
Steven terus menatap wanita cantik yang sedang terbaring lemah di depannya. Jika saja ia tahu, Hengky memiliki putri yang sangat cantik seperti ini. Maka negosiasi bisnis mereka tak akan sulit seperti sebelumnya. Cukup pria itu menyerahkan putri cantiknya maka ia akan menyetujui permintaan Hengky.
Amora membuka pelan pelan matanya, kepalanya masih sangat berdenyut. Saat matanya sudah terbuka lebar, ia menatap pria tampan yang sedang tersenyum menatapnya.
"Siapa kau?" tanya Amora lemah.
Pria itu tersenyum. "Kau sudah baikan kan, sekarang makanlah. Aku tak ingin kau mati disini." jawab Steven.
"Siapa kau, mengapa kau menculikku?" bentak Amora lagi.
Steven tertawa. "Kau sudah memiliki kekuatan untuk membentakku. Aku Steven, pria yang sangat menginginkanmu Amor." jawabnya.
"Kau tahu darimana namaku, Steven siapa kau sebenarnya? Apa maumu?" tanya Amora lagi.
"Aku sangat terkejut, ternyata kau bawel sekali saat sadar. Aku akan mengatakannya tapi setelah melihatmu makan." jawab Steven.
"Aku lebih baik mati daripada aku harus makan dengan orang asing." jawab Amora.
"Dasar wanita keras kepala, jika kau tidak makan maka ayahmu Hengky akan mati ditanganku." ancamnya.
Amora terbelalak, pria yang ada dihadapannya mengenal ayahnya. "Aku hanya ingin tahu, apa maksudmu menculikku?" tanyanya penasaran.
"Aku menginginkanmu cantik. Aku akan kembali lagi, jika kau tidak makan juga maka kau jangan harap bisa melihat ayahmu masih hidup." ancam Steven seraya meninggalkan Amora.
"Kau jahat, kau brengsek." teriak Amora.
*****
Dion Pranadja sudah bekerja sama dengan kepolisian di Medan, ia tidak bisa bertindak sendirian. Identitas pelaku pun ternyata sudah diketahui. Penculiknya adalah pengusaha emas yang sangat kaya raya di Medan. Ini semua ada hubungannya dengan ayah Amora. Tapi sayang sekali, Dion masih tidak bisa menghubungi ayah Amora. Ia hanya bisa menunggu tindakan selanjutnya.
"Kami tidak bisa sembarangan melakukan penggerebekan, karena beliau orang yang sangat berpengaruh di kota ini. Kami malah tak bisa percaya jika beliau menculik seseorang. Bisa jadi Amora ada hubungan dengan tuan Steven." ujar salah satu polisi.
"Mana mungkin itu bukan penculikan, kalian pasti sudah melihat bukti cctv." ujar Dion marah.
__ADS_1
"Kita hanya bisa menunggu ayah dari Amora. Kita akan bertanya terlebih dahulu kepadanya, apakah ia mengenali tuan Steven." jawab polisi tersebut.
"Itu masih sekitar 4 hari lagi, jika sesuatu terjadi pada Amora bagaimana?" tanya Dion.
Polisi tersebut menggeleng. "Itu tidak akan terjadi tuan Dion. Tuan Steven bukan seorang kriminal yang akan melukai wanita. Ia sangat baik pada sesama dan orang orang miskin. Pria itu banyak pendukung, ia tak mungkin mencoreng nama baiknya sendiri." jawabnya.
"Bagaimana mungkin cara kerja kalian seperti ini, Amora adalah kekasihku. Sudah jelas sekali ia hilang dan diculik di hotelku. Mengapa kalian begitu tenang." ujar Dion marah seraya meninggalkan kantor polisi.
Dion tak bisa berbuat apapun saat ini, pria yang menculik Amora adalah orang yang sangat berpengaruh di kota ini. Dion menghubungi ayahnya agar terus menyelidiki kasus ini. Hanya ayahnya saat ini yang bisa membantu Dion. Ia sangat khawatir tentang Amora sekarang.
Ya Tuhan, lindungilah Amora kekasihku. Jagalah ia Tuhan. pinta Dion.
Dion menuju hotel terdekat, ia tak akan kembali ke Lampung sampai Amora ditemukan. Dion juga menghubungi beberapa rekan bisnisnya yang berada di Medan agar membantu menyelidiki Steven.
*****
Amora kembali menatap ruangan yang ia tempati sekarang. Ruangan yang besar dan penuh kemewahan. Ia terus berpikir siapa itu Steven, jika ia diculik untuk meminta tebusan dari ayahnya, itu tidak mungkin mengingat kemewahan yang ia dapatkan. Bahkan perlakuan pria tampan itu sangat baik dan lembut padanya.
Ancaman pria itu tidak sepenuhnya serius, ia bisa merasakan bahwa pria itu hanya ingin ia makan saja. Pelan pelan Amora memakan hidangan lezat yang ada di depannya. Chef pembuat makanan itu sepertinya sangat ahli, karena rasa makanannya sangat enak.
"Kau bisa sakit lagi jika berada disana." ujar Steven membuat Amora terkejut.
Amora berbalik dan menatap pria itu, pria yang sangat tampan sama seperti Dion.
Oh ya Tuhan, tiba tiba aku merindukan Dion Pranadja. pikir Amora.
Steven menghampiri Amora dan memakaikan jaketnya pada Amora. "Apa kau menyukai pemandangan disini?" tanyanya.
Amora mengangguk. "Sangat indah dan sejuk." jawabnya.
"Tinggallah selamanya bersamaku Amor, maka rumah dan kamar ini akan menjadi milikmu selamanya." ujar Steven sambil menyentuh pundak Amora.
Amora mundur selangkah menghindari sentuhan pria itu. "Kau salah sangka tuan, aku tak berniat tinggal disini. Aku sudah memiliki kekasih dan aku tak tahu tujuanmu membawaku kemari." jawab Amora.
__ADS_1
Steven tertawa. "Kau akan berubah pikiran Amor, aku pria yang sangat menyukaimu. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Aku takkan pernah menyakitimu. Dan kekasihmu itu tidak sebanding denganmu. Dion Pranadja kan kekasihmu?" tanyanya.
Amora terbelalak. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya.
Steven tertawa dengan keras membuat ruangan bergema dengan tawanya. "Kau merendahkan aku sayang, aku pengusaha terkaya di kota Medan. Sangat mudah mencari informasi tentangmu." jawabnya.
"Ini kota Medan?" tanya Amora tak percaya. "Kau membawaku sampai sejauh ini dari kotaku? Apa maumu?" tanyanya lagi.
"Kau sangat bawel Amor, sudah aku katakan aku menyukaimu. Dan ayahmu menyembunyikan putri cantiknya dariku. Jika aku tahu dari awal Hengky memiliki putri yang sangat cantik. Aku tak akan mempersulit kerja sama bisnis kami." ujar Steven sambil menyentuh wajah Amora.
Amora memalingkan wajahnya. "Jangan sentuh aku tuan Steven, aku tak ada hubungannya dengan bisnis papa. Kau lepaskan aku, aku ingin kembali ke rumahku. Aku bukan barang negosiasi bisnis kalian." jawabnya marah.
Steven kembali tertawa. "Kau selain cantik juga sangat cerdas Amor, aku memang akan menggunakanmu untuk bertukar bisnis dengan ayahmu. Aku kira Hengky akan senang dengan penawaran ini." jawabnya percaya diri.
"Papa ku tak mungkin menjual putrinya sendiri demi bisnis tuan. Dan aku tak ingin menikahi seorang yang menculikku seperti ini." jawab Amora.
Steven mendekati Amora lagi namun Amora terus mundur sampai ia terperangkap di ujung balkon. Steven mendekatkan wajahnya pada Amora, pria itu ingin menciumnya dengan cepat Amora menamparnya.
Steven terkejut, wajahnya merah dan ia menggertakkan giginya. "Jika saja kau tidak cantik, aku sudah mendorongmu ke bawah. Untung saja kau sangat cantik Amor, aku tak akan menyakitimu. Tamparan ini membuatku semakin menginginkanmu." ujarnya lalu membopong Amora masuk dan melemparkannya ke ranjang.
Amora berusaha melepaskan diri dari perangkap Steven, tapi ia kalah kuat dari pria itu. "Aku mohon lepaskan aku." ujar Amora sambil histeris ketakutan.
Steven berhenti dan menatap wajah wanita itu yang dipenuhi air mata. Tubuhnya menggigil ketakutan. "Apa kau tak pernah tidur dengan pria?" tanyanya heran.
Amora semakin terisak mendengar pertanyaan itu, pria ini benar benar ingin memperkosanya. Ia sangat takut, jika benar benar kesuciannya direnggut oleh pria yang ia tak kenal sama sekali.
Steven menghela nafasnya. "Pengetahuan yang sangat luar biasa, tubuhmu cantik dan seksi. Dan aku tak berharap banyak, ternyata aku sangat beruntung. Kau masih wanita yang suci. Aku tak akan menyakitimu sampai kau sendiri yang menginginkannya. Maafkan aku Amor." ujarnya sambil menyelimuti Amora.
Steven meninggalkan Amora dan kembali mengunci pintunya.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1
Maaf atas keterlambatan up...