
Keesokan harinya Amora sudah bersiap siap berangkat bekerja, tapi ternyata ayahnya masih di rumah. Ia bingung bagaimana caranya keluar dari rumah, ia akan terlambat menuju Novotel. Amora pelan pelan menuruni tangga menuju pintu depan.
"Mau kemana kau mengendap endap seperti pencuri di pagi buta seperti ini Amor." suara Hengky mengagetkan Amora.
"Ah... Aku hanya ingin berolahraga." jawab Amora tergagap.
"Bukankah papa sudah menyediakan alat fitnes lengkap disini." ujar Hengky.
"Aku ingin cari udara segar pa, papa cerewet sekali." jawab Amora.
"Papa tidak ingin kau keluyuran diluaran Amor. Kau harus di rumah menjaga nama baik papa." kata Hengky lagi.
"Ya Tuhan, papa egois sekali. Amora juga butuh keluar dari rumah. Papa kira Amora tahanan." jawab Amora kesal.
Hengky menghela nafasnya, percuma saja ia berdebat. Putrinya pasti akan menangis lagi. "Jangan jauh jauh, papa akan pulang makan siang di rumah, sudah lama papa tak makan siang denganmu. Papa ingin mencoba masakanmu Amor." ujar Hengky seraya meninggalkan Amora ke ruang makan.
Sedangkan Amora masih terkejut, bagaimana ia bisa pulang tepat waktu.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Papa sepertinya sudah curiga. Apa aku harus izin hari ini? Ya, lebih baik aku izin saja pada pak Joni. Aku tak ingin mengambil resiko ketahuan oleh papa. pikir Amora.
Amora menghubungi pak Joni, dan syukurlah pak Joni mengizinkannya agar beristirahat. Amora keluar dari rumahnya, ia berlari di seputaran kompleks. Lalu seketika terbelalak saat atasannya Dion Pranadja berdiri di samping mobilnya dan tentu saja menatap Amora dengan sangat tajam.
Amora berbalik ingin melarikan diri, tapi ia terlambat Dion sudah menarik tangannya dengan kasar dan mendorongnya kedalam mobil.
"Mau kemana pak, hentikan mobilnya. Aku mohon." pinta Amora.
Dion mengerem mobilnya lalu menatapnya tajam. "Apa tak ada yang mau kau jelaskan?" tanyanya dingin.
"Bagian mana yang harus aku jelaskan?" tanya Amora balik.
"Kau telah membohongiku tentang dimana kau tinggal, apa tujuanmu hah?" bentak Dion.
"Kapan aku membohongimu? Kapan aku mengatakan dimana tempat tinggalku?" teriak Amora.
Dion memukul setir berkali kali membuat Amora sangat takut. "Kau diantar dijemput di gang itu yang jauh dari komplek ini, apa itu bukan kebohongan." teriak Dion. "Kau punya maksud lain kan masuk kedalam hotelku." tuduhnya.
"Kau gila." teriak Amora seraya membuka pintu mobilnya, namun tangannya kembali ditahan Dion.
__ADS_1
"Aku belum selesai Amor. Aku butuh penjelasan." bentak Dion.
"Lepaskan tanganku pak, kau menyakitiku." ujar Amora.
Dion melepaskan tangan Amora namun ia segera mengunci pintu mobilnya. Terjadi keheningan beberapa saat.
"Aku hanya ingin menjadi chef, apa itu salah?" tanya Amora.
"Itu tidak salah, tapi aku hanya bingung mengapa kau membohongiku. Pertama kali kau ku antar, kau turun di gang itu. Kau juga sering dijemput pak Jojo dan aku, tapi kau berada di tempat yang sama. Apa maksudmu?" jawab Dion
"Apa ada masalah jika aku tak ingin kalian tahu alamatku? Aku hanya senang berangkat dan kembali dari sana." jawab Amora.
Dion tertawa sinis. "Kau carilah alasan yang lebih masuk akal Amor." ujarnya.
"Itu urusanku, kau tak berhak mencampuri urusanku, aku hanya ingin bekerja menjadi chef dengan baik. Dan pak Dion tak ada hubungan apapun denganku, anda hanya atasanku di tempatku bekerja." bentak Amora.
"Keluarlah..." bentak Dion, Amora kebingungan dengan sikap dingin Dion. "Cepat keluar." teriaknya lagi.
Amora segera turun dari mobilnya. Dion menancap gasnya dengan sangat kencang membuat ia menggelengkan kepalanya. Amora segera kembali ke rumahnya, ia tak ingin ayahnya mengetahui kejadian ini.
*****
"Dion, ada apa sayang." ujar Diana. "Buka pintunya, mami ingin bicara." sambung Diana.
Dion keluar dari kamarnya sudah lengkap dengan baju kudanya. "Dion akan berkuda." jawabnya.
"Tunggu Dion, mami yakin ada yang terjadi. Katakan pada mami ada apa?" tanya Diana.
"Tidak apa apa mami, Dion sedang ingin bertemu Samon." jawab Dion.
"Ini bukan jadwalmu berkuda Dion, mami tahu itu." ujar Diana.
Dion mencium pipi ibunya lalu meninggalkannya begitu saja. Diana hanya menghela nafasnya, putranya sedang ada masalah tapi belum siap menceritakannya. Diana hanya mengangkat bahunya. Untung saja suaminya belum bangun.
Dion terus memacu kudanya mengelilingi lapangan tempatnya berlatih seperti biasa sambil mengingat ingat perkataan Amora.
Itu urusanku, kau tak berhak mencampuri urusanku, aku hanya ingin bekerja menjadi chef dengan baik. Dan pak Dion tak ada hubungan apapun denganku, anda hanya atasanku di tempatku bekerja.
__ADS_1
Perkataan Amora sangat menyakiti hatinya, selama ini Amora sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya. Wajah Dion semakin berkeringat, ia terus memacu Samon dengan kecepatan yang tinggi.
"Den Dion, jangan buat Samon kelelahan. Kuda anda dalam keadaan kurang baik hari ini." ujar pak Yudi penjaga Samon.
Dion memperlambat pacunya, lalu berhenti tepat di depan istal. Dion memeluk kudanya.
"Maafkan aku Samon, aku sudah jahat padamu. Tolong urus Samon pak Yudi." perintah Dion.
Pak Yudi mengangguk. "Baik den, pasti." jawabnya.
Dion meninggalkan tempat pacunya dan kembali ke rumahnya dengan keringat yang penuh pada sekujur tubuhnya.
*****
Amora kembali ke rumah dan sarapan bersama ayahnya, pria itu terus memperhatikan putrinya.
"Setelah beberapa tahun, baru kali ini kita sarapan bersama." ujar Hengky.
"Itu karena papa sangat sibuk dan melupakanku." jawab Amora.
"Baiklah papa memang salah, tapi papa melakukan semua ini untukmu Amor. Papa ingin perusahaan kita tetap berada di puncak agar kau tak kecewa pada papa saat papa menyerahkannya padamu." ujar Hengky lagi.
Amora tak ingin berdebat lagi, jadi ia hanya mengangguk. "Papa ingin makan apa nanti siang?" tanya Amora.
"Maafkan papa sayang, tadi pak Beno mengatakan papa harus menemui klien siang ini jadi sepertinya papa tak bisa kembali." jawab Hengky.
Amora terbelalak, ia sudah izin dan sekarang ayahnya mengingkari janjinya. Amora menghela nafasnya seraya berdiri. "Baiklah, papa hati hati." ujarnya lalu meninggalkan ayahnya menuju kamarnya.
Amora merebahkan tubuhnya di ranjang, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Lalu ia terduduk dengan tiba tiba dan teringat janjinya untuk bertemu dengan ayahnya Gracia.
Ya Tuhan, aku hampir melupakan pertemuan itu. Apa yang akan dikatakan pria itu saat bertemu denganku? Aku tak suka diancam. Aku Amora Cerry tak suka diatur, apalagi jika menyangkut soal hubungan putrinya dengan Dion. Ya ampun aku bisa gila kalau seperti ini. pikirnya kesal.
Masih ada waktu menuju Novotel, ia mengganti bajunya karena sudah terkena keringat, lalu turun kebawah dan melihat keadaan. Ayahnya sudah berangkat, jadi ia bisa menyelinap keluar. Kali ini Amora menggunakan salah satu mobilnya agar segera sampai ke Novotel. Sudah tak ada lagi yang bisa disembunyikannya, mengingat Dion sudah tahu semuanya.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1