
Dion mengikuti Amora, belum sampai balkon ia menarik Amora kedalam pelukannya seraya mencium bibirnya dengan sangat lembut. Amora hampir kehabisan nafas saat Dion tak mau berhenti menciumnya.
"Ini hukuman buatmu karena sangat cantik malam ini." ujar Dion.
Amora mengatur nafasnya. "Apa salahku jika aku cantik?" tanyanya.
Dion kembali menarik lehernya dan menciumnya lagi tanpa henti, Dion beralih ke leher Amora yang terbuka karena gaunnya. Bahkan Dion terus mengecupinya sampai ke dada yang terbuka itu, membuat nafas Amora tercekat.
"Dion hentikan, mereka masih dibawah." ujar Amora.
"Aku menginginkanmu Amor, kau membuatku gila." jawab Dion. Ia kembali ke bibir Amora dan menggigitnya. Namun Dion akhirnya menghentikannya. "Aku mencintaimu sayang." ujarnya seraya memeluk Amora.
Amora membalas pelukan Dion. "Aku juga mencintaimu Dion." jawabnya. "Jadi kau menatapku tadi karena ini." tanya Amora.
"Aku hampir melompati meja makan karena ingin menciummu sayang, seandainya orang tua kita tak ada." jawab Dion.
"Kau gila jika melakukan itu." ujar Amora.
"Aku memang sudah gila, bagaimana kau bisa berdandan seperti ini. Tanpa make up pun kau membuatku gila." jawab Dion. Dion memeluk Amora dari belakang sambil menikmati pemandangan diatas balkon. "Malam yang sangat indah, apa kau bahagia?" tanya Dion.
Amora mengangguk. "Aku sangat bahagia sayang. Terima kasih atas segalanya. Kau adalah kebahagiaan utamaku sekarang." jawabnya.
Dion mencium leher belakang Amora membuatnya bergidik. Dion tahu kelemahan hasrat Amora, ia menciuminya sampai di belakang telinganya.
"Jika aku melanjutkannya, mungkin aku akan melepaskan gaunmu disini sayang." bisik Dion.
Amora menggeleng. "Bersabarlah sampai malam indah kita sayang. Mereka masih menunggu kita dibawah." jawabnya.
Dion membalikkan tubuh Amora lalu menciumnya lagi. Setelah ia puas, ia merapihkan riasan Amora kembali. Dan mengecup keningnya. "Terima kasih untuk malam ini sayang." ujar Dion.
Amora mengangguk. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Ayo kita turun." ajaknya.
Dion mengangguk dan mengikuti Amora kembali ke ruang tamu.
"Kalian sudah selesai?" tanya William. Dion mengangguk. "Baiklah pak Marco, malam semakin larut, kami tak akan mengambil waktu istirahat anda lebih lama. Kami pamit kembali, sampai jumpa di acara pernikahan putra putri kita." sambungnya sambil berdiri.
Hengky ikut berdiri lalu menjabat tangan mereka. "Terima kasih atas kunjungan kalian, sampai berjumpa 2 minggu kedepan. Berhati hatilah dijalan, Dion jaga orang tuamu." pesan Hengky.
Dion mengangguk. "Pasti om." jawabnya.
"Mulai sekarang panggil aku papa, seperti Amora memanggil orang tuamu." pinta Hengky.
__ADS_1
Tentu saja Dion sangat senang mendengarnya. "Baik pa." jawab Dion.
Diana memeluk Amora. "Datanglah ke rumah sayang, mami merindukanmu." pintanya.
Amora mengangguk. "Tentu, aku pasti akan mengunjungi mami." jawabnya.
Hengky dan Amora mengantar mereka sampai ke mobilnya. Amora tersenyum saat menatap kekasihnya. Dion membalas senyuman itu lalu mendekatkan dirinya pada telinga Amora.
"Mimpi indah sayang." bisik Dion lalu mengecup pipinya.
Amora terbelalak karena Dion berani mengecupnya di depan ayah dan orang tuanya. Tapi mereka semua sepertinya tidak memperhatikannya. Dion dan keluarganya akhirnya pulang meninggalkan rumahnya.
*****
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Hengky saat sudah berada di dalam rumahnya.
"Amor sudah lega, tapi 2 minggu lagi aku akan lebih gugup dari ini." jawab Amora.
Hengky tersenyum dan menggenggam tangan putrinya. "Papa sangat senang dengan keberanian Dion. Dan uang mahar itu sangat besar Amor, papa tak bisa menolaknya." ujarnya.
"Dion tak suka ditolak pa, sebelumnya ia ingin memberi lebih dari itu. Tapi Amora menolaknya, ternyata ia tetap memberi sebesar itu. Dan uang itu tak boleh digunakan untuk acara pernikahan kami, ia mengatakan uang itu hanya untukku. Ia mengatur semuanya, apa papa membutuhkan uang itu. Papa bisa menggunakannya." tanya Amora.
Hengky tertawa. "Apa kau merendahkan ekonomi papa?" tanyanya balik.
"Gunakanlah uang itu buat cucu cucu papa nanti, walaupun papa tahu kalian akan berkecukupan." ujar Hengky.
Amora mengangguk. "Papa istirahat sekarang, ini sudah sangat larut." pinta Amora.
Hengky mengangguk. "Kau juga sayang beristirahatlah. Oh ya, tadi Dion sempat mengatakan kepada papa kalau besok ia akan bertemu adik Steven. Jadi ia ingin kau tak keluar rumah untuk bekerja, ia takut Steven mengikuti Stenly dan kembali menyakitimu." ujarnya.
"Kenapa Dion tak mengatakannya padaku?" tanya Amora kesal.
"Ia hanya takut kau khawatir sayang." jawab Hengky.
"Selamat malam pa." ujar Amora.
"Selamat malam sayang." jawab Hengky.
Amora masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Tadi saat kami berdua, mengapa Dion tak mengatakan padaku jika ia akan bertemu Stenly. Ia hanya khawatir padaku, apa ia tak memikirkan dirinya sendiri. Jika sampai Stenly dan Steven menyakitinya bagaimana? pikir Amora.
__ADS_1
Ia menatap layar ponselnya, belum ada kabar dari kekasihnya jika mereka sudah sampai. Amora akan menunggu Dion menghubunginya dan menanyakan tentang semuanya. Ia mengambil buku novel kesukaannya dan mulai membacanya sambil menunggu kabar dari Dion. Dan setelah satu jam, akhirnya Dion mengirim pesan.
Aku dan orang tuaku sudah sampai sayang, selamat malam.
Amora ingin penjelasan, jadi ia menghubungi Dion.
"Mengapa kau menelponku?" tanya Dion. "Apa masih merindukan calon suamimu ini?" tanyanya lagi.
"Bukan karena itu aku menghubungimu. Tapi ini soal Stenly." jawab Amora.
"Papa mu sudah memberitahumu?" tanya Dion.
"Benar, kenapa kau merahasiakannya denganku?" tanya Amora.
"Tidak sayang, aku memberitahu papa agar ia yang menyampaikannya padamu. Aku hanya tak ingin melihat wajah khawatirmu." jawab Dion.
"Apa kau tak memikirkan dirimu sendiri? Bagaimana jika ia bekerja sama dengan Steven untuk menyakitimu. Apa yang harus aku lakukan?" ujar Amora kesal.
Dion justru tertawa mendengarnya. "Sayang, aku bukan pria bodoh. Aku calon suamimu yang cerdas, aku dan Stenly akan bertemu di hotelku. Bagaimana ia bisa menyakitiku?" ujarnya.
"Ya Tuhan, kau anggap kekhawatiranku ini sebuah lelucon Dion." kata Amora semakin kesal.
"Emuach... Maaf sayang. Aku akan menjaga diriku. Dan aku bersama pak Haryo. Aku janji akan menghubungimu setelah semuanya beres. Yang jelas besok kau tak boleh keluar rumah." perintah Dion.
"Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu. Tapi cepat kabari aku, aku tak ingin khawatir sepanjang hari. Jam berapa kalian akan bertemu?" tanya Amora.
"Jika tak ada halangan, mungkin saat makan siang." jawab Dion.
"Kau yakin akan menyelesaikan ini." ujar Amora masih khawatir.
"Aku sangat yakin Amor, pembebasan lahan dan juga Steven tak akan mengganggu kita lagi. Aku janji akan seperti itu hasilnya." ujar Dion meyakinkan Amora.
"Aku percaya padamu, kau berisitirahatlah. Mimpi indah sayang, dah." kata Amora.
"Mimpi indah juga sayang, selamat malam." jawab Dion seraya mematikan ponselnya.
Amora sedikit lega karena setidaknya Stenly akan menemui Dion di Novotel bersama pak Haryo. Ia merebahkan tubuhnya diranjang dan mulai memejamkan matanya. Amora tertidur dengan sangat lelap. 2 minggu lagi ia akan menjadi istri dari Dion Pranadja.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung, like n komen ya...