
Arga sedang berbicara lewat telepon, mengarahkan asistennya karena dirinya tidak ke perusahaan hari ini karena berjanji menemani Karin. Setelah berolahraga ranjang lalu membersihkan diri dan sarapan yang cukup terlambat, Arga dan Karin duduk di beranda kediaman rumah orangtua Karin.
“Kalau sibuk kenapa nggak berangkat?”
Arga menoleh lalu menyimpan ponselnya di atas meja samping kursi yang dia duduki. Meraih jemari Karin dan menggenggamnya. “Tidak ada hal yang darurat, aku akan temani Nyonya Arga hari ini. Mau kemana?”
“Hm, lagi malas kemana-mana.”
“Lalu, kita jadi cari rumah?”
“Terserah kamu aja,” jawab Karin.
“Panggil aku hubby seperti biasanya,” pinta Arga sambil mendekatkan wajahnya.
Karin tersenyum lalu mendorong wajah Arga agar menjauh. “Malu nanti dilihat Mama,” gumam Karin.
“Kenapa malu, kita pasangan halal beliau pasti paham. Ah, aku hubungi saja agen properti nanti kita tinggal lihat rekomendasinya,” ujar Arga lalu kembali mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Karin hanya mendengarkan dan memperhatikan Arga yang sedang bicara, jemari mereka masih bertaut. Bahkan Arga menoleh lalu tersenyum. Karin semakin yakin kalau Arga memang benar-benar telah menyerahkan cinta kepadanya dan tidak perlu lagi khawatir kalau si ulat bulu akan kembali. Cukup menguatkan cinta mereka maka ulat bulu, bekicot atau bahkan keong racun tidak akan bisa mengganggu mereka.
“Oke, mereka akan kabari kalau ada pilihan yang sesuai dengan yang kita inginkan," ungkap Arga setelah mengakhiri panggilan telepon.
“Lalu kita akan tinggal dimana, untuk sementara ini?” tanya Karin, agak khawatir mengemukakan pertanyaan tersebut.
“Hm, kamu inginnya dimana?” Arga bertanya balik.
Karin menghela nafasnya, “Kalau aku bilang tidak ingin tinggal di kediaman Ayah, apa aku egois?”
“Hei, tentu saja tidak. Kamu berhak mengemukakan pendapat. Kita ini berumah tangga bukan memaksakan kehendak salah satu pihak. Kamu bisa sampaikan kalau keberatan dengan sesuatu hal. Apalagi saat ini kamu sedang hamil, kenyamanan kamu prioritasku, sayang.”
“Ayah dan Bunda, tidak masalah kita tidak tinggal di sana lagi.”
“Tidak, Ayah akan ajak Bunda kalau ke luar kota. Ayah tidak suka dengan pergaulan Bunda bersama geng sosialitanya.”
“Mungkin Bunda kesepian?”
“Kalau gitu kita buat banyak anak agar saat tua nanti kita tidak kesepian.”
...***...
“Sudah siap belum?” tanya Arga yang sedang memasang kancing lengan kemeja batiknya.
__ADS_1
“Dikit lagi,” jawab Karin sambil melepaskan penjepit mulu matanya. Memastikan penampilannya di cermin, make up dan tatanan rambut juga busana yang dia kenakan. Hari ini adalah wisuda kelulusan sarjananya, setelah fokus menyelesaikan skripsi dalam kondisi hamil.
Kehamilannya sendiri sudah memasuki minggu ke tiga puluh dua, tentu saja perutnya sudah sangat membola.
“Aku belum pakai sepatu,” keluh Karin.
Arga langsung mengambil sepasang sepatu yang sudah disiapkan oleh Karin. Mengangkat dan meneliti sepatu yang sedang dia pegang, Arga memastikan kalau alas kaki yang dikenakan Karin tidak akan menyulitkan atau menyusahkannya.
“Sini aku bantu pakaikan, kamu duduk di situ,” titah Arga menunjuk tepi ranjang.
Arga setengah berjongkok dan memasangkan satu persatu kaki Karin dengan flat shoesnya. Arga membantu Karin berdiri lalu memastikan dress yang dikenakan Karin tidak sempat dan menyulitkan saat Karin melangkah.
“Ini longgar, Hubby.”
“Aku hanya pastikan kamu dan anakku aman,” sahut Arga sambil mengusap perut Karin lalu sedikit membungkuk untuk menciuminya.
“Ayo, nanti kejebak macet. Aku malas berlama di mobil, rasanya pegal,” rengek Karin.
Saat ini Arga dan Karin sudah tiba di lokasi acara, berjalan bersisian. Bahkan tangan kiri Arga berada di pinggang Karin merengkuh dengan posesif seakan ingin mengatakan pada dunia, bahwa wanita yang berjalan bersamanya adalah miliknya.
“Undangan untuk Ayah dan Bunda sudah disampaikan?” tanya Karin.
“Sini Mama bantu,” ujar Mama Karin.
“Loh, Mama ….”
“Barusan aja Mama sampai, eh pas banget lihat kamu,” jawab Mama sambil membantu Arga mengenakan toga pada tubuh Karin. Lola dan Gibran yang sudah datang pun menghampiri Karin dan menyapa suami juga mama Karin.
“Aku titip Karin,” ujar Arga pada kedua teman Karin karena tamu undangan sudah dipersilahkan masuk ke dalam ruang acara, sedangkan wisudawan masih berada di luar ruangan dan akan masuk saat acara dimulai.
“Hati-hati ya, saat naik dan turun panggung,” nasihat Arga sebelum meninggalkan Karin, bahkan sempat mencium kening dan memeluk Karin.
“Uh, so sweet banget sih,” ejek Lola. “Jadi pengen yang model begitu buat dijadikan suami.”
“Nggak ada lagi dong yang seperti my hubby, dia limited edition,” sahut Karin.
“Terus suami aku yang model gimana?”
“Tuh,” tunjuk Karin pada Gibran.
“Idih, ogah gue punya lelaki macam dia.”
__ADS_1
“Pede gila, lo pikir gue mau,” sahut Gibran.
“Eh, sudah-sudah. Nanti kalian malah berjodoh. Ayo baris, itu sudah dipanggill panitia.”
Mama Karin dan Arga duduk bersebelahan, sedangkan Ayah dan Bunda Arga menempati kursi yang agak jauh karena datang terlambat. Menyaksikan istri, putri dan menantunya melewati proses kelulusan pendidikan sarjana.
Saat nama Karin dipanggil, wanita itu berjalan perlahan dengan senyum tidak lepas dari wajah cantiknya. Sempat riuh tepuk tangan karena Karin kesulitan menaiki tangga dan dibantu oleh panitia yang ada. Termasuk saat menuruni panggung, Karin dibantu oleh temannya yang tadi dipanggil sebelum dirinya.
Mama Karin sempat menitikkan air mata, air mata bahagia karena Karin akhirnya berbahagia dengan pernikahan bahkan pendidikannya selesai tanpa tertunda. Saat acara selesai, Arga bergegas menghampiri Karin mencium kening wanita itu cukup lama.
“Hubby, fotokan aku dengan mereka,” tunjuk Karin pada kedua temannya.
Setelah beberapa kali memotret trio yang sempat membuat heboh Bunda Marisa, Karin bergabung dengan keluarganya. Berkali-kali berfoto berdua dengan Arga juga bersama keluarganya.
Arga dan Ayahnya sedang berbisik membuat Karin melirik curiga. Mama dan Bunda Arga terlihat sedang memilih mana foto yang paling bagus dan dipamerkan di media sosial.
“Ayo,” ajak Arga.
“Mau kemana, kita kan mau makan siang dulu,” ujar Karin.
“Iya.”
Arga mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat acara. Mama Karin ikut bersama besannya. Ketika mobil mulai memasuki kawasan perumahan dan bukan menuju restoran yang sempat mereka bahas untuk merayakan kelulusan Karin, Arga pun tidak bisa merahasiakan kejutannya.
“Nggak usah macam-macam, sebenarnya kita mau kemana?” tanya Karin dengan wajah tidak bersahabat.
“Mau ke rumah kita, sayang.”
“Rumah kita? Perasaan kamu belum pilih dari banyaknya pilihan yang pernah kita datangi."
Arga hanya tersenyum, semenjak Karin dan Marisa berseteru mereka akhirnya tinggal di apartemen Arga sambil mencari rumah hunian yang sesuai dengan keinginan keduanya. Ternyata Arga sudah menemukannya yang cocok dan memberikannya sebagai kejutan untuk Karin.
“Ini rumah kita,” ujar Arga yang membelokan mobilnya ke dalam salah satu rumah. Mobil yang membawa mertua dan mamanya sudah tiba lebih dulu dan terparkir rapi di carport rumah tersebut.
“Ayo, turun,” ajak Arga sambil melepaskan seatbelt yang dikenakan Karin. “Gimana, kamu suka?”
Karin memandang rumah yang berdiri megah di hadapannya, dia tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Kita bisa pindah secepatnya, Bunda dan Mama sudah memilih furniture dan perabot rumah tangga. Tinggal memindahkan pakaian kita … ah kamar bayi kita juga sudah siap. Nanti Bunda dan Mama juga yang akan bantu kamu design sesuai keinginan kamu.”
Karin mengeratkan rangkulan tangannya. “Terima kasih, Daddy Arga.” Arga mengusap kepala Karin sambil tersenyum.
__ADS_1