Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 41


__ADS_3

Stenly sampai di kantor Dion, keduanya saling berjabat tangan.


"Bagaimana kabarmu tuan Stenly?" tanya Dion.


"Tentu saja aku sehat, bagaimana dengan anda?" tanya Stenly balik.


"Seperti yang kau lihat, aku pun baik baik saja." jawab Dion. "Maaf aku memaksamu datang kemari, aku hanya ingin semua ini cepat selesai." sambungnya.


"Tak apa apa tuan Dion. Ini adalah kesalahan kakakku, jadi aku harus menyelesaikannya." jawab Stenly.


Hany dan pak Haryo masuk, tapi Hany hanya membawakan minuman lalu keluar lagi.


"Perkenalkan ini pak Haryo asistenku, jadi keberadaannya sangat dibutuhkan mengingat semua bukti yang aku punya didapat dari pak Haryo." ujar Dion.


Pak Haryo menjabat tangan Stenly.


"Silahkan anda jelaskan seperti apa keinginan anda tuan Dion." ujar Stenly.


"Sebenarnya aku tak ingin berurusan lagi dengan Steven, tapi sepertinya kakak anda tak mau berhenti menggangguku dan tunanganku. Setelah kejadian penculikan itu, Steven mengunjungi Amora di hotelnya, dan mulai memaksa kekasihku untuk menjadi istrinya. Semua bukti ada disini." kata Dion seraya menyerahkan dokumen pada Stenly. "Saat itu aku kebetulan baru pulang dari Singapura, dan sangat tepat mengusir kakakmu. Tapi setelah itu, ia tak mau berhenti. Steven justru membayar penduduk untuk menandatangani surat somasi atas penolakan pembangunan tempat rekreasi kami. Pembebasan lahan yang ada di utara sangat sulit, setelah kami selidiki ternyata itu adalah lahan milik Steven. Padahal sebelumnya lahan itu sudah kami beli, namun ternyata kami mendapat kendala karena lahan dibeli kembali sampai 10 kali lipat harganya. Tentu saja kami kalah, yang sangat aku sesalkan adalah perbuatan kakakmu yang membayar penduduk disana untuk menolak pembangunan rekreasi kami." sambungnya.


"Steven tak menerima penolakan, selama ini wanita manapun yang ia inginkan pasti ia dapatkan, tapi karena tunangan anda menolaknya. Itu yang membuatnya semakin resah dan penasaran. Maaf atas ketidaknyamanan anda, tapi kalau soal lahan aku sama sekali tak tahu apa apa." jawab Stenly.


"Aku menghormatimu karena pernah menolongku dan Amor. Maka dari itu aku tak langsung menghancurkan Steven. Aku memanggilmu kemari agar kau membantuku membujuk kakakmu berhenti mengganggu kami dan juga bisnis kami. Aku bisa saja langsung menghancurkan Steven dengan ini." kata Dion dan menyerahkan dokumen kedua.


Stenly melihat dokumen itu dan terbelalak. "Bagaimana kau bisa mendapatkan ini semua?" tanyanya.


Dion tertawa. "Itulah gunanya pak Haryo, aku sangat mudah mendapatkan apapun jika seseorang mulai mengganggu hidup dan bisnisku. 2 minggu lagi aku akan menikah, aku hanya ingin semuanya cepat selesai, dan aku serahkan padamu tuan Stenly."


Wajah Stenly sedikit kesal. "Aku sangat benci melakukan ini lagi dan lagi. Aku sudah sering menutupi kejahatan kakakku agar reputasinya dan keluarga kami tetap aman. Tapi kali ini ia kembali seperti ini, jika papi sampai tahu mungkin papi akan mati mendadak. Bagaimana kak Steven bisa menghamili wanita lagi dan membuangnya?" ujar Stenly tak percaya.


"Lagi? Artinya Steven sudah memiliki beberapa anak dari wanita yang berbeda. Sungguh pengusaha yang luar biasa hebat. Bukankah di kota kalian, ia sangat terkenal baik. Jadi bagaimana bisa kalian melakukan itu untuk menutupi kejahatannya." bentak Dion.


Stenly hanya duduk terdiam, ia tak tahu harus bicara apa lagi.

__ADS_1


"Dengar tuan Stenly, kejahatan yang Steven lakukan itu akibat dari perbuatan kalian. Karena ia selalu bebas tanpa ada hukum yang berani menyentuhnya, ia selalu mengulangi kesalahan yang sama. Aku sarankan pada keluarga kalian untuk menghentikan Steven segera mungkin, agar tidak menambah korban lain lagi. Dan aku ingin kau segera menyelesaikan masalahku itu." sambung Dion.


Suara ponselnya berbunyi, ada pesan masuk. Ternyata itu dari Amora. Dion membuka pesannya.


Sayang, aku bosan.


Dion tersenyum membacanya lalu kembali fokus pada Stenly.


"Aku juga memiliki bukti rekaman pembicaraan Steven dengan wanita itu saat kakakmu meminta menggugurkan kandungannya, dan ada beberapa bukti cctv dimana kakakmu bermain di hotel dengan beberapa wanita berbeda. Semuanya ada disini." ujar Dion seraya menyerahkan flashdisk pada Stenly.


Sayang, jika dalam waktu 30 menit kau belum selesai. Aku akan memaksa keluar.


Pesan kedua dari Amora yang masuk di ponsel Dion.


"Aku tak akan menunggu waktu lama, hanya dalam hitungan menit saja, aku bisa menghancurkan Steven. Tapi aku akan memberimu kesempatan untuk menyelesaikannya sampai minggu depan. Jika kau tak bisa melakukannya, maka aku terpaksa bertindak dengan caraku sendiri." ancam Dion.


Stenly mengangguk. "Terima kasih kau mempertimbangkannya, aku akan memberi anda kabar segera. Selain pembebasan lahan, aku juga akan memastikan kakakku tak akan mengganggu kalian lagi. Aku masih dalam perjalanan bisnis, maka aku akan pamit sekarang." ujarnya. "Berkas dan dokumen ini aku bawa untuk membuktikannya." sambungnya.


Stenly berdiri dan menjabat tangan Dion dan pak Haryo, lalu ia keluar meninggalkan kantor Dion.


"Kalau dilihat dari wajahnya, ini adalah pukulan terberat buat mereka." ujar Dion pada pak Haryo.


"Anda benar pak, sepertinya semua bukti yang kita dapatkan akan membuahkan hasil yang baik." jawab pak Haryo.


"Pernikahanku dan Amor hanya 2 minggu lagi, aku tak ingin terganggu dengan masalah Steven. Aku harap Stenly bisa memberi kabar baik, jika tidak sebarkan pada media dan langsung laporkan pada kejaksaan. Polisi tak bisa bertindak karena ia bukan orang biasa. Hanya kejaksaan dan media yang bisa menanganinya." kata Dion.


Pak Haryo mengangguk. "Aku berharap juga seperti itu pak, tapi aku yakin anda akan memenangkan permainan ini." ujarnya.


"Terima kasih pak Haryo, kau bisa melanjutkan pekerjaan lagi. Dan aku juga ingin melanjutkan pekerjaan pribadiku. Katakan pada Hany agar tak ada yang mengganggu sampai aku dan Amor keluar." perintah Dion.


Pak Haryo kembali mengangguk dan meninggalkan ruang kerja Dion.


*****

__ADS_1


Dion masuk ke ruang rahasianya, kekasihnya yang tidak sabaran hampir mengganggu konsentrasinya saat bicara pada Stenly. Ia harus memberi hukuman pada Amora. Saat ia melangkah kedalam, ternyata ia menemukan Amora tertidur dengan lelapnya. Dion menatap wajah cantik itu dan mendekatinya.


Dion menarik selimut untuk menutupi tubuh Amora, ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Maafkan aku sayang membuatmu bosan selama 2 jam. Ini aku lakukan agar masalah kita cepat selesai." ujar Dion seraya mengecup kening Amora.


Dion tak ingin mengganggu kekasihnya, jadi ia perlahan keluar meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya.


Dion melanjutkan pekerjaannya dan memanggil Hany. Hany masuk kedalam kantornya.


"Ada yang bisa aku bantu pak?" tanya Hany.


"Amor tertidur, jadi aku akan melanjutkan pekerjaan. Dimana dokumen yang harus aku tanda tangani?" tanya Dion.


Hany segera keluar dan mengambil setidaknya 10 dokumen dan menyerahkannya pada Dion.


"Sebanyak ini?" tanya Dion.


"Maaf pak, aku baru menyerahkannya sekarang. Setelah pak Dion kembali bekerja lagi. Pak Presdir melarangku untuk memberikan banyak pekerjaan pada anda. Ia dan bu Presdir masih mengkhawatirkan kesehatan anda." jawab Hany.


Dion tertawa, kedua orang tuanya memang sangat menyayanginya. Tapi ia sebentar lagi akan menikah, mengapa keduanya masih memperlakukannya seperti anak anak.


"Baiklah, kau boleh keluar." ujar Dion.


"Sebenarnya masih ada banyak yang harus anda selesaikan, tapi..."


"Bawa kemari semuanya Hany, aku tak ingin menunda pekerjaan lagi. Aku sudah baik baik saja." potong Dion.


Hany mengangguk dan keluar dari kantor Dion untuk menyiapkan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan CEO nya.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2