Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 13


__ADS_3

Amora sampai di Novotel dan segera menuju restoran membuat pak Joni terbelalak kebingungan.


"Loh, bukannya tadi pagi kau meminta izin?" tanya pak Joni.


Amora tertawa. "Maafkan aku pak Joni, setelah beberapa menit aku merubah pikiranku. Aku tak suka berdiam diri di rumah, jadi aku memutuskan berangkat." jawabnya.


"Ya Tuhan, apa kau yakin sudah sehat? Aku tak ingin kau pingsan disini." ujar pak Joni.


Amora kembali tertawa. "Aku tak pernah pingsan pak, dimana Dori dan yang lain?" tanya Amora.


Kali ini pak Joni yang tertawa. "Kau lihatlah jam berapa chef? Ini masih terlalu pagi untuk mereka datang." jawabnya.


Amora melihat jam tangannya, ternyata ia lebih cepat setengah jam. "Ya Tuhan, aku kepagian. Baiklah aku memulai sendiri saja." ujarnya.


Pak Joni mengangguk dan membiarkan Amora bekerja di dapur. Setengah jam kemudian para karyawan restoran satu per saru datang, mereka sangat senang melihat kehadiran chef Amor.


"Chef Amor, anda sudah baikan?" tanya Dori.


"Tentu saja, aku ada disini." jawab Amora.


"Aku pikir hari ini akan kehilangan chef Amor." ujar Dori.


"Nyaris saja." jawab Amora datar.


"Maksudmu chef?" tanya Dori penasaran.


"Tadi pagi aku sempat izin dengan pak Joni, tapi detik selanjutnya aku malah masuk." jawab Amora sambil tertawa.


Dori tak menanyakan lagi kelanjutannya, ia mulai membantu chef Amor meracik bumbu dan masakan lainnya.


*****


Dion sampai di hotelnya, seperti biasa ia disambut oleh karyawan hotel. Tapi ada yang berbeda pada Dion hari ini, ia tak memperdulikan keadaan hotel. Ia langsung menuju kantornya diikuti oleh pak Haryo.


"Apakah anda sudah sarapan?" tanya pak Haryo.


Dion menggeleng. "Aku sedang tidak nafsu makan." jawabnya.


"Aku akan meminta chef Amor mengantarkan makanan anda, hari ini kita ada rapat penting dengan pejabat yang akan menggunakan hotel kita untuk pelantikannya." ujar pak Haryo.

__ADS_1


"Tidak perlu, jangan sebut namanya lagi di depanku pak Haryo. Hany bawa dokumen rapat hari ini." teriak Dion.


Pak Haryo sangat bingung, CEO nya sangat tidak baik hari ini.


Ada apa dengan chef Amor? Bukankah pak Dion selalu bersemangat jika menyangkut chef cantik itu? pikir pak Haryo.


Tapi ia tak perlu banyak tanya, setelah menyelesaikan tugasnya. Pak Haryo pamit keluar dari ruangan CEO. Dion hanya mengangguk tanpa memalingkan sedikitpun dari dokumen yang ia baca.


*****


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Amora merasa ada yang aneh dengan CEO nya, sejak kedatangannya tadi pagi Dion tak sarapan maupun makan siang.


Apa ia masih marah padaku karena tadi pagi? Tapi salahku dimana? Aku tak menipunya. pikir Amora.


Ia izin pada pak Joni untuk keluar sebentar, hari ini adalah pertemuan pertamanya dengan ayah Gracia. Entah apa yang diinginkan pria itu. Cafe yang berada di depan Novotel sangatlah mewah. Cafe tersebut memang kebanyakan kalangan menengah ke atas yang datang. Amora duduk di salah satu meja sambil menunggu kedatangan pria yang sama sekali tak pernah ia temui.


Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian rapi menghampirinya.


"Apakah anda chef Amor?" tanya pria itu.


"Benar aku chef Amor." jawab Amora.


"Aku Darwin ayah Gracia. Senang bertemu dengan chef cantik seperti anda." ujarnya.


Amora membalas uluran tangannya. "Ada perlu apa anda menyuruhku menemui anda dengan ancaman?" tanya Amora, ia tak ingin berbasa basi.


Darwin duduk dihadapan Amora. "Kau terlalu terburu buru chef, sebaiknya kita makan siang dulu." ujarnya.


"Maafkan atas kelancanganku pak Darwin, tapi aku menemui anda bukan untuk makan siang. Aku tak berada dalam mood baik untuk melakukannya dengan pria yang baru saja aku kenal." jawab Amora.


Darwin tertawa. "Aku sangat menyukai wanita sepertimu chef Amor. Kau ramah tapi juga ketus." ujarnya.


Amora berdiri. "Jika tak ada yang penting, lebih baik aku kembali bekerja." ujar Amora kesal.


Namun Darwin menahan tangannya. "Tunggu sebentar cantik, aku memiliki penawaran yang bagus untukmu, duduklah." pintanya.


"Apa aku sedang melakukan tawar menawar pak?" tanya Amora.


"Oh ayolah, ini bagus untukmu." jawab Darwin.

__ADS_1


Amora akhirnya mengalah dan duduk lagi dihadapan pria itu. "Katakan pak Darwin, aku masih bekerja. Waktu istirahatku hanya tinggal setengah jam." ujar Amora.


"Baiklah, kau tahu kan jika putriku Grace adalah tunangan CEO mu?" tanya Darwin dan Amora mengangguk. "Putriku merasa terganggu dengan kehadiranmu chef, yah setelah aku bertemu denganmu wajar saja jika ia takut. Aku tak akan mengganggumu lagi asal kau mau meninggalkan Novotel. Datanglah ke hotelku sebagai chefku dan juga aku tertarik padamu. Aku bisa menjadi pria yang kau andalkan." ujar Darwin lalu tiba tiba ia menggenggam tangan Amora. Membuat Amora terkejut.


Amora menarik tangannya. "Anda sudah tidak sopan, aku hanya seorang chef bukan wanita yang bisa kau tawar. Aku tak akan menganggu hubungan putri anda. Dan aku tak menyukai pria yang seumuran dengan ayahku." ujarnya.


Darwin tiba tiba marah dan menarik tangan Amora. "Lepaskan aku tuan Darwin, atau aku akan berteriak." bentak Amora.


"Lakukanlah, maka kau akan merasakan akibatnya." ancam Darwin.


Amora berusaha melepaskan tangannya, ia mulai kesakitan. Tapi tiba tiba suara seorang pria mengagetkannya.


"Lepaskan chef Amor pak Darwin." bentak Dion seraya menarik Amora. "Kau tak menjaga harkat dan martabatmu, bagaimana kau bisa memperlakukan seorang wanita yang seumuran dengan putrimu seperti ini." tanya Dion geram.


Darwin melepaskan Amora seraya tertawa. "Kebetulan sekali anda disini. Aku hanya bercanda dengan chef anda. Ya kan chef Amor." tanyanya.


"Kau pria brengsek yang pernah aku temui." bentak Amora.


Darwin terbelalak. "Kau kurang ajar, Novotel itu juga seperempat milikku. Aku bisa memecatmu." teriak Darwin.


"Kau tidak berhak memecat karyawan hotelku pak Darwin. Walaupun kita sedang bekerjasama bukan berarti kau bisa mencampuri urusan karyawan karyawanku." ujar Dion. "Kembalilah ke hotel chef Amor." perintah Dion.


Amora mengangguk dan meninggalkan cafe tersebut.


"Apa maksud ucapanmu tadi Dion?" tanya Darwin.


"Kau akan menjadi menantuku, dan kita sedang melakukan kerjasama." ujar Darwin.


"Aku memutuskan untuk tidak menjadi menantumu lagi pak Darwin. Aku tak mencintai putri anda, dan tuntutlah hotelku jika kau tidak terima dengan keputusanku." ujar Dion seraya meninggalkan cafe.


"Sialan kau, beraninya kau menghinaku. Kau akan merasakan akibat dari penghinaanmu ini Dion Pranadja." teriak Darwin namun tak dihiraukan lagi oleh Dion.


Dion mengejar Amora yang baru sampai di lobi hotel. Ia menarik Amora ke kantornya. "Diam, ikutlah denganku." bentak Dion sebelum Amora semakin memberontak.


Amora mengikuti CEO nya, bahkan hampir seluruh karyawan menatapnya begitu juga pak Haryo dan Hany saat Dion menarik tangan Amora.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2