
Akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga besar Pranadja. Dion membawa Amora masuk ke rumahnya sebelum menemui Dimor.
"Duduk sebentar disini sayang, dimana mami?" tanya Dion. Lalu ia masuk kedalam. "Mi..." teriaknya.
"Sebentar Dion, mami sedang ganti baju." jawab Diana.
Dion tertawa menunjukkan deretan giginya yang putih pada Amora.
"Kau terlalu cerewet." ujar Amora.
"Bukan cerewet, aku takut mami lupa jika menantunya ada disini." jawab Dion.
"Itu tak mungkin, mengingat mami belum tua. Kau pikir mami sudah pikun." kata Amora.
Dion tertawa sambil merangkul pundaknya.
"Apa papi mengganggu?" tanya William.
Amora bangun dan mencium punggung tangan William. "Apa kabar pi?" tanya Amora.
"Papi sangat baik Amor, bagaimana denganmu?" tanya William.
"Aku juga baik pi." jawab Amora.
"Apa kau berdiet? Mengapa tubuhmu lebih langsing?" tanya William lagi.
Dion tertawa. "Papi sangat perhatian pada menantunya." ujarnya.
"Tentu saja, papi akan memiliki putri setelah bertahun tahun menghadapi putra papi yang keras kepala." jawab William.
Amora terkekeh mendengar perdebatan keduanya.
"Wah sangat seru sekali, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Diana.
"Rahasia." jawab William dan Dion bersamaan membuat Amora tertawa.
"Semenit yang lalu keduanya berdebat mi, sekarang mereka kompak." ujar Amora.
"Begitulah ayah dan anak, tapi kau harus tahu Amor, sebelum kami mengenalmu Dion dan ayahnya tak dekat." ujar Diana.
"Mami malah buka rahasia." ujar Dion.
"Tentu saja, Amor akan menjadi putri mami. Rahasia apapun tentangmu akan mami beritahu." jawab Diana.
"Baiklah aku kalah lagi, sebelum semakin sore. Dion pamit bawa Amor menemui Dimor." kata Dion.
William dan Diana mengangguk. "Jangan menunggangi kuda di siang bolong seperti ini Dion. Kalian harus terus sehat sampai hari pernikahan kalian." pesan Diana.
"Siap bu Presdir." jawab Dion seraya membawa Amora menuju istal tak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Amora dibawa ke halaman rumah bagian belakang yang begitu luas. Ternyata keluarga Pranadja memiliki istal yang sangat luas dan beberapa kuda ada disana.
Dion membawa Amora ke sisi istal, disana terlihat ada gundukan tanah lumayan besar. Dion tersenyum padanya.
"Aku akan mengenalkanmu pada kuda kesayanganku Samon." ujar Dion.
Amora terbelalak. "Jadi ini kuburan Samon." kata Amora.
Dion mengangguk, disana ternyata ada beberapa foto saat Dion menungganginya. Kuda yang sangat gagah ditunggangi oleh pria yang sangat tampan.
Amora melihat foto itu. "Sangat cantik." ujarnya.
"Tampan sayang, Samon itu jantan." ujar Dion.
Amora tertawa. "Itu maksudku tuan." jawabnya. "Hanya saja jika aku mengatakan Samon tampan, lalu bagaimana aku harus memuji pria yang duduk dipunggungnya." sambungnya.
Dion tersenyum. "Tentu saja pria itu keren." jawabnya.
"Ciiihh...sungguh percaya diri." ujar Amora. "Berapa lama kau bersama Samon?" tanya Amora.
"Sejak aku berusia 8 tahun." jawab Dion.
"Itu lama sekali, pasti kau sangat sedih." kata Amora.
Dion mengangguk. "Untung saja aku bisa mendapatkanmu kembali, jadi kesedihanku itu berubah menjadi kebahagiaan." jawab Dion.
"Apa kau yakin aku bisa membuatmu bahagia?" tanya Amora.
Amora mengikuti Dion menuju istal khusus. Disana sudah ada penjaga istal.
"Siang den dan nona." sapa pak Yudi.
"Siang juga pak Yudi. Amor, ini pak Yudi penjaga istal dan kuda kuda disini. Pak Yudi, inilah Amor yang sering aku ceritakan." ujar Dion.
"Halo pak." sapa Amora.
"Ck.ck.ck... Den Dion pintar sekali mencari calon. Ini sih bidadari den." ujar pak Yudi.
Dion tertawa sedangkan Amora tersipu malu. "Bidadari ini hanya milikku pak, beruntung kan aku mendapatkannya." kata Dion.
"Sangat beruntung den, cantik sekali sangat pantas bersama den Dion." jawab pak Yudi.
"Kalian malah terus menggodaku, dimana Dimor?" tanya Amora mengalihkan pembicaraan.
Pak Yudi membuka pintu kandang dan mengeluarkan kuda besar dan sangat jantan hampir sama dengan Samon.
"Inilah Dimor sayang, Dimor apa kabar? Ini nyonya Dion. Kau harus mengenalnya, Amor kemari sentuh wajahnya." pinta Dion.
Amora ragu mendekatinya, karena ini pertama kalinya ia berdekatan dengan kuda. Melihat keraguan Amora, Dion langsung menariknya.
__ADS_1
"Jangan takut sayang, Dimor tak akan melukaimu." ujar Dion.
Amora mengulurkan tangannya dan mulai menyentuh wajah Dimor, awalnya kuda itu merasa tak nyaman, tapi perlahan ia mulai tenang saat Amora menyentuhnya dengan lembut. Mata kuda itu berkedip kedip dan mulai nyaman dengan Amora.
"Dimor, jangan genit. Nyonya Dion milikku." ujar Dion membuat pak Yudi dan Amora tertawa.
"Kau cemburu hanya dengan seekor kuda, sepertinya kau mulai tidak sehat tuan Dion." ejek Amora.
"Aku akan marah pada siapapun yang menatapmu dengan genit sayang, walaupun itu hanya seekor semut." jawab Dion.
Tentu saja perkataannya membuat gelak tawa pak Yudi, bahkan Dimor pun sepertinya ikut menertawakannya.
"Non Amor, tuan Dion memberi nama kuda barunya ini karena menggabungkan nama non Amor dan den Dion." ujar pak Yudi.
"Sudah kuduga pak, ia sepertinya mulai terobsesi padaku." ejek Amora.
"Itu bukan obsesi sayang, tapi cinta. Kau harus bedakan itu." kata Dion.
"Oke baiklah tuan yang mencintaiku, hari semakin sore. Aku terlalu lama meninggalkan Sheraton. Saatnya kita kembali." pinta Amora.
Dion mengangguk. "Lain kali saat ada waktu yang tepat, kita menunggangi Dimor. Pak Yudi kami kembali sekarang, terima kasih sudah menjaga Dimor dan yang lainnya." ujar Dion.
"Tentu saja den, senang berkenalan denganmu non Amor." ujar pak Yudi.
"Aku juga sangat senang pak. Sampai ketemu lagi." jawab Amora.
Dion mengajak Amora kembali ke rumahnya. Disana masih ada kedua orang tua Dion menunggu mereka.
"Sini sayang." ujar Diana pada Amora.
"Mi, bolehkah aku pamit sekarang. Aku terlalu lama meninggalkan pekerjaanku, aku takut papa sibuk sendiri." ujar Amora.
"Apa tak bisa kau sampai malam disini?" tanya Diana.
"Mami, Amor bukan wanita pengangguran. Saat ia libur, aku akan mengajaknya kemari lagi." jawab Dion dan Amora menganggukkan kepalanya meyakinkan Diana.
"Dion benar mi, biarkan Amor dan Dion kembali bekerja hari ini." ujar William.
Diana menghela nafasnya. "Baiklah satu lawan tiga tentu saja aku kalah." ujarnya membuat semuanya tertawa.
Amora akhirnya berpamitan pada calon mertuanya untuk kembali bekerja.
"Dion juga akan pulang larut, jadi kalian tak perlu menungguku pulang." ujar Dion.
William dan Diana mengangguk. "Hati hati dijalan nak, jangan ngebut ngebut." ujar Diana seraya memeluk Amora.
Dion dan Amora memasuki mobil dan berangkat bekerja seperti biasanya. Amora merasakan kehangatan dari keluarga Pranadja. Ia sangat bahagia bisa mendapatkan keluarga baru yang juga menyayanginya seperti ayahnya sendiri. Ibunya di surga pasti sangat bahagia sekarang melihatnya bersama Dion.
Amora menatap kekasihnya lalu merebahkan kepalanya di pundak Dion. Seperti biasa mereka diantar pak Jojo. Jadi mereka bisa bermesraan di dalam mobil. Dion terus menggenggam tangannya sedangkan sebelah tangannya terus mengelus rambut Amora. Pak Jojo menatap keduanya lewat kaca mobil lalu tersenyum. Pak Jojo pun ikut merasakan kebahagiaan keduanya.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘