Chef Cantik Pilihanku 1

Chef Cantik Pilihanku 1
BAB 24


__ADS_3

Steven sangat murka saat ia kembali ke rumahnya. Seluruh anak buahnya dihajar habis habisan olehnya. Saat itu ia menuju kamar dimana Amora dikurungnya dan hanya mendapati kamar tersebut kosong.


"Jadi apa gunanya aku membayar kalian jika menjaga seorang wanita saja tidak bisa." bentak Steven.


"Itu tak mungkin tuan Stev, kami selalu menjaganya dan tak mungkin ia kabur dari sini." ujar salah satu anak buah Steven.


"Lalu apa ini? Apa yang membuat kalian begitu yakin jika Amor tidak kabur. Kamar ini kosong." teriak Steven.


Mereka semua menunduk. "Tadi tuan Stenly datang kemari dan bertanya tentang nona Amor." jawab anak buahnya lagi dengan takut.


"Apa? Stenly...?" teriak Steven lagi. "Bagus, aku sudah tahu jawabannya." bentaknya.


Steven segera menghubungi adiknya itu dengan amarah yang luar biasa.


"Dimana kau?" bentak Steven pada adiknya.


"Aku bersama papi di lapangan golf. Kau sangat murka kak." jawab Stenly.


"Dimana kau menyembunyikannya Sten. Kau tak bisa ikut campur urusanku." ujar Steven.


"Oh ayolah kak Stev, aku hanya menyelamatkanmu. Jika kau tak terima kau bisa mengatakannya di depan papi." jawab Stenly lagi.


"Ini bisnisku, sejak kapan kau mulai ikut campur dalam bisnisku. Kembalikan Amor sebelum aku menghajarmu." ancam Steven.


"Sejak kapan bisnismu dengan cara yang seperti ini kak. Hentikan semuanya, ini menyangkut reputasimu juga keluarga kita. Dan aku tak seceroboh dirimu kak. Aku tak mungkin menyimpan atau menyembunyikan wanita lain di dalam rumahku. Jadi nona cantik itu sudah kembali ke tempat dimana ia seharusnya berada." ujar Stenly.


"Sialan kau Sten, tunggu saatnya aku akan memberi pelajaran padamu." ancam Steven.


"Dan kau harus berurusan dengan papi saat itu terjadi kak." ancam Stenly balik.


Steven sangat murka dibuatnya, ia melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping keping. Ia berteriak memanggil anak buahnya.


"Cari info dan keberadaan Amor, dan segera laporkan semuanya padaku. Jika sampai besok kalian tidak menemukannya, kalian akan tahu akibatnya." teriak Steven lalu ia pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


*****


Amora tak bisa memejamkan matanya, ia terus memikirkan Dion Pranadja. Ia tahu kekasihnya sangat marah padanya sekarang. Amora bahkan merasa ketakutan saat melihat wajah Dion yang tiba tiba mengeras. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Non Amor, sudah waktunya makan malam non." ujar mbok Iyem.


"Amor tidak nafsu makan mbok." jawab Amora.


"Non jangan buat mbok khawatir, non Amor sangat kurus dan baru kembali setelah kejadian hilangnya non Amor beberapa hari ini. Untung saja tuan belum menghubungi mbok Iyem. Kalau tidak, mbok akan bingung harus jawab apa. Non, makan ya... Mbok sudah buatkan makanan kesukaan non Amor." ujar mbok Iyem lagi.


Amora turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya, ia menatap mbok Iyem yang seperti ibunya sendiri sedang khawatir. Wanita tua ini memang sangat menyayanginya. Amora tersenyum dan mengangguk.


"Temani aku makan malam mbok." ujar Amora.


Mbok Iyem mengangguk dan membawa Amora ke ruang makan.


"Mbok Iyem duduk disini." pinta Amora.


Amora hanya menghela nafasnya dan mulai mencicipi makanan buatan mbok Iyem yang selalu lezat. Beberapa menit kemudian, mbok Iyem membereskan sisa sisa makanan tersebut sambil bertanya pada Amora.


"Non, apa den yang ganteng itu pacar non Amor?" tanya mbok Iyem.


"Den ganteng siapa?" tanya Amora pura pura.


"Yang sering antar jemput non Amor, dan den ganteng itu juga yang panik saat mencari keberadaan non Amor. Sampai ia terus berusaha menghubungi tuan. Jangan bohongi mbok, mbok lihat semuanya." jawab mbok Iyem.


"Maksud mbok pasti Dion. Mbok, ia atasanku di Novotel. Saat ini aku memang pacaran dengannya. Tapi ia sangat marah saat tahu siapa Amor sebenarnya. Mbok rahasiakan ini semua dari papa ya. Mbok kan tahu jika aku bekerja menjadi chef tanpa sepengetahuan papa. Aku sekarang lelah ingin beristirahat." jawab Amora.


"Non tenang saja, mbok akan jaga rahasia yang penting non Amor bahagia. Tapi mbok sangat suka den ganteng. Non Amor sangat cocok dengannya." ujar mbok Iyem.


Amora hanya tersenyum menanggapi ucapan mbok Iyem seraya meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


*****

__ADS_1


Dion sudah mengumumkan pada seluruh karyawan Novotel jika Amora sudah kembali dan baik baik saja. Ia juga sudah memberitahu restoran jika sementara ini chef Amor tidak akan kembali. Saat ini Dion sedang menatap berkas tentang Steven yang sudah didapatkan dari pak Haryo. Semua infonya sangat jelas. Pria itu berhubungan bisnis dengan Hengky Marco. Tapi keduanya sekarang sedang berlawanan karena bisnis mereka belum mencapai kesepakatan.


Steven memanfaatkan Amora untuk mencapai kesepakatan kerja sama bersama Sheraton grup.


"Steven bukan pengusaha amatiran, dan ia sangat terkenal. Ia tak mungkin melakukan cara kotor seperti ini. Jadi menurut pendapatku, Steven baru mengetahui info tentang Amor. Dan ia langsung jatuh hati padanya." ujar pak Haryo.


"Aku pikir begitu, karena saat aku menyelamatkan Amor. Wanita itu dalam keadaan baik. Ia disekap di kamar yang besar dan mewah. Bahkan seluruh ruang kamar dipenuhi makanan makanan." jawab Dion.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang pak?" tanya pak Haryo.


"Chef Amor adalah kekasihku sekarang, seharusnya aku bisa melindunginya dari siapapun. Aku tak akan membiarkan pria manapun menyentuh atau mengganggunya. Tapi ini permintaan Amora, ia ingin menyelesaikan semuanya dengan Hengky Marco." jawab Dion.


"Kapan pak Dion tahu jika chef Amor putri tunggal dari pemilik Sheraton grup?" tanya pak Haryo.


"Siang tadi, saat kami baru kembali. Dan itu membuatku sangat marah karena aku merasa dibohongi olehnya." jawab Dion lagi.


Pak Haryo menggeleng. "Maaf jika aku ikut campur pak, tapi sepertinya chef Amor tidak berbohong untuk kepentingan tertentu. Jika aku tak salah dengar dari asisten kokinya, chef Amor selalu jujur pada Dori jika ia menutupi identitasnya karena takut pada ayahnya yang melarangnya menjadi seorang chef." ujar pak Haryo.


"Dan aku tahu itu." ujar Dion.


"Lalu mengapa anda masih marah padanya?" tanya pak Haryo.


"Lebih baik kau kerjakan hal lain saja pak Haryo, aku akan mengurus masalahku dengan Amor." perintah Dion.


Pak Haryo mengangguk. "Maaf atas kelancanganku. Aku pamit..." jawabnya.


Dion hanya mengangguk, ia memejamkan matanya. Hari semakin larut, Hany sudah pamit pulang. Tapi ia masih enggan keluar dari kantornya. Ia memikirkan Amora lagi, wanita itu memang tak bermaksud membohonginya tapi wanita itu sangat terlambat jujur padanya. Seharusnya dari awal hubungan mereka, Amora sudah mengatakan semuanya tapi justru ia mengatakannya setelah terjadinya penculikan. Dion merasa sangat bodoh sekarang. Tapi perasaannya tak bisa ia bohongi sekarang, ia tetap merindukan wanita itu dan ingin sekali memeluknya.


*****


Happy Reading All...😘


Jangan lupa dukung, like n komen terus ya...

__ADS_1


__ADS_2