Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 36


__ADS_3

Dion Pranadja memulai pekerjaannya lagi sebagai CEO yang sudah sebulan lebih ia tinggalkan, keadaan kantor dan karyawannya tetap tidak berubah, mereka masih merasa takut dan tegang saat Dion kembali. Dion pun tak berubah, ia tetap menginginkan hotelnya bersih tanpa ada setitik noda pun. Kesempurnaan memang paling utama baginya. Tiba tiba ia merindukan kekasihnya, Dion tak tahu apakah Amora bisa dihubungi atau ia sangat sibuk.


"Pak Dion, meeting kedua anda setelah makan siang." ujar Hany.


"Baiklah, sekarang aku akan keluar sampai jam makan siang. Jika ada yang mencariku, serahkan pada pak Haryo." ujar Dion.


"Baik pak." jawab Hany. "Salam buat bu Amora." sambungnya.


Dion menghentikan langkahnya. "Bagaimana kau bisa tahu aku akan mengunjunginya?" tanyanya.


Hany tersenyum. "Ada tulisan di dahi pak Dion." candanya.


Dion tertawa. "Kau bisa saja." jawabnya.


Ini untuk pertama kali Dion bisa bercanda dengan sekertarisnya, walaupun Hany sedikit takut tapi akhirnya ia lebih santai saat pak Dion menanggapinya dengan santai.


Dion berangkat menuju hotel Sheraton, ia tahu jika sekarang Amora berada di restoran. Ia akan makan siang disana sekalian ingin bertemu karena ia cepat sekali merindukan Amora. Satu jam kemudian, ia sampai di hotel tersebut. Ternyata karyawan disana mengetahui jika Dion adalah calon suami CEO mereka. Semuanya menyambutnya dengan keramahan.


"Selamat pagi menjelang siang pak, apakah anda ingin bertemu pak Hengky atau bu Amora?" tanya manager hotel.


"Aku tak ada janji, jadi bisakah aku bertemu CEO atau chef kalian?" tanya Dion.


"Tentu saja, mari aku antar." jawab manager hotel itu seraya mengantarkan Dion sampai restoran. "Selamat menikmati makan siang anda." sambungnya lalu meninggalkan Dion.


Dion hanya mengangguk, di restoran ia disambut pelayan dan dibawa ke ruang VIP.


"Silahkan anda tunggu disini." ujar pelayan tersebut.


Dion kembali mengangguk dan menunggu di ruangan itu. Beberapa menit kemudian, sosok yang ia rindukan menghampirinya.


"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda pak Dion Pranadja." sapa Amora sambil tersenyum.


Dion menarik Amora kedalam pelukannya. "Jangan lakukan itu lagi nona Amora, jika kau menyapaku seperti itu, aku akan melucuti bajumu disini." godanya.


Amora membalas pelukan kekasihnya. "Kau tak mungkin berani melakukan itu sayang." jawabnya.


"Jadi kau menantangku?" tanya Dion.


Amora menggeleng. "Ada apa kau kemari, membuat heboh seisi hotelku." tanyanya.


"Aku merindukan kekasihku yang meninggalkanku pagi sekali. Sungguh kejam kau buat aku sarapan sendirian." jawab Dion sambil cemberut.

__ADS_1


Amora tertawa. "Aku benar benar terburu buru Dion, klien ku dari Hongkong. Meeting sangat pagi karena ia akan kembali ke negaranya." ujarnya.


"Baiklah aku terima alasanmu, aku lapar sekarang. Bisakah aku menikmati menu utama hotel ini." ujar Dion.


Amora mengangguk. "Dengan senang hati kami siap melayani anda." jawabnya.


"Tapi aku juga butuh chef hotel ini untuk menemaniku makan siang." kata Dion.


"Siap bos, aku akan menyampaikan pada chef nya." candanya seraya meninggalkan Dion.


Beberapa menit kemudian, Amora dan beberapa pelayan menghidangkan menu utama makan siang pada Dion. Lalu Amora ikut duduk di samping kekasihnya. Pelayan meninggalkan mereka.


"Untuk makan siang hari ini karena anda meminta menu utama dan chef menemani anda, maka bayarannya 2 kali lipat." canda Amora.


"10 kali lipat pun akan aku bayar." jawab Dion angkuh.


Amora tertawa. "Makanlah, coba menu baruku." pintanya.


Dion mulai mencicipi dan mengangguk anggukkan kepalanya. "Chef Amor, bisakah anda menjadi chef pribadiku?" tanya Dion.


"Tergantung seberapa besar kau bisa membayarku." jawab Amora.


"Itu sangat menarik tuan, dan aku sangat setuju." jawab Amora.


Dion tertawa dan mencium kening Amora. "Aku sangat bahagia sekarang, kebahagiaanku saat ini tak akan bisa aku tukarkan dengan apapun Amor." ujar Dion.


"Aku juga sangat bahagia Dion, kau selalu membuat hariku penuh warna. Aku tak ingin kehilangan waktuku bersamamu kembali seperti sebulan kemarin." jawab Amora.


"Aku tak akan menyia-nyiakan waktu ku bersamamu lagi Amor, aku janji padamu." ujar Dion lagi. "Aku akan mempercepat lamaranku lusa, jadi bersiaplah sayang." sambungnya.


"Hei, bukankah kau bilang seminggu lagi. Papa juga belum kembali dari Bandung." ujar Amora.


Dion menggeleng. "Aku tak ingin membuang waktu lagi, aku ingin terus bersamamu. Jadi lusa aku akan datang bersama mami dan papi, 2 minggu setelah itu kita akan menikah. Dan aku akan meminta ayahmu kembali." jawabnya.


"Itu terlalu terburu buru sayang, persiapan harus benar benar matang, aku tak ingin pernikahanku yang hanya sekali dalam seumur hidupku akan mengecewakan." kata Amora.


"Serahkan semuanya padaku, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Kita akan adakan resepsi di hotelku. Apa kau setuju?" tanya Dion.


Amora mengangguk. "Hotelmu yang terbaik Dion, aku sangat setuju mengadakan resepsi disana." jawabnya.


"Baiklah, semuanya beres. Dan bulan madu kita sudah aku atur juga, kita akan ke Australia lalu ke Jepang. Bagaimana?" tanya Dion lagi.

__ADS_1


"Kapan kau menyiapkan semuanya Dion, aku pikir itu semua butuh waktu." jawab Amora.


"Aku memikirkannya sepanjang hari sayang, adakah negara yang kau inginkan untuk bulan madu kita?" tanya Dion.


Amora menggeleng. "Australia dan Jepang itu tempat yang indah, tapi aku harus melihat jadwal pekerjaanku dulu. Kita bisa bulan madu jika sama sama tak ada pekerjaan." jawabnya.


Dion mengangguk. "Tentu saja sayang, aku akan menunggu kabar darimu. Kalau aku bisa menyerahkan pekerjaanku pada pak Haryo, ia orang kepercayaanku dan tentu saja papi akan menanganinya juga." ujarnya.


"Dan papa juga akan menangani pekerjaan Sheraton grup jika kau berbulan madu Amor, kau tak perlu khawatir." ujar Hengky tiba tiba masuk.


"Papa, kapan papa kembali dan mendengarkan pembicaraan kami?" tanya Amora terkejut.


"Papa baru kembali dari Bandung. Papa mendengarkan kalian, saat kalian berbicara soal bulan madu, papa juga ingin menemui Dion. Kebetulan sekali hari ini kedatangannya membuat heboh seisi hotel sampai ke telinga papa." jawab Hengky.


"Selamat siang pak, maaf kedatanganku mengganggu." ujar Dion seraya menjabat tangan Hengky.


"Santailah Dion, aku hanya ingin membicarakan soal kerjasama kita. Ada kendala sedikit pada lokasi yang akan kita bangun saat ini. Masyarakat meminta menghentikan bangunan karena pembebasan lahan yang belum selesai." ujar Hengky.


"Apakah lahan yang ada pada bagian utara?" tanya Dion.


Hengky mengangguk. "Lahan itu ternyata milik Steven, kita akan sulit menghadapi pria muda itu mengingat apa yang telah kita lakukan padanya." jawabnya.


Sialan... pikir Dion.


"Temui aku di kantor setelah kau dan Amor makan siang, kalian berdua harus menyelesaikan ini." sambung Hengky.


"Baik pak, aku akan menemui anda." jawab Dion dan Amora ikut mengangguk.


"Baru saja aku bisa bernafas lega Amor, Steven memang sangat sulit kita tangani. Tapi kau tak perlu ikut campur sayang, aku takut ia akan menyakitimu lagi. Dan aku tak ingin kau jatuh ke tangannya." ujar Dion.


"Selesaikanlah makan siangmu Dion, aku tak akan mungkin berpaling pada pria itu. Sekalipun ancamannya nyawa. Aku hanya menginginkanmu." jawab Amora.


Dion menggenggam tangan Amora, ia sangat bahagia mendengarnya. "Aku mencintaimu Amor." ujarnya.


"Tentu saja aku juga mencintaimu." jawab Amora.


Keduanya menyelesaikan makan siang mereka sebelum melakukan pertemuan dengan Hengky. Pekerjaan dan masalah pribadi harus diselesaikan secara terpisah. Mereka berharap bisa menanganinya sebelum acara pernikahan mereka.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2