"Berbicara pada papi dan mami, meminta izin agar bisa meninggalkan acara ini." jawab Dion datar.


Amora malah tertawa. "Aku tak mau meninggalkan acara ini sayang, ini acara kita." katanya.


"Aku takut kau lelah dan sakit Amor." ujar Dion kesal.


"Kau terlalu khawatir, aku baik baik saja. Sebentar lagi acara ini akan berakhir sayang, kau bersabarlah." jawab Amora.


Dion akhirnya mengangguk. Acara mereka terus berlanjut hingga larut malam. Tentu saja semuanya akan merasa kelelahan. Tapi Amora dan Dion terus tersenyum agar para tamu undangan tak kecewa.


Setelah larut malam, akhirnya acara pun selesai. Diana dan William kembali ke rumahnya begitu juga dengan Hengky Marco. Sedangkan pengantin tetap berada di Novotel, karena ruang kamar rahasia Dion sudah dihias sedemikian rupa untuk malam pengantin mereka.


Setelah keduanya berpisah dengan keluarga, Dion membawa Amora ke kamar itu, Amora mengikutinya dan terkejut saat melihat hiasan di kamar itu. Kamar yang dipenuhi mawar merah dan bunga bunga yang lain, serta lilin lilin menghiasi disekelilingnya. Inilah yang disebut surga dunia bagi Amora.


Dion memperhatikan raut wajah istrinya yang bahagia lalu memeluknya dari belakang.


*****


Apakah malam pengantin mereka akan dilakukan di Novotel. Nantikan episode episode terakhir untuk kalian.

__ADS_1


Happy Reading All...😘


Dukung, like, n komen terus ya...


__ADS_2