Cinta, Aku Menyerah

Cinta, Aku Menyerah
Dipecat


__ADS_3

“Kamu ....”


“P-pak Arga.” Sekretaris Arga berdiri ketakutan karena Arga sepertinya mendengar apa yang dibicarakan dengan Renata lewat telepon.


“Jadi, selama ini kamu yang selalu membocorkan informasi kegiatanku. Aku selalu berpikir bagaimana bisa Renata selalu ada di setiap gerakku ternyata kamu,” tunjuk Arga.


“Pak ... maafkan saya. Tolong jangan pecat saya,” rengek sekretaris Arga.


“Bereskan semua barang-barangmu,” titah Arga lagi. Masih dengan wajah garang.


“Pak Arga, please maafkan saya. Saya janji nggak akan mengulangi lagi, semua saya lakukan karena terpaksa.”


“Pergi baik-baik atau aku panggil security untuk seret kamu ke luar dan berdoalah aku tidak memperpanjang urusan ini.”


Arga kembali ke ruangannya, menghubungi bagian HRD juga security memastikan meja sekretaris sudah kosong. Arga menghampiri Karin yang masih tertidur di sofa.


“Sayang.” Arga mengusap wajah Karin berusaha membangunan istrinya dengan pelan.


Awalnya Karin tidak terusik dan masih terlelap, tapi kelamaan dia membuka matanya menyadari masih berada di ruangan Arga.


“Loh, aku tertidur ya?”


Arga yang duduk tidak jauh darinya tersenyum  dan membantu Karin beranjak duduk.


“Maaf aku membangunkanmu, aku harus berdiskusi dengan bagian HRD. Tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini sendirian.”


“Hm. Kita nggak jadi pergi?”

__ADS_1


“Jadi, tapi setelah aku bicarakan terkait pergantian sekretaris.”


Karin mengernyitkan dahinya heran dengan yang dimaksud Arga. Untuk apa dia mengganti sekretarisnya, bukankah selama ini tidak ada hal yang membuat pekerjaan Arga kacau. Bahkan menurut Karin, sekretaris Arga bukan perempuan yang berusaha menggoda suaminya.


“Kenapa harus diganti?”


“Jadi selama ini dia membocorkan aktivitasku kepada Renata dengan imbalan sejumlah uang.”


“Apa? Berani sekali,” pekik Karin.


“Ya begitulah, makanya aku langsung pecat dia saat ini juga. Karena perannya sangat penting jadi aku minta HRD untuk segera cari gantinya.”


“Pantas saja selama ini kita selalu bertemu Renata di beberapa kesempatan, ternyata kebetulan yang direncanakan.”


“Hm. Jadi bagaimana, kamu mau tunggu aku atau langsung pulang?”


“Kamu jadi sekretarisku?”


Karin menganggukkan kepalanya. Sedikit banyak dia tahu apa saja yang harus dilakukan, bidang usaha perusahaan Arga pun Karin mengetahui dengan jelas karena sebelumnya dia adalah mahasiswa magang di perusahaan Arga.


“Tidak, aku tidak ingin kamu bekerja.”


“Sementara aja, sampai ada yang baru.” Karin tetap teguh dengan usulannya.


Arga terlihat berpikir, meskipun ragu dan berat hati dia pun menerima usulan Karin. Diskusi Arga dengan bagian HRD di lakukan di ruangan itu, Karin tetap duduk di sofa sambil mendengarkan apa yang didiskusikan.


“Semakin cepat semakin baik, aku tidak mungkin membiarkan Karin terlalu lama menjadi sekretarisku,” titah Arga kepada bagian HRD yang duduk didepan mejanya.

__ADS_1


“Baik, Pak. Akan saya usahakan secepatnya.


“Hm.”


Karin mendekat ke Arga setelah diskusi selesai dan bawahan Arga sudah benar-benar keluar dari dalam ruangan.


“Kemari, sayang,” ujar Arga sambil menepuk pangkuannya. Karin pun duduk di tempat yang Arga pinta. “Sebenarnya aku nggak ingin kamu gantikan sekretarisku walau hanya sementara.”


“Kenapa?” Karin melingkarkan tangannya pada leher Arga.


“Takut aku tidak kuat.”


“Hah, maksudnya gimana?”


“Lihat dan dekat kamu bawaannya ingin mengunci pintu terus,” jawab Arga sambil terkekeh.


“Ih. Dasar mesum.”


Arga dan Karin akhirnya pergi sesuai dengan keinginan Karin. Menuju salah satu mall yang ditunjuk Karin. Jas dan dasi yang dikenakan Arga sudah ditinggalkan di mobil, bahkan lengan kemejanya hanya digulung sampai siku.


“Pak Arga aku mau itu, kayaknya enak deh. Berasa sudah dilidah gitu.”


Arga mengiyakan apa yang diminta Karin, berjalan sambil merangkul pinggang dengan posesif. Saat menemani Karin yang menikmati makanan sesuai keinginannya, tatapan Arga mengarah pada dua orang yang sangat dia kenal. 


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2