
Yang penasaran Karin buka pintu untuk devan atau nggak, ada di bab berikutnya ya, bukan bab yg ini 😘😘😘
\=\=\=\=\=\=
Karin berjalan agak cepat setelah keluar dari lift, Arga sudah menunggu di depan lobby tanpa turun dari mobil.
Brak.
Karin menutup pintu lalu memasang seatbelt-nya. Berjalan tergesa membuat dia harus mengatur nafas karena terengah. Arga menoleh ke arahnya kemudian kembali fokus pada kemudi. Menuju kediaman Adam Sadewa, memenuhi undangan dari Bunda Marisa.
Dalam perjalanan Karin bungkam, walaupun dia biasa terdiam tapi Arga merasa kali ini berbeda. Sedangkan Karin sedang memikirkan kejadian pagi tadi, saat Devan mendatangi apartemen dimana dia dan Arga tinggal.
Tanpa terasa mereka sudah tiba, bahkan mobil sudah terparkir di carport rumah itu. Arga sendiri sudah melepas seatbelt dan akan membuka pintu tapi urung, menatap ke arah Karin yang masih termenung.
“Hei,” ujar Arga sambil menepuk bahu Karin.
“Eh, sudah sampai ya.”
“Apa yang kamu pikirkan sampai tidak sadar kita sudah tiba?”
“Hm, nggak ada. Kebetulan tadi mikirin skripsi, bingung mau ambil judul apa,” ujar Karin berbohong.
“Yakin?”
“Hm.” Karin melepas seatbelt dan membuka pintu. Semakin lama di dalam mobil, Arga akan semakin detail bertanya.
Arga menggenggam tangan Karin saat memasuki kediaman sang Ayah. Tidak mungkin dia berjalan berjauhan dan terlihat acuh satu sama lain.
“Malam Bunda,” sapa Arga yang langsung menuju ruang makan.
“Malam sayang.” Bunda memeluk Arga lalu bergantian memeluk Karin.
“Duduk sayang, Bunda panggil Ayah dulu.”
__ADS_1
Melihat Bunda sudah menjauh, Arga berbisik pada Karin. “Ingat, kita harus menampilkan kemesraan dan hubungan yang hangat. Jangan sampai mereka curiga.”
“Iya Pak. Saya ingat.”
“Ingat bagaimana, buktinya kamu diam saja. Seharusnya kamu yang lebih banyak berakting dan berusaha menampakkan kemesraan.”
“Siapa yang berakting?” tanya Adam yang baru saja bergabung dan duduk di kursi ujung meja makan.
“Malam Yah,” sapa Arga. Sedangkan Karin terlihat gugup, khawatir Ayah mertuanya mendengar apa yang diucapkan oleh Arga.
“Hm. Jadi, kalian sedang bahas masalah berakting, siapa yang kalian maksud?”
Karin dan Arga saling tatap.
“Itu Yah, tadi siang aku nonton drama korea. Aktingnya bagus banget dan barusan aku cerita ke Pak Arga,” tutur Karin.
Adam hanya menganggukan kepalanya mendengar penjelasan Karin. Marisa menginstruksikan pada asisten rumah tangga untuk menghidangkan menu yang akan mereka nikmati.
“Karin kok masih panggil Bapak ke Arga,” tegur Marisa.
“Iya Bun, masih kebiasaan,” jawab Karin lalu tersenyum menoleh ke arah Arga.
“Harus dirubah dong, biar saling melengkapi dan semakin sayang,” usul Marisa.
Makan malam itu berlangsung dengan hangat, Karin senang berada di tengah keluarga barunya. Bahkan Ibu mertuanya terlihat sangat tulus menyayangi dan memperhatikan Karin.
“Malam ini kalian menginap aja ya, Bunda sudah minta Bibi bersihkan kamar Arga.”
“Oke,” jawab Arga tanpa bertanya pada Karin.
Ini Pak Arga ngapain oke-oke aja deh, makin ribet ‘kan harus terus-terusan berlagak mesra.
Setelah makan malam, Ayah mengajak Arga ke ruang kerjanya. Sepertinya akan membicarakan masalah pekerjaan dan perusahaan. Karin yang akan membantu membereskan meja dilarang oleh Bunda, beliau mengantarkan Karin ke kamar.
__ADS_1
“Kamu tunggu di dalam saja, nanti Bunda yang ingatkan Ayah kalau mereka kelamaan bicara.”
Karin hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Sepertinya Marisa mengira kalau Karin dan Arga masih dalam kondisi hangat-hangatnya sebagai pengantin baru.
Karin membersihkan diri lalu membuka lemari pakaian Arga. Piyama atau kaos yang bisa dikenakan untuk tidur, karena saat ini dia mengenakan dress.
“Cari apa?” tanya Arga yang berdiri di belakang tubuh Karin yang sedang menungging.
“Astaga, Pak Arga bikin kaget aja,” pekik Karin. “Aku cari ganti, masa tidur pakai dress begini.”
Arga menatap piyama miliknya yang sedang dipegang Karin. Tubuh Karin akan tenggelam di dalam piyama miliknya. Ukuran tubuh Arga lebih tinggi dan lebih besar dari tubuh Karin.
“Jangan pakai piyama, kamu akan terlihat seperti badut.”
“Terus pakai apa,” ujar Karin. Kembali menatap tumpukan pakaian milik Arga. “Kaos aja deh,” ujarnya. Saat Arga berada di kamar mandi, Karin segera melepaskan dress yang dia kenakan dan menggantinya dengan kaos Arga.
Tidak mengenakan bawahan, membuat Karin langsung beranjak ke ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai pinggul.
“Loh, Pak Arga kok ikut tidur di sini?” tanya Karin, saat Arga menaiki ranjang setelah berganti pakaian dengan piyama yang tadi akan dipakai Karin.
“Ini kamarku, kamu pikir aku harus tidur dimana?”
“Tapi kita belum pernah tidur seranjang, terus nanti Pak Arga macem-macemin aku,” keluh Karin.
“Otak kamu sepertinya konslet,” ujar Arga sambil mendorong kening Karin menggunakan telunjuknya. “Mana mungkin aku macem-macemin kamu.”
“Bener ya, awas aja kalau bohong. Ini guling pembatas tidur kita ya, anggap aja tembok cinta eh maksudnya tembok Cina.”
Tidak lama kemudian keduanya sudah terlelap. Gaya tidur yang tidak mereka sadari membuat posisi tubuh mereka berpindah. Keduanya saat ini dalam posisi berbaring saling berhadapan dan saling mendekap hangat.
Alarm ponsel Karin berbunyi membuat Karin membuka matanya.
"Aaaaa," teriak Karin.
__ADS_1
\=\=\=\=\= Yuhuuu, rekomendasi novel teman aku lagi nihhhh, menarik banget gaesss. Jangan lupa mampir ya