Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 40


__ADS_3

Keesokan harinya, saatnya Dion menyelesaikan masalah dengan Steven. Ia tak ingin pernikahannya dengan Amora akan membawa masalah. Ia ingin tenang dan tentu saja bahagia bersama Amora. Untuk menghargai jasa Stenly, ia sengaja menyelesaikan masalah ini dengannya terlebih dahulu. Jika memang adik Steven tak bisa bertindak, maka Dion terpaksa bertindak sendiri.


Siang ini, Dion sudah menunggu kedatangan Stenly. Ia tak makan siang di luar, ia menyuruh Dori mengantarkan makanannya ke kantornya. Ketukan pintu kantornya membuyarkan lamunannya.


"Masuk Dori, letakkan saja makanannya di meja." ujar Dion tanpa mengangkat kepalanya dari berkas yang ia baca.


"Apa anda memerlukan yang lain?" tanya Amora.


Dion seketika mengangkat kepalanya dan terkejut mendengar suara kekasihnya. Dion menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, aku benar benar tak bisa jauh dari Amor, sampai Dori pun aku anggap Amor." gumamnya.


Amora tertawa seraya mendekati Dion. "Aku memang Amor sayang, kau kira Dori berubah menjadi aku." ujarnya.


Dion mengerjapkan matanya. "Amor..." ucapnya seraya memeluk kekasihnya. "Apa yang kau lakukan disini sayang? Dengan siapa kau kemari?" tanyanya.


"Aku tak tahan berada di rumah, karena penasaran aku menghubungi pak Jojo untuk menjemputku." jawab Amora.


"Hem...kau sangat nakal Amor. Jika Steven mengawasimu dan menculikmu lagi bagaimana? Dan mengapa kau bisa membawa makanan ini kemari?" tanya Dion lagi.


"Aku tahu kau pasti akan marah jika aku kemari sendirian, makanya aku menghubungi pak Jojo. Dan seperti yang kau lihat aku sampai disini dengan selamat. Soal makanan ini, aku bertemu Dori saat akan mengantarkannya. Apa kau ingin makan masakanku?" tanya Amora.


Dion menggeleng. "Kau calon istriku sekarang, jadi tak perlu merepotkanmu." jawabnya.


"Tapi aku akan menjadi istri yang siap melayani makanmu sayang." kata Amora.


Dion menarik Amora hingga jatuh dipangkuannya. "Aku tak akan menyuruhmu memasak, aku tak ingin kau lelah. Aku hanya ingin kau menjadi ibu dari anak anakku nanti." jawab Dion.


"Hentikan, ini kantormu. Jika ada yang melihat bagaimana?" bisik Amora.


Dion menarik pipi Amora dan mencium bibirnya sekilas. "Aku tak perduli." jawabnya.


"Makanlah sebelum Stenly sampai." pinta Amora.


"Temani aku makan, aku tahu kau juga belum makan siang. Setelah itu masuklah ke ruang rahasiaku. Aku tak ingin kau bertemu Stenly, aku tak ingin ia menatapmu." perintah Dion dan Amora mengangguk.

__ADS_1


Keduanya makan siang bersama. "Hem, ini enak. Dori semakin pintar menjadi chef." ujar Amora.


"Itu karena master chef Amor yang mengajarinya." jawab Dion.


Amora tertawa dan melanjutkan makannya. Keduanya menyelesaikan makan siangnya, Amora membereskan meja namun Dion menggeleng.


"Aku akan menghubungi pelayan restoran, kau masuklah kedalam." ujar Dion seraya mendorong pintu rahasia yang rata dengan dinding kantornya.


Ini pertama kali Amora masuk ke ruang istirahat itu, ia menatap dalamnya dan terbelalak. Ruang itu ternyata menghubungkannya dengan kamar hotel. Sangat mewah dan berkelas. Dion tersenyum melihat wajah Amora.


"Apa kau menyukainya?" tanya Dion.


"Ini luar biasa sayang, bagaimana kau bisa mendesain kamar dan kantormu?" tanya Amora.


"Sejak awal pembangunan Novotel. Karena aku sangat menyukai kebersihan, aku melakukannya agar tak ada orang lain yang bisa menyentuhnya. Aku yang membersihkannya sendiri saat pekerjaanku sudah selesai, dan ini pertama kalinya orang lain melihat kamar rahasiaku. Tentu saja itu dirimu Amor. Segalanya ada disini, jadi kau tak perlu keluar dari kamar ini sampai aku menyelesaikannya dengan Stenly." jawab Dion.


Dion menarik Amora menuju ranjang besar itu. "Apa malam pertama kita bisa dilakukan disini sebelum bulan madu?" tanya Dion.


Amora mengangguk. "Resepsi kita disini, jadi aku akan bersamamu disini juga." jawabnya. "Dan untuk malam pertama, aku tak berpengalaman sayang. Jadi apapun yang kau inginkan, aku akan mengikutinya." sambungnya namun wajahnya memerah karena malu.


"Ya Tuhan, aku tak tahan menunggu lagi Amor." ujar Dion dengan suara parau. "Tapi ini tidak benar." sambungnya seraya bangun.


Dion menatap kekasihnya yang masih mengatur nafasnya. Ia membangunkan Amora dan memeluknya. "Salahmu menjadi wanita cantik, maafkan aku sayang." ujarnya.


Amora membalas pelukannya. "Aku tak bisa menolak yang kau lakukan Dion, aku merasa menjadi wanita nakal." jawabnya.


Dion menatap Amora dan melihat bekas ciumannya di leher Amora. Dion menyentuh tanda merah itu.


"Aku sampai melakukan ini, jika saja Stenly tidak akan datang, mungkin aku akan meneruskannya dan menjadikan hari ini menjadi malam pertama kita. Maaf aku tak terkendali." ujar Dion lagi.


Amora menggeleng. "Aku juga mungkin akan melakukan kesalahan, tapi karena kau berhenti tunggulah 2 minggu lagi."


Dion tertawa lalu menghela nafasnya. "Baiklah nyonya Dion Pranadja, beristirahatlah disini. Ingat, jangan keluar sampai aku menemuimu lagi. Kalau kau memaksa, maka akan aku hukum kau malam ini." ancam Dion.

__ADS_1


"Siap tuan, aku akan menjadi wanita penurut." jawab Amora.


Dion mengecup kening Amora seraya meninggalkannya.


*****


Sudah setengah jam Dion meninggalkannya di kamar rahasia itu, Amora masih menatap lehernya di cermin. Ia terus menyentuh tanda merah itu.


Bagaimana aku bisa lupa diri jika Dion menyentuhku? Aku berubah menjadi orang lain, jika Dion menciumku. Aku tak bisa menolak sentuhannya, dan ini banyak sekali. Bagaimana jika papa sampai tahu? Aku harus menutupinya dengan bedak. gumam Amora.


Amora mengambil bedak dalam tasnya, ia mulai mengolesi bekas bekas merah itu sampai tertutup. Amora berharap tanda merahnya bisa hilang setelah sehari. Setelah ia selesai melakukannya, ia keluar menuju balkon. Tepat disana terlihat pemandangan laut yang sangat indah.


"Wah... Luar biasa... Ini sangat indah." ujar Amora.


Ia duduk di kursi dan menikmati pemandangan itu, laut sangat indah saat matahari perlahan mulai meredup. Amora menatap jam tangannya.


"Ini masih siang." gumamnya lalu menatap langit.


"Sepertinya akan hujan, langit mulai gelap padahal baru jam 2 siang." gumamnya lagi.


Amora segera masuk dan menutup pintu balkon. Ia membuka kulkas dan menemukan beberapa minuman dan camilan.


"Seharusnya aku berhenti makan, jika tidak aku akan berubah seperti gajah. Tapi aku bosan, baiklah untuk saat ini aku biarkan diriku makan sepuasnya." ujar Amora sendiri.


Ia memakan camilan dan minuman itu sendiri, satu jam telah berlalu tapi Dion masih juga belum masuk kedalam.


"Sepertinya diskusi dengan Stenly sedikit sulit, apakah aku perlu keluar membantu Dion? Tidak, jika aku lakukan Dion akan marah. Tapi aku sangat khawatir." gumamnya.


Amora mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Dion sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. Pesannya hanya dibaca, tapi tak di balas oleh kekasihnya.


Mengapa ia tak membalasnya...pikir Amora.


Amora kembali mengirim pesan pada Dion. Sambil menunggu balasan ia menguap dan akhirnya memejamkan matanya tanpa sadar.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2