
Dua hari sudah Amora tinggal bersama keluarga Pranadja, ia beruntung karena kekasihnya tak lepas kendali walaupun mereka sering berciuman di malam hari. Bahkan Dion tidur bersamanya di malam kedua sambil memeluknya. Pengendalian diri Dion sangatlah kuat, walaupun Amora sering kali menggodanya dan selalu mendapat hukuman dengan menciumnya.
Hari ini adalah hari terakhir Amora tinggal disana, Hengky Marco juga akan kembali dari Surabaya sore nanti.
"Mami masih ingin kau tinggal disini Amor." ujar Diana saat mereka sarapan.
"Maaf mi, Amor harus kembali. Amor takut papa marah karena meninggalkan rumah terlalu lama." jawab Amora.
"Amor benar mi, Dion takut papa nya akan marah dan membatalkan pernikahan kita." sambung Dion.
"Omong kosong, pak Marco tak mungkin melakukan itu. Dua hari lagi kita ke butik untuk melihat gaun pengantin. Dion jangan lupa menjemput Amor." perintah Diana.
Dion mengangguk. "Pasti." jawabnya.
"Sudah jangan banyak mengobrol, nikmati sarapan kalian." pinta William.
Semuanya mengangguk dan mulai menikmati sarapan mereka dengan tenang.
Sudah saatnya Amora kembali dan bekerja. Amora pamit pada William dan Diana, Diana memeluknya. Dan akhirnya melepaskan Amora dengan enggan.
"Pak Jojo hati hati membawa calon pengantin." ujar Diana.
"Baik nyonya." jawan pak Jojo sambil membukakan pintu mobil buat Dion dan Amora.
"Sampai jumpa lusa mi. Terima kasih sudah menjaga Amor selama 2 hari ini." ujar Amora.
Diana mengangguk, begitu juga dengan William. Mereka akhirnya berpisah pagi itu.
*****
"Tak bisakah kau beristirahat di rumah sampai hari pernikahan kita Amor." ujar Dion.
"Banyak sekali pekerjaan sayang, aku harus menyelesaikannya sebelum kita menikah." jawab Amora.
Dion sangat kesal mendengarnya, jadi sepanjang perjalanan menuju rumah Amora, ia hanya diam saja.
"Apa kau marah?" tanya Amora.
"Apa aku memiliki hak untuk marah?" tanya Dion balik.
"Sayang, izinkan aku mengurus pekerjaanku sampai besok. Setelah itu aku janji akan beristirahat di rumah." ujar Amora.
__ADS_1
"Terserah padamu saja, aku tak bisa melakukan apapun." jawab Dion datar.
Amora menghela nafasnya. "Baiklah hari ini saja, please." ujarnya memohon.
Dion menyuruh pak Jojo menepikan mobilnya. "Pak Jojo aku ingin bicara pada Amor." ujarnya.
Pak Jojo mengangguk dan keluar dari mobil. Dion menatap Amora. "Kau tahu mengapa aku marah, aku mengkhawatirkan kesehatanmu sayang, bagaimana jika kau sakit karena lelah bekerja? Itu semua akan merusak rencana pernikahan kita." kata Dion.
"Aku berhenti menjadi chef, aku hanya menyelesaikan beberapa dokumen saja. Aku janji tidak akan lelah." jawab Amora.
"Apa kita akan terus seperti ini setelah menikah?" tanya Dion.
"Apa maksudmu?" tanya Amora tak mengerti maksud dari kekasihnya.
"Aku sibuk bekerja dan kau juga sibuk bekerja. Apa kau yakin akan membangun rumah tangga kita seperti ini?" ujar Dion.
"Mengapa kau tiba tiba seperti ini Dion, kau kan tahu aku adalah CEO Sheraton grup. Aku satu satunya pewaris perusahaan dan hotel. Bagaimana bisa kau menanyakan hal seperti ini. Tentu saja kau dan aku sama sama akan bekerja, tapi aku tak akan lupa sebagai istrimu." jawab Amora.
Dion memanggil pak Jojo lagi, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Amora, ia sama sekali tak mengatakan satu kata pun setelah perdebatan mereka. Setelah Dion sampai mengantarkan Amora, ia hanya membawakan barang kekasihnya sampai pintu rumah.
"Dion, maaf." ujar Amora.
"Lebih baik kita tidak bertemu dulu Amor, kau hati hati dijalan jika ingin ke kantor." ujar Dion seraya meninggalkan Amora.
"Non apa kabar?" tanya si mbok.
"Baik mbok, maaf Amor meninggalkan mbok sendiri." jawab Amora.
"Tidak apa apa non, kan non Amor ke tempat calon mertua. Bagaimana persiapannya non, apa butuh bantuan mbok?" tanya mbok Iyem.
Amora menggeleng. "Semuanya sudah selesai mbok, keluarga Pranadja mengatur semuanya." jawab Amora lagi. "Aku ganti baju dulu lalu berangkat ke kantor ya mbok." sambungnya.
"Non sudah sarapan?" tanya mbok Iyem. Amora mengangguk seraya masuk ke kamarnya.
*****
Hari semakin siang, Dion masih saja dalam mood yang buruk. Hampir semua karyawan menjauhi CEO nya itu. Bahkan pak Haryo dan sekertarisnya pun, tak mengganggu Dion.
Aku tahu konsekuensinya akan seperti ini, tapi entah kenapa semakin mendekati hari pernikahan, aku semakin takut kehilangan komunikasi dengan Amora. Itu akan memperburuk rumah tangga kami. pikir Dion.
Dion terus menatap papan namanya yang bertulis CEO di atas mejanya.
__ADS_1
Aku lebih suka kau menjadi chef Amor, aku tak berharap kau adalah pewaris Sheraton grup. pikir Dion lagi.
Suara telp kantornya berdering, itu sambungan dari sekertarisnya.
"Ada apa Hany?" tanya Dion.
"Pak Marco menghubungi anda, ia bilang ponsel anda tidak diangkat pak." ujar Hany.
"Sambungkan." jawab Dion.
Hany menyambungkannya pada Dion. "Halo pa, apa sudah kembali?" tanya Dion.
"Halo Dion, aku menghubungimu karena tidak bisa kembali hari ini, kemungkinan lusa aku baru bisa kembali. Pekerjaanku belum selesai disini, bisakah kau membantu Amora mengurus pekerjaannya, aku takut ia kelelahan. Aku tahu disana banyak karyawan dan para pemegang saham, tapi aku tak bisa percaya mereka." ujar Hengky
"Amora baru saja kembali ke rumah tadi pagi pa, dan soal pekerjaan bagaimana aku bisa ikut campur?" tanya Dion.
"Kau akan menjadi menantuku dan suami Amora, tentu saja aku sudah memberimu wewenang itu." jawab Hengky.
"Apa papa akan menyuruh Amor bekerja sampai hari pernikahan, aku hanya takut ia sakit karena lelah dan stress pa." ujar Dion.
"Mau bagaimana lagi Dion, papa benar benar belum bisa kembali sekarang. Tolong bantu Amor." pinta Hengky.
Dion menghela nafasnya, ini yang tidak ia inginkan. Tapi sepertinya ayah mertuanya benar benar harus menyelesaikan pekerjaan di Surabaya. "Baiklah pa, jangan khawatir. Aku akan membantu Amor sebisa mungkin." jawab Dion.
"Terima kasih banyak Dion, maaf papa sudah mengganggu waktumu." ujar Hengky.
"Tak apa apa pa." jawab Dion dan Hengky menutup telp nya.
Dion mengambil ponselnya, disana ada panggilan tak terjawab 3 kali dari ayah mertuanya. Ia harus menghubungi Amora walaupun ia masih kesal dengan wanita itu. Dan ternyata ia semakin kesal saat panggilannya diabaikan berkali kali.
Benar benar wanita yang sangat sibuk, bukankah ini waktunya ia makan siang. Mengapa ia tak mengangkat panggilanku. gumam Dion.
Dion mengambil jasnya dan segera keluar dari kantor menuju perusahaan Amora.
"Pak Jojo, ke perusahaan Amor." perintah Dion.
"Baik den." jawab pak Jojo seraya membawa Dion ke perusahaan Sheraton grup.
*****
Apakah mereka akan berdebat lagi...?
__ADS_1
Happy Reading All...😘
Dukung, Like n Komen terus ya...