Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 38


__ADS_3

Dua hari kemudian, keluarga Pranadja datang mengunjungi kediaman keluarga Marco dengan niat perkenalan keluarga sekaligus melamar Amora. Malam yang membuat Amora berdebar, sehingga ia tak berani keluar dari kamarnya setelah menyiapkan makan malam. Makan malam spesial yang ia buat bersama pelayannya.


Hengky mengetuk pintu kamar putrinya. "Amor, keluarlah. Kita harus menyambut kedatangan keluarga Pranadja." ujarnya.


Amora membuka pintu kamarnya. "Papa, aku takut." jawabnya.


Hengky tertawa. "Hei, bukankah kau sudah dekat dengan orang tua Dion? Mengapa kau takut?" tanyanya.


"Ini berbeda pa, mereka berkunjung pertama kalinya dan... Ya Tuhan, aku bisa gila kalau seperti ini." jawab Amora.


Hengky menarik tangan putrinya yang dingin. "Tenanglah Amor, papa bersamamu sayang. Dan kau tak perlu takut, mereka datang dengan niat baik. Yang seharusnya takut itu papa karena sebentar lagi akan menyerahkan putri kesayangan papa pada keluarga lain." ujarnya.


Amora menatap ayahnya yang terlihat sedih. "Papa jangan khawatir, walaupun Amor nanti akan menikah. Amor akan tetap tinggal bersama papa bersama Dion. Amor tak mungkin meninggalkan papa sendirian." ujarnya.


Hengky menggeleng. "Mana mungkin papa mengizinkan kalian tinggal disini. Papa sudah menyiapkan rumah besar buat kalian berdua. Papa sudah membeli salah satu perumahan elit di Citra Garden." jawabnya.


Amora terbelalak. "Bagaimana papa bisa melakukan itu? Kapan papa membelinya? Aku tak ingin meninggalkan papa sendirian." ujar Amora kesal.


Hengky justru tertawa. "Papa tak mengirimmu jauh sayang, kau dan Dion bisa berkunjung kapan saja kemari, dan papa memiliki pelayan yang akan mengurus papa. Dengarkan papa Amor, kalian berdua harus membangun rumah tangga kalian tanpa memikirkan orang lain." kata Hengky.


"Bagaimana papa bisa dibilang orang lain? Papa satu satunya keluarga yang Amor punya." jawab Amora sedih lalu memeluk ayahnya.


"Jangan menangis sayang, riasanmu akan rusak saat keluarga Pranadja sampai. Rumah kita ini dan rumahmu nanti hanya berjarak satu jam. Papa akan mengatakan apapun padamu jika papa membutuhkanmu. Dan cepatlah memiliki momongan, agar papa bisa bermain dengan cucu papa disini." pinta Hengky.


Amora mengangguk seraya menghapus air matanya. "Amor akan memberikan cucu yang banyak untuk menjaga papa, terima kasih papa." jawabnya.


Hengky mengangguk. "Papa hanya bisa memberikan rumah itu untuk hadiah pernikahanmu nanti."


"Itu sudah lebih dari cukup pa, kau selalu memikirkan Amor. Amor sangat menyayangi papa." ujarnya seraya memeluk ayahnya lagi.


Suara ketukan pintu mengejutkan mereka, Hengky dan Amora saling berpandangan lalu tersenyum.


"Sudah saatnya menyambut mereka, tersenyumlah." perintah Hengky.

__ADS_1


Amora tersenyum dan mengikuti ayahnya ke ruang tamu untuk membuka pintu. Amora hari ini memakai gaun yang sangat indah dan cantik, penampilannya sangat mempesona untuk menyambut keluarga Pranadja. Hengky membuka pintu dan disanalah keluarga Pranadja berdiri dengan senyuman yang sangat bahagia.


Dion sangat tampan seperti biasanya, tapi tatapan matanya tak bisa berpaling dari kekasihnya yang sangat cantik.


"Selamat datang di rumah kami. Ayo silahkan masuk." ujar Hengky sambil menjabat tangan mereka.


"Terima kasih pak Marco." jawab William seraya ketiganya mengikuti Hengky ke ruang tamu.


Dion mendekati Amora saat melewatinya. "Kau sangat cantik sayang, jika saja tidak ada orang tua kita maka aku akan mencumbumu disini." bisiknya membuat wajah Amora memerah mendengar godaan itu.


"Silahkan duduk." pinta Hengky.


Mereka semua duduk dan saling berhadap hadapan. Diana tersenyum menatap Amora. "Kau sangat cantik sayang." ujarnya.


"Terima kasih mi, mami juga sangat cantik." jawab Amora.


"Tapi mami sudah tua." jawab Diana membuat mereka semua tertawa dan memecahkan ketegangan.


"Dan aku juga sama, hanya pernah melihat anda di majalah bisnis." jawab Hengky seraya keduanya tertawa.


William berdeham agar lebih serius. "Mungkin tujuan kedatangan kami, anda sudah mengetahuinya. Namun kami akan menjelaskannya kembali, kami sebagai orang tua Dion bermaksud untuk meminang putri cantik anda untuk putra kami." ujarnya. "Ini adalah Diana istriku sekaligus ibu dari Dion. Dan tentu saja ini putra kami satu satunya yang ingin menikahi putri anda." sambungnya.


Hengky mengangguk. "Aku sudah mengetahui tujuan kalian, namun penjelasan anda barusan menguatkan tujuannya. Terima kasih telah memilih putriku satu satunya ini. Jika keduanya sudah menyetujuinya, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung niat baik mereka. Aku menerima kedatangan kalian dengan senang hati. Dan tentu saja, aku percaya dan yakin bisa menyerahkan putriku pada Dion." jawabnya.


"Syukurlah, jika anda sudah menyetujuinya. Putra kami tidak ingin mengadakan upacara pertunangan, ia memaksa kami menyiapkan pernikahan sesegera mungkin karena alasan putri anda terlalu cantik." canda William.


Suasana kembali mencair. "Aku terkadang memang sulit menjaganya, banyak sekali pria yang berusaha mendekatiku karena putriku ini." jawab Hengky sambil tertawa.


"Papa..." ujar Amora.


"Papa mu benar Amor, aku takut kau akan direbut pria lain. Jika sampai mereka menggodamu, maka aku akan membunuh mereka semua." goda Dion.


"Aku tak ingin menikahi seorang pembunuh." jawab Amora membuat tawa mereka kembali meledak.

__ADS_1


"Mungkin ini terkesan terburu buru, tapi putra kami ingin menikahi putri anda 2 minggu kedepan, apakah anda keberatan?" tanya William.


Hengky menggelengkan kepalanya. "Aku menyetujuinya, semakin cepat semakin baik. Sepertinya kita tak perlu menunggu lama lagi, karena aku pun mengharapkan cucu segera." jawabnya.


"Papa..." ujar Amora lagi.


"Dan pikiran anda sama dengan kami." ujar William.


Suasana pertemuan mereka lebih santai dengan candaan candaan mereka.


"Baiklah, kita tentukan tanggalnya sekarang." ujar Dion.


Mereka menentukan tanggal pernikahan dan Dion juga menjelaskan soal acara mereka. Untunglah Hengky menyetujui semua yang disampaikan Dion tanpa menolak apapun. Dion juga menyerahkan cek sebesar 100 Miliar sebagai maharnya. Walaupun itu terlalu besar, tapi Dion tak suka ditolak.


"Kalian tak perlu menyiapkan apapun, karena semuanya sudah aku atur. Aku hanya meminta anda menjaga Amor agar tidak lari saat waktunya tiba." goda Dion.


"Aku akan mengikatnya di rumah, dan membawa ke Altar saat tiba waktunya." jawab Hengky.


"Aku bukan peliharaan kalian." ujar Amora.


"Mami akan menjaga Amor untukmu Dion." ujar Diana sambil tersenyum.


"Dan tentu saja aku akan menyerahkan pengawasan putriku pada anda bu Diana." ujar Hengky lagi.


Mereka kembali tertawa. "Baiklah, sudah saatnya kita makan malam. Dan ini adalah masakan chef Amor yang terkenal itu." goda Hengky membuat Amora malu.


Mereka semua menuju ruang makan, dimana sudah disiapkan hidangan hidangan lezat yang dibuat Amora. Diana dan William tak henti hentinya memuji masakan Amora membuat ia semakin malu. Bahkan keduanya sering memanggilnya menantu. Tapi lain halnya dengan Dion, tatapan matanya tertuju pada Amora tanpa mengatakan apapun. Tatapan itu disadari Amora, ia bertanya pada Dion dengan bahasa isyarat matanya tapi Dion hanya menatapnya semakin tajam.


Keluarga Marco dan Pranadja menikmati makan malam mereka sampai selesai. Orang tua Dion dibawa kembali ke ruang tamu, sedangkan Dion dan Amora diberi waktu berbicara. Amora membawa Dion ke lantai 2, ia mengajak kekasihnya ke balkon rumahnya.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2